Bagi tujuan menyuburkan rasa tanggungjawab dan rasa ingin menambahkan ibadat bagi mencari keredhaan Allah sepanjang Ramadan, blog ini ingin berkongsi koleksi 15 hadis-hadis berkaitan ramadan daripada pelbagai riwayat dan perawi seperti Bukhari, Muslim, Nasai’e, Ahmad, Ibn Majah, Baihaqi, Tirmidzi dan sebagainya yang sempat dikumpulkan. Koleksi hadis-hadis berkaitan ramadan ini dipetik dari artikel ‘Indahnya Ramadhan’ yang diperolehi melalui laman web Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM).
Sebanyak 15 hadis-hadis berkaitan ramadan yang menceritakan mengenai kelebihan bulan ramadan untuk rujukan bersama:
Rasulullah SAW yang maksudnya : Apabila telah tiba Ramadan, dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup semua pintu neraka dan diikat semua syaitan.(HR Imam Bukhari, Muslim, Nasai’e, Ahmad dan Baihaqi);
Rasulullah SAW telah bersabda yang maksudnya :Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan nescaya akan diampuninya segala dosanya yang telah lalu.(- HR Imam Nasai’e, Ibn Majah, Ibn Hibban dan Baihaqi-);
Rasulullah S.A.W telah bersabda yang maksudnya : Setiap amalan anak Adam baginya melainkan puasa maka ia untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Dan puasa adalah perisai, maka apabila seseorang berada pada hari puasa maka dia dilarang menghampiri(bercumbu) pada hari itu dan tidak meninggikan suara .Sekiranya dia dihina atau diserang maka dia berkata : Sesungguhnya aku berpuasa demi Tuhan yang mana diri nabi Muhammad ditangan-Nya maka perubahan bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari qiamat daripada bau kasturi, dan bagi orang berpuasa dua kegembiraan yang mana dia bergembira dengan keduanya apabila berbuka dia bergembira dengan waktu berbukanya dan apabila bertemu Tuhannya dia gembira dengan puasanya.(HR Imam Bukhari, Muslim, Nasai’e, Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban dan Baihaqi);
Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang (menerima makanan) berpuasa tidak dikurangi sedikitpun (HR Tirmidzi);
Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d R.A daripada Nabi SAW bersabda yang maksudnya: ‘Sesungguhnya di dalam syurga terdapat satu pintu yang disebut Ar-Rayyan yang mana pada hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya (dan) tidak seorangpun selain mereka memasukinya. Dikatakan: ‘Dimanakah orang-orang yang berpuasa?’ Maka mereka pun berdiri (untuk memasukinya), tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorang pun yang masuk dari padanya.’ (HR Bukhari);
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah R.A daripada Rasulullah SAW bersabda: Maksudnya: ‘Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku memberikan balasan (pahala) kepadanya, (kerana) dia(orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya kerana Aku.’ (H.R Muslim)
Diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al-Khudri R.A, aku mendengar Nabi SAW bersabda: Maksudnya: ‘Barangsiapa yang berpuasa sehari pada jalan Allah nescaya Allah akan menjauhkan mukanya dari api neraka (sejauh perjalanan) 70 tahun.’ (HR Bukhari)
Dari Ibnu ‘Umar RA, katanya Rasulullah saw. bersabda: ‘Carilah malam qadar itu pada sepuluh malam yang akhir bulan Ramadhan. Jika kamu lelah, maka janganlah dilewatkan pada tujuh malam yang masih tinggal.’ (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Umar RA. bahwa Nabi SAW. bersabda: ‘Puasa dan Al Qur’an memberi syafaat kepada hamba Allah pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya makan minum dan memenuhi syahwatnya pada siang hari, maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya.’ Dan Al Qur’an pun berkata, ‘Aku telah menghalanginya tidur pada malam hari, maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya.’ Lalu syafaat keduanya diterima Allah.’( H.R Ahmad)
Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda: ‘Di dalam bulan Ramadhan umatku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada umat-umat sebelumnya:
1. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi.
2. Para malaikat selalu memintakan ampunan untuk mereka hingga mereka berbuka.
3. Setiap hari Allah menghias syurga-Nya sambil berkata, ‘Hamba-hamba Ku yang soleh ingin melepas beban dan penderitaannya dan mereka rindu untuk memasukimu.’
4. Pada bulan ini diikat syaitan-syaitan yang derhaka sehingga mereka tidak berleluasa mencapai apa yang dapat dicapainya pada bulan lain.
5. Mereka diampuni oleh Allah SWT pada malam yang terakhir dari bulan itu. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah itu malam Lailatul Qadar?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, karena orang yang bekerja itu akan dipenuhi upahnya manakala sudah menyelesaikan pekerjaannya.’ (H.R Ahmad)
Dari Jabir RA bahwa Nabi SAW bersabda: ‘Puasa itu perisai yang dipergunakan seorang hamba untuk membentengi dirinya dari siksaan neraka.’ (HR Ahmad)
Rasulullah SAW bersabda: Sahur itu seluruhnya berkat, karena itu janganlah kamu meninggalkannya walaupun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan malaikat-Nya memberi salawat kepada orang-orang yang makan pada waktu sahur. (H.R Ahmad)
Sabda Rasulullah SAW.; ‘Tiga doa yang sangat mustajab, doa orang yang puasa, doa orang yang di zalimi dan orang yang musafir.’ (H.R Ahmad, Bukhari, Abu Dawud & Tirmidzi)
Nabi SAW bersabda; ‘Tidurnya orang yang puasa tetap dalam ibadat dan diamnya dianggap tasbih dan amalnya dilipat gandakan dan doanya mustajab dan dosanya diampunkan.’ ( Riwayat Al Baihaqi)
Rasululah SAW bersabda; ‘Puasa itu bagaikan perisai, maka apabila seseorang kamu berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berkata kasar. Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya maka hendaklah dia mengatakan. Aku ini puasa.’ ( Sahih Bukhari)
Semoga mendapat faedah dan manafaat daripada perkongsian ringkas ini. Dan mungkin juga boleh dikongsikan dengan saudara Muslimin muslimat yang lain.
Selasa, 24 Agustus 2010
Jumat, 20 Agustus 2010
10 Kelebihan Berpuasa
Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki mengatakan orang yang berpuasa mempunyai 10 keutamaan yang diberikan Allah, di antaranya ialah:
Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu surga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa.
Kata Nabi dalam satu haditsnya, pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya. (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim).
Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad saw sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi). Rasul menambahkan pula bahawa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan pergunjingan. (HR. Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).
Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya itu lebih harum dari minyak misik. Sehingga Rasul bertutur demikian, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”
Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya dimana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan dzikir. Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan kerana telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Yaitu berbahagia kala berbuka dan kala bertemu Allah,” kata Rasul dalam hadits riwayat imam Muslim.
Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit. “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).
Abuya menegaskan bahawa rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahawa puasa menempah tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.
Menurut kerangka berpikir Abuya, puasa ialah fasilitas kesehatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketaqwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).
Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat pawai arak-arakan neraka dalam bentuk apapun juga. Rasul yang mulia berkata demikian, “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).
Ketujuh, dalam Al Quran Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (Qs. At Taubah: 112).
Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahawa orang –orang yang melawat (As Saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) ke Allah. Makna lawatan, tegas Abuya, di sini adalah bahawa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) bisa sampai kepada Allah. Lawatan ke Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilakoni (makan, minum, mendatangi istri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.
Sembari mengutip Al Quran pula, Abuya mencoba menganalisa surah Az Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kata Al Maliki, orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari Dzat Yang Maha Pemberi, Allah swt.
Kelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktifitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Kerananya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah. Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”
Kesembilan, di antara cara yang Allah kenakan dalam memuliakan orang yang berpuasa, bahawa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama persis dengan orang yang berpuasa itu sendiri meski dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi bertutur seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan…… meski hanya seteguk air. (Hr. Abu Ya`la).
Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bershalawat (memintakan ampunan) baginya.
Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu surga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa.
Kata Nabi dalam satu haditsnya, pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya. (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim).
Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad saw sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi). Rasul menambahkan pula bahawa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan pergunjingan. (HR. Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).
Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya itu lebih harum dari minyak misik. Sehingga Rasul bertutur demikian, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”
Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya dimana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan dzikir. Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan kerana telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Yaitu berbahagia kala berbuka dan kala bertemu Allah,” kata Rasul dalam hadits riwayat imam Muslim.
Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit. “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).
Abuya menegaskan bahawa rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahawa puasa menempah tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.
Menurut kerangka berpikir Abuya, puasa ialah fasilitas kesehatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketaqwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).
Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat pawai arak-arakan neraka dalam bentuk apapun juga. Rasul yang mulia berkata demikian, “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).
Ketujuh, dalam Al Quran Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (Qs. At Taubah: 112).
Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahawa orang –orang yang melawat (As Saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) ke Allah. Makna lawatan, tegas Abuya, di sini adalah bahawa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) bisa sampai kepada Allah. Lawatan ke Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilakoni (makan, minum, mendatangi istri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.
Sembari mengutip Al Quran pula, Abuya mencoba menganalisa surah Az Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kata Al Maliki, orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari Dzat Yang Maha Pemberi, Allah swt.
Kelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktifitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Kerananya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah. Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”
Kesembilan, di antara cara yang Allah kenakan dalam memuliakan orang yang berpuasa, bahawa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama persis dengan orang yang berpuasa itu sendiri meski dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi bertutur seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan…… meski hanya seteguk air. (Hr. Abu Ya`la).
Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bershalawat (memintakan ampunan) baginya.
Ramadan dan Pengisiannya
Muqaddimah
Islam merupakan ad-din yang syumul dan serasi dengan fitrah kejadian manusia. Kesyumulan dan keserasian ini dapat dilihat pada peraturan dan garis panduan yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah yang meliputi selutuh aspek kehidupan manusia sama ada tuntutan rohani, jasmani mahupun akli. Dalam melengkapi peredaran bulan mengelilingi bumi sebanyak 12 kali dalam tempoh satu tahun, Ramadhan telah ditentukan oleh Allah Ta’ala sebagai bulan suci untuk melatih hambaNya membersihkan jiwa dan mencapai ketakwaan melalui ibadah puasa. Oleh kerana tetamu yang mulia ini mengunjungi kita setahun sekali maka sudah pasti ada perkara-perkara yang kita terlupa mengenainya dan perlu mengulangkaji dan memperbaharui ingatan tersebut serta berusaha mendapatkan pedoman yang sewajarnya melalui majlis-majlis ilmu seumpama ini supaya dengan itu kita dapat menjalani ibadah tersebut dengan lebih sempurna berbanding tahun-tahun yang lalu, insyaAllah. Justeru itu kertas ini akan membincangkan tentang beberapa kemusykilan berkaitan ibadah yang sering timbul di kalangan umat Islam setiap kali menjelang Ramadhan dan Syawal. Pembentangan akan terus menjurus kepada isu yang dipilih. Mudah-mudahan pembentangan ini akan dapat memberi sedikit pedoman yang sewajarnya untuk dikongsi bersama.
Kemusykilan Sekitar Ibadah Puasa
1) Tidak sah puasa apabila sesorang lupa berniat puasa di malam hari hingga terbit fajar kerana ia adalah syarat sah puasa. Namun begitu dia masih diwajibkan imsak di siang hari dan wajib qadha.
2) Menurut Mazhab Syafie, niat puasa Ramadhan perlu dilakukan tiap-tiap hari sebagai syarat sah puasa. Namun begitu untuk lebih berhati-hati dan jika khuatir terlupa, maka digalakkan berniat puasa Ramadhan pada malam pertama Ramadhan dengan berniat puasa seluruh Ramadhan dengan mengikut pendapat Imam Malik.
3) Sah puasa jika makan dan minum (bersahur) selepas waktu imsak sehingga pasti terbit fajar (masuk waktu subuh) kerana permulaan puasa ialah bermula dengan terbit fajar sadiq. Namun begitu berhenti makan dan minum sebelum waktu imsak adalah afdhal kerana mengikut sunnah dan sebagai langkah berhati-hati dan bersedia mempersiapkan diri untuk memulakan ibadah puasa. Yang dimaksud dengan waktu Imsak adalah waktu untuk menahan diri dari melakukan perkara-pekara yang membatalkan puasa, maka sebaiknya kita berhenti makan ketika waktu Imsak telah masuk. Rasulullah SAW dalam satu riwayat yang sahih menyebutkan, baginda setelah sahur sempat membaca 50 ayat Quran kemudian baru masuk waktu azan Subuh. Ini membuktikan bahawa tidak makan sahur hingga sampai saat azan subuh berkumandang. Wallahu A'lam.
4) Sah puasa seseorang yang bersahur meluahkan makanan yang ada dalam mulutnya ketika terbit fajar (azan Subuh). Batal jika ditelan dengan sengaja.
5) Sah puasa seseorang yang berada dalam keadaan berhadath besar dan belum mandi ketika masuk waktu subuh. Makruh jika melewatkan mandi hadath besar hingga selepas terbit fajar.
6) Batal puasa jika menelan dengan sengaja sesuatu walau sebesar biji sawi atau sisa makanan di gigi.
7) Orang yang berpuasa tetapi melakukan perkara-perkara mungkar dan maksiat dengan sengaja seperti meninggalkan sembahyang, mendedahkan aurat, mengumpat, berbohong, menonton acara hiburan yang melalaikan, melihat, membaca atau berbicara tentang perkara yang menimbulkan syahwat secara langsung atau tidak seperti melalui telefon, sms, internet, televisyen dan sebagainya adalah sah tetapi dikhuatiri tidak diterima oleh Allah kerana mengurangkan atau menghilangkan pahala puasa. Puasa yang berfaedah dan diterima adalah puasa yang dapat mendidik jiwa dan mampu menggerakkan diri untuk mengerjakan kebaikan serta dapat membuahkan ketakwaan sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa.” (Al-Baqarah : 183)
8) Isu waktu berbuka puasa :
Hukum syara’ menetapkan bahawa waktu berbuka puasa adalah apabila terbenamnya keseluruhan bulatan matahari di ufuk barat (masuk waktu maghrib) tidak kira di mana seseorang itu berada. Penentuan terbenamnya matahari boleh diketahui melalui pandangan mata kasar atau kaedah perkiraan falak berdasarkan ukuran jam yang membentuk Kalender Waktu Berbuka Puasa/Imsak yang dipaparkan di akhbar, televisyen, laman web atau alat telekomunikasi. Pengumuman waktu berbuka lazimnya diketahui melalui laungan azan sama ada di masjid/surau atau di corong radio dan televisyen. Sumber maklumat yang pelbagai ini kadangkala menimbulkan kekeliruan kepada orang ramai apabila berlaku perbezaan pengumuman waktu berbuka puasa. Orang yang berbuka puasa berdasarkan khabar yang diterimanya dari orang yang tidak adil bahwa waktu maghrib sudah masuk, tetapi sebetulnya waktu maghrib belum masuk, sedangkan ia mampu meneliti kebenaran khabar tersebut maka puasanya batal dan wajib ke atasnya qadha’.
