KISAH NABI IBRAHIM A.S.
Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pd waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama "Namrud bin Kan'aan."
Kerajaan Babylon pd masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang mahupun pandangan serta saranan-saranan yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mrk.Akan tetapi tingkatan hidup rohani mrk masih berada di tingkat jahiliyah. Mrk tidak mengenal Tuhan Pencipta mrk yang telah mengurniakan mrk dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mrk adalah patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.
Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak.Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dpt dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebuh-lebihanyang ia nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung yang terbina dari batu yang tidal dpt memberi manfaat dan mendtgkan kebahagiaan bagi mrk, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.Dia yang dpt berbicara, dapat mendengar, dpt berfikir, dpt memimpin mrk, membawa kemakmuran bagi mrk dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dpt mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia. di samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.
Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calun Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya,jauh-jauh telah diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras dan diperangi agar mrk kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan brg-brg itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:" Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "
Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah
Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan
hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin esekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada Allah: " Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati."Allah menjawab seruannya dengan berfirman:Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab:" Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."
Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah YAng Maha Berkuasa dpt menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki " Fayakun".
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bah ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan drpnya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan.
Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia dtg kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dpt mendtgkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mrk rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara mereka. IA berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: " Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seray berkaat: " Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku utkmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.
Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya.
Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mrk anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mrk sudah tidak berdaya menilak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mrk maka dalil dan alasan yang usanglah yang mrk kemukakan iaitu bahwa mrk hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mrk dilakukan dan sesekali mrk tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mrk warisi.
Nabi Ibrahim pd akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mrk tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mrk, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahwa mrk dan bapa-bapa mrk keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mrk lihat dengan mata kepala mrk sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mrk betul-betul tidak berguna bagi mrk dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mrk keluar kota beramai-ramai pd suatu hari raya yang mrk anggap sebagai keramat. Berhari-hari mrk tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mrk bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mrk kosong dan sunyi. Mrk berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mrk merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mrk bila ia turut serta.
" Inilah dia kesempatan yang ku nantikan," kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:" Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu."
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mrk hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mrk:" Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:" Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mrk.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim:" Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:" Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Para hakim penanya terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mrk,yang mrk pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu:" Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya iut, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:" Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu benar-benar setia kepadanya."
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mrk. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:" Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.
Para penonton upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan hairan seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah.Ada sebahagian drp mrk yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mrk namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mrk merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mrk jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mrk merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak drp mrk untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang drp mrk yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.
Sabtu, 05 Juni 2010
Selasa, 01 Juni 2010
Sains Solat Jumaat
Salam semua, sempena hari Jumaat yang mulia ini marilah kita renung bersama artikel yang akan saya kongsikan. InsyaAllah bermula hari ini dan seterusnya, setiap hari Jumaat saya akan menyediakan artikel yang menarik mengenai Islam untuk kita renung bersama. Semoga kita mendapat kemudahan dari Allah s.w.t. Amin
Logiknya Solat dalam Sudut Pandangan Sains
solat_tiang_agama Seorang professor fizik di Amerika Syarikat telah membuat satu kajian tentang kelebihan solat berjemaah yang disyariatkan dalam Islam. Katanya tubuh badan kita mengandungi dua cas elektrik iatu cas positif dan cas negatif. Dalam aktiviti harian kita sama ada bekerja, beriadah atau berehat, sudah tentu banyak tenaga digunakan.
Dalam proses pembakaran tenaga, banyak berlaku pertukaran cas positif dan cas negatif, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh kita.
Ketidakseimbangan cas dalam badan menyebabkan kita rasa letih dan lesu setelah menjalankan aktiviti seharian. Oleh itu cas-cas ini perlu diseimbangkan semula untuk mengembalikan kesegaran tubuh ke tahap normal.
Berkaitan dengan solat berjemaah, timbul persoalan di minda professor ini mengapa Islam mensyariatkan solat berjemah dan mengapa solat lima waktu yang didirikan orang Islam mempunyai bilangan rakaat yang tidak sama.
Hasil kajiannya mendapati bilangan rakaat yang berbeza dalam solat kita bertindak menyeimbangkan cas-cas dalam badan kita. Semasa kita solat berjemaah, kita disuruh meluruskan saf, bahu bertemu bahu dan bersentuhan tapak kaki. Tindakan-tindakan yang dianjurkan semasa solat berjemaah itu mempunyai berbagai kelebihan. Kajian sains mendapati sentuhan yang berlaku antara tubuh kita dengan tubuh ahli jemaah lain yang berada di kiri dan kanan kita akan menstabilkan kembali cas-cas yang diperlukan oleh tubuh. Ia berlaku apabila cas yang berlebihan - sama ada negatif atau positif akan dikeluarkan, manakala yang berkurangan akan ditarik ke dalam kita. Semakin lama pergeseran ini berlaku, semakin seimbang cas dalam tubuh kita.
Menurut beliau lagi, setiap kali kita bangun dari tidur, badan kita akan merasa segar dan sihat setelah berehat berapa jam. Ketika ini tubuh kita mengandungi cas-cas positif dan negatif yang hampir seimbang. Oleh itu, kita hanya memerlukan sedikit lagi proses pertukaran cas agar keseimbangan penuh dapat dicapai. Sebab itu, solat Subuh didirikan 2 rakaat.
Seterusnya, setelah sehari kita bekerja kuat dan memerah otak semua cas ini kembali tidak stabil akibat kehilangan cas lebih banyak daripada tubuh. Oleh itu, kita memerlukan lebih banyak pertukaran cas. Solat jemaah yang disyariatkan Islam berperanan untuk memulihkan keseimbangan cas-cas berkenaan. Sebab itu, solat Zohor didirikan 4 rakaat untuk memberi ruang yang lebih kepada proses pertukaran cas dakam tubuh.
Situasi yang sama turut berlaku di sebelah petang. Banyak tenaga dikeluarkan ketika menyambung kembali tugas. Ini menyebabkan sekali lagi kita kehilangan cas yang banyak. Seperti mana solat Zohor, 4 rakaat solat Asar yang dikerjakan akan memberikan ruang kepada proses pertukaran cas dengan lebih lama.
Lazimnya, selepas waktu Asar dan pulang dari kerja kita tidak lagi melakukan aktiviti-aktiviti yang banyak menggunakan tenaga. Masa yang diperuntukkan pula tidak begitu lama. Maka, solat Maghrib hanya dikerjakan sebanyak 3 rakaat adalah lebih sesuai dengan penggunaan tenaga yng kurang berbanding 2 waktu sebelumnya.
Timbul persoalan di fikiran professor itu tentang solat Isyak yang mengandungi 4 rakaat.Logiknya, pada waktu malam kita tidak banyak melakukan aktiviti dan sudah tentu tidak memerlukan proses pertukaran cas yang banyak.
Setelah kajian lanjut, didapati terdapat keistimewaan mengapa Allah mensyariatkan 4 rakat dalam solat Isyak. Kita sedia maklum, umat Islam amat digalakkan untuk tidur awal agar mampu bangun menunaikan tahajjud di sepertiga malam. Ringkasnya, solat Isyak sebanyak 4 rakaat itu akan menstabilkan cas dalam badan serta memberikan tenaga untuk kita bangun malam (qiamullail).
Dalam kajiannya, professor ini mendapati bahawa Islam adalah satu agama yang lengkap dan istimewa. Segala amalan dan suruhan Allah Taala itu mempunyai hikmah ynag tersirat untuk kebaikan umat Islam itu sendiri. Belaiu merasakan betapa kerdilnya diri dan betapa hebatnya Pencipta alam ini. Akhirnya, dengan hidayah Allah beliau memeluk agama Islam.
Logiknya Solat dalam Sudut Pandangan Sains
solat_tiang_agama Seorang professor fizik di Amerika Syarikat telah membuat satu kajian tentang kelebihan solat berjemaah yang disyariatkan dalam Islam. Katanya tubuh badan kita mengandungi dua cas elektrik iatu cas positif dan cas negatif. Dalam aktiviti harian kita sama ada bekerja, beriadah atau berehat, sudah tentu banyak tenaga digunakan.
Dalam proses pembakaran tenaga, banyak berlaku pertukaran cas positif dan cas negatif, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh kita.
Ketidakseimbangan cas dalam badan menyebabkan kita rasa letih dan lesu setelah menjalankan aktiviti seharian. Oleh itu cas-cas ini perlu diseimbangkan semula untuk mengembalikan kesegaran tubuh ke tahap normal.
Berkaitan dengan solat berjemaah, timbul persoalan di minda professor ini mengapa Islam mensyariatkan solat berjemah dan mengapa solat lima waktu yang didirikan orang Islam mempunyai bilangan rakaat yang tidak sama.
Hasil kajiannya mendapati bilangan rakaat yang berbeza dalam solat kita bertindak menyeimbangkan cas-cas dalam badan kita. Semasa kita solat berjemaah, kita disuruh meluruskan saf, bahu bertemu bahu dan bersentuhan tapak kaki. Tindakan-tindakan yang dianjurkan semasa solat berjemaah itu mempunyai berbagai kelebihan. Kajian sains mendapati sentuhan yang berlaku antara tubuh kita dengan tubuh ahli jemaah lain yang berada di kiri dan kanan kita akan menstabilkan kembali cas-cas yang diperlukan oleh tubuh. Ia berlaku apabila cas yang berlebihan - sama ada negatif atau positif akan dikeluarkan, manakala yang berkurangan akan ditarik ke dalam kita. Semakin lama pergeseran ini berlaku, semakin seimbang cas dalam tubuh kita.
Menurut beliau lagi, setiap kali kita bangun dari tidur, badan kita akan merasa segar dan sihat setelah berehat berapa jam. Ketika ini tubuh kita mengandungi cas-cas positif dan negatif yang hampir seimbang. Oleh itu, kita hanya memerlukan sedikit lagi proses pertukaran cas agar keseimbangan penuh dapat dicapai. Sebab itu, solat Subuh didirikan 2 rakaat.
Seterusnya, setelah sehari kita bekerja kuat dan memerah otak semua cas ini kembali tidak stabil akibat kehilangan cas lebih banyak daripada tubuh. Oleh itu, kita memerlukan lebih banyak pertukaran cas. Solat jemaah yang disyariatkan Islam berperanan untuk memulihkan keseimbangan cas-cas berkenaan. Sebab itu, solat Zohor didirikan 4 rakaat untuk memberi ruang yang lebih kepada proses pertukaran cas dakam tubuh.
Situasi yang sama turut berlaku di sebelah petang. Banyak tenaga dikeluarkan ketika menyambung kembali tugas. Ini menyebabkan sekali lagi kita kehilangan cas yang banyak. Seperti mana solat Zohor, 4 rakaat solat Asar yang dikerjakan akan memberikan ruang kepada proses pertukaran cas dengan lebih lama.
Lazimnya, selepas waktu Asar dan pulang dari kerja kita tidak lagi melakukan aktiviti-aktiviti yang banyak menggunakan tenaga. Masa yang diperuntukkan pula tidak begitu lama. Maka, solat Maghrib hanya dikerjakan sebanyak 3 rakaat adalah lebih sesuai dengan penggunaan tenaga yng kurang berbanding 2 waktu sebelumnya.
Timbul persoalan di fikiran professor itu tentang solat Isyak yang mengandungi 4 rakaat.Logiknya, pada waktu malam kita tidak banyak melakukan aktiviti dan sudah tentu tidak memerlukan proses pertukaran cas yang banyak.
Setelah kajian lanjut, didapati terdapat keistimewaan mengapa Allah mensyariatkan 4 rakat dalam solat Isyak. Kita sedia maklum, umat Islam amat digalakkan untuk tidur awal agar mampu bangun menunaikan tahajjud di sepertiga malam. Ringkasnya, solat Isyak sebanyak 4 rakaat itu akan menstabilkan cas dalam badan serta memberikan tenaga untuk kita bangun malam (qiamullail).
Dalam kajiannya, professor ini mendapati bahawa Islam adalah satu agama yang lengkap dan istimewa. Segala amalan dan suruhan Allah Taala itu mempunyai hikmah ynag tersirat untuk kebaikan umat Islam itu sendiri. Belaiu merasakan betapa kerdilnya diri dan betapa hebatnya Pencipta alam ini. Akhirnya, dengan hidayah Allah beliau memeluk agama Islam.
