Senin, 08 Februari 2010
Kisah Nabi Saleh
Tsamud adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama " Alhijir " terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang di kirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud A.S.
Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung.Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram ,sejahtera dan bahgia, merasa aman dari segala gangguan alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.
Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan Mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mrk berqurban, tempat mrk minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.Mrk tidak dpt melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dpt mrk jangkau dengan pancaindera.
Nabi Saleh Berdakwah Kepada Kaum Tsamud
Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba_Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mrk keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mrk diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mrk telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mrk sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.
Dikenalkan mrk oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mrk sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mrk, menciptakan alam sekitar mrk, menciptakan tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bhn-bhn keperluan hidup mrk, mencipta binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mrk dan dengan demikian memberi kepada mrk kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan lahir dan batin.Tuhan Yang Esa itulah yang harus mrk sembah dan bukan patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mrk atau melindungi mrk dari ketakutan dan bahaya.
Nabi Saleh memperingatkan mrk bahwa ia adlah seorang drp mrk, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mrk adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku dengan mrk.Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mrk dan sesekali tidak akan menjerumuskan mrk ke dalam hal-hal yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mrk. Ia menerangkan kepada mrk bahwa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah, dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mrk adalah amanat Allah yang harus dia sampaikan kepada mrk untuk kebaikan mrk semasa hidup mrk dan sesudah mrk mati di akhirat kelak. Ia mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mrk segera meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama ini telah mrk lakukan.Allah maha dekat kepada mrk mendengarkan doa mrk dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.
Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mrk merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mrk sendiri.Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya:"Wahai Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpinkami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan.Akan tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Enkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan untuk selama-lamanya.Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai cakap-cakap kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan mrk dan mengikuti jejakmu."
Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengurniai mrk rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada mrk kisah kaum-kaum yang mendapat seksa dan azab dari Allah karena menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu dpt terjadi di atas mrk jika mrk tidak mahu menerima dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota dari keluarga besar mrk dan yang tidak mengharapkan atau menuntut upah drp mrk atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah yang ditugaskan kepadanya dan Allahlah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mrk.
Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkannya terdiri dari orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan beriman kepadanya sedangkan sebahagian yang terbesar terutamanya mrk yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya dan berkata kepadanya:" Wahai Saleh! Kami kira bahwa engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir.Engkau telah menjadi sinting dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku bahwa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu drp kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cekap untuk menjadi nabi atau rasul drp engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan pemimpin bagi kaummu.Jika engkau merasa bahwa engkau sihat badan dan sihat fikiran dan mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu sendiri.Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu.
Nabi Saleh menjawab: " Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun drpmu sebagai imbalan atas usahaku memberi tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah dan drp-Nya kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku, padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku.Jgnlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu. Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan membinasakan aku dengan seruanmu itu."
Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendpt perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mrk menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.
Allah Memberi Mukjizat Kepada Nabi Saleh A.S.
Nabi Saleh sedar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti drpnya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mrk. Nabi Saleh membalas tentangan mrk dengan menuntut janji dengan mrk bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mrk minta bahwa mrk akan meninggalkan agama dan persembahan mrk dan akan mengikuti Nabi Saleh dan beriman kepadanya.
Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdpt di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.
Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.
Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mrk:" Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendptkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendptkan minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini."
Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendpt gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yyang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkong.
Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendtgkan mukjizat yang mrk tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mrk pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mrk serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya.
Unta Nabi Saleh Dibunuh
Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mrk, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dpt membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.
Dua macam hadiah yyang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda' bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan pembunuhan bagi meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta Nabi Saleh telah mati dibunuh.
Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya di lalui oleh unta dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan begitu unta-unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda' yang disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.
Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendpt sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mrk kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang.
Berkata mrk kepada Nabi Saleh:" Wahai Saleh! Untamu telah amti dibunuh, cubalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya."
Nabi Saleh menjawab:" Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu.Kamu telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya.Janji Allah tidak akan meleset .Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan taqdir-Nya yang tidak dpt ditunda atau dihalang."
Ada kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau-kalau mrk sedar akan dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.
Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.
Turunnya Azab Allah Yang Dijanjikan
Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mrk akan didahului dengan tanda-tanda, iaitu pada hari pertama bila mrk terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mrk menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.