Bagi mengelak daripada berlaku perkara ini dan mengatasi kekeliruan maka panduan berikut harus diikuti:
a) Jawatankuasa masjid hendaklah memastikan jam yang digunapakai sebagai rujukan di masjid/surau hendaklah tepat perkiraannya dengan membuat semakan dari masa ke semasa kepada pihak berkaitan. Sebaik-baiknya ada lebih dari sebuah jam dalam masjid/surau supaya boleh buat semakan dan mengesan perbezaan jika ada.
b) Muazzin yang bertugas hendaklah melaungkan azan tepat pada waktunya atau lewat sedikit dan jangan terawal.
c) Penduduk setempat hendaklah menyedari bahawa waktu berbuka puasa rasmi adalah berpandukan Jadual Waktu Berbuka Puasa dan Imsak yang dikeluarkan oleh Jabatan Mufti Melaka. Penetapan waktu tersebut adalah berdasarkan perkiraan falak yang diperakukan dengan merujuk kepada titik rujukan paling barat iaitu Kg. Nelayan, Kuala Sungai Baru.
d) Pengumuman waktu berbuka puasa di radio Melaka.fm juga boleh dijadikan panduan kerana berpandukan jadual rasmi yang dibekalkan.
e) Bagi penduduk yang boleh melihat sendiri seluruh bulatan matahari terbenam di ufuk terutama yang tinggal di sebelah pantai barat, bolehlah menjadi ia sebagai panduan menentukan masuknya waktu berbuka puasa/maghrib.
9) Seseorang itu bolehlah memulai puasanya apabila dia telah melihat hilal atau anak bulan Ramadhan tidak kira di negara mana ia berada ketika itu. Kemudian seseorang itu boleh berbuka atau berhari raya ketika melihat hilal atau anak bulan Syawal walau di mana dia berada. Dalam sebuah hadis ada di jelaskan maksudnya: "Berpuasalah kamu kerana telah melihatnya (hilal Ramadhan) dan berbukalah kamu kerana telah melihatnya (hilal Syawal)". (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Jika awal puasa di Makkah bermula sehari lebih awal dari negara kita, maka seseorang yang berada di Makkah pada ketika itu wajib berpuasa kerana telah melihat anak bulan Ramadhan. Setelah beliau kembali ke tanah air maka ikutlah kaedah di sini iaitu jika diisytiharkan anak bulan Syawal telah kelihatan berdasarkan rukyah atau hisab maka berbukalah (menyambut hari raya). Tidak perlu dikira jumlah bilangan hari dia berpuasa sama ada kurang atau lebih dari 29 atau 30 hari lantaran proses pertukaran tempat, tetapi sebaliknya bersyukurlah atas rahmat yang Allah berikan itu. Sabda Nabi SAW yang bermaksud: "Sekiranya ummatku mengetahui apa yang ada pada Ramadhan itu, sudah pasti mereka akan sentiasa mengharapkan agar semua bulan yang lain menjadi Ramadhan" (Maksud Hadis)
10) Tidak boleh berbuka dan berhari raya bagi orang yang memulakan puasa Ramadhan di Mekah lebih awal satu hari dari Malaysia, di mana apabila beliau balik, puasanya sudah cukup 30 hari dan penduduk di Malaysia masih berpuasa lagi. Dalam hal ini, dia hendaklah tunggu bersama berbuka dan berhari raya dengan penduduk Malaysia. Demikian juga jika seseorang pergi ke negara di mana telah lebih awal berpuasa Ramadhan berbanding Malaysia dan mereka berhari raya sedangkan beliau bepuasa baru 28 hari, maka wajib atasnya berbuka puasa dan berhari raya mengikut negara berkenaan. Bagi mereka yang tidak cukup puasanya sebanyak 29 hari maka wajib mengqadha'kannya kemudian.
11) Tidak harus memulai puasa Ramadhan atau mengakhirinya dengan mengikuti penduduk Mekah kerana kita tidak berada dalam satu matla’. Begitu juga tidak harus mengikuti negara yang berdekatan kecuali berada dalam satu matla’ dan mengikut keputusan pemerintah.
Berubat Ketika Puasa
1) Orang yang lelah (asma) ketika puasa dan terpaksa menyedut ubat gas ventolin inhaler ke dalam mulutnya sekadar perlu untuk mengelakkan kemudharatan yang boleh mengancam nyawa maka dibolehkan sebagai keringanan baginya dan tidak batal puasanya. Penggunaan dalam keadaan biasa bolek membatalkan puasa kerana cecair gas itu boleh terasa di kerongkongan.
2) Tiadak batal puasa orang yang menderma darah ketika berpuasa tetapi makruh, begitu juga berbekam.
3) Tidak batal puasa orang yang terpaksa mendapatkan suntikan daripada doctor bagi tujuan perubatan kerana darurah.
4) Batal puasa orang yang menjalani pemindahan darah atau memasukkan cecair gelukosa dan sebagainya ke dalam badan melalui suntikan pada urat kerana ‘ain benda itu akan masuk ke rongga perut dan mengalir ke seluruh tubuh badan serta menyebabkan rasa kenyang.
5) Tidak batal puasa orang yang memakai contact lens (kanta lekap) pada matanya.
6) Tidak batal puasa orang yang menitiskan cecair ubat mata pada mata ketika puasa kecuali jika diyakini cecair yang dititiskan itu terasa masuk sampai ke kerongkong dan ditelan, maka batal puasa. Tetapi jika diludahkan maka tidak membatalkan puasa.
Solat Tarawih
1) Mengerjakan solat tarawih secara berjemaah adalah afdhal daripada mengerjakannya bersendirian.
2) Bilangan rakaat solat tarawih beserta witir boleh dilakukan samada 11, 13 atau 23 rakaat kerana masing-masing ada hujjah tersendiri yang menyokong. Bahkan sebahagian kaum muslimin ada yan mengejakan lebih daripada itu menurut yang disanggupi kerana Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menetapkan bilangan yang tertentu. Setiap kali seseorang itu membanyakkan bilangan rakaatnya kerana melaksanakan anjuran menghidupkan malam Ramadhan maka semakin banyak pula pahalanya. Namun begitu, menurut amalan kelaziman di negeri ini bagi memelihara keseragaman dan persefahaman serta mengimarahkan majid dan surau dengan qiyam Ramadhan, maka dianjurkan supaya melaksanakan 23 rakaat secara bejemaah. Hal ini tidak perlu dipanjangkan perbahasannya. Apa yang lebih penting solat tarawih dan witir dapat dilaksanakan dengan penuh ketenangan dan khusyu’ mudah-mudahan diterima oleh Allah Ta’ala dan mndapat ganjaran sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alahi wasallam yang bermaksud :
“Barangsiapa yang berdiri solat di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka ia akan diampuni dari dosa-dosa yang lalu”. (Maksud Hadis Riwayat Muslim)
3) Imam dan bilal yang memimpin solat tarawih hendaklah memastikan supaya bersederhana dalam solat dan ucapan salawat antara dua rakaat. Tidak terlalu lambat atau cepat. Dilakukan dengan khusyu’ dan tawadhu’ mudah-mudahan menjadi solat yang berkesan kepada jiwa setiap makmum bagi membentuk peribadi mulia.
4) Hadith yang menceritakan tentang kelebihan mengerjakan solat tarawih pada setiap malam yang kadang kala dibacakan sebelum memulakan solat tersebut atau disebarkan dengan tujuan untuk menggalakkan orang ramai beramal adalah hadith mawdhu’ (palsu). Oleh itu ia tidak boleh dihebahkan kerana merupakan suatu pendustaan terhadap Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam.
Lailatul Qadar / Malam 7 likur
1) Lailatul qadar dapat disaksikan oleh orang yang ikehendaki oleh Allah pada tiap-tiap tahun di dalam bulan Ramadhan.
2) Digalakkan bagi orang yang mengalami lailatul qadar menyembunyikan dan hendaklah berdoa dengan penuh keikhlasan, baik yang behubungan dengan dunia ataupun akhirat.
3) Tidak ada kepastian yang yang jelas mengenai masa berlakunya lailatul qadar. Namun begitu Jumhur Ulama’ berpendapat ia berlaku pada malam yang ganjil daripada 10 akhir Ramadhan berdasarkan kepada petunjuk beberapa hadith sahih anataranya yang diriwayatkan oleh Bukhari dari ‘Aisyah bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam besabda yang bemaksud :
“Carilah dengan segala daya upaya malam lailatul qadar di malam-malam ganjil dari sepuluhan yang akhir dari bulan Ramadhan”.
4) Para Ulama’ berselisih pendapat tentang sama ada tanda-tanda lailatul qadar dapat dilihat oleh mereka yang memperolehinya atau tidak. Namun begitu kebanyakan Ulama’ berpendapat bahawa pahala ibadat diperolehi oleh orang yang beribadat pada malam itu seperti bertarawih, bertadarus, membaca al-Qur’an dan sebagainya meskipun tidak dapat melihat tanda-tandanya.
5) Amalan menyambut malam 7 likur dengan memasang pelita di halaman rumah kerana percaya bahawa roh-roh orang yang meninggal dunia akan kembali bukanlah sesuatu yang dianjurkan oleh syariat dan tiak berasas. Bagaimanapun ia hanyalah adat setempat yang diharuskan selagimana tidak bertujuan sedemikian, dilakukan secara sederhana dan tidak membawa kepada pembaziran. Yang dituntut melaksanakannya pada 10 terakhir Ramadhan adalah menghidupkan malamnya dengan memperbanyakkan ibadat seperti solat sunat, membaca al-Qur’an, beriktikaf dan sebagainya.
Tadarus Al-Qur’an
1) Merupakan suatu sunnah yang digalakkan kerana Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam melakukan mudarasah al-Qur’an bersama Jibril a.s setiap tahun sekali dan melaksanakan yang demikian pada tahun kewafatan baginda sebanyak 2 kali.
2) Tadarus atau mudarasah al-Qur’an ini boleh dilakukan dengan sesama sendiri baik sebagai pengajar atau pelajar dan diwujudkan halaqah. Bagaimanapun amalan ini hendaklah dilakukan dengan menjaga adab-adabnya sperti membaca dengan tenang, hadir hati, menyedari kebesaran kalamullah, tadabbur, tartil dan sebagainya.
Zakat Fitrah
1) Kadar zakat fitrah di negeri Melaka ialah RM 4.50 seorang bagi tahun 1426H.
2) Boleh dibayar bermula masuknya 1 Ramadhan dan berakhir apabila terbenam matahari 1 Syawal. Waktu diwajibkan ialah apabila terbenam matahari masuk 1 Syawal dan waktu yang afdhal ialah pada pagi 1 Syawal (sebelum solat ‘idul fitri). Bagaimanpun, untuk mengelakkan daripada terlupa dan supaya fakir miskin dapat habuan mereka sebelum hari raya maka digalakkan agar apat disempurnakan awal.
3) Kewajipan zakat fitrah tidak gugur jika gagal dikeluarkan pada waktunya, sebaliknya ia tetap menjadi hutang yang wajib dibayar walaupun diakhir umur. Haram melambatkan zakat fitrah dengan sengaja hingga berkahir waktunya.
4) Wajib bayar fitrah kepada ‘amil sekiranya pihak pemerintah telah melantik ‘amil.
Tatacara menyambut ‘Idul Fitri
1) Sunat melaungkan takbir sebaik sahaja diumumkan bahawa anak bulan Syawal telah sabit dilihat. Sesungguhnya laungan takbir itu bukanlah semata-mata untuk memeriahkan suasana hari raya sahaja, tetapi sebagai tanda syukur kita terhadap anugerah yang dikurniakan oleh Allah.
2) Pada pagi hari raya pula, sunat mandi dengan niat kerana kedatangan Aidilfitri dan bukan mandi semata-mata hanya untuk membersihkan diri.
3) Sunat memakai bau-bauan yang harum, membersihkan diri dengan bergunting rambut dan memotong kuku serta memakai pakaian yang paling elok, kerana hari tersebut merupakan hari untuk berhias-hias dan berelok-elok.
4) Sunat memakan buah kurma dengan bilangan yang ganjil sebelum ke masjid bagi menunaikan sembahyang sunat hari raya.
5) Menunaikan sembahyang sunat hari raya secara berjemaah dan mendengar khutbah raya.
6) Sunat doa mendoakan dan mengucapkan tahniah di antara satu sama lain.
7) ‘Idul fitri adalah suatu ibadat oleh itu jangan dicemari dengan aktiviti yang boleh merosakkannya seperti berfoya-foya, berpeleseran tanpa tujuan, menonton wayang, berpasang-pasangan dengan yang bukan muhrim, bergaul bebas lelaki dan wanita bukan muhrim dan sebagainya.
Amalan Ziarah Kubur
1) Amalan berziarah boleh mengingatkan seseorang kepada asal usul kejadian dan menyedarkan bahawa setiap yang hidup pasti akan mati bila tiba masanya. Ini boleh menimbulkan sifat zuhud iaitu tidak rakus dan tamak akan harta dunia kerana harta benda itu tidak dapat dibawa mati.
2) Sunatkan berwuduk terlebih dahulu, memakai pakaian yang sopan dan menutup aurat, bagi lelaki ataupun perempuan.
3) Sunatkan memberi salam kepada ahli kubur. Perbuatan memberi salam itu afdalnya dilakukan dalam keadaan kita berdiri di tepi perkuburan dengan membelakangi kiblat dan menghadap ke arah muka ahli kubur yang diziarahi.
4) Sunat membaca Al-Quran seperti Surah Al-Ikhlas sebanyak sebelas kali atau membaca Surah Yaasiin dan pahala bacaan itu dihadiahkan kepada ahli kubur.
5) Sunat berdoa dengan cara berpaling ke arah kiblat serta mengangkat kedua-dua belah tangan dan mohon ke hadrat Allah semoga roh ahli kubur dilimpahi dengan rahmat, keselamatan, keafiatan dan sebagainya. Setelah itu barulah merenjiskan air ke kubur berkenaan.
6) Sunat meletakkan pelepah daun atau bunga yang masih hijau di atas kubur iaitu sebagai ikutan daripada perbuatan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam.
7) Haram untuk meratap ataupun memekik serta memukul pipi disebabkan oleh perasaan yang amat berdukacita di atas pemergian orang yang disayangi. Kita juga dilarang untuk bercakap perkara-perkara yang tidak berfaedah.
8) Makruh hukumnya jika kita duduk di atas kubur yakni bertepatan dengan kedudukan mayat di dalam kubur. Tetapi tidaklah dilarang jika duduk di sekitar atau di sekeliling kubur tersebut.
9) Haram melakukan perkara-perkara khurafat yang menjejaskan akidah seperti mencium kubur, mengusap-usap tanah perkuburan dan yang seumpamanya.
10) Diharuskan membawa dan menabur bunga secara sederhana dan tidak membazir. Harus menjirus kubur dengan air bunga-bungaan jika dia berupaya dan bermaksud supaya para malaikat hadir kerana malaikat sangat suka kepada bau-bauan yang harum lagi bagus.
11) Haram menyerupai orang yahudi dan nasrani yang membawa kalungan atau jambangan bunga dan meletakkannya di sisi pusara meraka.