Selasa, 25 Mei 2010
RUMAHKU SYURGAKU
KONSEP DAN FALSAFAH 'RUMAHKU SYURGAKU'
Konsep dan falsafah bagi mencapai matlamat rancangan ‘RUMAHKU SYURGAKU’ ini adalah berasaskan kepada syariat Islam yang merangkumi segenap aspek kehidupan. Diantara aspek-aspek yang ditekankan dalam rancangan ini ialah membina kebahagiaan, meningkatkan daya intelek, mewujudkan suasana penghayatan Islam dan kedamaian dalam keluarga, penjagaan kesihatan, mewujudkan keselesaan dan keindahan dalam rumah, mengamalkan perhubungan yang baik dan berkesan serta membina sifat penyayang dan toleransi di kalangan anggota keluarga.
Huraian Konsep Dan Falsafah ‘Rumahku Syurgaku’
1. Membina Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah sesuatu yang abstrak yang lahir dari hati seseorang. Tanda kebahagiaan antaranya dapat dilihat apabila seseorang itu berasa senang, suka dan gembira melalui raut wajah dan tingkah lakunya. Nilai kebahagiaan itu tidak mungkin dapat diagihkan kepada orang lain. Hadith Rasulullah s.a.w. sangat tepat membayangkan betapa bahagia itu perlu dalam hidup setiap insan. Diriwayatkan daripada An-Nu’man bin Basyir, Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Bahawasanya di dalam tubuh badan manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, baik pulalah seluruh badan, tetapi apabila ia rosak, rosak pulalah seluruh badan, Ingatlah ia adalah hati'.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadith ini jelas menerangkan bahawa kebaikan diri manusia itu terletak pada hatinya. Kalau ia baik, maka seluruh diri manusia itu akan menjadi baik. Sekiranya ia rosak yakni mempunyai penyakit-penyakit hati, maka manusia itu tidak akan dapat mengecapi nikmat kebaikan dan kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang amat penting kepada setiap insan. Ia menjadi suatu matlamat hidup seseorang sama ada di dunia mahupun di akhirat. Sebab itu setiap orang sanggup bersusah payah dan bermati-matian untuk mencari kebahagiaan. Kegagalan mendapat kebahagiaan membawa kepada kekecewaan. Kerana itu, ramai orang menjadi gila kerana hidupnya tidak bahagia. Ada pula yang sanggup mati kerana gagal menemui kebahagiaan.
Semua orang perlukan kebahagiaan hidup sama ada untuk sementara atau selamanya. Penentuan kebahagiaan berkait rapat dengan sikap, kedudukan dan fahaman seseorang terhadap kebahagiaan. Ada orang beranggapan bahawa kebahagiaan itu boleh dicapai dengan adanya harta dan wang ringgit yang banyak. Ada pula beranggapan kebahagiaan itu ialah mengenepikan hal-hal keduniaan, kemajuan dan kemewahan. Walau bagaimanapun, kebahagiaan seperti ini adalah berkisar kepada faktor kebendaan semata-mata. Apakah kebahagiaan yang sebenar? Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan sebenar ialah kaya hati.'
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Maksud kaya hati seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. itu ialah apabila hati menjadi tenteram, tenang dan merasa cukup terhadap nikmat yang dimiliki. Dari hadith ini nyatalah bahawa harta benda bukan ukuran kebahagiaan seseorang, tetapi kebahagiaan itu sebenarnya terletak di hati. Dalam hal ini, hati perlu dijaga dan beri haknya, supaya lahir sifat-sifat mulia dan terpuji seperti amanah, bersyukur, sangka baik terhadap orang lain dan sebagainya. Jelaslah bahawa dalam sesebuah rumahtangga kebahagiaan hati adalah sesuatu yang amat perlu.
Antara cara untuk mencapai kebahagiaan ialah seperti berikut:
(a) Niat Yang Baik
Salah satu cara mendapatkan kebahagiaan hidup ialah dengan membetulkan niat dalam merancang sesuatu tindakan. Dalam hubungan ini seseorang itu hendaklah melatih hatinya supaya sentiasa berniat baik dan inginkan sesuatu yang baik. Latihan sebegini dapat menjadikan seseorang itu bersifat positif dan optimis dalam melakukan sesuatu. Wajahnya akan kelihatan sentiasa riang dan tenang.
(b) Perbuatan Yang Baik
Satu lagi proses mendapat kebahagiaan hati ialah dengan melakukan perbuatan yang baik atau disebut sebagai amal saleh. Amal ini mestilah disertakan dengan niat yang baik. Dalam melakukan amal saleh, umat Islam disuruh sentiasa melakukan kerja-kerja baik dan meninggalkan kerja-kerja yang baik. Antara amal-amal saleh ialah tolong menolong, amanah, sopan santun, benci dan menjauhi maksiat, bercakap benar, penyayang dan lain-lain.
Kemuncak kebahagiaan dalam hidup seseorang ialah apabila ia telah berjaya melakukan kebaikan atau amal saleh serta menghindar segala bentuk larangan yang ditentukan oleh Islam. Ciri utama yang menjadi ukuran masyarakat bahagia ialah mereka patuh kepada suruhan Allah secara terus menerus dengan penuh khusyuk dan khudu’. Ini menepati maksud firman Allah dalam surah al-Mukminun ayat 1-11.
Maksudnya: 'Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia; dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat harta itu); dan mereka yang menjaga kehormatannya, kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela, kemudian sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya, dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya, mereka itulah orang-orang yang berhak mewarisi; yang akan mewarisi syurga Firdaus; mereka kekal di dalamnya'.
(al-Mukminun: 1-11)
2. Membina Intelek dan Meningkatkan Ilmu Pengetahuan
Hidup dalam erti kata seperti yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. di dalam al-Quran, ayat 77 surah al-Qasas, ialah untuk tidak melupakan nasib di dunia. Untuk tidak mengabaikan urusan memperjuangkan nasib di dunia ini setiap umat Islam mestilah mempertingkatkan ilmu pengetahuan dan daya intelek masing-masing. Dengan ketinggian ilmu pengetahuan dan daya intelek itulah mereka dapat menjangkau pelbagai keperluan, melepasi segala halangan dan rintangan dan mencapai ketinggian darjat selayak dengan cita-cita Islam sebagai agama yang tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripadanya. Ketinggian Islam tidak memberi erti kalau kehidupan umatnya tanpa kualiti.
Ilmu pengetahuan mempunyai tiga kepentingan utama. Pertama; Membentuk peribadi muslim supaya dapat menjalani suruhan agama dengan sewajarnya. Kedua; Membentuk sebuah umat yang kuat. Ketiga: Mempertahankan kesucian dan ketinggian agama Islam. Sekiranya umat Islam tidak mempunyai ilmu pengetahuan, kesucian dan ketinggian agama Islam akan terjejas.
Ilmu pengetahuan adalah satu perkara yang sangat luas bidangnya dan sememangnya tidak mampu dikuasai semuanya oleh manusia. Di dalam al-Quran Allah S.W.T. telah mengumpamakan ilmu itu sebagai lautan luas, yang mungkin mampu diperolihi oleh manusia hanyalah setitis daripadanya sahaja. Walaupun begitu peri pentingnya ilmu pengetahuan itu tidak boleh dinafikan, sehingga pencariannya dikategorikan sebagai satu tuntutan yang fardhu. Rasulullah s.a.w. menyebutkan melalui sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Maiah dari Anas:
Maksudnya: Daripada Anas r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Menurut ilmu itu wajib ke atas tiap-tiap orang Islam.'
(Riwayat Ibnu Majah)
Begitulah pentingnya ilmu pengetahuan yang sangat-sangat dititik beratkan oleh Islam supaya setiap orang mencarinya, tidak kira dalam apa bidang pun selagi ia mendatangkan kebaikan dan diredhai oleh Allah S.W.T.
Dalam konteks membina ‘syurga’ dalam rumahtangga, kesedaran terhadap peri pentingnya ilmu pengetahuan sangat mustahak. Ibu bapa selaku ketua keluarga mempunyai peranan yang besar dalam mencorakkan anak-anaknya. Bermula di peringkat bayi, malah sejak dari dalam kandungan lagi, sehinggalah mereka remaja dan seterusnya dewasa, pendidikan perlu diberikan mengikut tahap dan peringkat masing-masing. Kemudahan-kemudahan pelajaran yang sedia ada seperti tadika, sekolah, maktab dan pusat pengajian tinggi seharusnya dimanfaatkan sepenuhnya.
Ibu bapa selaku pengemudi keluarga sewajibnya mempunyai perancangan dan usaha yang lebih bagi mempertingkatkan pengetahuan dan daya intelek di kalangan ahlinya. Di samping itu setiap ahli keluarga pula semestinya mempunyai kesedaran untuk mempertingkatkan pengetahuan dan daya pemikiran masing-masing sesuai dengan kemampuan yang ada tanpa rasa malas dan jemu. Pandangan berat Islam yang telah meletakkan pencarian ilmu itu sebagai satu kewajipan sepatutnya disedari oleh orang kerana maju atau membangunnya sesebuah keluarga itu adalah kerana ilmu pengetahuan.
Dari segi piawai ilmu bagi sesebuah keluarga, setiap ahli keluarga bermula dengan ibu dan bapa, mereka mestilah mengetahui ilmu-ilmu fardhu ain, iaitu berkait dengan akidah, syariah dan akhlak. Dari segi akidah, seseorang itu wajib mengetahui asas-asas kepercayaan mengenai ketuhanan, Allah Yang Maha Esa dan perkara-perkara di sekitar soal keimanan yang disimpulkan di dalam rukun iman. Dari segi ilmu syariah, mereka wajib mengetahui adab-adab serta peraturan-peraturan amal ibadat. Manakala dalam bidang akhlak pula, mereka wajib mengetahui dan mengamalkan akhlak Islam sebagaimana yang digariskan di dalam al-Quran dan as-sunnah, seperti taat kepada ibu bapa, tolong menolong sesama ahli keluarga dan masyarakat, menghormati jiran tetangga dan lain-lain. Perkara-perkara ini merupakan asas yang wajib dipelajari dan dihayati oleh setiap anggota keluarga.
Di samping fardhu ain, setiap anggota keluarga juga perlu mempelajari fardhu kifayah iaitu ilmu-ilmu yang lebih bersifat kepentingan umum, yang ada kaitan langsung dengan keperluan hidup manusia seperti penyediaan bahan makanan dan barang-barang gunaan, bidang sains dan teknologi, kedoktoran, kejuruteraan, perindustrian, pembinaan tempat kediaman, penyediaan infrastruktur dan lain-lain. Pelaksanaan sebahagian daripada tuntutan agama juga terkandung sebagai fardhu kifayah, umpamanya pengurusan jenazah, sembahyang berjemaah di masjid dan lain-lain. Ilmu-ilmu yang terkandung dalam bidang fardhu kifayah ini tidak diwajibkan kepada setiap individu tetapi memadai sekiranya ada sebilangan atau seorang sahaja di dalam kelompoknya yang mempelajari atau mengetahui ilmu tersebut. Apabila seorang sahaja mengetahuinya, pada masa itu gugurlah kefardhuannya ke atas orang lain, tetapi sekiranya tidak ada seorang pun yang mempelajari sesuatu ilmu itu, maka semua orang adalah berdosa.
Hal-hal seharian di dalam keluarga seperti percakapan, bahasa yang digunakan, tingkahlaku yang ditunjukkan dan pergaulan yang diwujudkan semestinya dalam piawai ilmu dan intelek yang tinggi yang dibentuk dalam suasana harmoni. Nilai-nilai intelek yang rendah seperti melebih-lebihkan perbicaraan tentang hiburan, cakap-cakap kosong, membanyakkan kegiatan yang tidak berfaedah dan lain-lain urusan yang membazir serta tidak bermanfaat hendaklah dihindarkan. Kesedaran hendaklah ditanamkan di dalam keluarga bahawa orang-orang yang berilmu serta berakhlak mulia tidak akan melakukan perkara-perkara seperti itu. Akal yang dikurniakan oleh Allah kepada manusia menunjukkan bahawa manusia adalah makhluk yang mulia dan kurniaan itu mestilah dipelihara.