Mendebgar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabu Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan itu.Mrk mengadakan pertemuan rahsia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identiti mrk sebagai pembunuhnya. Rancangan mrk ini dirahsiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.
Ketika mrk datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika merebahkan mrk di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindingi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir.
Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.
Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran
Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79 , surah " Hud " ayat 61 sehingga ayat 68 dan surah " Al-Qamar " ayat 23 sehingga ayat 32.
Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh A.S.
Pengajaran yang menonjol yang dpt dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dpt berakibat negatif yang membinasakan masyarakat itu seluruhnya.
Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas bumi karena dosa dan pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang pembunuh unta Nabi Saleh A.S.
Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar. Karena dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi di dalam masyarakat dan lindungan kita ,kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar itu
Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.
Senin, 16 November 2009
KELEBIHAN HAJI DAN FADILATNYA
Firman Allah SWT:
وأتمّوا الحجّ والعمرة لله .................."
“ Dan Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kerana Allah…. ……“
(al-Baqarah: ayat 196)
فمن حجّ البيت اواعتمر فلاجناح عليه ان يّطّوّف بهما.
“Maka barang siapa yang hendak melakukan haji ke Baitulallah atau melakukan umrah, maka tidaklah menjadi halangan baginya bahawa ia berlari-lari antara keduanya”.
(Al-Baqarah: ayat 158)
“Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W: Barangsiapa menunaikan haji kerana untuk mendapatkan keredhaan Allah dan dengannya tidak menyebut perkataan-perkataan maksiat, tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji, akan kembali daripadanya bebas daripada dosa sebagaimana hari di mana ibunya melahirkannya."
(Mutafaquun Alaih).
Ibadat Haji dan Umrah adalah syariat agama Allah s.w.t yang mengandungi rahsia-rahsia dan hikmat-hikmat. Di antara hikmat-hikmat yang dapat diselami adalah untuk melatih umat Islam supaya bersatu haluan dalam mempertingkatkan syiar Islam, berganding bahu untuk menegakkan agama Allah s.w.t. supaya perhubungan di antara masyrakat Islam terjalin lebih erat dan lebih mesra lagi tanpa mengira warna kulit biarpun berlainan bahasa percakapan, adat resam dan kebudayaan. Bagi amalan Sa’ie direnung kembali peristiwa Siti Hajar, isteri kepada Nabi Ibrahim a.s. yang lari berulang-alik antara Bukit Safa dan Marwah di tengah-tengah padang pasir yang cuacanya panas dan kering untuk mencari air bagi anaknya yang masih bayi. Bila Siti Hajar kembali kepada anaknya dilihat air zam-zam terpancar dari bumi tempat letak kaki Nabi Ismail a.s.
Daripada peristiwa ini umat Islam dapat menanam semangat perjuangan supaya terus berusaha dan tidak mudah putus asa melalui rintangan kehidupan. Mengerjakan haji dan umrah sesungguhnya keduanya menghapuskan dosa. Sekiranya ibadat tersebut mendapat mabrur (amalan baik yang diterima oleh Allah s.w.t.) akan memperolehi syurga.
Dalam sebuah hadith lain, Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dosa-dosa yang dilakukan selepas satu umrah diampunkan melalui umrah yang berikutnya". Oleh itu, apa yang telah dilakukan di antara dua umrah akan terputus. Hikmat kedua-dua kota di Tanah Suci iaitu amalan ibadatnya digandakan pahala. Sabda Rasulullah s.a.w. bahawa sesudah Mekah, maka tidak ada tanah yang lebih utama di bumi ini daripada kota Madinah yang digelarkan dengan nama Madinadul Rasul atau kotanya Rasulullah s.a.w. Amalan-amalan yang dilakukan di Masjid Nabawi akan mendapat pahala yang berlipat ganda dan juga mendapat syafa’at daripada Rasulullah s.a.w. Baginda juga bersabda yang bermaksud bahawa solat di Masjid Nabawi lebih afdal daripada masjid-masjid yang lain sebanyak seribu kali solat kecuali Masjidil Haram, manakala bersolat di masjidnya sebanyak empat puluh waktu dengan tidak tinggal walaupun satu waktunya nescaya dilepaskan mereka daripada azab neraka dan juga azab kubur.