PENUTUP
Ramadhan ibarat sebuah madrasah atau sekolah yang ditentukan oleh Allah untuk mentarbiyah, melatih dan mendidik umat Islam agar dapat melahirkan insan bertakwa yang patuh tunduk kepada suruhan dan laranganNya. Bulan yang disediakan di dalamnya pelbagai bekalan untuk diambil sebanyak mungkin oleh para hambaNya yang beriman buat bekalan perjalanan di masa hadapan. Bulan unutk menyucikan diri dari kekotoran dosa dan memperbaharui diri dengan keimanan yang lebih kental guna menghadapi pelbagai ujian yang mendatang dalam bulan-bulan seterusnya. Beruntunglah jika kita dapat menggunakan kesempatan yang bakal tiba dengan sebaik-baiknya dan rugilah mereka yang mengabaikannya. Selamat menyambut bulan Ramadhan al-Mubarak.
Islam merupakan ad-din yang syumul dan serasi dengan fitrah kejadian manusia. Kesyumulan dan keserasian ini dapat dilihat pada peraturan dan garis panduan yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah yang meliputi selutuh aspek kehidupan manusia sama ada tuntutan rohani, jasmani mahupun akli. Dalam melengkapi peredaran bulan mengelilingi bumi sebanyak 12 kali dalam tempoh satu tahun, Ramadhan telah ditentukan oleh Allah Ta’ala sebagai bulan suci untuk melatih hambaNya membersihkan jiwa dan mencapai ketakwaan melalui ibadah puasa. Oleh kerana tetamu yang mulia ini mengunjungi kita setahun sekali maka sudah pasti ada perkara-perkara yang kita terlupa mengenainya dan perlu mengulangkaji dan memperbaharui ingatan tersebut serta berusaha mendapatkan pedoman yang sewajarnya melalui majlis-majlis ilmu seumpama ini supaya dengan itu kita dapat menjalani ibadah tersebut dengan lebih sempurna berbanding tahun-tahun yang lalu, insyaAllah. Justeru itu kertas ini akan membincangkan tentang beberapa kemusykilan berkaitan ibadah yang sering timbul di kalangan umat Islam setiap kali menjelang Ramadhan dan Syawal. Pembentangan akan terus menjurus kepada isu yang dipilih. Mudah-mudahan pembentangan ini akan dapat memberi sedikit pedoman yang sewajarnya untuk dikongsi bersama.
Kemusykilan Sekitar Ibadah Puasa
1) Tidak sah puasa apabila sesorang lupa berniat puasa di malam hari hingga terbit fajar kerana ia adalah syarat sah puasa. Namun begitu dia masih diwajibkan imsak di siang hari dan wajib qadha.
2) Menurut Mazhab Syafie, niat puasa Ramadhan perlu dilakukan tiap-tiap hari sebagai syarat sah puasa. Namun begitu untuk lebih berhati-hati dan jika khuatir terlupa, maka digalakkan berniat puasa Ramadhan pada malam pertama Ramadhan dengan berniat puasa seluruh Ramadhan dengan mengikut pendapat Imam Malik.
3) Sah puasa jika makan dan minum (bersahur) selepas waktu imsak sehingga pasti terbit fajar (masuk waktu subuh) kerana permulaan puasa ialah bermula dengan terbit fajar sadiq. Namun begitu berhenti makan dan minum sebelum waktu imsak adalah afdhal kerana mengikut sunnah dan sebagai langkah berhati-hati dan bersedia mempersiapkan diri untuk memulakan ibadah puasa. Yang dimaksud dengan waktu Imsak adalah waktu untuk menahan diri dari melakukan perkara-pekara yang membatalkan puasa, maka sebaiknya kita berhenti makan ketika waktu Imsak telah masuk. Rasulullah SAW dalam satu riwayat yang sahih menyebutkan, baginda setelah sahur sempat membaca 50 ayat Quran kemudian baru masuk waktu azan Subuh. Ini membuktikan bahawa tidak makan sahur hingga sampai saat azan subuh berkumandang. Wallahu A'lam.
4) Sah puasa seseorang yang bersahur meluahkan makanan yang ada dalam mulutnya ketika terbit fajar (azan Subuh). Batal jika ditelan dengan sengaja.
5) Sah puasa seseorang yang berada dalam keadaan berhadath besar dan belum mandi ketika masuk waktu subuh. Makruh jika melewatkan mandi hadath besar hingga selepas terbit fajar.
6) Batal puasa jika menelan dengan sengaja sesuatu walau sebesar biji sawi atau sisa makanan di gigi.
7) Orang yang berpuasa tetapi melakukan perkara-perkara mungkar dan maksiat dengan sengaja seperti meninggalkan sembahyang, mendedahkan aurat, mengumpat, berbohong, menonton acara hiburan yang melalaikan, melihat, membaca atau berbicara tentang perkara yang menimbulkan syahwat secara langsung atau tidak seperti melalui telefon, sms, internet, televisyen dan sebagainya adalah sah tetapi dikhuatiri tidak diterima oleh Allah kerana mengurangkan atau menghilangkan pahala puasa. Puasa yang berfaedah dan diterima adalah puasa yang dapat mendidik jiwa dan mampu menggerakkan diri untuk mengerjakan kebaikan serta dapat membuahkan ketakwaan sebagaimana firman Allah yang bermaksud :
“Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa.” (Al-Baqarah : 183)
8) Isu waktu berbuka puasa :
Hukum syara’ menetapkan bahawa waktu berbuka puasa adalah apabila terbenamnya keseluruhan bulatan matahari di ufuk barat (masuk waktu maghrib) tidak kira di mana seseorang itu berada. Penentuan terbenamnya matahari boleh diketahui melalui pandangan mata kasar atau kaedah perkiraan falak berdasarkan ukuran jam yang membentuk Kalender Waktu Berbuka Puasa/Imsak yang dipaparkan di akhbar, televisyen, laman web atau alat telekomunikasi. Pengumuman waktu berbuka lazimnya diketahui melalui laungan azan sama ada di masjid/surau atau di corong radio dan televisyen. Sumber maklumat yang pelbagai ini kadangkala menimbulkan kekeliruan kepada orang ramai apabila berlaku perbezaan pengumuman waktu berbuka puasa. Orang yang berbuka puasa berdasarkan khabar yang diterimanya dari orang yang tidak adil bahwa waktu maghrib sudah masuk, tetapi sebetulnya waktu maghrib belum masuk, sedangkan ia mampu meneliti kebenaran khabar tersebut maka puasanya batal dan wajib ke atasnya qadha’.
Bagi mengelak daripada berlaku perkara ini dan mengatasi kekeliruan maka panduan berikut harus diikuti:
a) Jawatankuasa masjid hendaklah memastikan jam yang digunapakai sebagai rujukan di masjid/surau hendaklah tepat perkiraannya dengan membuat semakan dari masa ke semasa kepada pihak berkaitan. Sebaik-baiknya ada lebih dari sebuah jam dalam masjid/surau supaya boleh buat semakan dan mengesan perbezaan jika ada.
b) Muazzin yang bertugas hendaklah melaungkan azan tepat pada waktunya atau lewat sedikit dan jangan terawal.
c) Penduduk setempat hendaklah menyedari bahawa waktu berbuka puasa rasmi adalah berpandukan Jadual Waktu Berbuka Puasa dan Imsak yang dikeluarkan oleh Jabatan Mufti Melaka. Penetapan waktu tersebut adalah berdasarkan perkiraan falak yang diperakukan dengan merujuk kepada titik rujukan paling barat iaitu Kg. Nelayan, Kuala Sungai Baru.
d) Pengumuman waktu berbuka puasa di radio Melaka.fm juga boleh dijadikan panduan kerana berpandukan jadual rasmi yang dibekalkan.
e) Bagi penduduk yang boleh melihat sendiri seluruh bulatan matahari terbenam di ufuk terutama yang tinggal di sebelah pantai barat, bolehlah menjadi ia sebagai panduan menentukan masuknya waktu berbuka puasa/maghrib.
9) Seseorang itu bolehlah memulai puasanya apabila dia telah melihat hilal atau anak bulan Ramadhan tidak kira di negara mana ia berada ketika itu. Kemudian seseorang itu boleh berbuka atau berhari raya ketika melihat hilal atau anak bulan Syawal walau di mana dia berada. Dalam sebuah hadis ada di jelaskan maksudnya: "Berpuasalah kamu kerana telah melihatnya (hilal Ramadhan) dan berbukalah kamu kerana telah melihatnya (hilal Syawal)". (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Jika awal puasa di Makkah bermula sehari lebih awal dari negara kita, maka seseorang yang berada di Makkah pada ketika itu wajib berpuasa kerana telah melihat anak bulan Ramadhan. Setelah beliau kembali ke tanah air maka ikutlah kaedah di sini iaitu jika diisytiharkan anak bulan Syawal telah kelihatan berdasarkan rukyah atau hisab maka berbukalah (menyambut hari raya). Tidak perlu dikira jumlah bilangan hari dia berpuasa sama ada kurang atau lebih dari 29 atau 30 hari lantaran proses pertukaran tempat, tetapi sebaliknya bersyukurlah atas rahmat yang Allah berikan itu. Sabda Nabi SAW yang bermaksud: "Sekiranya ummatku mengetahui apa yang ada pada Ramadhan itu, sudah pasti mereka akan sentiasa mengharapkan agar semua bulan yang lain menjadi Ramadhan" (Maksud Hadis)
10) Tidak boleh berbuka dan berhari raya bagi orang yang memulakan puasa Ramadhan di Mekah lebih awal satu hari dari Malaysia, di mana apabila beliau balik, puasanya sudah cukup 30 hari dan penduduk di Malaysia masih berpuasa lagi. Dalam hal ini, dia hendaklah tunggu bersama berbuka dan berhari raya dengan penduduk Malaysia. Demikian juga jika seseorang pergi ke negara di mana telah lebih awal berpuasa Ramadhan berbanding Malaysia dan mereka berhari raya sedangkan beliau bepuasa baru 28 hari, maka wajib atasnya berbuka puasa dan berhari raya mengikut negara berkenaan. Bagi mereka yang tidak cukup puasanya sebanyak 29 hari maka wajib mengqadha'kannya kemudian.
11) Tidak harus memulai puasa Ramadhan atau mengakhirinya dengan mengikuti penduduk Mekah kerana kita tidak berada dalam satu matla’. Begitu juga tidak harus mengikuti negara yang berdekatan kecuali berada dalam satu matla’ dan mengikut keputusan pemerintah.
Berubat Ketika Puasa
1) Orang yang lelah (asma) ketika puasa dan terpaksa menyedut ubat gas ventolin inhaler ke dalam mulutnya sekadar perlu untuk mengelakkan kemudharatan yang boleh mengancam nyawa maka dibolehkan sebagai keringanan baginya dan tidak batal puasanya. Penggunaan dalam keadaan biasa bolek membatalkan puasa kerana cecair gas itu boleh terasa di kerongkongan.
2) Tiadak batal puasa orang yang menderma darah ketika berpuasa tetapi makruh, begitu juga berbekam.
3) Tidak batal puasa orang yang terpaksa mendapatkan suntikan daripada doctor bagi tujuan perubatan kerana darurah.
4) Batal puasa orang yang menjalani pemindahan darah atau memasukkan cecair gelukosa dan sebagainya ke dalam badan melalui suntikan pada urat kerana ‘ain benda itu akan masuk ke rongga perut dan mengalir ke seluruh tubuh badan serta menyebabkan rasa kenyang.
5) Tidak batal puasa orang yang memakai contact lens (kanta lekap) pada matanya.
6) Tidak batal puasa orang yang menitiskan cecair ubat mata pada mata ketika puasa kecuali jika diyakini cecair yang dititiskan itu terasa masuk sampai ke kerongkong dan ditelan, maka batal puasa. Tetapi jika diludahkan maka tidak membatalkan puasa.
Solat Tarawih
1) Mengerjakan solat tarawih secara berjemaah adalah afdhal daripada mengerjakannya bersendirian.
2) Bilangan rakaat solat tarawih beserta witir boleh dilakukan samada 11, 13 atau 23 rakaat kerana masing-masing ada hujjah tersendiri yang menyokong. Bahkan sebahagian kaum muslimin ada yan mengejakan lebih daripada itu menurut yang disanggupi kerana Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menetapkan bilangan yang tertentu. Setiap kali seseorang itu membanyakkan bilangan rakaatnya kerana melaksanakan anjuran menghidupkan malam Ramadhan maka semakin banyak pula pahalanya. Namun begitu, menurut amalan kelaziman di negeri ini bagi memelihara keseragaman dan persefahaman serta mengimarahkan majid dan surau dengan qiyam Ramadhan, maka dianjurkan supaya melaksanakan 23 rakaat secara bejemaah. Hal ini tidak perlu dipanjangkan perbahasannya. Apa yang lebih penting solat tarawih dan witir dapat dilaksanakan dengan penuh ketenangan dan khusyu’ mudah-mudahan diterima oleh Allah Ta’ala dan mndapat ganjaran sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alahi wasallam yang bermaksud :
“Barangsiapa yang berdiri solat di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka ia akan diampuni dari dosa-dosa yang lalu”. (Maksud Hadis Riwayat Muslim)
3) Imam dan bilal yang memimpin solat tarawih hendaklah memastikan supaya bersederhana dalam solat dan ucapan salawat antara dua rakaat. Tidak terlalu lambat atau cepat. Dilakukan dengan khusyu’ dan tawadhu’ mudah-mudahan menjadi solat yang berkesan kepada jiwa setiap makmum bagi membentuk peribadi mulia.
4) Hadith yang menceritakan tentang kelebihan mengerjakan solat tarawih pada setiap malam yang kadang kala dibacakan sebelum memulakan solat tersebut atau disebarkan dengan tujuan untuk menggalakkan orang ramai beramal adalah hadith mawdhu’ (palsu). Oleh itu ia tidak boleh dihebahkan kerana merupakan suatu pendustaan terhadap Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam.
Lailatul Qadar / Malam 7 likur
1) Lailatul qadar dapat disaksikan oleh orang yang ikehendaki oleh Allah pada tiap-tiap tahun di dalam bulan Ramadhan.
2) Digalakkan bagi orang yang mengalami lailatul qadar menyembunyikan dan hendaklah berdoa dengan penuh keikhlasan, baik yang behubungan dengan dunia ataupun akhirat.
3) Tidak ada kepastian yang yang jelas mengenai masa berlakunya lailatul qadar. Namun begitu Jumhur Ulama’ berpendapat ia berlaku pada malam yang ganjil daripada 10 akhir Ramadhan berdasarkan kepada petunjuk beberapa hadith sahih anataranya yang diriwayatkan oleh Bukhari dari ‘Aisyah bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam besabda yang bemaksud :
“Carilah dengan segala daya upaya malam lailatul qadar di malam-malam ganjil dari sepuluhan yang akhir dari bulan Ramadhan”.
4) Para Ulama’ berselisih pendapat tentang sama ada tanda-tanda lailatul qadar dapat dilihat oleh mereka yang memperolehinya atau tidak. Namun begitu kebanyakan Ulama’ berpendapat bahawa pahala ibadat diperolehi oleh orang yang beribadat pada malam itu seperti bertarawih, bertadarus, membaca al-Qur’an dan sebagainya meskipun tidak dapat melihat tanda-tandanya.