Setiap ahli keluarga mestilah menyedari bahawa orang-orang yang berilmu pengetahuan sememangnya tidak sama dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan. Orang-orang yang berilmu selain mendapat kemuliaan daripada Allah S.W.T. mereka adalah orang-orang yang menjadi harapan kepada sesuatu keluarga, kelompok masyarakat dan seterusnya negara. Merekalah menjadi pembimbing, pentadbir, pemimpin, pelindung dan tempat rujukan orang awam. Kalaulah sesuatu keluarga atau masyarakat atau bangsa itu tidak mempunyai orang-orang yang berilmu maka kedudukan mereka akan menjadi pincang dan tidak maju.
Jelaslah bahawa ilmu pengetahuan adalah satu perkara yang sangat penting dalam membentuk kehidupan yang bahagia dalam rumahtangga. Maka sebab itulah ia menjadi satu perintah yang wajib bagi setiap orang mencarinya. Saiyyidina Ali r.a. pernah berpesan:
'Ketahuilah bahawa ilmu pengetahuan adalah lebih baik daripada harta benda, sebab ilmu pengetahuan dapat menjaga dirimu, sedangkan harta benda engkaulah yang harus menjaganya. Ilmu pengetahuan adalah pihak yang berkuasa, sedangkan harta benda adalah pihak yang dikuasai. Harta benda akan berkurangan jika dibelanjakan, sedangkan ilmu pengetahuan akan bertambah-tambah jika diberikan kepada orang lain.'
3. Mewujudkan Suasana Penghayatan Islam Dan Kedamaian Dalam Keluarga
Islam telah meletakkan asas yang sempurna supaya rumah menjadi suatu tempat yang selesa kerana kebahagiaan itu bermula dari rumah. Untuk menjadikan rumah itu sebagai syurga maka aktiviti-aktiviti berikut adalah menjadi asas utama di dalam pembentukan rumahtangga.
(a) Menghidupkan Sembahyang Berjemaah
Dalam Islam, amalan yang paling pokok ialah sembahyang. Sembahyang boleh menjadi ukuran kepada seseorang sama ada ia seorang Islam yang sempurna atau pun tidak. Orang yang mengaku dirinya beragama Islam, tidak sempurna Islamnya jika ia tidak melakukan ibadat sembahyang. Sembahyang berjemaah di masjid atau surau dituntut oleh Islam. Kelebihannya sangat besar dan pahalanya 27 kali ganda daripada sembahyang berseorangan. Sembahyang jemaah dapat mewujudkan hubungan silaturrahim, melahirkan perhubungan kasih sayang dan semangat kekitaan dan dapat menghindarkan perasaan mementingkan diri sendiri. Oleh itu bagi orang yang tidak berhampiran atau berdekatan dengan masjid atau surau adalah disunatkan ke masjid atau surau bersama keluarga bagi menunaikan sembahyang jemaah.
Bagi orang yang tinggal jauh dari masjid, mereka digalakkan mengerjakan sembahyang jemaah di rumah bersama keluarga. Bapa sebagai ketua keluarga adalah bertindak sebagai imam, manakala anak-anak dan isteri sebagai makmum. Waktu yang amat sesuai diadakan sembahyang jemaah ialah waktu Maghrib, Isyak dan Subuh, kerana waktu-waktu itu lazimnya ibu bapa dan anak-anak berada di rumah. Jika terdapat tetamu yang mengunjungi rumah pada waktu tersebut, eloklah mereka diajak bersembahyang jemaah bersama-sama .
Bagi membentuk keluarga yang bahagia dan menjadikan rumah sebagai syurga, maka sembahyang berjemaah sekeluarga mesti diadakan secara terus menerus, sekurang-kurangnya sekali seminggu bagi keluarga yang sibuk, atau tiap-tiap hari bagi keluarga yang mempunyai kemampuan. Amalan ini mempunyai faedah yang besar serta dapat mendidik anak-anak menghayati Islam dengan sebenar, serta dapat membentuk akhlak yang baik. Ibu bapa sebagai pemegang amanah daripada Allah S.W.T. untuk mendidik dan mencorakkan anak-anak mereka ke jalan yang benar, adalah berkewajipan untuk mendidik anak-anak mereka tentang pelaksanaan tanggungjawab ibadat sejak mereka masih kecil lagi.
(b) Membaca al-Quran Bersama Di rumah
Membaca al-Quran mempunyai pahala yang besar, amalan ini boleh mengukuhkan keimanan seseorang dan mendekatkan diri kepada Allah serta memberi ketenangan kepada hati. Firman Allah di dalam surah ar-Ra’d ayat 28:
Maksudnya: '(iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan ‘zikrullah’ itu, tenang tenteramlah hati manusia.'
Menurut Tafsir Pimpinan ar-Rahman terbitan JAKIM, ‘zikrullah’ pada ayat ini maksudnya al-Quran al-Karim yang menjadi sebesar-besar mukjizat yang tidak ada tolok bandingnya. Nyatalah bahawa membaca al-Quran itu menjadi ibadat yang sangat berfaedah bagi seseorang muslim yang patut dilakukan pada setiap hari sama ada di waktu pagi, petang ataupun malam.
Keluarga bahagia ialah keluarga yang dapat membaca dan menghayati isi al-Quran dengan baik. Sistem pendidikan negara kita membolehkan semua rakyat mampu membaca al-Quran. Oleh kerana membaca al-Quran adalah satu ibadat yang amat penting dan utama dalam kehidupan orang Islam, maka perlulah diikhtiarkan cara yang berkesan supaya amalan ini dapat dihayati dalam kehidupan harian.
Dalam program secara bersama dalam keluarga hendaklah menjadi amalan harian atau sekurang-kurangnya satu kali seminggu. Al-Quran mengandungi 604 halaman, jika dalam masa seminggu dibaca dua halaman, maka dalam tempoh satu tahun hampir separuh dari al-Quran dapat dihabiskan. Amalan ini hendaklah diteruskan sepanjang hayat.
(c) Membaca Buku Agama Di Rumah Beramai-ramai
Satu lagi amalan dalam rumahtangga yang bahagia ialah mengumpulkan keluarga sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu untuk membaca buku agama. Buku agama ini boleh dipilih dari buku-buku yang terkenal dalam berbagai bidang seperti sejarah Islam, sejarah ulama’ dan pemikiran Islam, asas-asas fardhu ain, ilmu tauhid, akhlak dan lain-lain.
Dengan cara membaca buku agama, secara tidak langsung boleh menambah dan meluaskan ilmu pengetahuan ahli keluarga. Melalui amalan membaca buku di rumah ini juga dapat melatih ahli keluarga khususnya anak-anak yang dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Dalam hubungan ini kaedah yang boleh digunakan ialah membaca bergilir-gilir di antara ibu, bapa dan anak.
(d) Makan Bersama Sekeluarga
Keluarga bahagia ialah keluarga yang dapat mewujudkan tradisi makan bersama-sama sekurang-kurangnya sekali seminggu iaitu pada cuti hujung minggu. Malam adalah waktu yang agak sesuai untuk menghadapi makanan secara bersama keluarga kerana semua ahli keluarga di waktu itu telah selesai menunaikan tanggungjawab masing-masing di dalam bidang pekerjaan dan pelajaran. Makan bersama keluarga boleh mengeratkan lagi rasa kasih sayang antara anggota keluarga.
Ibu bapa harus memainkan peranan bagi mewujudkan suasana yang harmoni ketika makan. Inilah di antara kesempatan terbaik untuk ibu bapa berbicara dengan anak-anak dan dapat memberi nasihat, menanam pendidikan dan memupuk kasih sayang dalam keluarga.
Sebagai contoh, semasa menghadapi makanan dinasihatkan membaca ‘bismillah’ bagi mendapatkan keberkatan terhadap makanan dan minuman tersebut dan sebagai tanda terima kasih terhadap Allah yang telah memberikan rezeki. Semasa hendak menjamah makanan yang dihidangkan seorang ahli keluarga, bapa atau ibu hendaklah membaca doa ringkas iaitu:
Maksudnya: Daripada Abdullah bin Amr, daripada Nabi s.a.w. bahawasanya baginda membaca doa apabila dihidangkan makanan kepada mereka dengan doa yang bermaksud: 'Ya Allah berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami daripada azab api neraka, dengan nama Allah'.
(Riwayat Abu Bakar ibn as-Sunni)
Semasa makan bersama keluarga, anak-anak hendaklah diperingatkan supaya tidak memulakan makan atau minum kecuali setelah dimulakan oleh ibu bapa atau orang yang lebih tua. Begitulah juga adab di dalam satu-satu majlis makan yang lain. Ini adalah bertepatan dengan hadith Nabi s.a.w. yang menyebut:
Maksudnya: Daripada Huzaifah r.a. katanya: 'Apabila kami bersama-sama Rasulullah s.a.w. menghadapi makanan, kami tidak menghulurkan tangan sehingga Baginda memulakan menjamah makanan tersebut terlebih dahulu.'
(Riwayat Muslim)
Ibu bapa juga adalah bertanggungjawab untuk sentiasa mendisiplinkan anak-anak sewaktu makan dengan tidak banyak bercakap tentang perkara-perkara yang tidak berfaedah, melarang makan di tempat-tempat yang tidak sesuai seperti di ruang tamu, di hadapan TV dan di dalam bilik tidur. Memulakan makanan dari sebelah kanan, makan dengan tidak gelojoh dan lain-lain.
(e) Memberi Salam Semasa Masuk Atau Meninggalkan Rumah
Keluarga bahagia pulang ke rumah dengan keadaan gembira. Apabila samapai ke pintu rumah mereka akan menyampaikan salam dan anggota di dalamnya menjawab salam tersebut dengan jelas. Demikianlah juga apabila mereka meninggalkan rumah untuk pergi bekerja atau ke sekolah. Amalan ini wajar dihayati sebagai amalan harian kerana ia boleh membuatkan hubungan di kalangan semua anggota keluarga terus mesra dan kukuh.
Ucapan salam ialah doa seseorang kepada seseorang yang lain supaya sentiasa berada di dalam suasana kebaikan dan keselamatan dan juga merupakan penghubung kasih sayang di antara sesama manusia. Oleh itu ibu bapa wajar mempraktikkan salam ini supaya dapat diikuti anak-anak mereka.
(f) Minta Keizinan Masuk Bilik
Setiap ibu bapa perlulah melatih anak-anak meminta izin atau kebenaran sebelum mereka masuk ke bilik tidur ibu bapa. Dalam hal ini Allah S.W.T. telah memberi panduan melalui firman-Nya dalam surah an-Nur ayat 58:
Maksudnya: 'Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba-hamba kamu dan orang-orang yang belum baligh dari kalangan kamu, meminta izin kepada kamu (sebelum masuk ke tempat kamu) dalam tiga masa, (iaitu) sebelum sembahyang Subuh dan ketika kamu membuka pakaian kerana kepanasan tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’; itulah tiga masa bagi kamu (yang biasanya terdedah aurat kamu padanya). Kemudian mereka tidaklah bersalah kemudian daripada tiga masa yang tersebut, (kerana mereka orang-orang yang selalu keluar masuk kepada kamu dan kamu masing-masing sentiasa berhubung rapat antara satu dengan yang lain. Demikianlah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-NYA (yang menjelaskan hukum-hukum-NYA); dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana.'
(An-Nur : 58)
4. Mengekalkan Kedamaian Dan Kerukunan Rumahtangga
Rumahtangga bahagia ialah rumahtangga yang wujud unsur-unsur kedamaian dan keselesaan. Suami sebagai ketua keluarga adalah berkewajipan memimpin isteri dan anak-anaknya melalui kehidupan yang diredhai Allah dengan memberi didikan agama dan menyemadikan niali-nilai murni kepada mereka.
