Sabtu, 28 Januari 2012
KELEBIHAN HARI JUMAAT (PENGHULU SEGALA HARI)
Hari Jum’at memiliki beberapa keutamaan sebagaimana terdapat dalam beberapa hadis Nabi, diantaranya:
Pertama. Hari Jum’at adalah hari yang paling utama diantara hari-hari lainnya.
Kedua. Nabi Adam Alaihissalam diciptakan pada hari Jum’at dan pada hari ini pula diwafatkan. Pada hari ini ia dimasukkan ke dalam syurga dan pada hari ini pula dikeluarkan dari syurga.
Ketiga. Hari kiamat akan terjadi pada hari Jum’at.
[3] Abu Hurairah Radhiyalahu 'anhu meriwayatkan, bahawa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقَوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَة .
"Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jum’at; pada hari ini Adam as diciptakan, pada hari ini (Adam Alaihissalam) dimasukkan ke dalam syurga, dan pada hari ini pula ia dikeluarkan dari syurga. Dan tidaklah kiamat akan terjadi kecuali pada hari ini.[HR Muslim, no. 854]
Dalam riwayat Aus bin Aus Radhiyallahu 'anhu dengan lafal:
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ قُبِضَ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعِقَةُ .......
"Sesungguhnya seutama-utama hari kalian adalah hari Jum’at ; pada hari ini Adam Alaihissalam diciptakan, pada hari ini pula ia dimatikan, pada hari ini ditiupkan sangkakala (tanda kiamat), dan pada hari ini pula hari kebangkitan"
[4] Keempat. Hari Jum’at merupakan keistimewaan dan hidayah yang Allah berikan kepada umat Islam yang tidak diberikan kepada umat-umat lain sebelumnya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوْتِيْنَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فَهَدَانَا اللهُ لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ، فَهَذَا يَوْمُهُمُ الَّذِيْ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ هَدَانَا اللهُ لَهُ –قَالَ: يَوْمُ الْجُمْعَةِ-، فَالْيَوْمُ لَنَا وَغَداً لِلْيَهُوْدِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى.
"Kita adalah umat yang datang terakhir tapi paling awal datang pada hari kiamat, dan kita yang pertama kali masuk syurga, cuma mereka diberi Kitab sebelum kita sedangkan kita diberi Kitab setelah mereka. Kemudian mereka berselisih, lalu Allah memberi kita hidayah terhadap apa yang mereka perselisihkan. Inilah hari yang mereka perselisihkan, dan Allah berikan hidayah berupa hari ini kepada kita (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut hari Jum’at). Maka hari (Jum’at) ini untuk kita (umat Islam), besok (Sabtu) untuk umat Yahudi dan lusa (Ahad) untuk umat Nasrani".[HR Muslim, no. 855]
Dalam riwayat lain dari Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu dengan lafadz:
أَضَلَّ اللهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا، فَكَانَ لِلْيَهُوْدِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ اْلأَحَدِ، فَجَاءَ اللهُ بِنَا فَهَدَانَا اللهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَاْلأَحَدَ، وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَاْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيَّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلاَئِقِ.
Allah telah menyesatkan orang-orang sebelum kita dari hari Jum’at, maka umat Yahudi memperoleh hari Sabtu, umat Nasrani memperoleh hari Ahad. Lalu Allah mendatangkan kita dan memberi kita hidayah untuk memperoleh hari Jum’at. Maka Allah menjadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad, dan mereka (umat sebelum kita) berada di belakang kita pada hari kiamat. Kita datang paling akhir di dunia, tetapi paling awal datang di hari kiamat yang telah ditetapkan untuk mereka sebelum diciptakan seluruh makhluk" [HR Muslim, no. 856]
Kelima. Pada hari Jum’at ini terdapat saat-saat terkabulnya do’a, terutama pada akhir-akhir siangnya setelah Ashar. Berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللهَ خَيْراً إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، قَالَ: وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيْفَةٌ.
“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat-saat, iaitu seorang muslim tidaklah ia berdiri sholat dan meminta kebaikan kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya.” Lalu Beliau berkata,”Dan saat-saat tersebut adalah saat yang singkat.” [HR Muslim, no. 852] Dalam riwayat Jabir Radhiyallahu 'anhu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئاً إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ. "
(Siang) hari Jum’at itu dua belas jam. Tidaklah didapati seorang hamba muslim pada saat-saat ini meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya. Maka carilah pada akahir saat-saat tersebut setelah Ashar"
[5]. PERKARA-PERKARA YANG DISYARI’ATKAN PADA HARI JUM’AT Hari Jum’at, disamping memiliki keutamaan sebagaimana telah disebutkan di atas, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan syari’at khusus untuk hari ini, yaitu;
Pertama : Sholat Jum’at. Mengenai sholat Jum’at ini akan dikupas beberapa hal berikut ini. a). Kewajiban menunaikan sholat Jum’at. Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui" [Al Jumu’ah: 9]
Kewajiban ini bersifat fardhu ‘ain atas setiap muslim secara berjama’ah, kecuali lima golongan iaitu: hamba sahaya, wanita, anak kecil (yang belum baligh), orang sakit dan musafir. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat berikut. Dari Thariq bin Syihab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الْجُمْعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ.
"(Shalat) Jum’at itu adalah wajib atas setiap muslim secara berjama’ah, kecuali empat (golongan) iaitu: hamba sahaya, wanita, anak kecil (yang belum baligh) atau orang sakit" [6] Dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمْعَةٌ
"Tidak ada kewajiban atas musafir (untuk menunaikan) sholat Jum’at" [HR Ad-Daruquthni.II/4] b). Keutamaan menunaikan sholat Jum’at. Tidaklah syari’at memerintahkan suatu perkara, melainkan diiringi dengan janji berupa balasan kebaikan, keutamaan dan pahala sebagai pendorong bagi orang-orang yang mau menunaikan perintah tersebut. Diantaranya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَخْلُوَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ.
"Barangsiapa mandi (wajib) kemudian mendatangi (sholat) Jum’at, lalu ia sholat –sunnat- (sebelum imam datang) sekuat kemampuannya, kemudian diam seksama (mendengarkan imam berkhuthbah) sampai selesai dari khutbahnya, lalu sholat bersamanya, maka akan diampuni (dosanya) antara Jum’at tersebut dengan Jum’at lainnya (sebelumnya) ditambah tiga hari". [HR Muslim, no. 857] Dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.
"(Antara) sholat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan, terdapat penghapus dosa-dosa, selama tidak melanggar dosa-dosa besar." [HR Muslim, no. 233] c). Ancaman terhadap orang yang meninggalkan sholat Jum’at. Disamping menjelaskan tentang keutamaan menunaikan sholat Jum’at, syari’at juga menjelaskan ancaman terhadap orang-orang yang meninggalkan sholat Jum’at kerana meremehkannya. Dalam hal ini terdapat beberapa hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, diantaranya: Sabda Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam,
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِن الْغَافِلِيْنَ.
"Sungguh hendaknya orang-orang itu berhenti dari meninggalkan sholat Jum’at atau (kalau tidak maka) Allah akan mengunci hati-hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang-orang yang lalai."[ [HR Muslim, no. 856] Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ أَحْرَقَ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوْتَهُمْ.
"Sungguh saya bertekad untuk memerintahkan seseorang mengimami sholat bagi manusia, kemudian saya bakar rumah orang-orang yang meninggalkan (sholat) Jum’at." [HR Muslim, no. 652] Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُناً بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ. "Barangsiapa meninggalkan sholat Jum’at sebanyak tiga kali kerana meremehkannya, maka Allah akan mengunci hatinya." [7] Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ.
"Barangsiapa meninggalkan tiga kali sholat Jum’at tanpa uzur, maka dia tercatat sebagai golongan orang-orang munafik." [8] d). Waktu pelaksanaannya. Waktu pelaksanaannya adalah pada waktu Dhuhur, berdasarkan riwayat dari Anas Radhiyallahu 'anhu,
أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ.
"Bahawa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menunaikan sholat Jum’at ketika matahari tergelincir (yakni masuk waktu Zuhur)." [HR Al-Bukhari, no. 862] Sebahagian ulama membolehkan pelaksanaannya –beberapa saat- sebelum masuk waktu Zuhur (sebelum matahari benar-benar tergelincir). Mereka berdalil dengan riwayat dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu ketika ia ditanya, “Bila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menunaikan sholat Jum’at?” Dia menjawab,”(Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) pernah menunaikan sholat Jum’at, kemudian (selesai sholat) kami pergi menuju unta-unta kami untuk mengistirahatkannya ketika matahari tergelincir." [HR Muslim, no. 858] (Bererti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah sholat Jum’at sebelum matahari tergelincir). Kedua. Khuthbah Jum’at. a). Hukumnya. Khutbah Jum’at hukumnya wajib, kerana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, dan berdasarkan keumuman sabda Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam,
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ.
"Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat." [HR Al-Bukhari, no. 605] Khuthbah Jum’at ini termasuk dalam rangkaian pelaksanaan sholat Jum’at yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya sebelum sholat.