Sesungguhnya orang–orang yang mengerjakan haji dan umrah, adalah utusan Allah s.w.t. sekiranya mereka memohon sesuatu, dikurniakanNya; jika mereka berdoa, dimakbulkan doanya; dan jika mereka membelanjakan sesuatu maka digantikanNya. Ibadat umrah adalah lambang perpaduan umat Islam yang sentiasa berada dalam ikatan kukuh bagi memperkasakan maruah umat dan kesucian Islam. Umpamanya menerusi aktiviti tawaf dapat dilihat dengan jelas semangat perpaduan dan persaudaraan umat Islam adalah erat sesama manusia, tidak kira raja, rakyat miskin atau kaya, sama sahaja taraf mereka ketika mengerjakan ibadat dan semuanya berpakaian seragam (ihram) bersama-sama mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. dan memartabatkan imej dan meningkatkan syiar Islam di persada dunia
Senin, 02 November 2009
Aidiladha
Kita akan bertemu bulan Zulhijjah tidak berapa lama lagi. Terdapat beberapa hadith yang menggalakkan kita berbuat byk amalan dan ibadah pada bulan ini terutamanya pada 10 hari pertama.Imam al Bukhari Rahimahullah meriwayatkan daripada Ibnu 'Abbas r.a bahawaNabi s.a.w bersabda, Tiada suatu hari pun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari ini - iaitu 10 hari Zulhijjah. Antara amalan yang mudah utk kita laksanakan adalah dengan berpuasa. Puasa adalah amalan yg mudah utk kita lakukan memandang kita tidak mampu utk melakukan ibadah seperti umrah kerana berada di perantauan. Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Qatadah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, Puasa pada hari Arafah, saya mengharap Allah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang mendatang. Perbykkan zikir juga amalan yang boleh diamalkan. Perlu utk dilakukan juga pada bulan2 yg lain. Oleh itu, bagi yang masih kurang seperti saya sendiri, mari kita mulakan dari bulan ini utk bykkan berzikir, bertasbih, bertakbir, selawat dan sebgainya berbanding berckp kosong....Kepada mereka yang berkesempatan utk meraikan aidiladha, berusahalah utk mendirikan solat hari raya dan dgrlah khutbah agar dpt pengajaran darinya. raikanlah dengan penuh kesyukuran dan jgnlah cemari dgn kerja2 maksiat yg boleh menghilangkan amalan2 yang telah dilakukan.Antara peristiwa penting di dalam bulan Zulhijjah, selain peristiwa korban yang blh kita kongsi bersama;1.Rasul kita Muhammad s.a.w berniaga bersama dagangan Khadijah ke Syam, dan di situ, baginda diberitahu ttg kenabiannya oleh pendita Nasturah.2.Peristiwa Baiah Al-Aqabah pada tahun ke-13 kenabian. Ia disertai oleh 73 lelaki dan 2 perempuan dari kaum Aus dan Khazraj. 3.Kelahiran Ibrahim, putera Nabi s.a.w pada tahun kelapan Hijrah, ibunya Maryah Qibtiyah.Selamat Menyambut Aidiladha..
Selasa, 29 September 2009
Isu Keutamaan Antara Sunat Syawal & Qadha
PUASA ENAM BULAN SHAWAL
Selain itu, satu isu yang kerap ditimbulkan berkenaan hal ini adalah tentang penggabungannya dengan puasa ganti ramadhan dan puasa yang mana satu lebih perlu diutamakan.
Jika ada yang bertanya manakah yang lebih baik di antara puasa sunat syawwal dan puasa qadha?. Jawapannya sudah tentu adalah puasa Qadha. Ini terbukti dari hadis Qudsi yang sohih
وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه
Ertinya : “..dan tidaklah hampir kepadaku seorang hambaKu dengan apa juapun, maka yang lebih ku sukai adalah mereka melaksanakan amalan fardhu/wajib ke atas mereka, dan sentiasalah mereka ingin menghampirkan diri mereka kepadaKu dengan mengerjakan amalan sunat sehinggalah aku kasih kepadanya…” (Riwayat Al-Bukhari, no 6021)
Hadis tadi sebagai asas keutamaan, walau bagaimanapun dari sudut praktikal jawapannya mungkin berbeza menurut keadaan diri seseorang.
Maksudnya begini, jika seseorang itu perlu Qadha puasanya selama 30, berpuluh atau berbelas hari (kerana nifas atau haid yang lama di bulan Ramadan sebagai contoh) dan tubuhnya juga sihat dan di yakini masih kuat. Eloklah ia mengerjakan puasa sunat Syawwal terlebih dahulu di ketika itu . Ini adalah kerana waktu sunnat puasa Syawwal yang singkat berbanding Qadha (sepanjang tahun).