Antara unsur-unsur kedamaian di dalam rumahtangga ialah:
(a) Tolong Menolong dan Bantu Membantu Dalam Keluarga
Setiap ahli keluarga berkewajipan untuk mendisiplinkan diri bagi melaksanakan tugas masing-masing. Umpamanya suami atau bapa berkewajipan mencari nafkah atau melakukan kerja-kerja yang memerlukan gerakan fizikal yang lebih, manakala isteri atau ibu melakukan kerja- kerja yang agak ringan dan sesuai dengan kemahiran wanita. Begitu juga dengan anak-anak diberikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan peringkat umur dan kesanggupan fizikal mereka. Satu program gotong royong di antara ahli keluarga seperti membersihkan rumah patut diadakan sekurang-kurangnya seminggu sekali. Ia boleh mewujudkan perasaan kasih sayang dan rasa tanggungjawab di kalangan ahli keluarga. Melalui program ini rumah sentiasa bersih dan kesihatan dapat dijaga. Allah mengasihi orang-orang yang mengamalkan kebersihan.
(b) Hubungan Kejiranan Yang Baik
Kesejahteraan dalam keluarga bukan hanya diperolihi hasil dari hubungan antara anggota dalam keluarga sahaja malahan hubungan dengan jiran sekeliling juga patut diberi perhatian. Perhubungan kejiranan yang intim akan wujud jikalau semua ahli keluarga berkesempatan untuk berbual-bual mesra, bertukar-tukar fikiran, bergurau senda dan beramah mesra antara satu sama lain. Oleh itu setiap keluarga wajar meluangkan satu masa untuk berinteraksi dengan jiran khususnya jiran yang paling hampir.
(c) Menunaikan Tuntutan Fardhu Kifayah
Selain berbaik-baik dengan jiran tetangga, setiap keluarga juga wajar memiliki beberapa kemahiran. Dalam Islam ilmu dibahagikan kepada dua bahagian, iaitu fardhu ain dan fardhu kifayah. Maksud fardhu kifayah dalam konteks kesejahteraan keluarga ialah semua ahli keluarga khususnya anak-anak hendaklah dilatih dengan asas-asas kemahiran hidup ataupun ilmu-ilmu teknikal yang ada hubungkait dengan alam rumahtangga. Kemahiran seperti ini perlu bagi setiap ahli keluarga supaya mereka berupaya melakukan sendiri kerja-kerja seperti membaiki kerosakan-kerosakan kecil pada rumah. Memasang dan menukar mentol lampu, membaiki kebocoran paip air dan lain-lain. Di samping itu ahli keluarga hendaklah mempunyai kemahiran asas di dalam membaiki kenderaan yang dipunyai oleh keluarga seperti kereta, motosikal, basikal dan seumpamanya. Ini adalah bersesuaian dengan kehendak negara untuk mewujudkan masyarakat yang bekerja dan berkemahiran.
(d) Mengadakan Aktiviti Rekreasi
Dalam rumahtangga perlu juga ada suasana hiburan dan rekreasi dalam keluarga. Ia boleh menimbulkan kesan positif ke arah kesihatan mental dan fizikal. Jenis-jenis hiburan pula mestilah yang tidak bercanggah dengan hukum Islam. Setiap keluarga juga wajar mengatur program rehlah ke tempat-tempat rekreasi atau lawatan di dalam atau luar negeri mengikut kemampuan keluarga tersebut. Aktiviti ini akan mengeratkan lagi hubungan kasih sayang dan mewujudkan kemesraan dalam keluarga.
5. Menjaga Kesihatan dan Kebersihan Keluarga
Kebahagiaan rumahtangga tidak akan tercapai jika sekiranya terdapat ahli-ahli keluarga sering mengidapi penyakit. Ibu atau bapa yang tidak sihat tidak dapat menguruskan rumahtangga dengan sempurna. Manakala anak-anak yang sakit pula tidak dapat membesar dan berkembang dengan baik. Oleh kerana kesihatan tubuh badan menjadi soal penting dalam hidup seseorang dan memerangi penyakit adalah satu tugas yang wajib di dalam Islam, maka Islam telah menggariskan beberapa panduan yang berkaitan dengan kesihatan seperti berikut;
(a) Makan Makanan Yang Halal
Islam menggesa umatnya supaya memakan benda-benda yang baik dan halal serta melarang memakan benda-benda yang merbahaya dan merosakkan kesihatan. Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 114:
Maksudnya: 'Oleh itu makanlah (wahai orang-orang yang beriman) dari apa yang telah dikurniakan oleh Allah kepada kamu dari benda-benda yang halal lagi baik, dan bersyukurlah akan nikmat Allah, jika benar kamu hanya menyembah akan Dia semata-mata.'
(An-Nahl : 114)
Firman Allah S.W.T. dalam surah al-Baqarah ayat 172 :
Maksudnya: 'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika betul kamu hanya beribadat kepada-NYA.'
Oleh yang demikian, setiap ibu bapa hendaklah mengambil berat tentang makan minum keluarganya dan memastikan setiap makanan yang masuk ke dalam perut keluarganya itu daripada sumber rezeki yang halal.
(b) Makan Makanan Yang Bermutu Dan Berkhasiat
Penjagaan kesihatan dari segi penyimpanan, penyediaan, penghidangan makanan dan keperluan pemakanan perlu dititikberatkan. Penyediaan makanan dan pemakanan perlu dirancang dengan teliti supaya kuantiti dan kualiti zat makanan itu seimbang dengan keperluan setiap keluarga. Seorang ibu wajib menyediakan makanan yang berzat dan berkhasiat. Dalam pemilihan kandungan zat makanan ia tidak semestinya diambil dari bahan-bahan yang mahal tetapi yang penting makanan itu berkhasiat dan tidak memudaratkan kesihatan.
(c) Elakkan Makan Makanan Yang Tidak Bersih
Islam menyuruh umatnya memakan makanan yang baik dan melarang memakan makanan yang tidak bersih. Orang yang mementingkan kesihatan, sentiasa memastikan makanan yang diperolehi dan dimakan oleh keluarganya adalah bersih dan halal. Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 115:
Maksudnya: 'Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai dan darah, dan daging babi dan binatang yang disembelih tidak kerana Allah, maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang ia tidak mengingininya dan tidak melampaui batas, (pada kadar benda yang dimakan itu, maka tidaklah ia berdosa). Sesungguhnya Allah Amat Pengampun Lagi Amat Mengasihani.'
(d) Makan Secara Berlebihan Akan Memudaratkan kesihatan
Ibu bapa diingatkan supaya tidak memberi makanan atau minuman secara berlebihan kepada keluarganya, tetapi makanan itu hendaklah disediakan secara sederhana, sekadar memenuhi keperluan tenaga, kesihatan dan pembesaran. Waktu makan hendaklah diatur dan janganlah dibiasakan makan tidak tentu masa kerana ia boleh memudaratkan kesihatan. Dalam hubungan ini Allah S.W.T. berfirman dalam surah al-A’raf ayat 31:
Maksudnya: '...Dan makanlah serta minumlah dan jangan pula kamu melampau-lampau. Sesungguhnya Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.'
(e) Mencegah Penyakit
Sesebuah keluarga hendaklah sentiasa melihat tanda-tanda penyakit yang ada pada keluarganya, supaya ia dapat dicegah lebih awal. Kanak-kanak dan orang dewasa yang memerlukan imunisasi hendaklah segera dibawa ke klinik mengikut jadual yang ditetapkan. Dalam Islam langkah pencegahan penyakit adalah sangat dititikberatkan. Peka terhadap pencegahan penyakit adalah antara ciri utama kepada sesebuah keluarga bahagia. Anak-anak hendaklah sentiasa dididik supaya menjaga kebersihan dan mengelakkan daripada benda-benda kotor. Seelok-eloknya di dalam rumah hendaklah disediakan sebuah kotak pertolongan cemas, sebagai persediaan apabila berlaku perkara-perkara yang tidak diingini atau kecemasan.
(f) Menjaga Kebersihan Diri
Satu lagi unsur penting dalam penjagaan kesihatan ialah menjaga kebersihan. Kebersihan adalah asas kepada kesihatan. Islam amat menyukai orang yang cintakan kebersihan serta sentiasa menjaga kebersihan diri kerana sihat adalah suatu nikmat Allah yang amat besar nilainya yang perlu dijaga dan dipelihara. Oleh yang demikian untuk membina keluarga yang sihat dan sejahtera, kebersihan tubuh badan amat dititik-beratkan. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Ibn Abbas r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda,'Mandi itu adalah wajib ke atas setiap orang Islam yang mana pada setiap tujuh hari, satu hari daripadanya wajib membasuh kepala dan jasmaninya.'
(Riwayat at-Tabarani)
Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Lima perkara yang menjadi fitrah manusia iaitu berkhatan, mencukur bulu ari-ari, menggunting misai, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.'
(Riwayat at-Tabarani)
Dalam hadith yang lain:
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, 'Rasulullah s.a.w. memotong kukunya dan mencukur misainya pada hari jumaat sebelum baginda mengerjakan sembahyang.'
(Riwayat at-Tabarani)
Daripada ayat al-Quran dan hadith yang dibentang di atas dapat difahami bahawa membersihkan badan seperti mandi, mencukur misai, memotong kuku serta mencukur bulu adalah amalan yang dituntut oleh Islam. Amalan-amalan seperti itu perlulah dilakukan oleh setiap ahli keluarga kerana ia merupakan usaha untuk mengelakkan diri daripada mendapat pelbagai penyakit di samping menjadi lambang kecantikan, kekemasan, kebersihan dan nilai personaliti orang Islam.
Selain daripada itu setiap ahli keluarga juga perlu menjauhi kekotoran yang berpunca daripada najis. Oleh itu Islam menuntut setiap anak lelaki dan perempuan dikhatankan supaya terhindar dan jauh daripada kuman atau penyakit yang boleh memberi kesan kepada kesihatan alat kelamin. Demikian juga Islam mewajibkan beristinjak atau bersuci untuk membersihkan diri daripada sebarang najis dan kotoran apabila selesai membuang air.
Bagi perempuan yang didatangi haid atau najis, mereka hendaklah sentiasa menjaga kebersihan diri supaya tidak dicemari oleh darah haidnya. Mereka hendaklah segera bersuci apabila tempoh haid atau nifasnya tamat.
Salah satu bahagian tubuh badan yang perlu dan penting dijaga ialah rambut. Setiap ahli keluarga perlulah menjaga kebersihan rambut supaya ia kelihatan kemas dan rapi. Sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, 'Sesiapa yang mempunyai rambut maka hendaklah ia merapikannya.'
(Riwayat Abu Daud)
Rambut adalah ibarat mahkota seseorang. Oleh yang demikian ia perlulah dijaga dan diurus dengan sebaik-baiknya, disapukan minyak atau ubat yang sesuai supaya cantik, bersih dan menyenangkan mata memandang. Rambut yang berbau busuk amat mengaibkan.
Setiap ahli keluarga juga perlu menjaga kebersihan tangan lebih-lebih lagi ketika hendak menghadapi makanan atau minuman. Sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Ibnu Umar r.a. katanya, Rsulullah s.a.w. bersabda, 'Apabila salah seorang daripada kamu hendak makan, maka hendaklah ia membasuh tangannya.'
(Riwayat Ibnu ‘Adi)
Daripada hadith di atas, dapat difahamkan bukan tangan sahaja yang perlu bersih malah termasuklah mata, hidung, mulut, kaki dan sebagainya, kerana anggota-anggota tersebut adalah termasuk di dalam anggota-anggota wuduk yang mesti dijaga kebersihannya.
Selain daripada kebersihan tubuh badan dan anggota-anggota lahir, setiap ahli keluarga perlu juga menitik beratkan kebersihan pakaian. Walaupun tujuan ialah untuk menutup aurat tetapi kebersihannya perlu juga dijaga. Firman Allah S.W.T. dalam surah al-Muddathir ayat 4 :
Maksudnya: 'Dan pakaianmu maka hendaklah engkau bersihkan.'
Kebersihan pakaian menjadi salah satu daripada syarat sah ibadat sembahyang. Oleh yang demikian ia perlu dijaga supaya tidak terkena sebarang kekotoran dan najis. Keluarga yang bahagia adalah terdiri daripada individu-individu yang sentiasa menghiasi diri dengan pakaian kemas dan bersih. Kebersihan pakaian juga adalah lambang personaliti mulia seseorang Islam.