Senin, 14 November 2011
Aurat Wanita Muslim
Menutup aurat itu tuntutan...jangan menghakimi apa yang dipakai telah menutup aurat, jika ia masih lompang syarat menutup aurat!MANUSIA memerlukan pakaian bagi membalut atau menutupi tubuhnya. Pakaian adalah nikmat Allah yang penting kepada manusia.
Allah menyuruh manusia, khususnya umat Islam supaya memakai pakaian, seperti firman-Nya bermaksud: "Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian yang indah apabila pergi ke tempat ibadah, seperti mengerjakan sembahyang atau pun memasuki masjid, makan dan minumlah, jangan melampau-lampau, sesungguhnya Allah tidak suka orang yang melampaui batas."(Surah al-A'raaf, ayat 31).
Pada masa ini, ramai berpakaian bagi melambangkan personaliti dan melindungi tubuh daripada cuaca panas atau sejuk.
Oleh kerana masa atau zaman berubah begitu pantas, maka rekaan dan corak pakaian pun sentiasa bertukar dan semakin canggih. Oleh itu, tidak hairan jika hari ini lahir pelbagai jenis rekaan pakaian yang tidak lagi mementingkan aspek akhlak dan moral.
Islam sebenarnya tidak menetapkan bentuk atau warna pakaian tertentu untuk dipakai, baik ketika beribadah atau luar ibadah. Islam menetapkan pakaian itu mesti menutup aurat, sopan dan sesuai dengan akhlak seorang Muslim.
Pakaian itu tidak menimbulkan kesan negatif terhadap pemakai dan yang melihatnya.
Antara adab berpakaian yang diatur oleh Islam ialah:-
Hendaklah menutup aurat.
Aurat lelaki menurut ahli hukum Islam ialah daripada pusat hingga ke lutut. Aurat wanita pula ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, tapak tangan dan tapak kakinya.
Nabi Muhammad saw bersabda bermaksud: "Paha itu adalah aurat." (Hadis riwayat Imam Bukhari).
Pakaian tidak jarang supaya tidak menampakkan tubuh.
Pakaian yang jarang menampakkan aurat dan tidak memenuhi syarat menutup aurat. Pakaian jarang bukan saja menampakkan warna kulit, malah boleh merangsang nafsu orang yang melihatnya.
Nabi bersabda bermaksud: "Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia, dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liuk badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh." (Hadis riwayat Muslim)
Pakailah pakaian yang tidak ketat supaya tidak kelihatan bentuk tubuh. Lagi pun pakaian yang ketat menyusahkan pergerakan pemakainya.
Memakai pakaian yang tidak menimbulkan rasa sombong di hati pemakainya. Nabi bersabda bermaksud: "Sesiapa yang melabuhkan pakaiannya kerana perasaan sombong, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat."
Dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda bermaksud: "Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan pada hari akhirat nanti." (Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'iy dan Ibnu Majah)
Tidak menyerupai pakaian golongan bukan Islam kerana dibimbangi orang Islam akan meninggalkan keperibadian Muslim sendiri.
Nabi bersabda bermaksud: "Sesiapa meniru atau menyerupai sesuatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka." (Hadis riwayat Abu Daud)
Pakaian lelaki mesti berbeza daripada pakaian wanita. Maksudnya, pakaian yang khusus untuk kaum lelaki tidak boleh dipakai oleh kaum wanita, begitu juga sebaliknya.
Rasulullah mengingatkan hal ini dengan keras menerusi sabdanya bermaksud: "Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki, dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).
Nabi juga bersabda bermaksud: "Allah melaknat lelaki berpakaian wanita dan wanita berpakaian lelaki." (Hadis riwayat Abu Daud dan Al-Hakim).
Pakaian lelaki tidak boleh diperbuat daripada sutera kerana diharamkan kaum lelaki memakai sutera.
Nabi bersabda bermaksud: "Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di dunia tidak dapat memakainya di akhirat." (Hadis riwayat Muttafaq 'alaih)
Muslimah perlu melabuhkan pakaian hingga menutupi kaki. Pakailah tudung/mini telekung yang sesuai bagi menutupi kepala/rambut, tengkuk, leher dan dada.
Allah berfirman bermaksud: "Wahai Nabi, katakanlah (suruhlah) isteri-isteri dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan beriman, supaya mereka menghulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." (Surah al-Ahzab, ayat 59)
Memilih pakaian berwarna putih kerana ia adalah yang terbaik untuk dipakai. Putih adalah warna yang sangat disenangi dan sering menjadi pilihan Rasulullah. Ia juga melambangkan kesucian.
Baginda bersabda bermaksud: "Pakailah pakaian putih kerana ia lebih suci dan lebih baik, dan kafankan mayat-mayat kamu dengannya." (Hadis riwayat An-Nasa'iy dan Al-Hakim).
Berdasarkan berita yang sahih, baginda memakai baju hijau dan serban hitam. Hijau adalah warna kesukaan Nabi.
Lelaki Islam tidak dibolehkan memakai cincin emas. Nabi bersabda bermaksud: "Haram kaum lelaki memakai sutera dan emas, dan dihalalkan (memakainya) kepada wanita."
Apabila memakai kasut atau seumpamanya, mulakan dengan sebelah kanan. Apabila menanggalkannya, mulakan dengan sebelah kiri. Rasulullah bersabda bermaksud: "Apabila seseorang memakai kasut, mulakanlah dengan sebelah kanan, dan apabila menanggalkannya, mulakan dengan sebelah kiri supaya yang kanan menjadi yang pertama memakai kasut dan yang terakhir menanggalkannya." (Hadis riwayat Imam Muslim)
Apabila memakai baju, seluar atau seumpamanya, mulakanlah juga dengan sebelah kanan. Imam Muslim meriwayatkan daripada Saidatina Aisyah bermaksud: "Rasulullah suka sebelah kanan dalam segala keadaan, seperti memakai kasut, berjalan kaki dan bersuci."
Apabila memakai pakaian yang baru dibeli, ucapkanlah seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tarmizi (bermaksud): "Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau yang memakaikannya kepadaku. Aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa-apa yang dibuat baginya. Aku mohon perlindungan kepada-Mu daripada kejahatannya dan kejahatan apa-apa yang diperbuat untuknya, Demikian itu telah datang daripada Rasulullah."
Berdoa setiap kali memakai dan menanggalkan pakaian supaya memperoleh keberkatan. Ketika memakai pakaian, lafazkanlah: "Pujian kepada Allah yang mengurniakan pakaian ini untuk menutupi auratku dan dapat mengindahkan diri dalam kehidupanku, Dengan nama Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia."
Sebagai seorang Islam, sewajarnya seseorang itu memakai pakaian yang sesuai menurut tuntutan agamanya. Sesungguhnya pakaian yang sopan dan menutup aurat adalah imej seorang Muslim.
Allah menyuruh manusia, khususnya umat Islam supaya memakai pakaian, seperti firman-Nya bermaksud: "Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian yang indah apabila pergi ke tempat ibadah, seperti mengerjakan sembahyang atau pun memasuki masjid, makan dan minumlah, jangan melampau-lampau, sesungguhnya Allah tidak suka orang yang melampaui batas."(Surah al-A'raaf, ayat 31).
Pada masa ini, ramai berpakaian bagi melambangkan personaliti dan melindungi tubuh daripada cuaca panas atau sejuk.
Oleh kerana masa atau zaman berubah begitu pantas, maka rekaan dan corak pakaian pun sentiasa bertukar dan semakin canggih. Oleh itu, tidak hairan jika hari ini lahir pelbagai jenis rekaan pakaian yang tidak lagi mementingkan aspek akhlak dan moral.
Islam sebenarnya tidak menetapkan bentuk atau warna pakaian tertentu untuk dipakai, baik ketika beribadah atau luar ibadah. Islam menetapkan pakaian itu mesti menutup aurat, sopan dan sesuai dengan akhlak seorang Muslim.
Pakaian itu tidak menimbulkan kesan negatif terhadap pemakai dan yang melihatnya.
Antara adab berpakaian yang diatur oleh Islam ialah:-
Hendaklah menutup aurat.
Aurat lelaki menurut ahli hukum Islam ialah daripada pusat hingga ke lutut. Aurat wanita pula ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, tapak tangan dan tapak kakinya.
Nabi Muhammad saw bersabda bermaksud: "Paha itu adalah aurat." (Hadis riwayat Imam Bukhari).
Pakaian tidak jarang supaya tidak menampakkan tubuh.
Pakaian yang jarang menampakkan aurat dan tidak memenuhi syarat menutup aurat. Pakaian jarang bukan saja menampakkan warna kulit, malah boleh merangsang nafsu orang yang melihatnya.
Nabi bersabda bermaksud: "Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia, dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liuk badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh." (Hadis riwayat Muslim)
Pakailah pakaian yang tidak ketat supaya tidak kelihatan bentuk tubuh. Lagi pun pakaian yang ketat menyusahkan pergerakan pemakainya.
Memakai pakaian yang tidak menimbulkan rasa sombong di hati pemakainya. Nabi bersabda bermaksud: "Sesiapa yang melabuhkan pakaiannya kerana perasaan sombong, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat."
Dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda bermaksud: "Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan pada hari akhirat nanti." (Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'iy dan Ibnu Majah)
Tidak menyerupai pakaian golongan bukan Islam kerana dibimbangi orang Islam akan meninggalkan keperibadian Muslim sendiri.
Nabi bersabda bermaksud: "Sesiapa meniru atau menyerupai sesuatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka." (Hadis riwayat Abu Daud)
Pakaian lelaki mesti berbeza daripada pakaian wanita. Maksudnya, pakaian yang khusus untuk kaum lelaki tidak boleh dipakai oleh kaum wanita, begitu juga sebaliknya.
Rasulullah mengingatkan hal ini dengan keras menerusi sabdanya bermaksud: "Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki, dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).
Nabi juga bersabda bermaksud: "Allah melaknat lelaki berpakaian wanita dan wanita berpakaian lelaki." (Hadis riwayat Abu Daud dan Al-Hakim).
Pakaian lelaki tidak boleh diperbuat daripada sutera kerana diharamkan kaum lelaki memakai sutera.
Nabi bersabda bermaksud: "Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di dunia tidak dapat memakainya di akhirat." (Hadis riwayat Muttafaq 'alaih)
Muslimah perlu melabuhkan pakaian hingga menutupi kaki. Pakailah tudung/mini telekung yang sesuai bagi menutupi kepala/rambut, tengkuk, leher dan dada.
Allah berfirman bermaksud: "Wahai Nabi, katakanlah (suruhlah) isteri-isteri dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan beriman, supaya mereka menghulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." (Surah al-Ahzab, ayat 59)
Memilih pakaian berwarna putih kerana ia adalah yang terbaik untuk dipakai. Putih adalah warna yang sangat disenangi dan sering menjadi pilihan Rasulullah. Ia juga melambangkan kesucian.
Baginda bersabda bermaksud: "Pakailah pakaian putih kerana ia lebih suci dan lebih baik, dan kafankan mayat-mayat kamu dengannya." (Hadis riwayat An-Nasa'iy dan Al-Hakim).
Berdasarkan berita yang sahih, baginda memakai baju hijau dan serban hitam. Hijau adalah warna kesukaan Nabi.
Lelaki Islam tidak dibolehkan memakai cincin emas. Nabi bersabda bermaksud: "Haram kaum lelaki memakai sutera dan emas, dan dihalalkan (memakainya) kepada wanita."
Apabila memakai kasut atau seumpamanya, mulakan dengan sebelah kanan. Apabila menanggalkannya, mulakan dengan sebelah kiri. Rasulullah bersabda bermaksud: "Apabila seseorang memakai kasut, mulakanlah dengan sebelah kanan, dan apabila menanggalkannya, mulakan dengan sebelah kiri supaya yang kanan menjadi yang pertama memakai kasut dan yang terakhir menanggalkannya." (Hadis riwayat Imam Muslim)
Apabila memakai baju, seluar atau seumpamanya, mulakanlah juga dengan sebelah kanan. Imam Muslim meriwayatkan daripada Saidatina Aisyah bermaksud: "Rasulullah suka sebelah kanan dalam segala keadaan, seperti memakai kasut, berjalan kaki dan bersuci."
Apabila memakai pakaian yang baru dibeli, ucapkanlah seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tarmizi (bermaksud): "Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau yang memakaikannya kepadaku. Aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa-apa yang dibuat baginya. Aku mohon perlindungan kepada-Mu daripada kejahatannya dan kejahatan apa-apa yang diperbuat untuknya, Demikian itu telah datang daripada Rasulullah."
Berdoa setiap kali memakai dan menanggalkan pakaian supaya memperoleh keberkatan. Ketika memakai pakaian, lafazkanlah: "Pujian kepada Allah yang mengurniakan pakaian ini untuk menutupi auratku dan dapat mengindahkan diri dalam kehidupanku, Dengan nama Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia."
Sebagai seorang Islam, sewajarnya seseorang itu memakai pakaian yang sesuai menurut tuntutan agamanya. Sesungguhnya pakaian yang sopan dan menutup aurat adalah imej seorang Muslim.
Kamis, 06 Oktober 2011
Cara Mendidik Anak-anak Menurut Islam
Cara Mendidik Anak-anak Menurut Islam
Pendahuluan
Menurut perspektif Islam, pendidikan kanak-kanak ialah proses mendidik, mengasuh dan melatih rohani dan jasmani mereka berteraskan nilai-nilai baik yang bersumberkan Al-Quran, Hadis dan pendapat serta pengalaman para ulama. Ia bertujuan melahirkan " Insan Rabbani" yang beriman, bertakwa dan beramal soleh.
Falsafah pendidikan sebenarnya menekankan aspek rohani dan jasmani, sesuai dengan kejadian manusia itu sendiri yaang terdiri daripada roh dan jasad. Ianya melibatkan beberapa peringkat, bermula dari dalam kandungan sehinggalah ia lahir dan menjadi dewasa.
Membentuk Dunia Kanak-kanak
Sebelum anak-anak dilahirkan, ibubapa menyediakan tempat yang sesuai untuk membesarkan anak dengan sebaik-baiknya. Ini bermakna dunia kanak-kanak setelah dilahirkan ialah rumah ibubapa itu sendiri. Untuk mencapai kesempurnaan hidup kanak-kanak, ibu-bapa perlu membentuk suasana harmoni dan bercirikan keislaman dalam kehidupan rumahtangga terlebih dahulu.
Jika pasangan suami isteri menghayati nilai-nilai keislaman dalam kehidupan rumahtangganya, mudahlah ia mendidik anak-anaknya dengan benih-benih Islam. Sebaliknya, jika pasangan suami isteri gagal menerapkan nilai-nilai Islam dan mengekalkan kerukunan rumahtangga, sukarlah bagi mereka mentarbiyah anak-anak mengikut acuan dan budaya hidup Islam.
Atas itulah Rasulullah S.A.W mengingatkan bakal-bakal suami agar memilih bakal isteri yang mempunyai kesungguhan dan penghayataan agama, bukan kerana paras rupa, keturunan atau harta semata-mata. Sabda Rasulullah yang bermaksud:
" wanita dikahwini kerana empat perkara, iaitu kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama kerana ia menguntungkan kamu(lebih utama)"
Ketika Anak Dalam Kandungan
Proses pendidikan mula berlaku ketika bayi masih berada dalam kandungan ibunya. Pendidikan pada peringkat ini lebih bercorak kerohanian, iaitu:
1) Bagi ibu-ibu yang mengandung digalakkan supaya memper-banyakkan bacaan Al-Quran terutama surah Yusuf, Mariam, Luqman dan At-Taubah.
2) Ibu hendaklah sentiasa berdoa kepada Allah S.W.T agar anak yang bakal dilahirkan itu nanti menjadi seorang anak yang soleh, berilmu, beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.
3) Ibu bapa hendaklah mendapat rezeki daripada sumber yang halal supaya benih yang bakal dilahirkan itu nanti datang daripada darah daging yang halal.
4) Ibu hendaklah makan makanan yang berzat dan sentiasa menjaga kesihatan tubuh badannya. Kebersihan diri hendaklah diutamakan bagi menjamin kesihatan anak-anak dalam kandungan. Faktor kesihatan amat dititik beratkan oleh Islam sehingga Islam memberikan kelonggaran kepada ibu yang mengandung untuk berbuka puasa sekiranya merasakan puasa itu menjejaskan kesihatan diri dan anaknya.
5) Ketika mengandung, ibu perlulah menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan yang berlaku kepada dirinya. Pada waktu begini sememangnya keadaan ibu agak berbeza dari waktu - waktu biasa, terutamanya bagi ibu yang bakal melahirkan anak yang pertama. Mungkin selera makannya hilang, perasaan agak terganggu(sensitif) dan hatinya boleh berdebar-debar kerana bayi dalam kandungannya itu adalah sebahagian daripada dirinya. Ketika ini para suami hendaklah lebih memahami keadaan isteri serta memberi dorongan yang kuat kepadanya
Setelah Anak Dilahirkan
Setelah anak dilahirkan, hendaklah segera diazankan telinga kanannya dan diiqamatkan telinga kirinya.
Abu Rafi meriwayatkan sebuah hdis yang bermaksud:
" Aku melihat sendiri Rasulullah S.A.W mengazankan Hasan B. Ali pada telinganya ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah r.a"
(Riwayat Abu Daud dan Termizi)
Sebagai suapan yang pertama, sunat bayi disuapkan dengan manisan seperti madu dan kurma. Abu Musa Al Asyari r.a. dalam sebuah riwayat mengatakan:
"Isteriku melahirkan seorang anak. Bayi itu ku bawa kepada Rasulullah S.A.W.. Baginda menamakannya Ibrahim, kemudiannya disuap dengan buah kurma(yang telah dilumatkan) setelah itu baginda mendoakan keberkatan baginya lalu bayi itu diserahkan kembali kepadaku".