Bagaimanapun harus di ingat, walaupun waktu bagi puasa Qadha adalah panjang, kita tetap tidak pasti adakah kita mampu sampai ke tarikh itu atau ajal menjelang dahulu.
Seseorang yang mati sebelum mengganti puasa Ramadannya tetapi sudah berpuasa sunat Syawwal akan pasti bermasalah kerana ia dikira masih berhutang dengan Allah SWT.
Bagaimanapun seseorang yang mati setelah berjaya menggantikan puasanya tetapi tidak sempat berpuasa sunat Syawwal, pastinya tiada sebarang masalah pun, malah mungkin ia juga mungkin boleh mendapat pahala sunat syawal itu sekali. Berdasarkan sabda Nabi SAW
إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة ومن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له سيئة واحدة
Ertinya ” … barangsiapa yang beringinan melakukan kebaikan tetapi tidak melakukannya, telah di tuliskan oleh Allah baginya pahala penuh, maka jika ia beringinan dan kemudian melakukannya, di tuliskan 10 pahala sehingga 700 kali ganda..” ( Riwayat Al-Bukhari, no 6010)
Kita harus memahami bahawa darjat puasa Qadha adalah lebih tinggi dan tanggungjawab bagi menunaikannya adalah jauh lebih besar dari sunat Syawwal, ini kerana puasa qadha adalah puasa wajib dan merupakan ‘hutang’ ibadah dengan Allah berbanding puasa syawwal yang hanyalah sebagai tambahan pahala.
Isu Gabung Sunat & Qadha
Isu menggabungkan puasa qadha dan syawal sememangnya amat popular, pandangan ringkas saya adalah seperti berikut :-
Tidak elok untuk menggabungkan kedua-duanya bagi mereka yang mampu (dari sudut kesihatan tubuh dan lain-lain) untuk memisahkannya. Ini kerana sepengetahuan saya tiada dalil yang specifik membuktikan Nabi SAW pernah melakukannya atau menganjurkan kepada para sahabat untuk menggabungkannya.
Apabila Nabi, sahabat dan salaf soleh tidak melakukannya maka pastinya ia bukanlah amalan yang terpilih dan terbaik kerana pilihan Nabi SAW dan para sahabat selamanya adalah yang terbaik.
Malah terdapat juga hujjah-hujjah yang menyebabkan pandangan yang yang mengharuskan penggabungan ‘qadha dan ganti’ itu dipersoalkan, iaitu :-
1. Jika seseorang mengatakan boleh gabung puasa qadha (yang wajib) dengan puasa syawwal (yang sunat) maka sudah tentu selepas ini timbul pula individu yang cuba menggabungkan solat wajib dengan solat sunat, seperti gabungan solat isyak dengan terawih, atau subuh dengan ‘tahiyyatul masjid’ atau dengan solat sunat fajar, atau solat jumaat dengan solat sunat ‘tahiyyatul masjid’. Maka ini pasti menyebabkan masalah lain timbul dalam ibadah wajib termasuk rekaan-rekaan pelik seperti solat fardhu subuh campur istikharah dan lain-lain.
2. Menurut Prof. Dr Syeikh Abd Malik as-Sa’dy (ex-Lajnah Fatwa Iraq) dan Prof Dr Mohd ‘Uqlah el-Ibrahim (Jordan) mereka berpendapat bahawa amalan wajib tidak boleh digabungkan dengan apa-apa amalan wajib atau sunat lain, kerana amalan wajib memerlukan tumpuan khusus yang tidak berbelah bahagi semasa pelaksanaannya dan ia perlu bagi mengangkat tuntutan kewajibannya. Justeru, tindakan menggabungkan ini pasti mengurangkan kesempurnaan hamba dalam menunaikan tuntutan wajib mereka. Wallahu a’lam.