6. Mengukuh dan Menjaga Ekonomi Rumahtangga
Sesuatu yang tidak dapat dinafikan bahawa wang dan harta adalah satu keperluan dalam kehidupan rumahtangga, lebih-lebih lagi apabila menghadapi zaman yang serba mencabar ini. Pada hari ini boleh dikatakan hampir keseluruhan keperluan hidup memerlukan wang. Oleh sebab itulah Islam menyuruh umatnya supaya kuat bekerja mencari wang dan harta, membina kehidupan yang maju dan kuat supaya dunia ini dipenuhi dengan kemakmuran.
Dalam rumahtangga, bapa sebagai ketua keluarga perlu menyedari hakikat ini. Di samping menyediakan bekalan ilmu dan pendidikan kepada anak isteri supaya hidup mereka terbimbing, dia juga harus kuat berusaha mencari wang dan harta agar dengan wang dan harta itu keluarganya dapat memenuhi sekurang-kurangnya tiga keperluan asasi kehidupan, iaitu makanan, pakaian dan tempat tinggal. Bekerja mencari wang dan rezeki, selain untuk memenuhi keperluan hidup, juga dapat menguatkan sesuatu umat, sebab apabila sesebuah keluarga itu mantap ekonominya, ia akan membantu menguatkan kedudukan bangsa dan negaranya.
Selain memperkukuhkan kedudukan ekonomi rumahtangga, setiap keluarga juga mestilah menguruskan soal-soal perbelanjaan dengan betul dan terancang. Perkara-perkara yang menjadi tegahan agama seperti pambaziran, berbelanja dengan berlebih-lebihan sehingga menimbulkan rasa riya’ atau membeli barang-barang yang tidak perlu dan seumpamanya hendaklah dielakkan. Islam menyuruh umatnya supaya hidup secara sederhana dan sentiasa berjimat cermat. Rezeki yang diperolihi itu sepertiga daripadanya hendaklah dibelanjakan untuk maksud nafkah, satu pertiga untuk maslahat umum seperti zakat, sedekah dan seumpamanya dan sepertiga lagi ialah untuk tabungan. Untuk menjamin hidup masa depan, budaya menabung perlu diamalkan dalam keluarga kata pepatah 'beringat sebelum kena, berjimat sebelum habis.'
7. Mewujudkan Keselesaan Dan Keindahan Dalam Rumahtangga
Rumah adalah tempat sesebuah keluarga menikmati hidup. Keselesaan dalam rumah amat mustahak kerana kebahagiaan keluarga itu bermula dari rumah. Setiap keluarga mestikah mewujudkan suasana yang harmoni dan selesa dalam rumahnya. Maksud keselesaan di sini ialah keselesaan yang memungkinkan setiap anggota keluarga mempunyai bilik tidur yang cukup, ruang rehat yang selesa, mempunyai sistem peredaran dan pertukaran udara di setiap ruang rumah dan lain-lain keperluan seperti ruang dapur, tandas dan sebagainya. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Saad r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Empat perkara yang membawa kebahagiaan iaitu Wanita yang baik (solehah), tempat tinggal yang luas, jiran yang baik dan kenderaan yang baik.'
(Riwayat al-Baihaqi)
Dalam Islam telah ditentukan bahawa kanak-kanak mempunyai tempat tidurnya sendiri. Oleh itu menjadi tanggungjawab ibu bapa melatih kanak-kanak tidur berasingan apabila mereka mencapai umur sepuluh tahun. Di waktu itu tempat tidur anak lelaki dan anak perempuan hendaklah diasingkan supaya tidak timbul sesuatu perkara yang tidak baik. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Ibnu Amr r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Suruhlah anak kamu menunaikan sembahyang apabila mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika mereka enggan sembahyang) apabila berumur sepuluh tahun, dan asingkan tempat tidur mereka.'
(Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
Selain daripada mempunyai ruang-ruang yang cukup, hiasan rumah adalah satu ciri penting untuk mewujudkan keluarga bahagia dan menjadikan rumah itu sebuah syurga. Ini kerana setiap insan di dunia ini inginkan sesuatu yang indah., cantik dan menarik. Hal ini adalah selaras dengan anjuran Islam kerana agama Islam sendiri amat mementingkan aspek keindahan dan kebersihan, sebagaimana sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: Daripada Ibnu Mas’ud r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Sesungguhnya Allah itu cantik Ia sangat sukakan yang indah dan cantik.'
(Riwayat Muslim dan At-Tirmizi)
Keindahan dan kebersihan yang dituntut oleh Islam adalah daripada semua aspek bukan sahaja tertumpu kepada aspek keindahan dan kebersihan alam sekitar, bandar dan pejabat-pejabat sahaja malah termasuklah keindahan dan kebersihan dalam rumahtangga dan sekitarnya. Amalan menjaga kebersihan adalah bermula daripada rumahtangga dan apabila dihayati dengan sepenuhnya akan wujudlah amalan penjagaan kebersihan di luar rumah.
Oleh yang demikian untuk mencapai kebahagiaan bagi sesebuah institusi keluarga dan seterusnya menjadikan rumahtangga itu sebagai syurga perlulah menghayati prinsip-prinsip yang telah ditentukan oleh Islam seperti berikut:
(a) Sentiasa Menjaga Keindahan Dan kebersihan Dalam dan Luar Rumah
Rumahtangga yang bahagia ialah rumahtangga yang sentiasa menjaga keindahan dan kebersihan di dalam dan di luar rumah agar ia kelihatan cantik dan menarik serta dapat memberi ketenteraman dan kenikmatan kepada penghuni rumah. Amalan menjaga keindahan dan kebersihan persekitaran rumah adalah satu amalan yang baik dan mulia. Sekiranya umat Islam tidak menjaga dan mengambil berat terhadap perkara tersebut, mereka akan hidup di dalam suasana yang tidak selesa, gundah gulana dan tidak tenteram. Sabda Nabi s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Saad r.a. katanya: 'Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Bersihkan halaman-halaman kamu, kerana sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halaman-halaman rumahnya.'
(Riwayat at-Tabarani)
Kebersihan kawasan dan halaman rumah adalah penting untuk mengelak daripada sebarang bentuk pencemaran seperti bau busuk, asap, sampah sarap, pokok-pokok liar, takungan air yang tidak terurus dan sebagainya. Halaman rumah sewajarnya dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan yang rendang, pokok-pokok bunga yang berwarna-warni serta harum baunya dan pohon-pohon hijau yang merimbun bagaikan taman-taman yang indah dan mempesona, rapi, teratur dan bersih. Keadaan ini harus dikekalkan supaya ahli keluarga sentiasa dapat menikmatinya. Persekitaran yang indah dan bersih juga perlu bagi pertumbuhan fizikal dan jiwa anak-anak. Persekitaran yang kotor bukan sahaja boleh menyebabkan pelbagai penyakit, malah mereka yang tidak mampu untuk mewujudkan hiasan luaran yang mungkin memerlukan belanja yang agak besar, memadailah dengan menjaga kebersihannya.
(b) Menghiasi Rumah Dengan Peralatan Dan Perhiasan Yang Diredhai Allah S.W.T.
Untuk menjadikan rumah itu sebagai syurga, ia perlulah dihiasi dengan perhiasan dan peralatan supaya dapat meyerikan lagi suasana dalaman sesebuah rumah. Sebaik-baik peralatan dan perhiasan ialah yang sederhana, kerana Islam menuntut umatnya supaya melakukan sesuatu perkara itu mengikut kemampuan masing-masing. Janganlah terlalu boros sehingga menyebabkan berlakunya pembaziran dan membebankan seseorang. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: Dari Ibnu Al-Harith r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, '... dan sebaik-baik perkara ialah secara sederhana.'
(Riwayat al-Baihaqi)
Peralatan dan perhiasan dalam rumah hendaklah disusun dengan kemas dan rapi supaya ia kelihatan cantik dan meyerikan. Ia akan dapat menawan hati setiap ahli keluarga tinggal dengan aman dan bahagia. Hiasilah ruangan dalaman rumah dengan barang-barang, ukiran atau gambar-gambar yang diredhai Allah S.W.T. Jauhilah daripada menghiasi rumah dengan benda-benda yang diharamkan oleh Allah S.W.T. Rumah-rumah yang dihiasi dengan ayat-ayat suci al-Quran al-Karim dan hiasan-hiasan lain yang bermanfaat yang diredhai oleh Allah S.W.T. akan mendapat berkat dan rahmat daripada Allah S.W.T.
8. Berkomunikasi Secara Baik
Hubungan antara individu dalam keluarga adalah penting untuk menjamin keharmonian di dalam rumahtangga. Aspek hubungan antara individu atau komunikasi ini amat dititik beratkan oleh Islam. Firman Allah S.W.T. dalam surah Ali Imran ayat 122:
Maksudnya: 'Mereka ditimpakan kehinaan (dari segala jurusan) di mana sahaja mereka berada, kecuali dengan adanya sebab dari Allah dan adanya sebab dari manusia...'
Di dalam ayat di atas jelas menunjukkan unsur perhubungan amatlah penting untuk menjamin manusia mencapai kebahagiaan. Ketika seimbang aspek ini akan membawa kepincangan.
Secara mudah komunikasi dapatlah difahamkan sebagai satu proses interaksi antara dua orang atau lebih. Hasilnya manusia akan memperolehi persefahaman, kesenangan, perubahan sikap, perhubungan yang baik dan tindakan yang harmoni.
Untuk mencapai tahap kesempurnaan di dalam sesebuah keluarga, setiap ahli keluarga hendaklah memahami diri dan peranan masing-masing. Peranan seorang bapa berbeza dengan peranan seorang anak. Bapa mempunyai tugas untuk memastikan keperluan fizikal dan spiritual keluarganya dipenuhi. Dalam konteks ini, setiap individu hendaklah mengetahui kelebihan dan kelemahan diri masing-masing. Saiyidina Umar r.a. pernah berkata:
'Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab. Kesedaran dan penerimaan seseorang tentang sifat dirinya menjadikan ia dapat melaksanakan fungsi perhubungan dengan lebih sempurna.'
Seorang bapa bertanggungjawab menjaga kesejahteraan ahlinya. Menurut sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Amr, Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: Daripada ibnu amr r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggungjawab kepada jagaannya.'
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dengan menerima hakikat ini menjadikan bapa berkenaan berusaha untuk melaksanakan tanggungjawab tersebut secara ikhlas. Implikasinya beliau akan menjalin hubungan dengan orang lain lebih bermakna. Berikutan dari itu persoalan apakah kesan perlakuan kita terhadap orang lain juga penting. Apakah akan berlaku kepada sesebuah keluarga jikalau seorang bapa tidak melaksanakan tugas tersebut. Begitulah juga dengan peranan ibu dan anak. Ia harus di laksanakan dengan berkesan kerana dengan terlaksana peranan dan tanggungjawab komunikasi yang baik, ia akan mengelakkan sesebuah keluarga daripada konflik.
Bagi mengekal dan meningkatkan perhubungan di dalam keluarga, aspek kemahiran komunikasi adalah penting. Kebanyakan orang tidak begitu peka dengan keperluan ini. Malah agak malang terdapat golongan yang merendahkan unsur komunikasi ini. Mungkin sikap ini ada hubungan dengan yang kurang tepat berkenaan hadith Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Amirul Mukminin Abi hafs Umar bin Al-Khattab katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Setiap perkara itu adalah berdasarkan niat.'
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Daripada fahaman hadith di atas apa yang penting ialah niat. Jikalau niat seseorang mahu menyakiti seseorang sudah cukup baginya tidak menegur sapa atau tersenyum kepada seseorang. Maka terjadilah di dalam sesebuah keluarga kurang bertegur sapa dan gurau senda. Seorang bapa seharusnya pandai mengambil hati isteri dan anak-anak serta memilih cara yang baik untuk membuat teguran. Begitu juga dengan anak sepatutnya mempunyai cara yang paling baik untuk berkomunikasi dengan ibu dan bapa mereka.
Untuk mencapai keharmonian di dalam perhubungan keluarga adalah satu perkara yang agak sukar. Begitu juga usaha untuk mengekalkan tahap perhubungan yang bermakna antara ahli keluarga. Kadang-kadang keharmonian perhubungan dapat dinikmati hanya untuk suatu tempoh masa sahaja, selepas itu perhubungan menjadi masalah yang serius kepada ahli keluarga. Dalam hubungan ini motivasi adalah perlu. Motivasi ialah suatu daya untuk meningkatkan pencapaian di dalam sesuatu aspek. Jikalau di dalam soal perhubungan kekeluargaan apakah jambatan yang menjadikan ahli keluarga berupaya mengekalkan keharmonian. Inilah soalan yang perlu dicari jawapannya oleh setiap ahli keluarga.