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Pada hari ketujuh kelahirannya, ibu bapa disunatkan bersedekah dengan melakukan ibadah aqiqah untuk anaknya. Seekor kambing bagi anak perempuan dan dua ekor kambing bagi anak lelaki. Rambutnya pula sunat dicukur keseluruhannya supaya kepalanya bersih, otaknya cergas dan rambut barunya tumbuh dengan subur dan sihat.
Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud:
"Setiap anak yang baru dilahirkan bergantung kepada aqiqahnya. Hendaklah diaqiqahkan dengan menyembelih kambing pada hari ke tujuh, diberi nama pada hari itu dan dicukur kepalanya".
( Riwayat Abu Daud, Termizi dan Nasa)
Bagi ibu yang menyusukan anak, ia perlu makan makanan yang halal, bersih, dan berzat. Ketika menyusukan anak, hatinya hendaklah selalu mendoakan kejayaan anaknya. Ketika hendak tidur, dodoikan (lagukan) dengan kalimah memuji Allah dan Rasulnya seperti nasyid dan sebagainya.
Apabila anak sudah mulai pandai bercakap, hendaklah membiasakannya dengan percakapan yang baik-baik seperti selawat, zikir dan lain-lain perkataan yang seumpamanya.
Peringkat Umur antara 5 hingga 7 tahun.
Pada peringkat umur antara 5-7 tahun, memerlukan teknik pendidikan yang lebih luas dan menyeluruh. Pengisian antara keperluan rohani dan jasmani perlu didedahkan serentak dan diseimbangkan. Teknik pembelajaran dan pengajaran perlu menggunakan kaedah yang sesuai kerana kanak-kanak biasanya akan belajar(mengikut) berdasarkan pemerhatian iaitu apa yang dilakukan oleh individu disekelilingnya terutama ahli keluarganya.
Menurut pandangan Islam, pada peringkat ini anak-anak wajar didedahkan dengan latihan menulis, membaca, mengira dan berbahasa. Pendidikan yang wajar didedahkan pada peringkat ini ialah bab ibadah dan akhlak. Misalnya kanak-kanak yang baru meningkat umur mumayyiz hendaklah dilatih mendirikan sembahyang. Seterusnya adab-adab yang mulia hendaklah mula diterapkan dalam bentuk latihan amali seperti:
1) Mendidik anak supaya taat dan beradab kepada kedua ibubapanya; timbulkan kesedaran kepada mereka bahawa pengorbanan ibubapa terhadapnya adalah amat besar dan mereka perlu bersyukur kerana menjadi anak yang masih mempunyai kedua ibubapa. Ini dapat mengeratkan hubungan mesra, rasa kasih sayang antara ahli keluarga.
2) Mengajar anak supaya taat dan beradab kepada guru dan orang yang lebih tua daripadanya; guru merupakan orang yang bertanggungjawab mendidik dan menyampaikan ilmu manakala orang yang lebih tua adalah orang yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan daripadanya.
3) Mengajar anak bercakap atau bergaul dengan baik; anak-anak hendaklah dilatih bercakap benar, sopan santun dan mengucapkan perkataan yaang baik-baik. Kanak-kanak biasanya begitu sensitif dengan pendengarannya, ia mudah terikut-ikut dengan apa yang didengarnya. Sebab itu jika ibubapa mahu menegur atau memarahi mereka, hendaklah menggunakan bahasa yang paling sopan bukannya dengan bahasa yang kesat, kasar dan keras.
4) Mengajar anak-anak adab bergaul dengan rakan-rakan; anak-anak harus dinasihatkan agar tidak berbangga atau meninggi diri di hadapan rakan sebayanya, jangan sekali-kali menyakiti atau mengambil hak orang lain .
5) Mengajar anak adab makan minum yang baik; sifat atau sikap yang tidak sopan seperti gelojoh ketika makan hendaklah ditegah, sebaliknya anak-anak dilatih dulu dengan adab-adab makan seperti mencuci tangan, duduk dengan sopan serta berdoa sebelum dan sesudah makan.
6) Mengajar anak adab berpakaian; pakaian yang dipilih hendaklah menutup aurat dan bukan untuk menunjuk-nunjuk kepada orang lain.
7) Mengajar adab dan bangun daripada tidur; sebaiknya hendaklah mengadap qiblat, membersihkan diri sebelum dan selepas bangun daripada tidur.
8) Mengajar anak adab masuk dan keluar tandas, anak-anak perlu diajar cara membuang air kecil/besar dan cara masuk ke dalam tandas seperti membaca doa, menutup kepala,membelakangkan qiblat dan sebagainya.
Kesimpulan
Anak-anak merupakan amanah Allah yang perlu dididik dengan sebaiknya sejak ia kecil lagi supaya apabila besar kelak menjadi anak yang soleh dan sentiasa taat kepada kedua ibubapanya. Mereka ibarat kain putih dan ibubapa lah yang berperanan mencorak dan melukiskannya dengan warna-warna menarik yang menjadi amalan dan cara hidup Islam.
Pendahuluan
Menurut perspektif Islam, pendidikan kanak-kanak ialah proses mendidik, mengasuh dan melatih rohani dan jasmani mereka berteraskan nilai-nilai baik yang bersumberkan Al-Quran, Hadis dan pendapat serta pengalaman para ulama. Ia bertujuan melahirkan " Insan Rabbani" yang beriman, bertakwa dan beramal soleh.
Falsafah pendidikan sebenarnya menekankan aspek rohani dan jasmani, sesuai dengan kejadian manusia itu sendiri yaang terdiri daripada roh dan jasad. Ianya melibatkan beberapa peringkat, bermula dari dalam kandungan sehinggalah ia lahir dan menjadi dewasa.
Membentuk Dunia Kanak-kanak
Sebelum anak-anak dilahirkan, ibubapa menyediakan tempat yang sesuai untuk membesarkan anak dengan sebaik-baiknya. Ini bermakna dunia kanak-kanak setelah dilahirkan ialah rumah ibubapa itu sendiri. Untuk mencapai kesempurnaan hidup kanak-kanak, ibu-bapa perlu membentuk suasana harmoni dan bercirikan keislaman dalam kehidupan rumahtangga terlebih dahulu.
Jika pasangan suami isteri menghayati nilai-nilai keislaman dalam kehidupan rumahtangganya, mudahlah ia mendidik anak-anaknya dengan benih-benih Islam. Sebaliknya, jika pasangan suami isteri gagal menerapkan nilai-nilai Islam dan mengekalkan kerukunan rumahtangga, sukarlah bagi mereka mentarbiyah anak-anak mengikut acuan dan budaya hidup Islam.
Atas itulah Rasulullah S.A.W mengingatkan bakal-bakal suami agar memilih bakal isteri yang mempunyai kesungguhan dan penghayataan agama, bukan kerana paras rupa, keturunan atau harta semata-mata. Sabda Rasulullah yang bermaksud:
" wanita dikahwini kerana empat perkara, iaitu kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama kerana ia menguntungkan kamu(lebih utama)"
Ketika Anak Dalam Kandungan
Proses pendidikan mula berlaku ketika bayi masih berada dalam kandungan ibunya. Pendidikan pada peringkat ini lebih bercorak kerohanian, iaitu:
1) Bagi ibu-ibu yang mengandung digalakkan supaya memper-banyakkan bacaan Al-Quran terutama surah Yusuf, Mariam, Luqman dan At-Taubah.
2) Ibu hendaklah sentiasa berdoa kepada Allah S.W.T agar anak yang bakal dilahirkan itu nanti menjadi seorang anak yang soleh, berilmu, beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.
3) Ibu bapa hendaklah mendapat rezeki daripada sumber yang halal supaya benih yang bakal dilahirkan itu nanti datang daripada darah daging yang halal.
4) Ibu hendaklah makan makanan yang berzat dan sentiasa menjaga kesihatan tubuh badannya. Kebersihan diri hendaklah diutamakan bagi menjamin kesihatan anak-anak dalam kandungan. Faktor kesihatan amat dititik beratkan oleh Islam sehingga Islam memberikan kelonggaran kepada ibu yang mengandung untuk berbuka puasa sekiranya merasakan puasa itu menjejaskan kesihatan diri dan anaknya.
5) Ketika mengandung, ibu perlulah menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan yang berlaku kepada dirinya. Pada waktu begini sememangnya keadaan ibu agak berbeza dari waktu - waktu biasa, terutamanya bagi ibu yang bakal melahirkan anak yang pertama. Mungkin selera makannya hilang, perasaan agak terganggu(sensitif) dan hatinya boleh berdebar-debar kerana bayi dalam kandungannya itu adalah sebahagian daripada dirinya. Ketika ini para suami hendaklah lebih memahami keadaan isteri serta memberi dorongan yang kuat kepadanya
Setelah Anak Dilahirkan
Setelah anak dilahirkan, hendaklah segera diazankan telinga kanannya dan diiqamatkan telinga kirinya.