3. Tindakan A’isyah ra yang melewatkan Qadha pula boleh di jadikan hujjah bahawa beliau mengasingkan kedua-dua puasa Qadha dan Syawwal. Maka ini lah yang terpilih sepatutnya. (tidak gabungkan kerana aisyah tidak menggabungkannya) . Aisyah menyebut :
كأن يكون عليّ الصيام من شهر رمضان فما أقضيه حتى يجئ شعبان
Ertinya : Kewajiban ke atasku untuk puasa (Qadha) dari puasa Ramdhan, tidaklah aku menggantinya sehingga datang sya’ban” ( Riwayat Muslim, no 101)
4. Amalan wajib (qadha) memerlukan niat yang ‘jazam’ (tepat dan pasti) maka tindakan mengabungkan ia dengan niat puasa sunat mungkin boleh merosakkannya kepastiannya. Kerana itulah ulama yang mengizinkannya mencadangkan agar diniat puasa qadha sahaja, adapun syawwal itu dipendam sahaja dengan harapan Allah menerimanya.
Bagaimanapun, ulama yang mencadangkan ini jelas menyatakan bahawa tindakan menggabungkannya tetap mengurangkan pahala sunat syawwal ini kerana tidak diniat dan tidak dilakukan sepenuhnya (Hasyiah As-Syarqawi ‘ala al-Tahrir, Syeikh Zakaria Al-Ansary, 1/427; naqal dari Min Ahsanil Kalam Fil Fatawa, Atiyyah Saqr, 2/23)
5. Malah ada pula yang berhujjah bahawa amalan sunat tidak boleh ditunaikan sebelum amalan fardu. Demikian menurut Syeikh Abu Raghib al-Asfahani, Syeikh Ihsan Muhammad ‘Aayish al-’Utaibi dan juga di sebutkan oleh Dr Yusof Al-Qaradawi di dalam kitabnya Fiqh Awalwiyyat. Ini ada asasnya kerana berdasarkan hadith Nabi SAW
من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال فكأنما صام الدهر
Ertinya: “Barangsiapa telah berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan 6 hari dari dari Syawwal (puasa) maka ia adalah seperti (pahala) puasa ad-Dahr (setahun)” (Riwayat Al-Bukhari, no 6502).
6. Kita dapat melihat penggunaan ‘fe’il madhi’ iaitu ‘past tense’ bagi puasa Ramadan, mungkin sahaja boleh membawa makna sesiapa yang belum lengkap puasa Ramadannya perlulah melengkapkan dahulu, kemudian barulah mereka layak bagi mendapat peruntukan pahala sunat Syawwal.
7. Hujjah ulama yang mengharuskannya adalah hadith
” Sesungguhnya amalan itu berdasarkan kepada niat, dan bagi seseorang apa yang diniatkan.” (Riwayat Bukhari, no 1, 1/12)
Ia dilihat agak umum, memang benar apa yang diniatkan adalah penting, tetapi niat mempunyai kaedah dan cara-caranya bagi diterima, contohnya seperti niat solat yang di cadangkan di dalam mazhab Syafie dimulakan semasa lafaz takbiratul ihram di sebut, jika tidak niat itu tidak dikira. (Rujuk Al-umm, hlm 78, cet Baytul Afkar; Rawdhah At-Tolibin, An-Nawawi, cet Baytul Afkar, hlm 103).
Justeru, niat juga ada displinnya dan tidak boleh di buat sesuka hati di dalam ibadah.
Kesimpulan
Kesimpulan dalam yang mengutarakan perbincangan yang terbatas ini : Elok sangat tidak digabungkan dan elok sangat didahulukan yang wajib (qadha) daripada sunat (syawwal);
Pandangan yang membolehkan saya anggap sebagai rukhsah “keringanan” bagi mereka yang mempunyai kesukaran kerana uzur dan tidak mampu untuk mengasingkannya. Antara ulama yang membolehkan untuk menggabungkannya adalah beberapa ulama dari mazhab Syafie (Mughni al-Muhtaj, 1/602), Assembly of Muslim Jurists in America (AMJA), Syeikh Atiyyah Saqar, panelis fiqh Islam online.net dan beberapa yang lain.
Selasa, 15 September 2009
Lailatul Qadar
Bila datang bulan Ramadan pada setiap tahun umat Islam diperingatkan semula tentang satu malam yang begitu besar maknanya iaitu malam al-Qadar. Malam al-Qadar atau dalam bahasa arab disebut lailatul Qadar terdapat beberapa makna. Lailatul Qadar menurut Ibnu Abbas, Ikrimah dan Sa’id bin Jubair membawa maksud malam keputusan; atau malam penetapan. Manakala tafsir Qurtubi dalam menjelas ayat surah al-nasr pula menjelaskan bahawa maknanya adalah malam yang sempit.