Suatu perkara yang tidak kurang penting di dalam rumah ialah kebolehan ahli-ahli keluarga berkenaan menyelesaikan konflik di antara ahli-ahli. Kadang kala berlaku seorang bapa tidak mengambil berat masalah yang dihadapi oleh anak-anak. Ini menjadikan anak-anak beranggapan bapanya tidak mengambil berat tentang diri mereka. Sikap bapa yang sedemikian menimbulkan perasaan tidak senang hati di kalangan ahli rumah. Anak akan menjauhkan diri dari keluarga. Di dalam hal tertentu bapa akan bertindak terhadap kesalahan anak-anak. Jikalau ini berlaku konflik akan timbul dan berkembang dalam keluarga berkenaan.
Dalam keadaan demikian bapa sebagai ketua keluarga hendaklah mengambil inisiatif mendekati anak dan cuba memahami masalah yang dihadapi oleh mereka. Pendekatan yang harus digunakan ialah pendekatan ‘hikmah’ iaitu pendekatan yang berasaskan keadaan yang diharuskan oleh syarak. Di dalam kebanyakan hal bolehlah dikatakan pendekatan tanpa paksaan dan kekerasan, tetapi ini tidak bererti kedua pendekatan ini bukan dari method hikmah.
9. Mewujudkan Pergaulan Suami isteri Yang Baik
Kasih sayang dan toleransi dalam keluarga adalah penting. Kedua-dua elemen ini perlu diwujud dan disuburkan dalam sesebuah keluarga bagi melahirkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Pembentukan keluarga bermula dengan ikatan perkahwinan antara suami dan isteri. Suami dan isteri perlulah meletakkan aspek kasih sayang dan belas kasihan, sebagai asas dalam kehidupan berumahtangga. Tanpa kasih sayang dan belas kasihan, sesuatu ikatan perkahwinan itu tidak menuju ke istana bahagia seperti yang diharapkan, malah ia akan mengubah haluan kepada kehancuran. Firman Allah di dalam al-Quran, surah ar-Rum ayat 21, iaitu:
Maksudnya: 'Dan antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-NYA dan rahmat-NYA bahawa ia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikannya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir.'
Kasih sayang dan belas kasihan atau 'mawaddah wa rahmah' seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas memberi maksud bahawa perhubungan ibu bapa sebagai suami isteri hendaklah berdasarkan kepada lunas-lunas keredhaan Allah S.W.T., sentiasa kasih mengasihi, bertolak ansur, memperbanyakkan sabar, tabah di dalam menghadapi gelora rumahtangga dan menjadikan sifat suka bermaaf-maafan sebagai amalan yang berterusan. Sehubungan ini juga Allah telah memberikan panduan sepertimana yang termaktub dalam al-Quran surah an-Nisa’ ayat 19:
Maksudnya: '... Dan bergaullah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik. Kemudian, jika kamu (merasai) benci kepada mereka (disebabkan tingkah lakunya, janganlah pula kamu terburu-buru menceraikannya), kerana boleh jadi kamu bencikan sesuatu, sedangkan Allah hendak menjadikan pada apa yang kamu benci itu kebaikan yang banyak (untuk kamu).'
Pergaulan yang baik atau 'mu’asyarah bil-ma’ruf' seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas bererti pergaulan dan hidup bersama secara baik dan diredhai Allah, jauh daripada kemungkaran, kemaksiatan, penganiayaan, kezaliman dan seumpamanya.
10. Mewujudkan Hubungan Baik Ibu Bapa Dengan Anak
Apabila perhubungan antara ibu dan bapa dapat di bentuk dalam keadaan 'ma’ruf' (baik) maka benih kasih sayang pasti akan bertunas dan bercambah ke dalam ahli keluarganya. Anak-anak yang melihat canaian kasih sayang antara ibu dan bapa mereka akan turut sama mengamali dan menikmati kemanisan serta kelazatan suasana itu. Justeru itu menjadikan ibu bapa mereka sebagai model dalam jiwa dan kehidupan mereka sendiri.
Kasih sayang dan belas kasihan ibu bapa terhadap anak-anak sebenarnya bermula dalam kandungan lagi. Bagi ibu-ibu yang sedang mengandung, mereka digalakkan memakan makanan yang baik dan berzat, mengamalkan tingkah laku yang mulia, selalu membaca al-Quran, sentiasa berdoa kepada Allah memohon kebaikan kepada anaknya dan lain-lain amalan kebaikan seperti yang diperintahkan oleh Islam. Begitu juga bagi bapa, mereka hendaklah sentiasa mendampingi isteri mereka, sama-sama berkongsi kesukaran dan penderitaan yang dialami oleh isteri, tidak berlaku kasar dan benci kepada isteri dan sentiasa berdoa kepada Allah memohon keselamatan kepada isteri dan bayi yang bakal dilahirkan. Begitulah seterusnya apabila anak itu lahir ke dunia, kasih sayang perlu diberikan supaya pembentukan syakhsiah mereka menjurus ke arah manusia yang sempurna, berakhlak mulia seterusnya dapat mengharungi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
Tidak dinafikan bahawa Rasulullah s.a.w. adalah contoh yang paling ideal dan tepat untuk diikuti. Ibu bapa seharusnya menyedari hakikat ini dan berazam mengamalkan segala kebaikan untuk keluarga mereka. Dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi daripada Aisyah r.a., sabda baginda:
Maksudnya: 'Sebaik-baik kamu ialah orang yang baik kepada ahli keluarganya dan akulah sebaik-baik di antara kamu kepada ahli keluargaku.'
(Riwayat at-Tirmizi)
Dalam sebuah hadith lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan Al-Hakim daripada Aisyah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Sesungguhnya antara sifat-sifat yang boleh menjadikan seseorang itu sempurna imannya ialah yang berakhlak mulia dan berlemah lembut dengan ahli keluarganya.'
(Riwayat at-Tirmizi dan al-Hakim)
11. Mewujudkan Hubungan Baik Anak Dengan Ibu Bapa
Anak wajib berbuat baik terhadap ibu bapanya. Sekiranya tidak, ia telah melakukan satu dosa. Di dalam al-Quran tidak terdapat perintah khusus agar seseorang bapa mengasihi anaknya, tetapi sebaliknya yang lebih banyak ialah perintah kepada anak supaya mengasihi ibu bapa. Sebab yang demikian ialah, walaupun tidak diperintah untuk mengasihi anak, secara otomatis ibu bapa tentu mengasihi anaknya. Seorang bapa, apatah lagi ibu, amat sayang kepada anaknya sehingga ia sanggup berkorban apa saja demi keselamatan dan kesejahteraan anaknya. Ia sanggup bersusah payah bekerja siang dan malam, menggerakkan segala usaha dan tenaga, dimana semuanya itu adalah untuk kebahagiaan anaknya. Maka wajarlah anak berbuat baik terhadap ibu bapa.
Mungkin seorang anak akan bertanya, bagaimana ia harus berbuat baik terhadap ibu bapanya. Dalam hal ini Imam Ghazali telah menggariskan dua belas panduan, iaitu:
Mendengar kata mereka.
Berdiri apabila mereka berdiri kerana menghormati.
Taat perintah mereka selagi mereka tidak menyuruh membuat perkara-perkara yang dilarang oleh Allah S.W.T.
Tidak melintas di hadapan mereka, tetapi hendaklah berjalan di sisi atau di belakang kecuali atas perintah mereka untuk sesuatu maksud.
Tidak meninggikan suara melebihi suara mereka.
Menjawab panggilan mereka dengan suara yang lembut.
Sentiasa memelihara dan merawat apabila mereka sakit. Jangan sampai melakukan sesuatu yang melanggar keredhaan mereka baik dalam sikap, perkataan ataupun perbuatan.
Merendah diri dengan sopan dan lemah lembut serta sentiasa berusaha meringankan beban mereka.
Tidak melakukan sesuatu kebaikan kepada mereka atas dasar membalas jasa melainkan atas dasar kewajipan demi keredhaan mereka dan keredhaan Allah S.W.T.
Tidak memandang mereka dengan menjeling, mengerling, marah atau masam muka.
Tidak bermuram hati apabila menghadapi wajah mereka.
Tidak keluar rumah sama ada jauh atau dekat kecuali dengan izin mereka.
12. Memupuk Kasih Sayang Dan Toleransi Dalam Keluarga
Banyak cara boleh dilakukan bagi mewujudkan perasaan kasih sayang dan semangat toleransi di dalam keluarga. Cara utama ialah melalui pengetahuan dan didikan agama yang cukup. Selain melalui pendidikan secara formal yang diterima di sekolah-sekolah, setiap ahli keluarga perlu dibentuk dan ditanamkan dengan perasaan kasih sayang dan semangat toleransi melalui tunjuk ajar, contoh teladan, nasihat dan kaunseling serta kawalan yang berkesan. Mereka bukan sahaja disuruh supaya sayang menyayangi sesama ahli keluarga, malah juga kepada binatang peliharaan dan harta benda di rumah. Mereka hendaklah selalu diberi ingat bahawa Allah sangat suka kepada orang-orang yang mempunyai perasaan kasih sayang, suka bekerjasama dan tolong-menolong sesama sendiri.
Sebaliknya Allah benci kepada orang-orang yang sering bergaduh, bermusuh-musuhan, tidak mahu bekerjasama dan benci membenci sesama sendiri. Sekiranya berlaku perkara-perkara yang boleh merosakkan hubungan kasih sayang di dalam sesebuah keluarga, setiap ahlinya terutamanya ibu bapa hendaklah segera mencari jalan mengatasinya.
Jelaslah bahawa kasih sayang dan semangat toleransi adalah sangat penting dalam sesebuah keluarga. Sekiranya tiap-tiap rumpun keluarga itu tidak mewujudkan satu ikatan yang baik dan harmoni, maka kedudukan sesebuah masyarakat itu akan pincang, justeru bangsa dan negara menjadi lemah. Apabila situasi ini berlaku kemajuan tidak akan dapat dicapai dan masyarakat penyayang tidak dapat diwujudkan. Begitulah pentingnya peranan yang perlu dimainkan oleh setiap ahli keluarga bagi mencapai hasrat yang dicita-citakan.
KESIMPULAN
Rumahku Syurgaku adalah satu wawasan Islam yang berteraskan ajaran yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Rumahtangga sebagai satu komponen utama dalam pembentukan sesebuah masyarakat mesti disempurnakan melalui piawai yang sesuai dengan ajaran Islam dan keperluan rohani dan jasmani manusia. Untuk mencapai taraf syurga bagi sesebuah rumahtangga, maka semua rukun atau piawai yang disebutkan perlulah dipenuhi dengan sebaik mungkin. Ia tidak memerlukan perancangan yang rapi dan sikap positif untuk melaksanakannya. Setiap yang gagal memenuhi rukun-rukun dan piawai-piawai tersebut, maka rumahtangganya belumlah dapat mencapai tahap kebahagiaan sebagaimana yang dituntut oleh Islam.
KONSEP DAN FALSAFAH 'RUMAHKU SYURGAKU'
Konsep dan falsafah bagi mencapai matlamat rancangan ‘RUMAHKU SYURGAKU’ ini adalah berasaskan kepada syariat Islam yang merangkumi segenap aspek kehidupan. Diantara aspek-aspek yang ditekankan dalam rancangan ini ialah membina kebahagiaan, meningkatkan daya intelek, mewujudkan suasana penghayatan Islam dan kedamaian dalam keluarga, penjagaan kesihatan, mewujudkan keselesaan dan keindahan dalam rumah, mengamalkan perhubungan yang baik dan berkesan serta membina sifat penyayang dan toleransi di kalangan anggota keluarga.