5) Amalan menyambut malam 7 likur dengan memasang pelita di halaman rumah kerana percaya bahawa roh-roh orang yang meninggal dunia akan kembali bukanlah sesuatu yang dianjurkan oleh syariat dan tiak berasas. Bagaimanapun ia hanyalah adat setempat yang diharuskan selagimana tidak bertujuan sedemikian, dilakukan secara sederhana dan tidak membawa kepada pembaziran. Yang dituntut melaksanakannya pada 10 terakhir Ramadhan adalah menghidupkan malamnya dengan memperbanyakkan ibadat seperti solat sunat, membaca al-Qur’an, beriktikaf dan sebagainya.
Tadarus Al-Qur’an
1) Merupakan suatu sunnah yang digalakkan kerana Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam melakukan mudarasah al-Qur’an bersama Jibril a.s setiap tahun sekali dan melaksanakan yang demikian pada tahun kewafatan baginda sebanyak 2 kali.
2) Tadarus atau mudarasah al-Qur’an ini boleh dilakukan dengan sesama sendiri baik sebagai pengajar atau pelajar dan diwujudkan halaqah. Bagaimanapun amalan ini hendaklah dilakukan dengan menjaga adab-adabnya sperti membaca dengan tenang, hadir hati, menyedari kebesaran kalamullah, tadabbur, tartil dan sebagainya.
Zakat Fitrah
1) Kadar zakat fitrah di negeri Melaka ialah RM 4.50 seorang bagi tahun 1426H.
2) Boleh dibayar bermula masuknya 1 Ramadhan dan berakhir apabila terbenam matahari 1 Syawal. Waktu diwajibkan ialah apabila terbenam matahari masuk 1 Syawal dan waktu yang afdhal ialah pada pagi 1 Syawal (sebelum solat ‘idul fitri). Bagaimanpun, untuk mengelakkan daripada terlupa dan supaya fakir miskin dapat habuan mereka sebelum hari raya maka digalakkan agar apat disempurnakan awal.
3) Kewajipan zakat fitrah tidak gugur jika gagal dikeluarkan pada waktunya, sebaliknya ia tetap menjadi hutang yang wajib dibayar walaupun diakhir umur. Haram melambatkan zakat fitrah dengan sengaja hingga berkahir waktunya.
4) Wajib bayar fitrah kepada ‘amil sekiranya pihak pemerintah telah melantik ‘amil.
Tatacara menyambut ‘Idul Fitri
1) Sunat melaungkan takbir sebaik sahaja diumumkan bahawa anak bulan Syawal telah sabit dilihat. Sesungguhnya laungan takbir itu bukanlah semata-mata untuk memeriahkan suasana hari raya sahaja, tetapi sebagai tanda syukur kita terhadap anugerah yang dikurniakan oleh Allah.
2) Pada pagi hari raya pula, sunat mandi dengan niat kerana kedatangan Aidilfitri dan bukan mandi semata-mata hanya untuk membersihkan diri.
3) Sunat memakai bau-bauan yang harum, membersihkan diri dengan bergunting rambut dan memotong kuku serta memakai pakaian yang paling elok, kerana hari tersebut merupakan hari untuk berhias-hias dan berelok-elok.
4) Sunat memakan buah kurma dengan bilangan yang ganjil sebelum ke masjid bagi menunaikan sembahyang sunat hari raya.
5) Menunaikan sembahyang sunat hari raya secara berjemaah dan mendengar khutbah raya.
6) Sunat doa mendoakan dan mengucapkan tahniah di antara satu sama lain.
7) ‘Idul fitri adalah suatu ibadat oleh itu jangan dicemari dengan aktiviti yang boleh merosakkannya seperti berfoya-foya, berpeleseran tanpa tujuan, menonton wayang, berpasang-pasangan dengan yang bukan muhrim, bergaul bebas lelaki dan wanita bukan muhrim dan sebagainya.
Amalan Ziarah Kubur
1) Amalan berziarah boleh mengingatkan seseorang kepada asal usul kejadian dan menyedarkan bahawa setiap yang hidup pasti akan mati bila tiba masanya. Ini boleh menimbulkan sifat zuhud iaitu tidak rakus dan tamak akan harta dunia kerana harta benda itu tidak dapat dibawa mati.
2) Sunatkan berwuduk terlebih dahulu, memakai pakaian yang sopan dan menutup aurat, bagi lelaki ataupun perempuan.
3) Sunatkan memberi salam kepada ahli kubur. Perbuatan memberi salam itu afdalnya dilakukan dalam keadaan kita berdiri di tepi perkuburan dengan membelakangi kiblat dan menghadap ke arah muka ahli kubur yang diziarahi.
4) Sunat membaca Al-Quran seperti Surah Al-Ikhlas sebanyak sebelas kali atau membaca Surah Yaasiin dan pahala bacaan itu dihadiahkan kepada ahli kubur.
5) Sunat berdoa dengan cara berpaling ke arah kiblat serta mengangkat kedua-dua belah tangan dan mohon ke hadrat Allah semoga roh ahli kubur dilimpahi dengan rahmat, keselamatan, keafiatan dan sebagainya. Setelah itu barulah merenjiskan air ke kubur berkenaan.
6) Sunat meletakkan pelepah daun atau bunga yang masih hijau di atas kubur iaitu sebagai ikutan daripada perbuatan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam.
7) Haram untuk meratap ataupun memekik serta memukul pipi disebabkan oleh perasaan yang amat berdukacita di atas pemergian orang yang disayangi. Kita juga dilarang untuk bercakap perkara-perkara yang tidak berfaedah.
8) Makruh hukumnya jika kita duduk di atas kubur yakni bertepatan dengan kedudukan mayat di dalam kubur. Tetapi tidaklah dilarang jika duduk di sekitar atau di sekeliling kubur tersebut.
9) Haram melakukan perkara-perkara khurafat yang menjejaskan akidah seperti mencium kubur, mengusap-usap tanah perkuburan dan yang seumpamanya.
10) Diharuskan membawa dan menabur bunga secara sederhana dan tidak membazir. Harus menjirus kubur dengan air bunga-bungaan jika dia berupaya dan bermaksud supaya para malaikat hadir kerana malaikat sangat suka kepada bau-bauan yang harum lagi bagus.
11) Haram menyerupai orang yahudi dan nasrani yang membawa kalungan atau jambangan bunga dan meletakkannya di sisi pusara meraka.
PENUTUP
Ramadhan ibarat sebuah madrasah atau sekolah yang ditentukan oleh Allah untuk mentarbiyah, melatih dan mendidik umat Islam agar dapat melahirkan insan bertakwa yang patuh tunduk kepada suruhan dan laranganNya. Bulan yang disediakan di dalamnya pelbagai bekalan untuk diambil sebanyak mungkin oleh para hambaNya yang beriman buat bekalan perjalanan di masa hadapan. Bulan unutk menyucikan diri dari kekotoran dosa dan memperbaharui diri dengan keimanan yang lebih kental guna menghadapi pelbagai ujian yang mendatang dalam bulan-bulan seterusnya. Beruntunglah jika kita dapat menggunakan kesempatan yang bakal tiba dengan sebaik-baiknya dan rugilah mereka yang mengabaikannya. Selamat menyambut bulan Ramadhan al-Mubarak.
Selasa, 17 Agustus 2010
19 Hadis Untuk Wanita
1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah s. a. w. akan hal tersebut, jawab Baginda s. a. w., “Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.
2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah s. w. t. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah s. w. t. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah s. w. t.
4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah s. w. t. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah s. w. t.
7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah s. w. t. dan orang yang takutkan Allah s. w. t., akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah). Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.
9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah s. w. t. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.
11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.
12. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah s. a. w, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah s. a. w., “Suaminya”. “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah s. a. w, “Ibunya”.
13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.
15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.
17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s. a. w) di dalam syurga.
18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.
19. Daripada Aisyah r. a. “Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”
2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah s. w. t. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah s. w. t. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah s. w. t.
4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah s. w. t. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah s. w. t.
7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah s. w. t. dan orang yang takutkan Allah s. w. t., akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah). Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.
9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah s. w. t. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.
11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.
12. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah s. a. w, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah s. a. w., “Suaminya”. “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah s. a. w, “Ibunya”.
13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.
15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.
17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s. a. w) di dalam syurga.
18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.
19. Daripada Aisyah r. a. “Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”
Senin, 16 Agustus 2010
Adap Puasa
Setiap orang yang mengerjakan puasa perlu mematuhi beberapa peraturan dan adab yang boleh menyempurnakan ibadah tersebut. Antara yang terpenting adalah:
1. Menjaga lidah daripada berdusta, mengumpat dan mencampuri urusan orang lain yang tiada kena-mengena dengannya;
2. Memelihara mata dan telinga daripada melihat dan mendengar perkara yang dilarang oleh syarak dan yang sia-sia;
3. Mengawal perut daripada merasai makanan dan minuman yang haram atau yang mengandungi unsur syubhat terutama ketika berbuka dan berusaha sedaya mungkin untuk menghasilkan pemakanan yang halal lagi bersih.
Ulama silam pernah berpesan: “Apabila kamu berpuasa maka perhatikanlah apa yang akan dijadikan makanan berbukamu dan di manakah kamu akan berbuka?” Ia adalah panduan yang terbaik bagi mengawasi diri daripada terjebak dengan unsur-unsur makanan yang tidak halal;
4. Berusaha menjaga kesemua pancaindera dan anggota tubuh badan daripada mendekati atau melakukan maksiat dan perkara yang sia-sia. Dengan demikian ibadah puasanya akan suci dan sempurna. Terdapat ramai yang memenatkan diri dengan berlapar dan berdahaga, membiarkan diri terdorong kepada perlakuan dosa dan noda, kerana itu puasanya rosak binasa dan keletihannya tidaklah berbaloi sebagaimana maksud sabda Rasulullah s.a.w.: Ramai yang berpuasa tidak mendapat ganjaran daripada puasanya melainkan lapar dan dahaga. (Riwayat an-Nasaei)
Meninggalkan maksiat menjadi kewajipan kepada seluruh orang Islam sama ada mereka sedang berpuasa atau tidak. Apatah lagi bagi yang berpuasa, ia lebih dituntut dan diwajibkan. Sabda Rasulullah, Puasa itu adalah ‘perisai’, sekiranya seseorang daripada kalangan kamu sedang berpuasa janganlah dia bercakap kotor, melakukan keburukan dan berbuat bodoh. Jika ada orang lain yang mengejinya atau cuba memeranginya maka hendaklah dia katakan kepada orang itu: “Saya sedang berpuasa.” (Riwayat Bukhari dan Muslim);
5. Jangan membanyakkan tidur pada siang harinya dan makan pada malamnya, bahkan bersederhanalah pada kedua-duanya bagi menyelami kejerihan lapar dan dahaga. Dengan demikian sanubarinya terkawal, keinginan nafsunya kurang dan hatinya ceria. Itulah rahsia dan intipati puasa yang perlu dicapai;
6. Jauhkan diri daripada mengikut dorongan nafsu ketika berbuka dengan beraneka jenis makanan yang lazat-lazat. Sebaik-baiknya adat makannya sama sahaja pada bulan puasa dan bulan-bulan yang lain. Penggemblengan diri dalam mengurangkan tuntutan jasmani dan keinginan perasaan memberikan kesan yang positif terhadap kecerahan hati nurani yang amat dituntut terutama pada bulan Ramadan.
Mereka yang menjadikan keinginan nafsu perut sebagai tunggangan akal ketika berbuka yang menyalahi kebiasaan pada bulan-bulan lain sebenarnya terpedaya dengan pujukan iblis. Rayuannya bertujuan menghilangkan barakah (berkat) ibadah puasa mereka, nikmat limpahan ketenangan daripada Allah s.w.t., kekhusyukan diri ketika bermunajat dan berzikir kepada-Nya.
Sepatutnya orang yang berpuasa mengurangkan kadar pemakanannya sehingga terserlah kesan puasa itu kepada dirinya. Kekenyangan adalah punca kelalaian, kealpaan, keras hati dan malas untuk taat kepada Allah s.w.t..
Sabdanya: Takungan jelek yang dipenuhkan oleh manusia adalah kantong perutnya, memadailah baginya beberapa suapan yang dapat meneguhkan tulang belakangnya. Jika dia enggan maka berikanlah sepertiga (bahagian perutnya) untuk makanan, sepertiga kedua untuk minuman dan sepertiga terakhir bagi pernafasannya. (Riwayat Ahmad dan at-Tarmizi)
Terdapat ulama yang mengungkapkan kata-kata berikut: “Sekiranya perutmu kenyang anggota-anggota lain akan lapar (akan menurut turutan nafsu) tetapi sekiranya perutmu lapar kesemua anggotamu akan kenyang.”
As-Salaf as-Soleh (mereka yang terdahulu) mengurangkan perkara kebiasaan dan dorongan diri serta memperbanyakkan amal ibadat pada bulan Ramadan secara khusus bahkan itulah adat mereka sepanjang masa;
7. Tidak menyibukkan diri dengan urusan duniawi pada bulan Ramadan, bahkan mengambil kesempatan bagi beribadat kepada Allah dan mengingati-Nya sebaik mungkin. Justeru, dia tidak melakukan perkara duniawi melainkan sekadar keperluan hariannya atau kepada mereka yang berada di bawah tanggungannya. Demikian yang selayaknya dilakukan pada bulan Ramadhan yang mulia ini sama seperti pada hari Jumaat yang sepatutnya dikhususkan bagi amalan akhirat;
8. Mempraktikkan amalan sunah seperti segera berbuka apabila masuk waktunya, berbuka dengan buah tamar (kurma) dan jika ia tiada memadailah dengan segelas air serta melambatkan makan sahur.
Nabi s.a.w. berbuka dahulu sebelum Baginda mengerjakan solat Maghrib. Sabda baginda: Umatku sentiasa berada dalam keadaan baik (berkat) selama mana mereka mempercepatkan berbuka (apabila masuk waktunya) dan melambatkan makan sahur. (Riwayat Bukhari dan Muslim);
9. Menyediakan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa sekalipun dengan beberapa biji tamar atau segelas air. Sabda baginda s.a.w.: Sesiapa yang menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa baginya ganjaran seumpama pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya (orang yang berpuasa). (Riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)
10. Memenuhi malamnya dengan amalan sunat seperti solat terawih, witir dan sebagainya.
Adalah dinasihatkan kepada para imam supaya tidak mempercepatkan solat terawihnya seperti mana amalan kebiasaan di masjid dan surau.
Perbuatan tersebut menjejaskan mutu ibadat solat tersebut kerana meninggalkan ‘wajib-wajib’ solat seperti meninggalkan tomakninah semasa rukuk dan sujud, mencacatkan bacaan al-Fatihah sebagaimana sepatutnya lantaran ingin kecepatan dalam mengejar waktu sehingga menyebabkan makmum di belakang tertinggal rukun-rukun penting dalam solatnya. Amalan terawih seperti itu adalah tidak sempurna dan berkurangan pahalanya.
Oleh itu berwaspadalah terhadap cara demikian dengan kembali mengamalkan ibadah solat seperti waktu-waktu lain, menyempurnakan kiam, bacaan al-Fatihah, rukuk, sujud, khusyuk, hadir hati dan semua peradaban solat dan rukunnya.