Abu Rafi meriwayatkan sebuah hdis yang bermaksud:
" Aku melihat sendiri Rasulullah S.A.W mengazankan Hasan B. Ali pada telinganya ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah r.a"
(Riwayat Abu Daud dan Termizi)
Sebagai suapan yang pertama, sunat bayi disuapkan dengan manisan seperti madu dan kurma. Abu Musa Al Asyari r.a. dalam sebuah riwayat mengatakan:
"Isteriku melahirkan seorang anak. Bayi itu ku bawa kepada Rasulullah S.A.W.. Baginda menamakannya Ibrahim, kemudiannya disuap dengan buah kurma(yang telah dilumatkan) setelah itu baginda mendoakan keberkatan baginya lalu bayi itu diserahkan kembali kepadaku".
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Pada hari ketujuh kelahirannya, ibu bapa disunatkan bersedekah dengan melakukan ibadah aqiqah untuk anaknya. Seekor kambing bagi anak perempuan dan dua ekor kambing bagi anak lelaki. Rambutnya pula sunat dicukur keseluruhannya supaya kepalanya bersih, otaknya cergas dan rambut barunya tumbuh dengan subur dan sihat.
Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud:
"Setiap anak yang baru dilahirkan bergantung kepada aqiqahnya. Hendaklah diaqiqahkan dengan menyembelih kambing pada hari ke tujuh, diberi nama pada hari itu dan dicukur kepalanya".
( Riwayat Abu Daud, Termizi dan Nasa)
Bagi ibu yang menyusukan anak, ia perlu makan makanan yang halal, bersih, dan berzat. Ketika menyusukan anak, hatinya hendaklah selalu mendoakan kejayaan anaknya. Ketika hendak tidur, dodoikan (lagukan) dengan kalimah memuji Allah dan Rasulnya seperti nasyid dan sebagainya.
Apabila anak sudah mulai pandai bercakap, hendaklah membiasakannya dengan percakapan yang baik-baik seperti selawat, zikir dan lain-lain perkataan yang seumpamanya.
Peringkat Umur antara 5 hingga 7 tahun.
Pada peringkat umur antara 5-7 tahun, memerlukan teknik pendidikan yang lebih luas dan menyeluruh. Pengisian antara keperluan rohani dan jasmani perlu didedahkan serentak dan diseimbangkan. Teknik pembelajaran dan pengajaran perlu menggunakan kaedah yang sesuai kerana kanak-kanak biasanya akan belajar(mengikut) berdasarkan pemerhatian iaitu apa yang dilakukan oleh individu disekelilingnya terutama ahli keluarganya.
Menurut pandangan Islam, pada peringkat ini anak-anak wajar didedahkan dengan latihan menulis, membaca, mengira dan berbahasa. Pendidikan yang wajar didedahkan pada peringkat ini ialah bab ibadah dan akhlak. Misalnya kanak-kanak yang baru meningkat umur mumayyiz hendaklah dilatih mendirikan sembahyang. Seterusnya adab-adab yang mulia hendaklah mula diterapkan dalam bentuk latihan amali seperti:
1) Mendidik anak supaya taat dan beradab kepada kedua ibubapanya; timbulkan kesedaran kepada mereka bahawa pengorbanan ibubapa terhadapnya adalah amat besar dan mereka perlu bersyukur kerana menjadi anak yang masih mempunyai kedua ibubapa. Ini dapat mengeratkan hubungan mesra, rasa kasih sayang antara ahli keluarga.
2) Mengajar anak supaya taat dan beradab kepada guru dan orang yang lebih tua daripadanya; guru merupakan orang yang bertanggungjawab mendidik dan menyampaikan ilmu manakala orang yang lebih tua adalah orang yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan daripadanya.
3) Mengajar anak bercakap atau bergaul dengan baik; anak-anak hendaklah dilatih bercakap benar, sopan santun dan mengucapkan perkataan yaang baik-baik. Kanak-kanak biasanya begitu sensitif dengan pendengarannya, ia mudah terikut-ikut dengan apa yang didengarnya. Sebab itu jika ibubapa mahu menegur atau memarahi mereka, hendaklah menggunakan bahasa yang paling sopan bukannya dengan bahasa yang kesat, kasar dan keras.
4) Mengajar anak-anak adab bergaul dengan rakan-rakan; anak-anak harus dinasihatkan agar tidak berbangga atau meninggi diri di hadapan rakan sebayanya, jangan sekali-kali menyakiti atau mengambil hak orang lain .
5) Mengajar anak adab makan minum yang baik; sifat atau sikap yang tidak sopan seperti gelojoh ketika makan hendaklah ditegah, sebaliknya anak-anak dilatih dulu dengan adab-adab makan seperti mencuci tangan, duduk dengan sopan serta berdoa sebelum dan sesudah makan.
6) Mengajar anak adab berpakaian; pakaian yang dipilih hendaklah menutup aurat dan bukan untuk menunjuk-nunjuk kepada orang lain.
7) Mengajar adab dan bangun daripada tidur; sebaiknya hendaklah mengadap qiblat, membersihkan diri sebelum dan selepas bangun daripada tidur.
8) Mengajar anak adab masuk dan keluar tandas, anak-anak perlu diajar cara membuang air kecil/besar dan cara masuk ke dalam tandas seperti membaca doa, menutup kepala,membelakangkan qiblat dan sebagainya.
Kesimpulan
Anak-anak merupakan amanah Allah yang perlu dididik dengan sebaiknya sejak ia kecil lagi supaya apabila besar kelak menjadi anak yang soleh dan sentiasa taat kepada kedua ibubapanya. Mereka ibarat kain putih dan ibubapa lah yang berperanan mencorak dan melukiskannya dengan warna-warna menarik yang menjadi amalan dan cara hidup Islam.
Kamis, 29 September 2011
Fadilat Korban
Kelebihan Korban
Kelebihan melakukan ibadah korban
HARI RAYA Haji dikenali juga sebagai Hari Raya Korban dan ianya merupakan salah satu daripada hari kebesaran Islam yang diraikan pada setiap 10 Zulhijah mengikut takwim Hijrah.
Hari Raya ini juga dinamakan Hari Raya Haji kerana pada saat tersebut jutaan umat Islam datang dari seluruh pelusuk dunia dan berkumpul di Tanah Suci untuk mengerjakan ibadah haji bagi menyempurnakan Rukun Islam kelima dan sebagai menyahut seruan Allah Subhanahu Wataala. Firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surah Al-Baqarah ayat 196 yang bermaksud:
"Dan sempurnakanlah ibadat Haji dan Umrah kerana Allah .....'
Pada hari ini, umat Islam disunatkan melakukan ibadah korban sebagai tanda ingatan terhadap peristiwa Nabi Ibrahim Alaihissalam telah mengorbankan anak baginda, Ismail Alaihissalam demi kepatuhan dan ketaatan baginda terhadap perintah Allah Subhanahu Wataala. Di samping itu melalui peristiwa ini jelas membayangkan betapa setiap yang hendak dikorbankan itu mestilah sesuatu yang bersifat paling disayangi dan berharga. Ibadah ini juga boleh melatih perasaan individu Muslim agar jangan bersikap bakhil dan kedekut di dalam mengeluarkan harta demi membela dan membantu golongan yang lebih memerlukan seperti orang-orang fakir dan miskin.
Manakala dari segi kelebihan ataupun fadilat yang akan dikurniakan oleh Allah Subhanahu Wataala di dalam melakukan ibadah ini di antarnaya ialah:
1. Mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhanahu Wataala.
2. Dapat menebus dosa iaitu melalui setiap titisan darah binatang yang dikorbankan dan binatang-binatang ini juga bakal menjadi tunggangan di atas titian sirat.
3. Bulu-bulu binatang yang dikorbankan itu juga adalah satu kebajikan.
Sementara kelebihan ibadah korban dari aspek kemasyarakatan dan kemanusiaan pula ialah:
1. Mewujudkan suasana harmoni, kerjasama dan kasih sayang sesama Muslim.
2. Melahirkan sikap penyayang.
3. Memupuk sifat suka berkorban dan bersedekah.
Namun demikian, seperkara yang patut diberikan perhatian di dalam melakukan ibadah korban ialah agar ianya dibuat di atas dasar keikhlasan dan mengharapkan keredaan Allah Subhanahu Wataala semata-mata dan bukan sebagai jalan untuk bermegah-megah dengan kekayaan yang ada. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wataala hanya akan menerima amalan seseorang itu mengikut tahap keikhlasan dan juga ketakwaannya dan bukan kepada besar atau kecilnya binatang yang dikorbankan itu.
Firman Allah Subhanahu Wataala di dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang bermaksud:
"Daging dan darah binatang korban atau hadiah itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan takwa dari kamu...."
Menyedari akan kelebihan ibadah korban itu, maka kita seharusnya berlumba-lumba dan bersegera di dalam melakukannya untuk mendapat keampunan dan keredaan daripada-Nya, di samping memperbetulkan niat agar segala amalan kita diterima oleh Allah Subhanahu Wataala demi kebahagiaan di akhirat nanti.
Kelebihan melakukan ibadah korban
HARI RAYA Haji dikenali juga sebagai Hari Raya Korban dan ianya merupakan salah satu daripada hari kebesaran Islam yang diraikan pada setiap 10 Zulhijah mengikut takwim Hijrah.