Huraian Konsep Dan Falsafah ‘Rumahku Syurgaku’
1. Membina Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah sesuatu yang abstrak yang lahir dari hati seseorang. Tanda kebahagiaan antaranya dapat dilihat apabila seseorang itu berasa senang, suka dan gembira melalui raut wajah dan tingkah lakunya. Nilai kebahagiaan itu tidak mungkin dapat diagihkan kepada orang lain. Hadith Rasulullah s.a.w. sangat tepat membayangkan betapa bahagia itu perlu dalam hidup setiap insan. Diriwayatkan daripada An-Nu’man bin Basyir, Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Bahawasanya di dalam tubuh badan manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, baik pulalah seluruh badan, tetapi apabila ia rosak, rosak pulalah seluruh badan, Ingatlah ia adalah hati'.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadith ini jelas menerangkan bahawa kebaikan diri manusia itu terletak pada hatinya. Kalau ia baik, maka seluruh diri manusia itu akan menjadi baik. Sekiranya ia rosak yakni mempunyai penyakit-penyakit hati, maka manusia itu tidak akan dapat mengecapi nikmat kebaikan dan kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang amat penting kepada setiap insan. Ia menjadi suatu matlamat hidup seseorang sama ada di dunia mahupun di akhirat. Sebab itu setiap orang sanggup bersusah payah dan bermati-matian untuk mencari kebahagiaan. Kegagalan mendapat kebahagiaan membawa kepada kekecewaan. Kerana itu, ramai orang menjadi gila kerana hidupnya tidak bahagia. Ada pula yang sanggup mati kerana gagal menemui kebahagiaan.
Semua orang perlukan kebahagiaan hidup sama ada untuk sementara atau selamanya. Penentuan kebahagiaan berkait rapat dengan sikap, kedudukan dan fahaman seseorang terhadap kebahagiaan. Ada orang beranggapan bahawa kebahagiaan itu boleh dicapai dengan adanya harta dan wang ringgit yang banyak. Ada pula beranggapan kebahagiaan itu ialah mengenepikan hal-hal keduniaan, kemajuan dan kemewahan. Walau bagaimanapun, kebahagiaan seperti ini adalah berkisar kepada faktor kebendaan semata-mata. Apakah kebahagiaan yang sebenar? Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan sebenar ialah kaya hati.'
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Maksud kaya hati seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. itu ialah apabila hati menjadi tenteram, tenang dan merasa cukup terhadap nikmat yang dimiliki. Dari hadith ini nyatalah bahawa harta benda bukan ukuran kebahagiaan seseorang, tetapi kebahagiaan itu sebenarnya terletak di hati. Dalam hal ini, hati perlu dijaga dan beri haknya, supaya lahir sifat-sifat mulia dan terpuji seperti amanah, bersyukur, sangka baik terhadap orang lain dan sebagainya. Jelaslah bahawa dalam sesebuah rumahtangga kebahagiaan hati adalah sesuatu yang amat perlu.
Antara cara untuk mencapai kebahagiaan ialah seperti berikut:
(a) Niat Yang Baik
Salah satu cara mendapatkan kebahagiaan hidup ialah dengan membetulkan niat dalam merancang sesuatu tindakan. Dalam hubungan ini seseorang itu hendaklah melatih hatinya supaya sentiasa berniat baik dan inginkan sesuatu yang baik. Latihan sebegini dapat menjadikan seseorang itu bersifat positif dan optimis dalam melakukan sesuatu. Wajahnya akan kelihatan sentiasa riang dan tenang.
(b) Perbuatan Yang Baik
Satu lagi proses mendapat kebahagiaan hati ialah dengan melakukan perbuatan yang baik atau disebut sebagai amal saleh. Amal ini mestilah disertakan dengan niat yang baik. Dalam melakukan amal saleh, umat Islam disuruh sentiasa melakukan kerja-kerja baik dan meninggalkan kerja-kerja yang baik. Antara amal-amal saleh ialah tolong menolong, amanah, sopan santun, benci dan menjauhi maksiat, bercakap benar, penyayang dan lain-lain.
Kemuncak kebahagiaan dalam hidup seseorang ialah apabila ia telah berjaya melakukan kebaikan atau amal saleh serta menghindar segala bentuk larangan yang ditentukan oleh Islam. Ciri utama yang menjadi ukuran masyarakat bahagia ialah mereka patuh kepada suruhan Allah secara terus menerus dengan penuh khusyuk dan khudu’. Ini menepati maksud firman Allah dalam surah al-Mukminun ayat 1-11.
Maksudnya: 'Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia; dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat harta itu); dan mereka yang menjaga kehormatannya, kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela, kemudian sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya, dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya, mereka itulah orang-orang yang berhak mewarisi; yang akan mewarisi syurga Firdaus; mereka kekal di dalamnya'.
(al-Mukminun: 1-11)
2. Membina Intelek dan Meningkatkan Ilmu Pengetahuan
Hidup dalam erti kata seperti yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. di dalam al-Quran, ayat 77 surah al-Qasas, ialah untuk tidak melupakan nasib di dunia. Untuk tidak mengabaikan urusan memperjuangkan nasib di dunia ini setiap umat Islam mestilah mempertingkatkan ilmu pengetahuan dan daya intelek masing-masing. Dengan ketinggian ilmu pengetahuan dan daya intelek itulah mereka dapat menjangkau pelbagai keperluan, melepasi segala halangan dan rintangan dan mencapai ketinggian darjat selayak dengan cita-cita Islam sebagai agama yang tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripadanya. Ketinggian Islam tidak memberi erti kalau kehidupan umatnya tanpa kualiti.
Ilmu pengetahuan mempunyai tiga kepentingan utama. Pertama; Membentuk peribadi muslim supaya dapat menjalani suruhan agama dengan sewajarnya. Kedua; Membentuk sebuah umat yang kuat. Ketiga: Mempertahankan kesucian dan ketinggian agama Islam. Sekiranya umat Islam tidak mempunyai ilmu pengetahuan, kesucian dan ketinggian agama Islam akan terjejas.
Ilmu pengetahuan adalah satu perkara yang sangat luas bidangnya dan sememangnya tidak mampu dikuasai semuanya oleh manusia. Di dalam al-Quran Allah S.W.T. telah mengumpamakan ilmu itu sebagai lautan luas, yang mungkin mampu diperolihi oleh manusia hanyalah setitis daripadanya sahaja. Walaupun begitu peri pentingnya ilmu pengetahuan itu tidak boleh dinafikan, sehingga pencariannya dikategorikan sebagai satu tuntutan yang fardhu. Rasulullah s.a.w. menyebutkan melalui sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Maiah dari Anas:
Maksudnya: Daripada Anas r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Menurut ilmu itu wajib ke atas tiap-tiap orang Islam.'
(Riwayat Ibnu Majah)
Begitulah pentingnya ilmu pengetahuan yang sangat-sangat dititik beratkan oleh Islam supaya setiap orang mencarinya, tidak kira dalam apa bidang pun selagi ia mendatangkan kebaikan dan diredhai oleh Allah S.W.T.
Dalam konteks membina ‘syurga’ dalam rumahtangga, kesedaran terhadap peri pentingnya ilmu pengetahuan sangat mustahak. Ibu bapa selaku ketua keluarga mempunyai peranan yang besar dalam mencorakkan anak-anaknya. Bermula di peringkat bayi, malah sejak dari dalam kandungan lagi, sehinggalah mereka remaja dan seterusnya dewasa, pendidikan perlu diberikan mengikut tahap dan peringkat masing-masing. Kemudahan-kemudahan pelajaran yang sedia ada seperti tadika, sekolah, maktab dan pusat pengajian tinggi seharusnya dimanfaatkan sepenuhnya.
Ibu bapa selaku pengemudi keluarga sewajibnya mempunyai perancangan dan usaha yang lebih bagi mempertingkatkan pengetahuan dan daya intelek di kalangan ahlinya. Di samping itu setiap ahli keluarga pula semestinya mempunyai kesedaran untuk mempertingkatkan pengetahuan dan daya pemikiran masing-masing sesuai dengan kemampuan yang ada tanpa rasa malas dan jemu. Pandangan berat Islam yang telah meletakkan pencarian ilmu itu sebagai satu kewajipan sepatutnya disedari oleh orang kerana maju atau membangunnya sesebuah keluarga itu adalah kerana ilmu pengetahuan.
Dari segi piawai ilmu bagi sesebuah keluarga, setiap ahli keluarga bermula dengan ibu dan bapa, mereka mestilah mengetahui ilmu-ilmu fardhu ain, iaitu berkait dengan akidah, syariah dan akhlak. Dari segi akidah, seseorang itu wajib mengetahui asas-asas kepercayaan mengenai ketuhanan, Allah Yang Maha Esa dan perkara-perkara di sekitar soal keimanan yang disimpulkan di dalam rukun iman. Dari segi ilmu syariah, mereka wajib mengetahui adab-adab serta peraturan-peraturan amal ibadat. Manakala dalam bidang akhlak pula, mereka wajib mengetahui dan mengamalkan akhlak Islam sebagaimana yang digariskan di dalam al-Quran dan as-sunnah, seperti taat kepada ibu bapa, tolong menolong sesama ahli keluarga dan masyarakat, menghormati jiran tetangga dan lain-lain. Perkara-perkara ini merupakan asas yang wajib dipelajari dan dihayati oleh setiap anggota keluarga.
Di samping fardhu ain, setiap anggota keluarga juga perlu mempelajari fardhu kifayah iaitu ilmu-ilmu yang lebih bersifat kepentingan umum, yang ada kaitan langsung dengan keperluan hidup manusia seperti penyediaan bahan makanan dan barang-barang gunaan, bidang sains dan teknologi, kedoktoran, kejuruteraan, perindustrian, pembinaan tempat kediaman, penyediaan infrastruktur dan lain-lain. Pelaksanaan sebahagian daripada tuntutan agama juga terkandung sebagai fardhu kifayah, umpamanya pengurusan jenazah, sembahyang berjemaah di masjid dan lain-lain. Ilmu-ilmu yang terkandung dalam bidang fardhu kifayah ini tidak diwajibkan kepada setiap individu tetapi memadai sekiranya ada sebilangan atau seorang sahaja di dalam kelompoknya yang mempelajari atau mengetahui ilmu tersebut. Apabila seorang sahaja mengetahuinya, pada masa itu gugurlah kefardhuannya ke atas orang lain, tetapi sekiranya tidak ada seorang pun yang mempelajari sesuatu ilmu itu, maka semua orang adalah berdosa.
Hal-hal seharian di dalam keluarga seperti percakapan, bahasa yang digunakan, tingkahlaku yang ditunjukkan dan pergaulan yang diwujudkan semestinya dalam piawai ilmu dan intelek yang tinggi yang dibentuk dalam suasana harmoni. Nilai-nilai intelek yang rendah seperti melebih-lebihkan perbicaraan tentang hiburan, cakap-cakap kosong, membanyakkan kegiatan yang tidak berfaedah dan lain-lain urusan yang membazir serta tidak bermanfaat hendaklah dihindarkan. Kesedaran hendaklah ditanamkan di dalam keluarga bahawa orang-orang yang berilmu serta berakhlak mulia tidak akan melakukan perkara-perkara seperti itu. Akal yang dikurniakan oleh Allah kepada manusia menunjukkan bahawa manusia adalah makhluk yang mulia dan kurniaan itu mestilah dipelihara.
Setiap ahli keluarga mestilah menyedari bahawa orang-orang yang berilmu pengetahuan sememangnya tidak sama dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan. Orang-orang yang berilmu selain mendapat kemuliaan daripada Allah S.W.T. mereka adalah orang-orang yang menjadi harapan kepada sesuatu keluarga, kelompok masyarakat dan seterusnya negara. Merekalah menjadi pembimbing, pentadbir, pemimpin, pelindung dan tempat rujukan orang awam. Kalaulah sesuatu keluarga atau masyarakat atau bangsa itu tidak mempunyai orang-orang yang berilmu maka kedudukan mereka akan menjadi pincang dan tidak maju.
Jelaslah bahawa ilmu pengetahuan adalah satu perkara yang sangat penting dalam membentuk kehidupan yang bahagia dalam rumahtangga. Maka sebab itulah ia menjadi satu perintah yang wajib bagi setiap orang mencarinya. Saiyyidina Ali r.a. pernah berpesan:
'Ketahuilah bahawa ilmu pengetahuan adalah lebih baik daripada harta benda, sebab ilmu pengetahuan dapat menjaga dirimu, sedangkan harta benda engkaulah yang harus menjaganya. Ilmu pengetahuan adalah pihak yang berkuasa, sedangkan harta benda adalah pihak yang dikuasai. Harta benda akan berkurangan jika dibelanjakan, sedangkan ilmu pengetahuan akan bertambah-tambah jika diberikan kepada orang lain.'