Bagi makmum pula disyorkan supaya sentiasa bersama imamnya sepanjang solat terawih itu sehinggalah selesai . Sabda Rasulullah s.a.w., Apabila seseorang menunaikan solat bersama imamnya sehinggalah imam itu (selesai dan) beredar, dikirakan untuknya (makmum) pahala kiam semalaman. (Riwayat an-Nasaei)
Kerana kurangnya mengikuti kelas pengajian agama Islam terutama tentang fardu ain, maka ramai umat Islam yang tidak lagi arif tentang selok-belok ibadah puasa. Berpuasa sudah menjadi ikut-ikutan. kadang-kadang puasa dilakukan kerana terpaksa atau segan dengan sesetengah orang. Sedangkan untuk menunaikan tanggungjawab inadah puasa yang menjadi Rukun Islam ke-3 tentulah mempunyai adab, teknik, rasional dan peraturan yang tetap.
1. Menjaga lidah daripada berdusta, mengumpat dan mencampuri urusan orang lain yang tiada kena-mengena dengannya;
2. Memelihara mata dan telinga daripada melihat dan mendengar perkara yang dilarang oleh syarak dan yang sia-sia;
3. Mengawal perut daripada merasai makanan dan minuman yang haram atau yang mengandungi unsur syubhat terutama ketika berbuka dan berusaha sedaya mungkin untuk menghasilkan pemakanan yang halal lagi bersih.
Ulama silam pernah berpesan: “Apabila kamu berpuasa maka perhatikanlah apa yang akan dijadikan makanan berbukamu dan di manakah kamu akan berbuka?” Ia adalah panduan yang terbaik bagi mengawasi diri daripada terjebak dengan unsur-unsur makanan yang tidak halal;
4. Berusaha menjaga kesemua pancaindera dan anggota tubuh badan daripada mendekati atau melakukan maksiat dan perkara yang sia-sia. Dengan demikian ibadah puasanya akan suci dan sempurna. Terdapat ramai yang memenatkan diri dengan berlapar dan berdahaga, membiarkan diri terdorong kepada perlakuan dosa dan noda, kerana itu puasanya rosak binasa dan keletihannya tidaklah berbaloi sebagaimana maksud sabda Rasulullah s.a.w.: Ramai yang berpuasa tidak mendapat ganjaran daripada puasanya melainkan lapar dan dahaga. (Riwayat an-Nasaei)
Meninggalkan maksiat menjadi kewajipan kepada seluruh orang Islam sama ada mereka sedang berpuasa atau tidak. Apatah lagi bagi yang berpuasa, ia lebih dituntut dan diwajibkan. Sabda Rasulullah, Puasa itu adalah ‘perisai’, sekiranya seseorang daripada kalangan kamu sedang berpuasa janganlah dia bercakap kotor, melakukan keburukan dan berbuat bodoh. Jika ada orang lain yang mengejinya atau cuba memeranginya maka hendaklah dia katakan kepada orang itu: “Saya sedang berpuasa.” (Riwayat Bukhari dan Muslim);
5. Jangan membanyakkan tidur pada siang harinya dan makan pada malamnya, bahkan bersederhanalah pada kedua-duanya bagi menyelami kejerihan lapar dan dahaga. Dengan demikian sanubarinya terkawal, keinginan nafsunya kurang dan hatinya ceria. Itulah rahsia dan intipati puasa yang perlu dicapai;
6. Jauhkan diri daripada mengikut dorongan nafsu ketika berbuka dengan beraneka jenis makanan yang lazat-lazat. Sebaik-baiknya adat makannya sama sahaja pada bulan puasa dan bulan-bulan yang lain. Penggemblengan diri dalam mengurangkan tuntutan jasmani dan keinginan perasaan memberikan kesan yang positif terhadap kecerahan hati nurani yang amat dituntut terutama pada bulan Ramadan.
Mereka yang menjadikan keinginan nafsu perut sebagai tunggangan akal ketika berbuka yang menyalahi kebiasaan pada bulan-bulan lain sebenarnya terpedaya dengan pujukan iblis. Rayuannya bertujuan menghilangkan barakah (berkat) ibadah puasa mereka, nikmat limpahan ketenangan daripada Allah s.w.t., kekhusyukan diri ketika bermunajat dan berzikir kepada-Nya.
Sepatutnya orang yang berpuasa mengurangkan kadar pemakanannya sehingga terserlah kesan puasa itu kepada dirinya. Kekenyangan adalah punca kelalaian, kealpaan, keras hati dan malas untuk taat kepada Allah s.w.t..
Sabdanya: Takungan jelek yang dipenuhkan oleh manusia adalah kantong perutnya, memadailah baginya beberapa suapan yang dapat meneguhkan tulang belakangnya. Jika dia enggan maka berikanlah sepertiga (bahagian perutnya) untuk makanan, sepertiga kedua untuk minuman dan sepertiga terakhir bagi pernafasannya. (Riwayat Ahmad dan at-Tarmizi)
Terdapat ulama yang mengungkapkan kata-kata berikut: “Sekiranya perutmu kenyang anggota-anggota lain akan lapar (akan menurut turutan nafsu) tetapi sekiranya perutmu lapar kesemua anggotamu akan kenyang.”
As-Salaf as-Soleh (mereka yang terdahulu) mengurangkan perkara kebiasaan dan dorongan diri serta memperbanyakkan amal ibadat pada bulan Ramadan secara khusus bahkan itulah adat mereka sepanjang masa;
7. Tidak menyibukkan diri dengan urusan duniawi pada bulan Ramadan, bahkan mengambil kesempatan bagi beribadat kepada Allah dan mengingati-Nya sebaik mungkin. Justeru, dia tidak melakukan perkara duniawi melainkan sekadar keperluan hariannya atau kepada mereka yang berada di bawah tanggungannya. Demikian yang selayaknya dilakukan pada bulan Ramadhan yang mulia ini sama seperti pada hari Jumaat yang sepatutnya dikhususkan bagi amalan akhirat;
8. Mempraktikkan amalan sunah seperti segera berbuka apabila masuk waktunya, berbuka dengan buah tamar (kurma) dan jika ia tiada memadailah dengan segelas air serta melambatkan makan sahur.
Nabi s.a.w. berbuka dahulu sebelum Baginda mengerjakan solat Maghrib. Sabda baginda: Umatku sentiasa berada dalam keadaan baik (berkat) selama mana mereka mempercepatkan berbuka (apabila masuk waktunya) dan melambatkan makan sahur. (Riwayat Bukhari dan Muslim);
9. Menyediakan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa sekalipun dengan beberapa biji tamar atau segelas air. Sabda baginda s.a.w.: Sesiapa yang menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa baginya ganjaran seumpama pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya (orang yang berpuasa). (Riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)
10. Memenuhi malamnya dengan amalan sunat seperti solat terawih, witir dan sebagainya.
Adalah dinasihatkan kepada para imam supaya tidak mempercepatkan solat terawihnya seperti mana amalan kebiasaan di masjid dan surau.
Perbuatan tersebut menjejaskan mutu ibadat solat tersebut kerana meninggalkan ‘wajib-wajib’ solat seperti meninggalkan tomakninah semasa rukuk dan sujud, mencacatkan bacaan al-Fatihah sebagaimana sepatutnya lantaran ingin kecepatan dalam mengejar waktu sehingga menyebabkan makmum di belakang tertinggal rukun-rukun penting dalam solatnya. Amalan terawih seperti itu adalah tidak sempurna dan berkurangan pahalanya.
Oleh itu berwaspadalah terhadap cara demikian dengan kembali mengamalkan ibadah solat seperti waktu-waktu lain, menyempurnakan kiam, bacaan al-Fatihah, rukuk, sujud, khusyuk, hadir hati dan semua peradaban solat dan rukunnya.
Bagi makmum pula disyorkan supaya sentiasa bersama imamnya sepanjang solat terawih itu sehinggalah selesai . Sabda Rasulullah s.a.w., Apabila seseorang menunaikan solat bersama imamnya sehinggalah imam itu (selesai dan) beredar, dikirakan untuknya (makmum) pahala kiam semalaman. (Riwayat an-Nasaei)
Kerana kurangnya mengikuti kelas pengajian agama Islam terutama tentang fardu ain, maka ramai umat Islam yang tidak lagi arif tentang selok-belok ibadah puasa. Berpuasa sudah menjadi ikut-ikutan. kadang-kadang puasa dilakukan kerana terpaksa atau segan dengan sesetengah orang. Sedangkan untuk menunaikan tanggungjawab inadah puasa yang menjadi Rukun Islam ke-3 tentulah mempunyai adab, teknik, rasional dan peraturan yang tetap.
Puasa
Firman Allah Ta’ala :
Maksudnya : “ Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa ”.
(Surah Al-Baqarah Ayat 183)
Pengertian Puasa
Ertinya menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari.
Hukum – Hukum Puasa
1. Wajib
2. Sunat
3. Makruh
4. Haram
Puasa wajib :
Puasa yang dilakukan dalam bulan Ramadhan, qada’ puasa Ramadhan,puasa kifarah & puasa nazar.
Puasa Sunat :
1. Puasa dalam bulan Sya’ban
2. Puasa 6 hari dalam bulan Syawal
3. Puasa Arafah pada 9 zulhijjah
4. Puasa hari Tasu’a dan‘Asyura pada 9 dan 10 Muharram
5. Puasa pada hari Isnin dan Khamis
6. Puasa tiga hari daripada tiap-tiap bulan pada 13,14 dan 15
7. Puasa satu hari berbuka satu hari
8. Puasa lapan hari daripada bulan Zulhijjah sebelum hari Arafah bagi orang yang sedang mengerjakan haji atau tidak.
9. Puasa dalam bulan–bulan haram iaitu bulan Zulkaedah,Zulhijjah,Muharram dan Rejab
Puasa Makruh :
1. Menentukan hari untuk berpuasa seperti jumaat sahaja,Sabtu & Ahad sahaja
2. Berpuasa sepanjang tahun
Puasa Haram :
1. Puasa sunat seorang perempuan tanpa izin suaminya
2. Puasa pada hari syak iaitu pada hari 30 Sya’ban
3. Puasa pada hari raya aidil fitri,hari raya aidil adha dan hari-hari Tasyrik
4. Puasa perempuan haid & Nifas
5. Puasa bagi orang yang bimbang berlakunya mudharat ke atas dirinya kerana berpuasa
Syarat-syarat Puasa
Terbahagi kepada 2 :
1. Syarat-syarat wajib
2. Syarat-syarat sah
Syarat wajib
1. Islam
2. baligh
3. berakal
4. berupaya(sihat)
5. bermukim
Syarat Sah
1. Islam
2. Berakal
3. Bersih daripada haid & Nifas sepanjang hari
4. Niat
Rukun Puasa
1. Niat
Menahan diri dari makan & minum serta perkara-perkara yang membatalkannya
2. Masa Puasa
Puasa bermula dari terbit fajar hingga terbenam matahari
Faedah Puasa
1. Melahirkan perasaan belas kasihan terhadap golongan miskin
2. Mendidik nafsu & jiwa kearah kebaikan
3. Dapat merasai apa yang ditanggung oleh golongan miskin
4. Puasa merupakan perbuatan taat kepada Allah
5. Mendidik budi pekerti untuk memiliki sifat-sifat terpuji
6. Puasa mengajar seseorang supaya beramanah terhadap diri sendiri
7. Puasa mengajar kesabaran dan berperaturan
8. Puasa menyebarkan perasaan kasih sayang dan persaudaraan dalam jiwa manusia
Sunat-sunat puasa
1. Makan Sahur serta melambatkannya
2. Menyegerakan berbuka puasa & sunat berbuka dengan buah kurma atau benda-benda yang manis
3. Menjamu orang-orang yang berbuka puasa
4. Mandi junub,haid dan nifas sebelum fajar
5. Memperbanyakkan ibadah dan berbuat kebaikan
6. Membaca Al-Quran
7. Beriktikaf terutama 10 hari terakhir bulan Ramadhan
Perkara makruh ketika berpuasa
1. Berbekam
2. Mengeluarkan darah
3. Berkucup
4. Merasa makanan
5. Bersugi selepas gelincir matahari
6. Mencium wangian
Perkara yang membatalkan puasa
1. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga dengan sengaja kecuali terlupa
2. Makan dan minum sepanjang hari
3. Muntah dengan sengaja
4. Bersetubuh atau keluar mani dengan sengaja
5. Keluar darah haid dan nifas
6. Gila
7. Pitam atau mabuk sepanjang hari
8. Murtad
Keuzuran yang mengharuskan berbuka puasa
1. Musafir
2. Sakit
3. Mengandung dan Ibu yang menyusukan anak
4. Tua
Keistimewaan Bulan Ramadhan
1. Bulan yang mulia,berkat dan setiap doa akan dimakbulkan
2. Al-Quran diturunkan dalam bulan ini
3. Iblis dipenjarakan
4. Terdapat malam yang mulia iaitu malam Lailatul qadar.
5. Solat tarawikh dan zakat fitrah dilaksanakan.
Menghormati Bulan Ramadhan
1. Kita hendaklah mengelakkan diri daripada kebiasaan yang boleh merugikan diri kita seperti berbelanja dengan boros,suka berhibur,membuang masa dan bersembang tentang perkara-perkara yang tidak mendatangkan faedah sebaliknya hendaklah kita menyambut Ramadhan dengan azam yang tinggi untuk memperbanyakkan ibadat bagi menyucikan jiwa.
2. Kita hendaklah berusaha menyediakan diri untuk menjaga benih-benih amal yang kita tanam di bulan Ramadhan kerana seseorang yang menanam benih jika tidak membaja,menyiram serta memelihara pasti tidak akan mengeluarkan hasil yang baik di masa hadapan.
Niat Puasa dan Qadha’ Puasa Ramadhan
1. Lafaz niat puasa fardhu Ramadhan :
Ertinya : Sahaja aku puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini kerana Allah Taala.
2. Lafaz niat puasa Qhada’ Ramadhan :
Ertinya : Sahaja aku puasa esok hari kerana ganti fardhu Ramadhan kerana Allah Taala.
Doa Ketika Berbuka Puasa
Ertinya : Ya Tuhanku keranamu jua aku berpuasa dan denganmu aku beriman dan di atas rezekimu aku berbuka dengan belas kasihanmu Ya Allah yang amat mengasihani.
Qada’ Puasa Ramadhan
Ialah menggantikan puasa yang terbatal pada bulan Ramadhan diatas sebab-sebab yang diharuskan berbuka oleh syara’
Hukum Qada’ Puasa Ramadhan
Wajib menggantikan puasa Ramadhan bagi yang membatalkan puasa Ramadhannya samaada kerana keuzuran ataupun tanpa sebarang keuzuran
Firman Allah Ta’ala :
Maksudnya : “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu maka sesiapa diantara kamu yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tuanya dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang di tentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui ”.
(Surah Al-Baqarah Ayat 184)
Waktu Qada’ Puasa Ramadhan
1. Waktunya selepas bulan Ramadhan sehingga ke bulan Ramadhan yang berikutnya walaubagaimanapun qada’ puasa yang dilakukan dalam masa dilarang berpuasa adalah tidak sah contohnya seperti di hari raya.
2. Adapun bagi orang yang mengakhirkan qada’ Ramdhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi maka ia wajib qada’ dan membayar fidyah.