Hari Raya ini juga dinamakan Hari Raya Haji kerana pada saat tersebut jutaan umat Islam datang dari seluruh pelusuk dunia dan berkumpul di Tanah Suci untuk mengerjakan ibadah haji bagi menyempurnakan Rukun Islam kelima dan sebagai menyahut seruan Allah Subhanahu Wataala. Firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surah Al-Baqarah ayat 196 yang bermaksud:
"Dan sempurnakanlah ibadat Haji dan Umrah kerana Allah .....'
Pada hari ini, umat Islam disunatkan melakukan ibadah korban sebagai tanda ingatan terhadap peristiwa Nabi Ibrahim Alaihissalam telah mengorbankan anak baginda, Ismail Alaihissalam demi kepatuhan dan ketaatan baginda terhadap perintah Allah Subhanahu Wataala. Di samping itu melalui peristiwa ini jelas membayangkan betapa setiap yang hendak dikorbankan itu mestilah sesuatu yang bersifat paling disayangi dan berharga. Ibadah ini juga boleh melatih perasaan individu Muslim agar jangan bersikap bakhil dan kedekut di dalam mengeluarkan harta demi membela dan membantu golongan yang lebih memerlukan seperti orang-orang fakir dan miskin.
Manakala dari segi kelebihan ataupun fadilat yang akan dikurniakan oleh Allah Subhanahu Wataala di dalam melakukan ibadah ini di antarnaya ialah:
1. Mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhanahu Wataala.
2. Dapat menebus dosa iaitu melalui setiap titisan darah binatang yang dikorbankan dan binatang-binatang ini juga bakal menjadi tunggangan di atas titian sirat.
3. Bulu-bulu binatang yang dikorbankan itu juga adalah satu kebajikan.
Sementara kelebihan ibadah korban dari aspek kemasyarakatan dan kemanusiaan pula ialah:
1. Mewujudkan suasana harmoni, kerjasama dan kasih sayang sesama Muslim.
2. Melahirkan sikap penyayang.
3. Memupuk sifat suka berkorban dan bersedekah.
Namun demikian, seperkara yang patut diberikan perhatian di dalam melakukan ibadah korban ialah agar ianya dibuat di atas dasar keikhlasan dan mengharapkan keredaan Allah Subhanahu Wataala semata-mata dan bukan sebagai jalan untuk bermegah-megah dengan kekayaan yang ada. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wataala hanya akan menerima amalan seseorang itu mengikut tahap keikhlasan dan juga ketakwaannya dan bukan kepada besar atau kecilnya binatang yang dikorbankan itu.
Firman Allah Subhanahu Wataala di dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang bermaksud:
"Daging dan darah binatang korban atau hadiah itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan takwa dari kamu...."
Menyedari akan kelebihan ibadah korban itu, maka kita seharusnya berlumba-lumba dan bersegera di dalam melakukannya untuk mendapat keampunan dan keredaan daripada-Nya, di samping memperbetulkan niat agar segala amalan kita diterima oleh Allah Subhanahu Wataala demi kebahagiaan di akhirat nanti.
Selasa, 06 September 2011
Hikmah Puasa 6 bulan Syawal
Kesempurnaan ibadat seseorang Islam bukan sekadar terletak kepada amalan-amalan fardhu yang diwajibkan oleh Allah S.W.T., malah ia turut ditampung oleh amalan-amalan sunat di dalam memperindahkan lagi mutu ibadat yang dilakukan.
Seumpama solat yang menjadi amalan terawal dihisab di Padang Mahsyar kelak, dinilai terlebih dahulu akan solat wajib yang dilakukan, dan jika terdapat kekurangan, ia akan dilihat melalui amalan solat sunat bagi menampung mana-mana kekurangan solat fardhu. Begitu juga amalan berpuasa. Kecantikan puasa wajib Ramadhan jika ditambah dengan puasa-puasa sunat adalah terlebih indah dan baik daripada hanya bergantung kepada puasa Ramadhan semata-mata.
Terdapat banyak jenis puasa-puasa sunat yang boleh dilaksanakan seperti berpuasa sunat hari Isnin dan Khamis, puasa 10 Muharram, puasa tiga hari dalam sebulan dan puasa enam hari di bulan Syawal.
Menjadi kebiasaan kepada orang-orang Islam di Malaysia berpuasa sunat selama enam hari di bulan Syawal selepas mereka menamatkan puasa sebulan Ramadhan kerana meyakini ganjaran dan pahala yang akan dikurniakan oleh Allah S.W.T.
Abu Ayyub al-Ansari ada meriwayatkan satu hadith daripada Rasulallah s.a.w. di dalam menerangkan tentang kelebihan puasa enam Syawal yang maksudnya “sesiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikutinya puasa enam hari Syawal samalah seperti dia berpuasa sepanjang tahun” ( Dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam sahihnya, juga dikeluarkan oleh sekalian ramai ulama hadith seperti al-Tirmizi, al-Nasaie dan Ibn. Majah ). Imam al-Syafie menjelaskan bahawa hadith ini adalah hadith sahih.
Imam al-Tabrani pula ada mengeluarkan di dalam susunan hadithnya yang turut berkaitan dengan fadhilat puasa enam Syawal maksudnya “sesiapa yang berpuasa Ramadhan dan diikuti kemudiannya puasa enam hari dalam bulan Syawal, keluarlah dari dirinya segala dosa seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya”
Terdapat beberapa persoalan tentang perlaksanaan puasa enam Syawal adakah terus langsung dilaksanakan selepas hari raya pertama dan dibuat secara berturut-turut atau boleh dilakukan pada bila-bila masa sepanjang Syawal sama ada secara berturut-turut atau sebaliknya.
Pendapat di dalam mazhab Syafie menyebut bahawa yang terlebih afdhal di dalam perlaksanaannya ialah sejurus selepas hari raya pertama dan dilakukan enam hari berturut-turut.
Ini tidak pula bermakna, jika seseorang itu melaksanakan secara terputus-putus (tidak berturutan) atau dilakukan pada pertengahan atau akhir Syawal dianggap satu kesalahan atau tidak mendapat pahala, malah semuanya diterima Allah dan dikira sebagai satu ibadah juga.
Perlu difahami bahawa yang dimaksudkan dengan puasa sepanjang tahun itu bukan terletak kepada puasa 6 hari Syawal dengan meninggalkan puasa Ramadhan, tetapi kelebihan puasa setahun itu diperolehi setelah dilengkapkan puasa Ramadhan dan disambung dengan puasa Syawal.
Imam al-Nawawi di dalam kitab Syarah Sahih Muslim ada menyebut kewajaran pahala diberikan seumpama puasa setahun kepada mereka yang berpuasa 6 Syawal. Merujuk kepada satu hadith Rasulullah s.a.w. yang bermaksud “Setiap satu amalan kebajikan itu digandakan pahalanya sebanyak 10 kali ganda”.
Ini bermakna bahawa puasa sehari dalam bulan Ramadhan samalah seperti puasa sepuluh kali, dan jika sebulan Ramadhan itu gandaan pahalanya seumpama puasa 10 bulan kerana ianya adalah sepuluh kali ganda. Manakala puasa sehari bulan Syawal seumpama 10 kali puasa dan 6 hari menyamai 60 hari iaitu 2 bulan. Maka jika ditambah 10 bulan dengan 2 bulan samalah seperti puasa setahun.
Apakah hukumnya jika seseorang itu berniat untuk qadha puasanya dan dibuat 6 hari dalam Syawal adakah akan mendapat pahala puasa 6 Syawal?
Syeikh al-Marhum Atiyyah Saqar (salah seorang ulama terkenal al-Azhar) di dalam kitab himpunan fatwanya ada menyebut bahawa hukumnya dibolehkan kepada seseorang untuk qadha puasanya dan ditunaikan 6 hari dalam bulan Syawal dengan niat qadha, maka terhasillah baginya pahala qadha dan pahala puasa 6 Syawal. Tetapi yang lebih afdhal ialah diasingkan antara puasa qadha dan puasa 6 Syawal kerana puasa qadha itu hukumnya wajib dan puasa Syawal itu hukumnya sunat, maka adalah lebih baik tidak disatukan niat kerana antara yang sunat dan wajib itu tidak boleh disatukan.
Para ulama mazhab Syafie menyebut bahawa pahala puasa 6 Syawal itu akan terhasil juga apabila seseorang itu melakukan puasa qadha selama 6 hari walaupun niatnya adalah qadha dan bukan niat puasa 6 Syawal, tetapi pahalanyanya untuk puasa 6 Syawal itu kurang sedikit. Ini menurut kata-kata Imam al-saya’rawi “Jika seseorang itu berpuasa di dalam bulan Syawal sebagai qadha daripada puasa Ramadhan atau puasa nazar atau lain-lain puasa sunat, maka akan diperolehi pahala sunat Syawal itu kerana terlaksananya puasa 6 hari dalam bulan Syawal tetapi kesempurnaan pahala tidak diperolehi sepenuhnnya melainkan jika diniatkan untuk puasa sunat 6 hari bulan Syawal”.