Dinamakan demikian kerana pada malam itu bumi sesak ataupun dipenuhi dengan para malaikat. Dalam al-Quran disebut oleh Allah SWT bahawa malam tersebut ganjarannya seumpama seribu bulan. Lailatul qadr merupakan malam yang diberkahi. Allah Ta’ala berfirman al-Dukhan ayat 1-6 yang bermaksud;
“Haa Miim. Demi Kitab (al-Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Iaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul sebagai rahmat dari Rabb-mu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Bagi mereka yang teguh imannya pastinya akan berasa terkejut dengan hadiah Allah SWT yang begitu besar bagi mereka yang benar-benar memperolehi malam tersebut.
Bandingan satu malam yang dinamakan sebagai malam al-qadar dengan seribu bulan sama juga seumpama 83 tahun. Kiraan secara zahir ini menunjukan betapa besar pahala yang Allah swt berikan kepada umatnya bagaimana tempoh 83 tahun tersebut seolah-olah satu umur bagi seorang manusia yang hidup dimuka bumi ini. 83 tahun adalah tempoh agak panjang sebagai manusia, namun satu malam Al-Qadar itu amat bermakna sekali. Namun dalam huraian hadith begitu banyak penjelasan diberikan tentang tarikh sebenar bilakah malam al-qadar tersebut.
Perdebatan yang dilakukan oleh para ulama dan muhaddithin ini mengundang kita memikirkan kenapakah tiada satu masa yang tunggal bagi kita untuk mendapat ketetapan Allah swt agar kita sedia dan mampu meraih malam al-qadar dengan mudah. Firman Allah SWT dalam surah al-qadar ayat 1-5 yang bermaksud;
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar. Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran Malam Lailatul-Qadar itu? Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut). Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar."
Pengurniaan malam al-qadar oleh Allah swt dalam bulan Ramadan dengan segala perselisihan masa yang tepat bilakah ianya berlaku mengundang kita sebagai hambaNya berfikir apakah makna disebalik anugerah ini. Sebagai pencipta alam ini pastinya Allah menghendaki kita agar sentiasa bersedia tidak kira pada awal masa, pertengahan dan akhir Ramadan agar sentiasa berusaha mencari bilakah malam al-Qadar sebenarnya. Ertinya disini Allah SWT ingin menguji dan menawarkan kita satu pertandingan di kalangan hamba-Nya siapakah dikalangan mereka yang benar-benar ikhlas mencari malam al-Qadar.
Wujudnya kesedaran untuk mencari malam al-qadar ini tidak akan terbit semata-mata untuk berada dalam suasana hening malam dan bangun untuk melihat peristiwa apa yang bakal berlaku semata-mata. Namun disebalik usaha dan ikhtiar manusia mencari malam al-Qadar ini selain merebut pahala berganda tersebut adalah manifestasi cinta kita kepada Tuhan yang menganugerahkan nikmat dan kasih sayangnya kepada seluruh hambaNya.
Cinta kita kepada Allah yang ikhlas dan kasih sayang yang diterima tanpa berbelah bahagi daripadaNya yang mampu membangkitkan kesedaran iman dan taqwa untuk mencari malam al-Qadar tersebut kerana telah dijanjikan Allah s.w.t bahawa pada malam tersebut diturunkan para malaikat untuk melihat dunia siapakah yang sedang melaksanakan ibadah kepada Tuhannya. Tanpa rasa cinta dah kasih kepada tuhan mana mungkin kita bersedia untuk bangun malam, membuka segala kelemahan kepada Nya, memohon keampunan dan mendoakan kesejahteraan hidup didunia. Hanya mereka yang teguh iman, tegap taqwanya bersedia menghadapi ujian bangun malam
dengan gigih.