Kifarah Puasa
Ialah seseorang yang merosakkan puasanya dalam bulan Ramadhan dengan jalan melakukan jima’ maka ia wajib membayar kifarah (denda) iaitu si suami wajib mengeluarkan kifarah & qada’ puasa yang terbatal kerana jima’ walaubagaimanapun si isteri tidak wajib mengeluarkan kifarah tetapi wajib qada’ puasa yang terbatal.
Kifarah bagi puasa yang batal atau rosak ialah :
1. Membebaskan seorang hamba yang beriman
2. Jika tiada hamba untuk dibebaskan, wajib ke atasnya berpuasa 2 bulan berturut-turut
3. Jika tidak mampu berpuasa, wajib dia memberikan makan 60 orang fakir miskin setiap seorang mendapat secupak makanan asasi negeri itu.
Fidyah
Ialah bayaran denda dengan memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) dengan sebab-sebab tertentu atau mengakhirkan qada’ Ramadhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi. Satu cupak bersamaan dengan 620 gram.
Hukum Fidyah
Wajib di keluarkan berdasarkan Firman Allah Ta’ala :
Maksudnya : “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu maka sesiapa diantara kamu yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tuanya dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang di tentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui ”.
(Surah Al-Baqarah Ayat 184)
Sebab-sebab wajib Fidyah
1. Tidak mampu melakukan ibadah puasa
2. Sakit yang tidak mampu untuk sembuh
3. Perempuan hamil atau menyusukan anak iaitu jika berpuasa mendatangkan mudharat kepada anak yang di kandung dan boleh mengurangkan air susu
4. Mengakhirkan qada’ Ramadhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi.
Maksudnya : “ Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa ”.
(Surah Al-Baqarah Ayat 183)
Pengertian Puasa
Ertinya menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari.
Hukum – Hukum Puasa
1. Wajib
2. Sunat
3. Makruh
4. Haram
Puasa wajib :
Puasa yang dilakukan dalam bulan Ramadhan, qada’ puasa Ramadhan,puasa kifarah & puasa nazar.
Puasa Sunat :
1. Puasa dalam bulan Sya’ban
2. Puasa 6 hari dalam bulan Syawal
3. Puasa Arafah pada 9 zulhijjah
4. Puasa hari Tasu’a dan‘Asyura pada 9 dan 10 Muharram
5. Puasa pada hari Isnin dan Khamis
6. Puasa tiga hari daripada tiap-tiap bulan pada 13,14 dan 15
7. Puasa satu hari berbuka satu hari
8. Puasa lapan hari daripada bulan Zulhijjah sebelum hari Arafah bagi orang yang sedang mengerjakan haji atau tidak.
9. Puasa dalam bulan–bulan haram iaitu bulan Zulkaedah,Zulhijjah,Muharram dan Rejab
Puasa Makruh :
1. Menentukan hari untuk berpuasa seperti jumaat sahaja,Sabtu & Ahad sahaja
2. Berpuasa sepanjang tahun
Puasa Haram :
1. Puasa sunat seorang perempuan tanpa izin suaminya
2. Puasa pada hari syak iaitu pada hari 30 Sya’ban
3. Puasa pada hari raya aidil fitri,hari raya aidil adha dan hari-hari Tasyrik
4. Puasa perempuan haid & Nifas
5. Puasa bagi orang yang bimbang berlakunya mudharat ke atas dirinya kerana berpuasa
Syarat-syarat Puasa
Terbahagi kepada 2 :
1. Syarat-syarat wajib
2. Syarat-syarat sah
Syarat wajib
1. Islam
2. baligh
3. berakal
4. berupaya(sihat)
5. bermukim
Syarat Sah
1. Islam
2. Berakal
3. Bersih daripada haid & Nifas sepanjang hari
4. Niat
Rukun Puasa
1. Niat
Menahan diri dari makan & minum serta perkara-perkara yang membatalkannya
2. Masa Puasa
Puasa bermula dari terbit fajar hingga terbenam matahari
Faedah Puasa
1. Melahirkan perasaan belas kasihan terhadap golongan miskin
2. Mendidik nafsu & jiwa kearah kebaikan
3. Dapat merasai apa yang ditanggung oleh golongan miskin
4. Puasa merupakan perbuatan taat kepada Allah
5. Mendidik budi pekerti untuk memiliki sifat-sifat terpuji
6. Puasa mengajar seseorang supaya beramanah terhadap diri sendiri
7. Puasa mengajar kesabaran dan berperaturan
8. Puasa menyebarkan perasaan kasih sayang dan persaudaraan dalam jiwa manusia
Sunat-sunat puasa
1. Makan Sahur serta melambatkannya
2. Menyegerakan berbuka puasa & sunat berbuka dengan buah kurma atau benda-benda yang manis
3. Menjamu orang-orang yang berbuka puasa
4. Mandi junub,haid dan nifas sebelum fajar
5. Memperbanyakkan ibadah dan berbuat kebaikan
6. Membaca Al-Quran
7. Beriktikaf terutama 10 hari terakhir bulan Ramadhan
Perkara makruh ketika berpuasa
1. Berbekam
2. Mengeluarkan darah
3. Berkucup
4. Merasa makanan
5. Bersugi selepas gelincir matahari
6. Mencium wangian
Perkara yang membatalkan puasa
1. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga dengan sengaja kecuali terlupa
2. Makan dan minum sepanjang hari
3. Muntah dengan sengaja
4. Bersetubuh atau keluar mani dengan sengaja
5. Keluar darah haid dan nifas
6. Gila
7. Pitam atau mabuk sepanjang hari
8. Murtad
Keuzuran yang mengharuskan berbuka puasa
1. Musafir
2. Sakit
3. Mengandung dan Ibu yang menyusukan anak
4. Tua
Keistimewaan Bulan Ramadhan
1. Bulan yang mulia,berkat dan setiap doa akan dimakbulkan
2. Al-Quran diturunkan dalam bulan ini
3. Iblis dipenjarakan
4. Terdapat malam yang mulia iaitu malam Lailatul qadar.
5. Solat tarawikh dan zakat fitrah dilaksanakan.
Menghormati Bulan Ramadhan
1. Kita hendaklah mengelakkan diri daripada kebiasaan yang boleh merugikan diri kita seperti berbelanja dengan boros,suka berhibur,membuang masa dan bersembang tentang perkara-perkara yang tidak mendatangkan faedah sebaliknya hendaklah kita menyambut Ramadhan dengan azam yang tinggi untuk memperbanyakkan ibadat bagi menyucikan jiwa.
2. Kita hendaklah berusaha menyediakan diri untuk menjaga benih-benih amal yang kita tanam di bulan Ramadhan kerana seseorang yang menanam benih jika tidak membaja,menyiram serta memelihara pasti tidak akan mengeluarkan hasil yang baik di masa hadapan.
Niat Puasa dan Qadha’ Puasa Ramadhan
1. Lafaz niat puasa fardhu Ramadhan :
Ertinya : Sahaja aku puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini kerana Allah Taala.
2. Lafaz niat puasa Qhada’ Ramadhan :
Ertinya : Sahaja aku puasa esok hari kerana ganti fardhu Ramadhan kerana Allah Taala.
Doa Ketika Berbuka Puasa
Ertinya : Ya Tuhanku keranamu jua aku berpuasa dan denganmu aku beriman dan di atas rezekimu aku berbuka dengan belas kasihanmu Ya Allah yang amat mengasihani.
Qada’ Puasa Ramadhan
Ialah menggantikan puasa yang terbatal pada bulan Ramadhan diatas sebab-sebab yang diharuskan berbuka oleh syara’
Hukum Qada’ Puasa Ramadhan
Wajib menggantikan puasa Ramadhan bagi yang membatalkan puasa Ramadhannya samaada kerana keuzuran ataupun tanpa sebarang keuzuran
Firman Allah Ta’ala :
Maksudnya : “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu maka sesiapa diantara kamu yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tuanya dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang di tentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui ”.
(Surah Al-Baqarah Ayat 184)
Waktu Qada’ Puasa Ramadhan
1. Waktunya selepas bulan Ramadhan sehingga ke bulan Ramadhan yang berikutnya walaubagaimanapun qada’ puasa yang dilakukan dalam masa dilarang berpuasa adalah tidak sah contohnya seperti di hari raya.
2. Adapun bagi orang yang mengakhirkan qada’ Ramdhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi maka ia wajib qada’ dan membayar fidyah.
Kifarah Puasa
Ialah seseorang yang merosakkan puasanya dalam bulan Ramadhan dengan jalan melakukan jima’ maka ia wajib membayar kifarah (denda) iaitu si suami wajib mengeluarkan kifarah & qada’ puasa yang terbatal kerana jima’ walaubagaimanapun si isteri tidak wajib mengeluarkan kifarah tetapi wajib qada’ puasa yang terbatal.
Kifarah bagi puasa yang batal atau rosak ialah :
1. Membebaskan seorang hamba yang beriman
2. Jika tiada hamba untuk dibebaskan, wajib ke atasnya berpuasa 2 bulan berturut-turut
3. Jika tidak mampu berpuasa, wajib dia memberikan makan 60 orang fakir miskin setiap seorang mendapat secupak makanan asasi negeri itu.
Fidyah
Ialah bayaran denda dengan memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) dengan sebab-sebab tertentu atau mengakhirkan qada’ Ramadhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi. Satu cupak bersamaan dengan 620 gram.
Hukum Fidyah
Wajib di keluarkan berdasarkan Firman Allah Ta’ala :
Maksudnya : “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu maka sesiapa diantara kamu yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tuanya dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang di tentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui ”.
(Surah Al-Baqarah Ayat 184)
Sebab-sebab wajib Fidyah
1. Tidak mampu melakukan ibadah puasa
2. Sakit yang tidak mampu untuk sembuh
3. Perempuan hamil atau menyusukan anak iaitu jika berpuasa mendatangkan mudharat kepada anak yang di kandung dan boleh mengurangkan air susu
4. Mengakhirkan qada’ Ramadhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi.
Rabu, 11 Agustus 2010
KELEBIHAN RAMADHAN
Kelebihan Ramadan
Daripada Anas (r.a), Katanya: Bersabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba apabila melihat ia sehari bulan Ramadan lantas dia memuji Allah ( kerana kedatangan bulan rahmat dengan kelebihan dan keistimewaanya) kemudian dibacanya Al-Fatihah tujuh kali, melainkan diafiatkan Allah daripada sakit matanya pada bulan ini.
Kelebihan bulan Ramadan dan keagungannya dengan adanya malam Lailatul Qadar yang dirahsiakan, sehingga mendapat keampunan dan pahala serta darjat dan darjah tertinggi bagi orang yang berjaya mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan dipenuhi amal ibadah dan bertaqwa kepada Allah, disamping sembahyangnya yang sunat , istiqfar, tasbih dan berzikir sepenuhnya.
Berkata Saidina Ali, Nabi (s.a.w) telah bersabda apabila engkau melihat sehari bulan maka bacalah olehmu "AllahuAkbar" 3 kali, kemudian bacalah :
(Segala kepujian bagi Allah yang telah menjadikan aku dan telah menjadikan engkau, dan telah menentukan bagi engkau pangkat-pangkat (darjah) dan telah menjadikan engkau tanda (kekuasaan) bagi sekalian alam) nescaya bermegah Allah akan Dia dengan malaikat dan firmanNya: Hai malaikat! saksikanlah kamu, bahwa Aku telah merdekakan daripada api neraka, atau dibacakan :
(Ya Allah, zahirlah Ramadan atas kami dengan keamanan dan keimanan dan dengan keselamatan dan keIslaman, Tuhanku dan Tuhan engkau Allah.)
Bersabda Nabi (s.a.w) : Bahawa syurga berlenggang-lenggang ia dan berhias dari setahun ke setahun kerana masuknya bulan Ramadan. Pada awal malam bulan Ramadan bertiup angin di bawah Arasy bergeraklah daun kayu lemah-longlainya di dalam syurga. Terdengarlah desiran daun-daun kayu, hembusan sang bayu syurga yang teramat indahnya.Seni rentak lagunya menawan seluruh perasaan nurani. Maka berhiaslah bidadari sekaliannya lalu berdirilah di atas puncak mercu syurga itu. Lantas bersuaralah bidadari : Adakah orang yang hendak meminang kami kepada Allah, kata bidadari pula: Apakah malam ini namanya? jawab Malek Ridwan (malaikat), Hai bidadari yang cantik manis, inilah malam awal Ramadhan, Lalu Allah berfirman: Hai Ramadan bukalah pintu syurga Bab AlJanan untuk orang-orang yang berpuasa daripada umat Muhammad (s.a.w). Hai Malek Ridwan tutuplah pintu neraka Al-Jahim daripada umat Muhammad (s.a.w), hai Jibrail belenggukan syaitan, lontarkannya ke dalam lautan supaya tidak membinasakan umat Muhammad akan puasanya. Maka berfirman Allah pada tiap-tiap malam Ramadan tiga kali : Adakah orang yang meminta ampun? Akan Aku ampunkan!
Pada malam Lailatul Qadar menyuruh Allah Ta'ala akan Jibrail Alaihisalam turun ke bumi, lalu turunlah Jibrail ke dalam perhimpunan malaikat ke bumi bersamanya bendera hijau lalu dipacakkan ke atas Kaabah, baginya 600 sayapnya , setengahnya tiada dibuka keduanya, melainkan pada malam Lailatul Qadar baharulah dibukakan keduanya, hingga sampai dari timur ke barat ( Musyriq Ke Maghrib ). Untuk menyelamatkan umat Muhammad, Lalu memberi salam kepada tiap orang yang berjaga pada malam Lailatul Qadar beribadah kerana mencari keredaan Allah, dan orang-orang yang duduk beribadah, orang yang sembahyang dan berzikir dan berjabat tangan sesama mereka mukmin dan mengucap amin doa orang-orang mukmin hingga terbit fajar subuh....... berkata para malaikat kepada Jibrail , apakah Allah berikan pada hajat orang mukmin dari umat Muhammad (s.a.w) pada bulan Ramadan ini? Berkata Jibrail bahawasanya Allah menilik kepada umat Muhammad yang berpuasa dan beribadah padanya dan dimaafkan mereka, diampunkan dosa-dosa mereka, melainkan empat orang yang tiada diampunkan dosanya: yaitu orang yang kekal minum arak, orang yang derhakakan ibubapanya, orang yang memutuskan sillaturrahim dan orang yang tidak bercakap dengan saudaranya lebih dari 3 hari.
Apabila pada malam akhir Ramadan dinamakan malam persalinan. Pada malam hari raya Aidilfitri didatangkan Allah malaikat kepada tiap-tiap negeri turunlah mereka ke bumi, berdiri pada permukaan jalan menyeru dengan suara yang kuat, semua mendengarnya kecuali jin dan manusia berkata mereka, hai umat Muhammad keluarlah kamu menghadap tuhan yang amat mulia (sembahyang raya di pagi raya) yang memberi pemberian yang berpanjangan dan mengampun akan dosa-dosa yang besar. Apabila tibalah umat Muhammad ke tempat sembahyang, firman Allah kepada maliakat : Hai malaikatKu, apakah balasan orang yang mengambil upah apabila selesai kerjanya ? Jawab malaikat , hai Tuhan kami, sempurnakanlah upahnya! Firman Allah bahawa Aku saksikan kamu hai malaikatku, telah aku jadikan pahala mereka dari puasa mereka pada bulan Ramadan mereka mendirikan sembahyang, ialah keredaanKu dan keampunanKu kepada mereka! Maka firmannya lagi : Hai segala hambaku, pohonlah kamu kepada ku, maka demi ketinggianku dan kebesaranku, tiada memohon kepadaku hari ini akak sesuatu bagi agamamu dan duniamu, melainkan Aku kurniakan kepadamu! (Al-Hadith).