Sebagai kesimpulannya, adalah terlebih baik jika puasa sunat 6 Syawal dibuat berasingan dengan puasa lain sama ada qadha, nazar, kaffarah ataupun puasa sunat yang lain. Selesaikan dahulu 6 hari puasa qadha dan ditambah kemudiannya dengan niat puasa 6 Syawal. Ini akan lebih menyeragamkan amal ibadat yang dilakukan agar tidak bercampur aduk antara satu sama lain.
Antara hikmat disyariatkan puasa 6 hari bulan Syawal ialah sebagai satu latihan kepada orang-orang Islam bahawa amal ibadat itu bukan terletak pada bulan-bulan tertentu seperti Ramadhan bahkan amalan itu perlu konsisten untuk sepanjang kehidupan manusia.
Ia juga sebagai satu cabaran kepada orang-orang Islam supaya tidak menjadikan Syawal itu bulan bergembira semata-mata dan jika puasa itu dilakukan seawal mungkin di permulaan Syawal, ini akan menjadikan seseorang manusia itu benar-benar ingin menyahut seruan dari Allah untuk terus beribadat secara istiqamah dan berpanjangan.
Seumpama solat yang menjadi amalan terawal dihisab di Padang Mahsyar kelak, dinilai terlebih dahulu akan solat wajib yang dilakukan, dan jika terdapat kekurangan, ia akan dilihat melalui amalan solat sunat bagi menampung mana-mana kekurangan solat fardhu. Begitu juga amalan berpuasa. Kecantikan puasa wajib Ramadhan jika ditambah dengan puasa-puasa sunat adalah terlebih indah dan baik daripada hanya bergantung kepada puasa Ramadhan semata-mata.
Terdapat banyak jenis puasa-puasa sunat yang boleh dilaksanakan seperti berpuasa sunat hari Isnin dan Khamis, puasa 10 Muharram, puasa tiga hari dalam sebulan dan puasa enam hari di bulan Syawal.
Menjadi kebiasaan kepada orang-orang Islam di Malaysia berpuasa sunat selama enam hari di bulan Syawal selepas mereka menamatkan puasa sebulan Ramadhan kerana meyakini ganjaran dan pahala yang akan dikurniakan oleh Allah S.W.T.
Abu Ayyub al-Ansari ada meriwayatkan satu hadith daripada Rasulallah s.a.w. di dalam menerangkan tentang kelebihan puasa enam Syawal yang maksudnya “sesiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikutinya puasa enam hari Syawal samalah seperti dia berpuasa sepanjang tahun” ( Dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam sahihnya, juga dikeluarkan oleh sekalian ramai ulama hadith seperti al-Tirmizi, al-Nasaie dan Ibn. Majah ). Imam al-Syafie menjelaskan bahawa hadith ini adalah hadith sahih.
Imam al-Tabrani pula ada mengeluarkan di dalam susunan hadithnya yang turut berkaitan dengan fadhilat puasa enam Syawal maksudnya “sesiapa yang berpuasa Ramadhan dan diikuti kemudiannya puasa enam hari dalam bulan Syawal, keluarlah dari dirinya segala dosa seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya”
Terdapat beberapa persoalan tentang perlaksanaan puasa enam Syawal adakah terus langsung dilaksanakan selepas hari raya pertama dan dibuat secara berturut-turut atau boleh dilakukan pada bila-bila masa sepanjang Syawal sama ada secara berturut-turut atau sebaliknya.
Pendapat di dalam mazhab Syafie menyebut bahawa yang terlebih afdhal di dalam perlaksanaannya ialah sejurus selepas hari raya pertama dan dilakukan enam hari berturut-turut.
Ini tidak pula bermakna, jika seseorang itu melaksanakan secara terputus-putus (tidak berturutan) atau dilakukan pada pertengahan atau akhir Syawal dianggap satu kesalahan atau tidak mendapat pahala, malah semuanya diterima Allah dan dikira sebagai satu ibadah juga.
Perlu difahami bahawa yang dimaksudkan dengan puasa sepanjang tahun itu bukan terletak kepada puasa 6 hari Syawal dengan meninggalkan puasa Ramadhan, tetapi kelebihan puasa setahun itu diperolehi setelah dilengkapkan puasa Ramadhan dan disambung dengan puasa Syawal.
Imam al-Nawawi di dalam kitab Syarah Sahih Muslim ada menyebut kewajaran pahala diberikan seumpama puasa setahun kepada mereka yang berpuasa 6 Syawal. Merujuk kepada satu hadith Rasulullah s.a.w. yang bermaksud “Setiap satu amalan kebajikan itu digandakan pahalanya sebanyak 10 kali ganda”.
Ini bermakna bahawa puasa sehari dalam bulan Ramadhan samalah seperti puasa sepuluh kali, dan jika sebulan Ramadhan itu gandaan pahalanya seumpama puasa 10 bulan kerana ianya adalah sepuluh kali ganda. Manakala puasa sehari bulan Syawal seumpama 10 kali puasa dan 6 hari menyamai 60 hari iaitu 2 bulan. Maka jika ditambah 10 bulan dengan 2 bulan samalah seperti puasa setahun.
Apakah hukumnya jika seseorang itu berniat untuk qadha puasanya dan dibuat 6 hari dalam Syawal adakah akan mendapat pahala puasa 6 Syawal?
Syeikh al-Marhum Atiyyah Saqar (salah seorang ulama terkenal al-Azhar) di dalam kitab himpunan fatwanya ada menyebut bahawa hukumnya dibolehkan kepada seseorang untuk qadha puasanya dan ditunaikan 6 hari dalam bulan Syawal dengan niat qadha, maka terhasillah baginya pahala qadha dan pahala puasa 6 Syawal. Tetapi yang lebih afdhal ialah diasingkan antara puasa qadha dan puasa 6 Syawal kerana puasa qadha itu hukumnya wajib dan puasa Syawal itu hukumnya sunat, maka adalah lebih baik tidak disatukan niat kerana antara yang sunat dan wajib itu tidak boleh disatukan.
Para ulama mazhab Syafie menyebut bahawa pahala puasa 6 Syawal itu akan terhasil juga apabila seseorang itu melakukan puasa qadha selama 6 hari walaupun niatnya adalah qadha dan bukan niat puasa 6 Syawal, tetapi pahalanyanya untuk puasa 6 Syawal itu kurang sedikit. Ini menurut kata-kata Imam al-saya’rawi “Jika seseorang itu berpuasa di dalam bulan Syawal sebagai qadha daripada puasa Ramadhan atau puasa nazar atau lain-lain puasa sunat, maka akan diperolehi pahala sunat Syawal itu kerana terlaksananya puasa 6 hari dalam bulan Syawal tetapi kesempurnaan pahala tidak diperolehi sepenuhnnya melainkan jika diniatkan untuk puasa sunat 6 hari bulan Syawal”.
Sebagai kesimpulannya, adalah terlebih baik jika puasa sunat 6 Syawal dibuat berasingan dengan puasa lain sama ada qadha, nazar, kaffarah ataupun puasa sunat yang lain. Selesaikan dahulu 6 hari puasa qadha dan ditambah kemudiannya dengan niat puasa 6 Syawal. Ini akan lebih menyeragamkan amal ibadat yang dilakukan agar tidak bercampur aduk antara satu sama lain.
Antara hikmat disyariatkan puasa 6 hari bulan Syawal ialah sebagai satu latihan kepada orang-orang Islam bahawa amal ibadat itu bukan terletak pada bulan-bulan tertentu seperti Ramadhan bahkan amalan itu perlu konsisten untuk sepanjang kehidupan manusia.
Ia juga sebagai satu cabaran kepada orang-orang Islam supaya tidak menjadikan Syawal itu bulan bergembira semata-mata dan jika puasa itu dilakukan seawal mungkin di permulaan Syawal, ini akan menjadikan seseorang manusia itu benar-benar ingin menyahut seruan dari Allah untuk terus beribadat secara istiqamah dan berpanjangan.
Sabtu, 20 Agustus 2011
Fadilat Zakat Fitrah
Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah mempertemukan kita
di rumah-Nya yang mulia ini iaitu masjid, pada hari Jumaat yang mulia ini dan
pada bulan yang paling mulia iaitu bulan Ramadhan Al-Mubarak. Semoga
dengan kehadiran bulan yang mulia ini, kita dapat berusaha untuk meraih
rahmat, keampunan dan pembebasan daripada api neraka Allah SWT. Di
samping itu kita merebut peluang untuk beramal ibadah seperti berpuasa,
membaca Al-Quran, solat tarawih, berzikir, menghadiri Majlis Ilmu dan pelbagai
lagi ibadah yang tersedia pada bulan Ramadhan.
Antara amalan yang wajib dilakukan oleh umat Islam setiap kali tibanya
bulan Ramadhan ialah menunaikan Zakat Fitrah.
“Rasulullah s.a.w. menfardhukan Zakat Fitrah satu gantang kurma, atau
satu gantang gandum ke atas hamba atau orang merdeka, lelaki atau wanita,
kanak-kanak atau dewasa dari kalangan orang Islam. Dan Nabi memerintahkan
agar ia ditunaikan sebelum orang ramai keluar untuk melakukan solat (Hari
Raya)".(Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)
Zakat Fitrah adalah satu ibadah wajib yang mesti dilakukan oleh setiap
orang Islam sama ada lelaki atau perempuan, kanak-kanak atau dewasa. Ia
adalah perintah wajib dari Allah dan rasul-Nya yang mesti dipatuhi, dan sesiapa
yang mengengkarinya boleh membawa kepada kekufuran.