Inilah hakikat pencarian malam al-Qadar yang harus dipelajari. Pencarian ini juga jangan dilihat sebagai satu usaha yang kosong dan dijadikan pesta untuk meraih malam yang penuh barakah ini. Mulakan diri dengan kesedaran dan tingkatkan rasa iman yang benar–benar semata-mata untuk mencari keredhaan Allah semata-mata. Mari kita sama-sama renung Firman Allah dalam surah saba’ ayat 46 yang bemaksud;
"Katakanlah (Wahai Muhammad): 'Aku hanyalah mengajar dan menasihati kamu dengan satu perkara sahaja, iaitu: hendaklah kamu bersungguh-sungguh berusaha mencari kebenaran kerana Allah semata-mata, sama ada dengan cara berdua (dengan orang lain), atau seorang diri;kemudian hendaklah kamu berfikir sematang-matangnya (untuk mengetahui salah benarnya ajaranKu)'"
Sesungguhnya sebagai Khaliq dan pencipta alam ini, sudah tentulah Allah SWT ingin melihat melalui kekuasaan siapa di kalangan mereka hamba-Nya yang benar-benar berusaha dalam mencari peluang dan ruang malam al-qadar tersebut. Malam yang penuh dengan barakah ini dijanjikan Allah dengan pahala yang cukup besar melalui solat-solat sunat, tilawah Al-Qur’an dan muhasabah diri agar kita kembali merapatkan jurang yang sudah jauh dengan Allah swt. Sebagai hambaNya yang beriman sikap mencari keredaan Allah mesti dicipta dalam diri. Marilah kita bina kekuatan mencari malam al-Qadar dengan cinta dan kasih pada-Nya.
Segala puji saya panjatkan ke hadrat Allah, Tuhan Yang Maha Berkuasa. Begini antara isi tazkirah :
Di salah satu lapis langit ada satu benda atau binaan yang bernama Baitul Makmur, seumpama Kaabah di Mekah. Baitul Makmur itu akan dikelilingi (tawaf) oleh para malaikat sambil memuji Allah.
Justeru terlalu ramainya malaikat maka setiap seorang malaikat tersebut tidak akan berjaya tawaf Baitul Makmur itu dua kali sehingga tiba kiamat. Maksudnya giliran seorang malaikat untuk mengelilingi Baitul Makmur lebih dari sekali tidak kesampaian lantaran terlalu ramai. Jika di muka bumi, setiap jemaah haji atau umrah berjaya tawaf Kaabah berkali-kali.
Seramai itulah malaikat yang akan turun ke bumi di malam al-Qadar. Subhanallah! Bayangkan berapa ramai melaikat dengan setiap satunya mempunyai banyak sayap meliputi muka bumi ini. Payah untuk kita bayangkan malaikat yang memiliki banyak sayap. Kita hanya dapat bayangkan maksimum empat sayap di badan serangga.
Turunnya malaikat ke langit dunia untuk memberi salam kesejahteraan kepada setiap manusia yang baramal di malam itu. Bayangkan jika kita baca Quran waktu itu. Pahala bacaan untuk 1,000 bulan. Jika seorang hamba sedang solat terawikh, tahajud, taubat, bayangkan hamba itu bersolat sampai mati, tidak henti-henti, tanpa makan dan minum. SUBHANALLAH!
Salam itu adalah doa sejahtera malaikat yang diketuai oleh Jibrail. Ia benar-benar mustajab kerana ia akan terus diangkat ke hadrat Allah tanpa sebarang hijab.
Menurut ustaz tersebut (saya lupa nama beliau) individu yang memperoleh doa kesejahteraan para malaikat itu akan ada tanda-tandanya di dunia. Antaranya ialah semua anak-anak akan menjadi ‘orang’, iaitu berjaya dalam kehidupan dan baik perilakunya. Kalau berniaga, bisnes sikit sahaja terus menjadi. Tiada sebarang masalah dalam rumahtangga, serta rezeki sentiasa melimpah ruah.
Zuriat keturunan jadi orang baik-baik kerana ia akan turut terbawa-bawa ke generasi kita seterusnya.
Alangkah beruntungnya insan yang beramal/qiam di malam al-Qadar dan menerima doa kesejahteraan para malaikat yang terus diangkat ke kadrat Allah. Malam 10 terakhir Ramadhan, insyaAllah, sahabat.
Selasa, 05 Mei 2009
JAMAK DAN QASAR
Penerangan solat qasar dan jama’ adalah seperti berikut:
1.0 Solat Qasar
1.1 Takrifan
Solat Qasar adalah mengqasarkan (memendekkan) solat yang empat rakaat iaitu Zuhur, Asar dan Isya’ kepada dua rakaat sementara solat Maghrib dan solat Subuh tidak boleh diqasarkan.