Sabda Nabi (s.a.w) : Diberi kepada umatku lima perkara yang belum pernah diberi kepada umat-umat dahulu sebelumnya :
a) Bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada kasturi di sisi Allah
b) Segala perbelanjaan dan derita lapar selama puasanya adalah syurga balasannya.
c) Diampunkan dosa-dosa mereka pada malam Lailatul Qadar.
d) Amalan yang dilakukan pada bulan Ramadan digandakan kepada 10 hingga 700 kali ganda, melainkan puasa maka ianya bagiKu, Aku balas kepadanya yang berkuasa menahan syahwatnya, makan minumnnya kerana Aku.
e) Dan mereka dikurniakan nikmat kepada mereka keseronokkan ketika berbuka dan ketika menemui tuhan di akhirat.(Al-Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Menunaikan yang sunat diberi balasan pahala fardhu, dan amal fardhu diberi balasan 70 kali ganda. Bulan puasa adalah bulan sabar (sabar dalam berbuat taat kepadaNya.), dan sabar itu adalah syurga balasannya bulan ini dilebihkan rezeki kepada hambanya orang mukmin, diampunkan baginya dosa-dosa. Barang siapa memberi makan kepada orang berpuasa pahalanya seperti memerdekakan hamba dan diampunkan dosanya, berkata sahabat : Bagaimana kami tak sanggup memberi makan orang yang berpuasa (berbuka puasa) ya Rasullullah - Allah memberi pahala ini kepada orang yang memberi seteguk susu atau sebiji kurma atau segelas air, barang siapa kenyangkan orang berpuasa diampunkan Tuhan dosanya, diminumkan Tuhan dari kolam Hudh sejenis minuman yang tiada dahaga lagi kemudiannya hingga masuk ia ke syurga dan pahalanya seperti pahala orang berpuasa. (Al-Hadith)
Puasa menurut segala yang disuruh dan menjauh segala pantang larangannya, diampunkan dosanya, dan bertasbih, bertahlil dibinakan rumah indah dalam syurga.
Barang siapa hadir ke dalam majlis zikir pada bulan Ramadan, ditulis tiap langkahnya ibadat setahun, dan pada hari Qiamat bersamaku di bawah Arasy. Siapa tetap berjemaah dalam bulan puasa didirikan kota bercahaya indah, cemerlangnya , dan yang berbakti kepada ibubapanya Allah memandang rahmat kepadanya, dan isteri yang berbuat sesuatu mencari keredaan suaminya, maka pahala yang besar Allah kurniakan kepadanya , seperti Siti Maryam dan siapa yang menyampaikan hajat orang mukmin, Allah menunaikan seribu hajatnya, dan siapa bersedekah kepada fakir miskin (yang ada anak isteri) tiap langkah dikurniakan kepadanya seribu kebajikan, dihapuskan seribu kejahatan dan diangkatkan seribu darjat baginya. (Al-Hadith).
Orang yang sembahyang bulan Ramadan tiap sekali sujud, dikurniakan kepadanya 1700 kebajikan, dan dibinakan rumah didalam syurga daripada permata bagi orang yang berpuasa dan beribadat, 75000 malaikat meminta ampun baginya dari pagi hingga tenggelam matahari, dan dibina sebuah mahligai baginya . (Al-Hadith)
Pada hari Qiamat, Allah memerintah Malek Ridwan supaya dikeluarkan orang-orang berpuasa daripada kuburnya dengan keadaan lapar dan dahaga, lalu disuruh Malek Ridwan berikan segala keinginan mereka dari segala macam makanan dan minuman syurga. Maka Malek Ridwan memerintah kepada anak-anak membawa talam-talam makanan , minuman dan buah-buahan. Sebagai balasan berlapar di bulan Ramadan. (A-Hadith)
Orang mukmin yang tidur dalam bulan puasa kerana puasa Ramadan, dia membalikkan badannya sambil meyebut Allah! maka kata malaikat kepadanya : Rahimakallah (Allah Mencucuri Rahmat kepada kamu.)
- Apabila dia berdiri maka berdoalah hamparannya : (Wahai Tuhanku, kurniakanlah kepadanya hamparan permaidani tebal kepadanya di dalam syurga)
- Apabila memakai pakaian , berdoalah pakaian (Wahai Tuhanku, kurniakan kepadanya pakaian syurga)
- Apabila memakai kasut, berdoalah kasut (Wahai Tuhanku, tetapkanlah atas titian Siratul Mustaqim!)
- Apabila memegang timba berdoalah pula timba : (Wahai Tuhanku kurniakan kepadanya gelas syurga!)
- Apabila mengambil air sembahyang , berdoalah air itu : (Wahai Tuhanku sucikannya daripada segala dosa dan kesalahan!)
- Apabila berdiri sembahyang , berdoalah rumahnya: ( Wahai Tuhanku cahayakanlah kuburnya dan luaskanlah , lapangkanlah kuburnya!)
Serta menilik Allah kepadanya , maksudnya : HambaKu berdoa dan Aku menerima! (Al-Hadith)
Malaikat yang banyak muka bersujud kepada Allah pada hari Qiamat, satu muka sujud , satu muka melihat syurga, satu muka melihat neraka, satu muka melihat Arasy , lalu berkata malaikat itu : Wahai Tuhanku , ampunlah umat Muhammad, kasihanilah mereka! janganlah disiksa orang yang berpuasa Ramadan dari umat Muhammad! (Al-Hadith)
Keredaan Allah (bagi orang yang taat)
Keampuan Allah (bagi orang yang maksiat)
Jaminan Allah (bagi orang yang taat)
Kejinakan Allah (bagi orang yang tawakkal)
Anugerah Allah (bagi orang yang benar).
Ramadan, Ramada, ertinya : membakar - yakni menghapuskan dosa dosa orang yang berpuasa dan beribadat bulan Ramadan.
Ramadan ertinya bulan mendapatkan keredhaan Allah dan keampunan bagi hambaNya. Orang yang mendapat keredhaan dan keampunan Allah bererti memberi jaminan (kerana ibadatnya pada bulan mulia dengan penuh taat) mendapat syurga anugerah Allah bagi hambaNya yang benar benar melakukan ibadat kerana Nya pada bulan Ramadan termulia ini dengan ganjaran pahala sehingga seribu kali ganda dan keampunan yang banyak sekali, teristimewa pada malam Lailatul Qadar.
"Bahawa di dalam syurga terdapat bilik bilik, dilihat dari luar nampak di dalamnya dan dilihat dari dalam kelihatan di luarnya, berkata sahabat : untuk siapakah ya Rasulullah? Lantas Baginda menjawab : Ialah bagi orang yang baik percakapannya, bagi orang yang memberi makan makanan, bagi orang yang sentiasa berpuasa, bagi orang yang sembahyang di tengah malam sedang manusia banyak tidur." (Al Hadith)
"Semulia mulia sedeqah ialah sedeqah pada bulan Ramadhan." (Al Hadith)
"Puasa itu perisai dan sedeqah itu memadam kesalahan dosa sepertimana air memadamkan api." (Al Hadith)
"Siapa memberi makan ( berbuka puasa) kepada orang puasa makan baginya seumpama balasan pahala orang yang berpuasa dengan tidak kurang sedikitpun ." (Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba berpuasa Ramadan, diam tiada berkata yang sia sia dan daripada yang haram dan yang makruh, dan sentiasa menyebut Allah (berzikrullah), menghalalkan yang dihalalkan Allah, mengharamkan akan yang diharamkan Allah, tiada mengerjakan kejahatan, melainkan sehingga berakhir Ramadan, telah diampunkan baginya segala dosanya, dan tiap tasbih, tiap tahlil, dibinakan sebuah rumah yang terindah di dalam syurga daripada permata zamrud, di dalamnya daripada yaqut merah indah, di dalam rangka permata itu (yaqut) terdapat sebuah khemah, di dalamnya terdapat bidadari ( hurul ain isteri syurga). Terhias dengan permata bercahaya indah yang menerangkan bumi seluruhnya.(Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawasanya bagi Allah beberapa kejadianNya, dijadikan mereka supaya menyampaikan segala hajat orang dan supaya orang meminta tolong kepada Nya, pada menyempurnakan segala hajat yang diperlukan, mereka itulah orang yang aman daripada siksa Allah (Riwayat At Tibrani) (Al-Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawa pintu langit dan pintu syurga dibuka pada awal Ramadan hingga akhir malam Ramadan, tiap orang yang bersembahyang pada malamnya dituliskan baginya tiap satu sujud 1700 kebajikan, dibina rumah baginya di dalam syurga daripada yaqut merah indah, baginya 70 pintu daripada emas yang bertatah yaqut permata yang merah, orang yang berpuasa pada awal Ramadan diampunkan segala dosanya hingga ke akhir bulan Ramadan, dibinakan baginya tiap tiap hari sebuah mahligai di dalam syurga, mempunya 1000 pintu daripa emas, dan meminta ampun baginya 70 000 malaikat dari pagi hingga tenggelam matahari (Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Kelebihan hari Jumaat pada bulan Ramadan atas segala hari yang lainnya seperti kelebihan Ramadan atas segala bulan (Al Hadith)
Barangsiapa mengerjakan ibadat pada bulan Ramadan dengan keimanannya dan ikhlasnya kerana Allah, maka di ampunkan segala dosanya yang telah lalu (Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Tidur orang yang berpuasa itu adalah ibadat, dan nafasnya itu adalah tasbih, doanya itu mustajab, dosanya diampunkan Allah, dan amal ibadatnya dilipatgandakan . (Al Hadith)
Apabila berakhir bulan Ramadan, menangis wali-wali Allah kerana terpisahnya bulan yang paling mulia yang digandakan ibadat berlipatkali ganda daripada bulan bulan yang lainnya, bulan Allah mudah menerima ampun taubat hambaNya, bulan yang banyak sekali diturun rahmat ke alam, bulan yang terdapat padanya malam Lailatul Qadar, suatu rahmat dan rahsia yang dikurniakan kepada hamba hamba Nya yang salihin, yang tidak terdapat pada bulan bulan yang lainnya. Mereka menangis kerana belum tentu akan dapat menemui bulan termulia ini pada tahun tahun hadapan, kiranya dipanjangkan umur.
Apabila berakhirlah malam bulan Ramadan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, dan segala malaikat, jerana berlalu Ramadan berlalulah kelebihan, sebab musibah bagi umatku, dan duduk segala malaikat bagi musibah, orang bertanya : Ya Rasullullah, apa itu musibah ? Jawab rasullullah (s.a.w), Kerana segala doa padaNya itu mustajab, sedakah makbul, segala kebajikan digandakan dan siksa kubur diangkat, maka apakah musibah yang terlebih besar daripada ini bagi umatku?! (Al-Hadith)
Malam Lailatul Qadar adalah malam rahsia, yang turunnya padanya malaikat Jibrail dan beberapa malaikat dengan perintah Allah. Orang yang berjaga dengan malam ibadatnya untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang terahsia itu yang tidak diketahui oleh manusia, hanya orang-orang solihin yang hampir, orang berusaha mendapatkan malam mulia itu dengan berjaga malam pada sepuloh malam Ramadan yang terakhir maka diampunkan tuhan segala dosanya. Di pahalakannya dengan banyak , dirahmatkannya dengan limpah kurnia. Dan orang-orang solihin yang dikurniakan Allah mendapat malam Lailatul Qadar itu satu keberuntungan kebahagiaan bagi akhirat, mendapat keampunan dan rahmat terbesar, mendapat pimpinan Allah dalam hatinya, mendapat keredaan Allah dalam hidupnya dunia dan akhirat.
Malam Aidilfitri, malam raya, disunatkan kepada kita berjaga malam, beribadah, bertakbir "AllahuAkbar" sepanjang malamnya. Akan mendapat keampunan yang banyak, pahala yang besar, rahmat Allah tercurah kepadanya. Siapa yang menghidupkan dua malam raya (AidilFitri & AidilAdha) dengan ibadatnya dan takbirnya , tiada dimatikan hatinya pada hari yang dimatikan segala hati. (Al-Hadith).
Daripada Anas (r.a), Katanya: Bersabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba apabila melihat ia sehari bulan Ramadan lantas dia memuji Allah ( kerana kedatangan bulan rahmat dengan kelebihan dan keistimewaanya) kemudian dibacanya Al-Fatihah tujuh kali, melainkan diafiatkan Allah daripada sakit matanya pada bulan ini.
Kelebihan bulan Ramadan dan keagungannya dengan adanya malam Lailatul Qadar yang dirahsiakan, sehingga mendapat keampunan dan pahala serta darjat dan darjah tertinggi bagi orang yang berjaya mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan dipenuhi amal ibadah dan bertaqwa kepada Allah, disamping sembahyangnya yang sunat , istiqfar, tasbih dan berzikir sepenuhnya.
Berkata Saidina Ali, Nabi (s.a.w) telah bersabda apabila engkau melihat sehari bulan maka bacalah olehmu "AllahuAkbar" 3 kali, kemudian bacalah :
(Segala kepujian bagi Allah yang telah menjadikan aku dan telah menjadikan engkau, dan telah menentukan bagi engkau pangkat-pangkat (darjah) dan telah menjadikan engkau tanda (kekuasaan) bagi sekalian alam) nescaya bermegah Allah akan Dia dengan malaikat dan firmanNya: Hai malaikat! saksikanlah kamu, bahwa Aku telah merdekakan daripada api neraka, atau dibacakan :
(Ya Allah, zahirlah Ramadan atas kami dengan keamanan dan keimanan dan dengan keselamatan dan keIslaman, Tuhanku dan Tuhan engkau Allah.)
Bersabda Nabi (s.a.w) : Bahawa syurga berlenggang-lenggang ia dan berhias dari setahun ke setahun kerana masuknya bulan Ramadan. Pada awal malam bulan Ramadan bertiup angin di bawah Arasy bergeraklah daun kayu lemah-longlainya di dalam syurga. Terdengarlah desiran daun-daun kayu, hembusan sang bayu syurga yang teramat indahnya.Seni rentak lagunya menawan seluruh perasaan nurani. Maka berhiaslah bidadari sekaliannya lalu berdirilah di atas puncak mercu syurga itu. Lantas bersuaralah bidadari : Adakah orang yang hendak meminang kami kepada Allah, kata bidadari pula: Apakah malam ini namanya? jawab Malek Ridwan (malaikat), Hai bidadari yang cantik manis, inilah malam awal Ramadhan, Lalu Allah berfirman: Hai Ramadan bukalah pintu syurga Bab AlJanan untuk orang-orang yang berpuasa daripada umat Muhammad (s.a.w). Hai Malek Ridwan tutuplah pintu neraka Al-Jahim daripada umat Muhammad (s.a.w), hai Jibrail belenggukan syaitan, lontarkannya ke dalam lautan supaya tidak membinasakan umat Muhammad akan puasanya. Maka berfirman Allah pada tiap-tiap malam Ramadan tiga kali : Adakah orang yang meminta ampun? Akan Aku ampunkan!