Zakat Fitrah mempunyai hikmah dan fadhilat yang amat besar kepada
umat Islam. Ia adalah suatu rahmat yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai
tanda kasih dan sayang-Nya terhadap hamba-hamba yang beriman dengan
agama yang diturunkan-Nya iaitu Islam.
“Rasulullah s.a.w. mewajibkan Zakat Fitrah sebagai penyuci bagi orang
yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata keji, serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin”. Hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a
1. Zakat Fitrah membersihkan hati dan jiwa orang Islam daripada
dosa dan perbuatan keji.
2. Zakat Fitrah juga akan menyuburkan perasaan kasih sayang
dan tali persaudaraan sesama Muslim.
Bayangkan, betapa mulianya hati orang yang mengeluarkan Zakat Fitrah
kerana sanggup mengeluarkan sebahagian daripada hartanya kepada orang
fakir dan miskin semata-mata untuk mengharapkan keredhaan dan keampunan
Allah SWT. Dengan zakat itu juga, ia beroleh pahala yang berlipat kali ganda.
Bayangkan pula, betapa gembiranya orang-orang fakir dan miskin, kerana
ia dapat membeli pakaian, makanan dan keperluan untuk menyambut 'Idul-Fitri
dengan sumbangan Zakat Fitrah yang ditunaikan oleh saudara Islamnya yang
lain.
Inilah sifat mulia yang diajar oleh Islam kepada umatnya. Mereka adalah
umat yang saling bersatu-padu dan bekerjasama dalam apa jua keadaan, sama
ada susah mahupun senang.
Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kelembutan dan
kasih sayang di antara mereka ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota sakit,
maka seluruh anggota turut merasakannya dengan tetap berjaga dan demam.”
(Riwayat Muslim)
di rumah-Nya yang mulia ini iaitu masjid, pada hari Jumaat yang mulia ini dan
pada bulan yang paling mulia iaitu bulan Ramadhan Al-Mubarak. Semoga
dengan kehadiran bulan yang mulia ini, kita dapat berusaha untuk meraih
rahmat, keampunan dan pembebasan daripada api neraka Allah SWT. Di
samping itu kita merebut peluang untuk beramal ibadah seperti berpuasa,
membaca Al-Quran, solat tarawih, berzikir, menghadiri Majlis Ilmu dan pelbagai
lagi ibadah yang tersedia pada bulan Ramadhan.
Antara amalan yang wajib dilakukan oleh umat Islam setiap kali tibanya
bulan Ramadhan ialah menunaikan Zakat Fitrah.
“Rasulullah s.a.w. menfardhukan Zakat Fitrah satu gantang kurma, atau
satu gantang gandum ke atas hamba atau orang merdeka, lelaki atau wanita,
kanak-kanak atau dewasa dari kalangan orang Islam. Dan Nabi memerintahkan
agar ia ditunaikan sebelum orang ramai keluar untuk melakukan solat (Hari
Raya)".(Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)
Zakat Fitrah adalah satu ibadah wajib yang mesti dilakukan oleh setiap
orang Islam sama ada lelaki atau perempuan, kanak-kanak atau dewasa. Ia
adalah perintah wajib dari Allah dan rasul-Nya yang mesti dipatuhi, dan sesiapa
yang mengengkarinya boleh membawa kepada kekufuran.
Zakat Fitrah mempunyai hikmah dan fadhilat yang amat besar kepada
umat Islam. Ia adalah suatu rahmat yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai
tanda kasih dan sayang-Nya terhadap hamba-hamba yang beriman dengan
agama yang diturunkan-Nya iaitu Islam.
“Rasulullah s.a.w. mewajibkan Zakat Fitrah sebagai penyuci bagi orang
yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata keji, serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin”. Hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a
1. Zakat Fitrah membersihkan hati dan jiwa orang Islam daripada
dosa dan perbuatan keji.
2. Zakat Fitrah juga akan menyuburkan perasaan kasih sayang
dan tali persaudaraan sesama Muslim.
Bayangkan, betapa mulianya hati orang yang mengeluarkan Zakat Fitrah
kerana sanggup mengeluarkan sebahagian daripada hartanya kepada orang
fakir dan miskin semata-mata untuk mengharapkan keredhaan dan keampunan
Allah SWT. Dengan zakat itu juga, ia beroleh pahala yang berlipat kali ganda.
Bayangkan pula, betapa gembiranya orang-orang fakir dan miskin, kerana
ia dapat membeli pakaian, makanan dan keperluan untuk menyambut 'Idul-Fitri
dengan sumbangan Zakat Fitrah yang ditunaikan oleh saudara Islamnya yang
lain.
Inilah sifat mulia yang diajar oleh Islam kepada umatnya. Mereka adalah
umat yang saling bersatu-padu dan bekerjasama dalam apa jua keadaan, sama
ada susah mahupun senang.
Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kelembutan dan
kasih sayang di antara mereka ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota sakit,
maka seluruh anggota turut merasakannya dengan tetap berjaga dan demam.”
(Riwayat Muslim)
Kamis, 04 Agustus 2011
BACAAN SELAWAT TARAWIKH
Bacaan Selawat/ Zikir Solat Sunat Tarawih
Selawat/Zikir Sebelum Tarawih
Bilal- سُبْحَانَ اللهِ وَالـْحَمْدُ لِلّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيم
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Makmum- صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَذُخْرِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Bilal - الصَّلاَةُ سُتَّةَ التَّرَاوِيحِ جَامِعَةً أَثاَبَكُمُ الله ُ
Makmum - الصَّلاَةُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Selawat/ Zikir Selepas Rakaat 2/6
Bilal - فَضْلاً مِنَ اللهِ وَنعِْمَةً
Makmum - وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيمُِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَِدِيرٍ
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Selawat/ Zikir Selepas Rakaat 4/8/12/16/20
Bilal - سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَعْبُود
Makmum - سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَوْجُودِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْحَيِّ الَّذِي لاَ يَناَمُ وَلاَ يَمُوتُ وَلاَ يَفُوتُ أَبَدًا سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ . سُبْحَانَ اللهِ وَالـْحَمْدُ لِلّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَ ذخْرنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Doa Selepas Selawat Rakaat 4/8/12/16
بسم الله الرّحمان الرّحيم, اللّهمّ إنّا نسألك رضاك والجنّة, ونعوذبك من سختك والنّار. أللّهمّ إنّك عفوّ كريم تحبّ العفو فاعف عنّا وعن والدينا وعن جميع المسلمين والمسلمات برحمتك يا أرحم الرّاحمين.
Selawat/Zikir Sebelum Witir
Bilal - أَوْترُِوا وَمَجِّدُو ا وَعَظِّمُوا شَهْرَ الصِّيَامِ رَحِمَكُمُ الله
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَذُخْرِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Bilal - الصَّلاَةُ سُتَّةَ الْوِتْرِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ الله ُ
Makmum - الصَّلاَةُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Selawat/Zikir Sebelum Tarawih
Bilal- سُبْحَانَ اللهِ وَالـْحَمْدُ لِلّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيم
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Makmum- صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَذُخْرِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Bilal - الصَّلاَةُ سُتَّةَ التَّرَاوِيحِ جَامِعَةً أَثاَبَكُمُ الله ُ
Makmum - الصَّلاَةُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Selawat/ Zikir Selepas Rakaat 2/6
Bilal - فَضْلاً مِنَ اللهِ وَنعِْمَةً
Makmum - وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيمُِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَِدِيرٍ
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Selawat/ Zikir Selepas Rakaat 4/8/12/16/20
Bilal - سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَعْبُود
Makmum - سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَوْجُودِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْحَيِّ الَّذِي لاَ يَناَمُ وَلاَ يَمُوتُ وَلاَ يَفُوتُ أَبَدًا سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ . سُبْحَانَ اللهِ وَالـْحَمْدُ لِلّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَ ذخْرنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Doa Selepas Selawat Rakaat 4/8/12/16
بسم الله الرّحمان الرّحيم, اللّهمّ إنّا نسألك رضاك والجنّة, ونعوذبك من سختك والنّار. أللّهمّ إنّك عفوّ كريم تحبّ العفو فاعف عنّا وعن والدينا وعن جميع المسلمين والمسلمات برحمتك يا أرحم الرّاحمين.
Selawat/Zikir Sebelum Witir
Bilal - أَوْترُِوا وَمَجِّدُو ا وَعَظِّمُوا شَهْرَ الصِّيَامِ رَحِمَكُمُ الله
Bilal - اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَذُخْرِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ
Makmum - صَلََ اللهُ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ
Bilal - الصَّلاَةُ سُتَّةَ الْوِتْرِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ الله ُ
Makmum - الصَّلاَةُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Langganan:
Postingan (Atom)