1.2 Hukum Qasar
Harus berdasarkan kepada dalil berikut: i.Al-Quran surah al-Nisa’ ayat 101 yang bermaksud;
“Dan apabila kamu musafir di muka bumi, maka kamu tidaklah berdosa mengqasarkan (memendekkan) solat jika kamu takut diserang oleh orang kafir…”
ii. Al-Sunnah yang bermaksud;
‘Ya’la bin Umayyah pernah bertanya kepada Umar bin al- Khattab, “Kenapa kita perlu mengqasarkan solat sedangkan kita berada dalam keamanan?” Lalu beliau menjawab, “Aku telah bertanya kepada Nabi s.a.w., dan Baginda bersabda, solat qasar itu adalah sedekah yang Tuhan telah bersedekah kepadamu, maka terimalah sekalian kamu akan sedekah- Nya” (Riwayat al-Nasa’i dan Abu Daud)
1.3 Jarak Dibenarkan Qasar
Dua marhalah iaitu empat burudin di mana setiap burudin mempunyai empat farsakh dan setiap farsakh terdiri daripada 5514 meter mengikut kiraan moden. Dari itu, dua marhalah adalah bersamaan 89 kilometer.
1.4 Syarat Solat Qasar
i. Hendaklah pelayaran atau perjalanan itu diharuskan oleh syara’.
ii.Jauh pelayaran atau perjalanan itu tidak kurang daripada dua marhalah (89 kilometer / 56 batu). iii.Berniat qasar di dalam takbiratul ihram. iv.Tidak berimam dengan orang yang solat tamam (sempurna). v.Hendaklah solat yang diqasarkan itu terdiri dari solat empat rakaat.
1.5 Contoh Niat
أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا لله تعالى (Sahaja aku solat fardhu Zuhur dua rakaat Qasar kerana Allah Taala)
2.0 Solat Jama'
2.1 Takrifan
Solat Jama’ terbahagi kepada :
i. Jama’ Taqdim iaitu mengerjakan solat Zuhur dan solat Asar dalam waktu Zuhur atau solat Maghrib dan solat Isya’ dalam waktu Maghrib. ii.Jama’ Ta’khir iaitu mengerjakan solat Zuhur dan solat Asar dalam waktu Asar atau solat Maghrib dan solat Isya’ dalam waktu Isya’.
2.2 Syarat Solat Jama’
2.2.1.Solat Jama’ Taqdim i.Hendaklah bersolat secara tertib iaitu mendahulukan solat Zuhur daripada solat Asar dan solat Maghrib daripada solat Isya'. ii.Hendaklah niat Jama’ Taqdim di dalam solat pertama sebelum salam tetapi yang afdhalnya di dalam takbiratul ihram. iii.Berturut-turut di antara solat yang dijama’kan itu. iv.Berkekalan pelayaran atau perjalanan itu hingga takbiratul ihram solat yang kedua. v.Berkeyakinan adanya waktu solat yang pertama (Zuhur atau Maghrib) berkekalan sehingga didirikan solat yang kedua (Asar atau Isya’).
2.2.2. Solat Jama’ Ta’khir i.Hendaklah berniat jama’ dalam waktu pertama iaitu Zuhur atau Maghrib. ii.Berkekalan pelayaran atau perjalanan hingga memberi salam solat yang kedua.
2.3 Contoh Niat
2.3.1 Jama’ Taqdim
i.Jama’ Taqdim Empat Rakaat
أصلي فرض الظهر اربع ركعات مجموعا إليه العصر اداء لله تعالى (Sahaja aku solat fardhu Zuhur empat rakaat dihimpunkan kepadanya Asar tunai kerana Allah Taala)
ii.Niat Jama’ Taqdim Beserta Qasar
أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إليه العصر اداء لله تعالى (Sahaja aku solat fardhu Zuhur dua rakaat dihimpunkan kepadanya Asar tunai kerana Allah Taala)
2.3.2 Jama’ Ta’khir
i.Jama’ Ta’khir Empat Rakaat
أصلي فرض الظهر اربع ركعات مجموعا إلى العصر اداء لله تعالى (Sahaja aku solat fardhu Zuhur empat rakaat dihimpunkan kepada Asar tunai kerana Allah Taala)
ii. Niat Jama’ Ta’khir Beserta Qasar
أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إلى العصر اداء لله تعالى (Sahaja aku solat fardhu Zuhur dua rakaat dihimpunkan kepada Asar tunai kerana Allah Taala)