Pada malam Lailatul Qadar menyuruh Allah Ta'ala akan Jibrail Alaihisalam turun ke bumi, lalu turunlah Jibrail ke dalam perhimpunan malaikat ke bumi bersamanya bendera hijau lalu dipacakkan ke atas Kaabah, baginya 600 sayapnya , setengahnya tiada dibuka keduanya, melainkan pada malam Lailatul Qadar baharulah dibukakan keduanya, hingga sampai dari timur ke barat ( Musyriq Ke Maghrib ). Untuk menyelamatkan umat Muhammad, Lalu memberi salam kepada tiap orang yang berjaga pada malam Lailatul Qadar beribadah kerana mencari keredaan Allah, dan orang-orang yang duduk beribadah, orang yang sembahyang dan berzikir dan berjabat tangan sesama mereka mukmin dan mengucap amin doa orang-orang mukmin hingga terbit fajar subuh....... berkata para malaikat kepada Jibrail , apakah Allah berikan pada hajat orang mukmin dari umat Muhammad (s.a.w) pada bulan Ramadan ini? Berkata Jibrail bahawasanya Allah menilik kepada umat Muhammad yang berpuasa dan beribadah padanya dan dimaafkan mereka, diampunkan dosa-dosa mereka, melainkan empat orang yang tiada diampunkan dosanya: yaitu orang yang kekal minum arak, orang yang derhakakan ibubapanya, orang yang memutuskan sillaturrahim dan orang yang tidak bercakap dengan saudaranya lebih dari 3 hari.
Apabila pada malam akhir Ramadan dinamakan malam persalinan. Pada malam hari raya Aidilfitri didatangkan Allah malaikat kepada tiap-tiap negeri turunlah mereka ke bumi, berdiri pada permukaan jalan menyeru dengan suara yang kuat, semua mendengarnya kecuali jin dan manusia berkata mereka, hai umat Muhammad keluarlah kamu menghadap tuhan yang amat mulia (sembahyang raya di pagi raya) yang memberi pemberian yang berpanjangan dan mengampun akan dosa-dosa yang besar. Apabila tibalah umat Muhammad ke tempat sembahyang, firman Allah kepada maliakat : Hai malaikatKu, apakah balasan orang yang mengambil upah apabila selesai kerjanya ? Jawab malaikat , hai Tuhan kami, sempurnakanlah upahnya! Firman Allah bahawa Aku saksikan kamu hai malaikatku, telah aku jadikan pahala mereka dari puasa mereka pada bulan Ramadan mereka mendirikan sembahyang, ialah keredaanKu dan keampunanKu kepada mereka! Maka firmannya lagi : Hai segala hambaku, pohonlah kamu kepada ku, maka demi ketinggianku dan kebesaranku, tiada memohon kepadaku hari ini akak sesuatu bagi agamamu dan duniamu, melainkan Aku kurniakan kepadamu! (Al-Hadith).
Sabda Nabi (s.a.w) : Diberi kepada umatku lima perkara yang belum pernah diberi kepada umat-umat dahulu sebelumnya :
a) Bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada kasturi di sisi Allah
b) Segala perbelanjaan dan derita lapar selama puasanya adalah syurga balasannya.
c) Diampunkan dosa-dosa mereka pada malam Lailatul Qadar.
d) Amalan yang dilakukan pada bulan Ramadan digandakan kepada 10 hingga 700 kali ganda, melainkan puasa maka ianya bagiKu, Aku balas kepadanya yang berkuasa menahan syahwatnya, makan minumnnya kerana Aku.
e) Dan mereka dikurniakan nikmat kepada mereka keseronokkan ketika berbuka dan ketika menemui tuhan di akhirat.(Al-Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Menunaikan yang sunat diberi balasan pahala fardhu, dan amal fardhu diberi balasan 70 kali ganda. Bulan puasa adalah bulan sabar (sabar dalam berbuat taat kepadaNya.), dan sabar itu adalah syurga balasannya bulan ini dilebihkan rezeki kepada hambanya orang mukmin, diampunkan baginya dosa-dosa. Barang siapa memberi makan kepada orang berpuasa pahalanya seperti memerdekakan hamba dan diampunkan dosanya, berkata sahabat : Bagaimana kami tak sanggup memberi makan orang yang berpuasa (berbuka puasa) ya Rasullullah - Allah memberi pahala ini kepada orang yang memberi seteguk susu atau sebiji kurma atau segelas air, barang siapa kenyangkan orang berpuasa diampunkan Tuhan dosanya, diminumkan Tuhan dari kolam Hudh sejenis minuman yang tiada dahaga lagi kemudiannya hingga masuk ia ke syurga dan pahalanya seperti pahala orang berpuasa. (Al-Hadith)
Puasa menurut segala yang disuruh dan menjauh segala pantang larangannya, diampunkan dosanya, dan bertasbih, bertahlil dibinakan rumah indah dalam syurga.
Barang siapa hadir ke dalam majlis zikir pada bulan Ramadan, ditulis tiap langkahnya ibadat setahun, dan pada hari Qiamat bersamaku di bawah Arasy. Siapa tetap berjemaah dalam bulan puasa didirikan kota bercahaya indah, cemerlangnya , dan yang berbakti kepada ibubapanya Allah memandang rahmat kepadanya, dan isteri yang berbuat sesuatu mencari keredaan suaminya, maka pahala yang besar Allah kurniakan kepadanya , seperti Siti Maryam dan siapa yang menyampaikan hajat orang mukmin, Allah menunaikan seribu hajatnya, dan siapa bersedekah kepada fakir miskin (yang ada anak isteri) tiap langkah dikurniakan kepadanya seribu kebajikan, dihapuskan seribu kejahatan dan diangkatkan seribu darjat baginya. (Al-Hadith).
Orang yang sembahyang bulan Ramadan tiap sekali sujud, dikurniakan kepadanya 1700 kebajikan, dan dibinakan rumah didalam syurga daripada permata bagi orang yang berpuasa dan beribadat, 75000 malaikat meminta ampun baginya dari pagi hingga tenggelam matahari, dan dibina sebuah mahligai baginya . (Al-Hadith)
Pada hari Qiamat, Allah memerintah Malek Ridwan supaya dikeluarkan orang-orang berpuasa daripada kuburnya dengan keadaan lapar dan dahaga, lalu disuruh Malek Ridwan berikan segala keinginan mereka dari segala macam makanan dan minuman syurga. Maka Malek Ridwan memerintah kepada anak-anak membawa talam-talam makanan , minuman dan buah-buahan. Sebagai balasan berlapar di bulan Ramadan. (A-Hadith)
Orang mukmin yang tidur dalam bulan puasa kerana puasa Ramadan, dia membalikkan badannya sambil meyebut Allah! maka kata malaikat kepadanya : Rahimakallah (Allah Mencucuri Rahmat kepada kamu.)
- Apabila dia berdiri maka berdoalah hamparannya : (Wahai Tuhanku, kurniakanlah kepadanya hamparan permaidani tebal kepadanya di dalam syurga)
- Apabila memakai pakaian , berdoalah pakaian (Wahai Tuhanku, kurniakan kepadanya pakaian syurga)
- Apabila memakai kasut, berdoalah kasut (Wahai Tuhanku, tetapkanlah atas titian Siratul Mustaqim!)
- Apabila memegang timba berdoalah pula timba : (Wahai Tuhanku kurniakan kepadanya gelas syurga!)
- Apabila mengambil air sembahyang , berdoalah air itu : (Wahai Tuhanku sucikannya daripada segala dosa dan kesalahan!)
- Apabila berdiri sembahyang , berdoalah rumahnya: ( Wahai Tuhanku cahayakanlah kuburnya dan luaskanlah , lapangkanlah kuburnya!)
Serta menilik Allah kepadanya , maksudnya : HambaKu berdoa dan Aku menerima! (Al-Hadith)
Malaikat yang banyak muka bersujud kepada Allah pada hari Qiamat, satu muka sujud , satu muka melihat syurga, satu muka melihat neraka, satu muka melihat Arasy , lalu berkata malaikat itu : Wahai Tuhanku , ampunlah umat Muhammad, kasihanilah mereka! janganlah disiksa orang yang berpuasa Ramadan dari umat Muhammad! (Al-Hadith)
Keredaan Allah (bagi orang yang taat)
Keampuan Allah (bagi orang yang maksiat)
Jaminan Allah (bagi orang yang taat)
Kejinakan Allah (bagi orang yang tawakkal)
Anugerah Allah (bagi orang yang benar).
Ramadan, Ramada, ertinya : membakar - yakni menghapuskan dosa dosa orang yang berpuasa dan beribadat bulan Ramadan.
Ramadan ertinya bulan mendapatkan keredhaan Allah dan keampunan bagi hambaNya. Orang yang mendapat keredhaan dan keampunan Allah bererti memberi jaminan (kerana ibadatnya pada bulan mulia dengan penuh taat) mendapat syurga anugerah Allah bagi hambaNya yang benar benar melakukan ibadat kerana Nya pada bulan Ramadan termulia ini dengan ganjaran pahala sehingga seribu kali ganda dan keampunan yang banyak sekali, teristimewa pada malam Lailatul Qadar.
"Bahawa di dalam syurga terdapat bilik bilik, dilihat dari luar nampak di dalamnya dan dilihat dari dalam kelihatan di luarnya, berkata sahabat : untuk siapakah ya Rasulullah? Lantas Baginda menjawab : Ialah bagi orang yang baik percakapannya, bagi orang yang memberi makan makanan, bagi orang yang sentiasa berpuasa, bagi orang yang sembahyang di tengah malam sedang manusia banyak tidur." (Al Hadith)
"Semulia mulia sedeqah ialah sedeqah pada bulan Ramadhan." (Al Hadith)
"Puasa itu perisai dan sedeqah itu memadam kesalahan dosa sepertimana air memadamkan api." (Al Hadith)
"Siapa memberi makan ( berbuka puasa) kepada orang puasa makan baginya seumpama balasan pahala orang yang berpuasa dengan tidak kurang sedikitpun ." (Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba berpuasa Ramadan, diam tiada berkata yang sia sia dan daripada yang haram dan yang makruh, dan sentiasa menyebut Allah (berzikrullah), menghalalkan yang dihalalkan Allah, mengharamkan akan yang diharamkan Allah, tiada mengerjakan kejahatan, melainkan sehingga berakhir Ramadan, telah diampunkan baginya segala dosanya, dan tiap tasbih, tiap tahlil, dibinakan sebuah rumah yang terindah di dalam syurga daripada permata zamrud, di dalamnya daripada yaqut merah indah, di dalam rangka permata itu (yaqut) terdapat sebuah khemah, di dalamnya terdapat bidadari ( hurul ain isteri syurga). Terhias dengan permata bercahaya indah yang menerangkan bumi seluruhnya.(Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawasanya bagi Allah beberapa kejadianNya, dijadikan mereka supaya menyampaikan segala hajat orang dan supaya orang meminta tolong kepada Nya, pada menyempurnakan segala hajat yang diperlukan, mereka itulah orang yang aman daripada siksa Allah (Riwayat At Tibrani) (Al-Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawa pintu langit dan pintu syurga dibuka pada awal Ramadan hingga akhir malam Ramadan, tiap orang yang bersembahyang pada malamnya dituliskan baginya tiap satu sujud 1700 kebajikan, dibina rumah baginya di dalam syurga daripada yaqut merah indah, baginya 70 pintu daripada emas yang bertatah yaqut permata yang merah, orang yang berpuasa pada awal Ramadan diampunkan segala dosanya hingga ke akhir bulan Ramadan, dibinakan baginya tiap tiap hari sebuah mahligai di dalam syurga, mempunya 1000 pintu daripa emas, dan meminta ampun baginya 70 000 malaikat dari pagi hingga tenggelam matahari (Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Kelebihan hari Jumaat pada bulan Ramadan atas segala hari yang lainnya seperti kelebihan Ramadan atas segala bulan (Al Hadith)
Barangsiapa mengerjakan ibadat pada bulan Ramadan dengan keimanannya dan ikhlasnya kerana Allah, maka di ampunkan segala dosanya yang telah lalu (Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Tidur orang yang berpuasa itu adalah ibadat, dan nafasnya itu adalah tasbih, doanya itu mustajab, dosanya diampunkan Allah, dan amal ibadatnya dilipatgandakan . (Al Hadith)
Apabila berakhir bulan Ramadan, menangis wali-wali Allah kerana terpisahnya bulan yang paling mulia yang digandakan ibadat berlipatkali ganda daripada bulan bulan yang lainnya, bulan Allah mudah menerima ampun taubat hambaNya, bulan yang banyak sekali diturun rahmat ke alam, bulan yang terdapat padanya malam Lailatul Qadar, suatu rahmat dan rahsia yang dikurniakan kepada hamba hamba Nya yang salihin, yang tidak terdapat pada bulan bulan yang lainnya. Mereka menangis kerana belum tentu akan dapat menemui bulan termulia ini pada tahun tahun hadapan, kiranya dipanjangkan umur.
Apabila berakhirlah malam bulan Ramadan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, dan segala malaikat, jerana berlalu Ramadan berlalulah kelebihan, sebab musibah bagi umatku, dan duduk segala malaikat bagi musibah, orang bertanya : Ya Rasullullah, apa itu musibah ? Jawab rasullullah (s.a.w), Kerana segala doa padaNya itu mustajab, sedakah makbul, segala kebajikan digandakan dan siksa kubur diangkat, maka apakah musibah yang terlebih besar daripada ini bagi umatku?! (Al-Hadith)
Malam Lailatul Qadar adalah malam rahsia, yang turunnya padanya malaikat Jibrail dan beberapa malaikat dengan perintah Allah. Orang yang berjaga dengan malam ibadatnya untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang terahsia itu yang tidak diketahui oleh manusia, hanya orang-orang solihin yang hampir, orang berusaha mendapatkan malam mulia itu dengan berjaga malam pada sepuloh malam Ramadan yang terakhir maka diampunkan tuhan segala dosanya. Di pahalakannya dengan banyak , dirahmatkannya dengan limpah kurnia. Dan orang-orang solihin yang dikurniakan Allah mendapat malam Lailatul Qadar itu satu keberuntungan kebahagiaan bagi akhirat, mendapat keampunan dan rahmat terbesar, mendapat pimpinan Allah dalam hatinya, mendapat keredaan Allah dalam hidupnya dunia dan akhirat.
Malam Aidilfitri, malam raya, disunatkan kepada kita berjaga malam, beribadah, bertakbir "AllahuAkbar" sepanjang malamnya. Akan mendapat keampunan yang banyak, pahala yang besar, rahmat Allah tercurah kepadanya. Siapa yang menghidupkan dua malam raya (AidilFitri & AidilAdha) dengan ibadatnya dan takbirnya , tiada dimatikan hatinya pada hari yang dimatikan segala hati. (Al-Hadith).
Langganan:
Postingan (Atom)