3. Mewujudkan Suasana Penghayatan Islam Dan Kedamaian Dalam Keluarga
Islam telah meletakkan asas yang sempurna supaya rumah menjadi suatu tempat yang selesa kerana kebahagiaan itu bermula dari rumah. Untuk menjadikan rumah itu sebagai syurga maka aktiviti-aktiviti berikut adalah menjadi asas utama di dalam pembentukan rumahtangga.
(a) Menghidupkan Sembahyang Berjemaah
Dalam Islam, amalan yang paling pokok ialah sembahyang. Sembahyang boleh menjadi ukuran kepada seseorang sama ada ia seorang Islam yang sempurna atau pun tidak. Orang yang mengaku dirinya beragama Islam, tidak sempurna Islamnya jika ia tidak melakukan ibadat sembahyang. Sembahyang berjemaah di masjid atau surau dituntut oleh Islam. Kelebihannya sangat besar dan pahalanya 27 kali ganda daripada sembahyang berseorangan. Sembahyang jemaah dapat mewujudkan hubungan silaturrahim, melahirkan perhubungan kasih sayang dan semangat kekitaan dan dapat menghindarkan perasaan mementingkan diri sendiri. Oleh itu bagi orang yang tidak berhampiran atau berdekatan dengan masjid atau surau adalah disunatkan ke masjid atau surau bersama keluarga bagi menunaikan sembahyang jemaah.
Bagi orang yang tinggal jauh dari masjid, mereka digalakkan mengerjakan sembahyang jemaah di rumah bersama keluarga. Bapa sebagai ketua keluarga adalah bertindak sebagai imam, manakala anak-anak dan isteri sebagai makmum. Waktu yang amat sesuai diadakan sembahyang jemaah ialah waktu Maghrib, Isyak dan Subuh, kerana waktu-waktu itu lazimnya ibu bapa dan anak-anak berada di rumah. Jika terdapat tetamu yang mengunjungi rumah pada waktu tersebut, eloklah mereka diajak bersembahyang jemaah bersama-sama .
Bagi membentuk keluarga yang bahagia dan menjadikan rumah sebagai syurga, maka sembahyang berjemaah sekeluarga mesti diadakan secara terus menerus, sekurang-kurangnya sekali seminggu bagi keluarga yang sibuk, atau tiap-tiap hari bagi keluarga yang mempunyai kemampuan. Amalan ini mempunyai faedah yang besar serta dapat mendidik anak-anak menghayati Islam dengan sebenar, serta dapat membentuk akhlak yang baik. Ibu bapa sebagai pemegang amanah daripada Allah S.W.T. untuk mendidik dan mencorakkan anak-anak mereka ke jalan yang benar, adalah berkewajipan untuk mendidik anak-anak mereka tentang pelaksanaan tanggungjawab ibadat sejak mereka masih kecil lagi.
(b) Membaca al-Quran Bersama Di rumah
Membaca al-Quran mempunyai pahala yang besar, amalan ini boleh mengukuhkan keimanan seseorang dan mendekatkan diri kepada Allah serta memberi ketenangan kepada hati. Firman Allah di dalam surah ar-Ra’d ayat 28:
Maksudnya: '(iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan ‘zikrullah’ itu, tenang tenteramlah hati manusia.'
Menurut Tafsir Pimpinan ar-Rahman terbitan JAKIM, ‘zikrullah’ pada ayat ini maksudnya al-Quran al-Karim yang menjadi sebesar-besar mukjizat yang tidak ada tolok bandingnya. Nyatalah bahawa membaca al-Quran itu menjadi ibadat yang sangat berfaedah bagi seseorang muslim yang patut dilakukan pada setiap hari sama ada di waktu pagi, petang ataupun malam.
Keluarga bahagia ialah keluarga yang dapat membaca dan menghayati isi al-Quran dengan baik. Sistem pendidikan negara kita membolehkan semua rakyat mampu membaca al-Quran. Oleh kerana membaca al-Quran adalah satu ibadat yang amat penting dan utama dalam kehidupan orang Islam, maka perlulah diikhtiarkan cara yang berkesan supaya amalan ini dapat dihayati dalam kehidupan harian.
Dalam program secara bersama dalam keluarga hendaklah menjadi amalan harian atau sekurang-kurangnya satu kali seminggu. Al-Quran mengandungi 604 halaman, jika dalam masa seminggu dibaca dua halaman, maka dalam tempoh satu tahun hampir separuh dari al-Quran dapat dihabiskan. Amalan ini hendaklah diteruskan sepanjang hayat.
(c) Membaca Buku Agama Di Rumah Beramai-ramai
Satu lagi amalan dalam rumahtangga yang bahagia ialah mengumpulkan keluarga sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu untuk membaca buku agama. Buku agama ini boleh dipilih dari buku-buku yang terkenal dalam berbagai bidang seperti sejarah Islam, sejarah ulama’ dan pemikiran Islam, asas-asas fardhu ain, ilmu tauhid, akhlak dan lain-lain.
Dengan cara membaca buku agama, secara tidak langsung boleh menambah dan meluaskan ilmu pengetahuan ahli keluarga. Melalui amalan membaca buku di rumah ini juga dapat melatih ahli keluarga khususnya anak-anak yang dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Dalam hubungan ini kaedah yang boleh digunakan ialah membaca bergilir-gilir di antara ibu, bapa dan anak.
(d) Makan Bersama Sekeluarga
Keluarga bahagia ialah keluarga yang dapat mewujudkan tradisi makan bersama-sama sekurang-kurangnya sekali seminggu iaitu pada cuti hujung minggu. Malam adalah waktu yang agak sesuai untuk menghadapi makanan secara bersama keluarga kerana semua ahli keluarga di waktu itu telah selesai menunaikan tanggungjawab masing-masing di dalam bidang pekerjaan dan pelajaran. Makan bersama keluarga boleh mengeratkan lagi rasa kasih sayang antara anggota keluarga.
Ibu bapa harus memainkan peranan bagi mewujudkan suasana yang harmoni ketika makan. Inilah di antara kesempatan terbaik untuk ibu bapa berbicara dengan anak-anak dan dapat memberi nasihat, menanam pendidikan dan memupuk kasih sayang dalam keluarga.
Sebagai contoh, semasa menghadapi makanan dinasihatkan membaca ‘bismillah’ bagi mendapatkan keberkatan terhadap makanan dan minuman tersebut dan sebagai tanda terima kasih terhadap Allah yang telah memberikan rezeki. Semasa hendak menjamah makanan yang dihidangkan seorang ahli keluarga, bapa atau ibu hendaklah membaca doa ringkas iaitu:
Maksudnya: Daripada Abdullah bin Amr, daripada Nabi s.a.w. bahawasanya baginda membaca doa apabila dihidangkan makanan kepada mereka dengan doa yang bermaksud: 'Ya Allah berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami daripada azab api neraka, dengan nama Allah'.
(Riwayat Abu Bakar ibn as-Sunni)
Semasa makan bersama keluarga, anak-anak hendaklah diperingatkan supaya tidak memulakan makan atau minum kecuali setelah dimulakan oleh ibu bapa atau orang yang lebih tua. Begitulah juga adab di dalam satu-satu majlis makan yang lain. Ini adalah bertepatan dengan hadith Nabi s.a.w. yang menyebut:
Maksudnya: Daripada Huzaifah r.a. katanya: 'Apabila kami bersama-sama Rasulullah s.a.w. menghadapi makanan, kami tidak menghulurkan tangan sehingga Baginda memulakan menjamah makanan tersebut terlebih dahulu.'
(Riwayat Muslim)
Ibu bapa juga adalah bertanggungjawab untuk sentiasa mendisiplinkan anak-anak sewaktu makan dengan tidak banyak bercakap tentang perkara-perkara yang tidak berfaedah, melarang makan di tempat-tempat yang tidak sesuai seperti di ruang tamu, di hadapan TV dan di dalam bilik tidur. Memulakan makanan dari sebelah kanan, makan dengan tidak gelojoh dan lain-lain.
(e) Memberi Salam Semasa Masuk Atau Meninggalkan Rumah
Keluarga bahagia pulang ke rumah dengan keadaan gembira. Apabila samapai ke pintu rumah mereka akan menyampaikan salam dan anggota di dalamnya menjawab salam tersebut dengan jelas. Demikianlah juga apabila mereka meninggalkan rumah untuk pergi bekerja atau ke sekolah. Amalan ini wajar dihayati sebagai amalan harian kerana ia boleh membuatkan hubungan di kalangan semua anggota keluarga terus mesra dan kukuh.
Ucapan salam ialah doa seseorang kepada seseorang yang lain supaya sentiasa berada di dalam suasana kebaikan dan keselamatan dan juga merupakan penghubung kasih sayang di antara sesama manusia. Oleh itu ibu bapa wajar mempraktikkan salam ini supaya dapat diikuti anak-anak mereka.
(f) Minta Keizinan Masuk Bilik
Setiap ibu bapa perlulah melatih anak-anak meminta izin atau kebenaran sebelum mereka masuk ke bilik tidur ibu bapa. Dalam hal ini Allah S.W.T. telah memberi panduan melalui firman-Nya dalam surah an-Nur ayat 58:
Maksudnya: 'Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba-hamba kamu dan orang-orang yang belum baligh dari kalangan kamu, meminta izin kepada kamu (sebelum masuk ke tempat kamu) dalam tiga masa, (iaitu) sebelum sembahyang Subuh dan ketika kamu membuka pakaian kerana kepanasan tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’; itulah tiga masa bagi kamu (yang biasanya terdedah aurat kamu padanya). Kemudian mereka tidaklah bersalah kemudian daripada tiga masa yang tersebut, (kerana mereka orang-orang yang selalu keluar masuk kepada kamu dan kamu masing-masing sentiasa berhubung rapat antara satu dengan yang lain. Demikianlah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-NYA (yang menjelaskan hukum-hukum-NYA); dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana.'
(An-Nur : 58)
4. Mengekalkan Kedamaian Dan Kerukunan Rumahtangga
Rumahtangga bahagia ialah rumahtangga yang wujud unsur-unsur kedamaian dan keselesaan. Suami sebagai ketua keluarga adalah berkewajipan memimpin isteri dan anak-anaknya melalui kehidupan yang diredhai Allah dengan memberi didikan agama dan menyemadikan niali-nilai murni kepada mereka.
Antara unsur-unsur kedamaian di dalam rumahtangga ialah:
(a) Tolong Menolong dan Bantu Membantu Dalam Keluarga
Setiap ahli keluarga berkewajipan untuk mendisiplinkan diri bagi melaksanakan tugas masing-masing. Umpamanya suami atau bapa berkewajipan mencari nafkah atau melakukan kerja-kerja yang memerlukan gerakan fizikal yang lebih, manakala isteri atau ibu melakukan kerja- kerja yang agak ringan dan sesuai dengan kemahiran wanita. Begitu juga dengan anak-anak diberikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan peringkat umur dan kesanggupan fizikal mereka. Satu program gotong royong di antara ahli keluarga seperti membersihkan rumah patut diadakan sekurang-kurangnya seminggu sekali. Ia boleh mewujudkan perasaan kasih sayang dan rasa tanggungjawab di kalangan ahli keluarga. Melalui program ini rumah sentiasa bersih dan kesihatan dapat dijaga. Allah mengasihi orang-orang yang mengamalkan kebersihan.
(b) Hubungan Kejiranan Yang Baik
Kesejahteraan dalam keluarga bukan hanya diperolihi hasil dari hubungan antara anggota dalam keluarga sahaja malahan hubungan dengan jiran sekeliling juga patut diberi perhatian. Perhubungan kejiranan yang intim akan wujud jikalau semua ahli keluarga berkesempatan untuk berbual-bual mesra, bertukar-tukar fikiran, bergurau senda dan beramah mesra antara satu sama lain. Oleh itu setiap keluarga wajar meluangkan satu masa untuk berinteraksi dengan jiran khususnya jiran yang paling hampir.
(c) Menunaikan Tuntutan Fardhu Kifayah
Selain berbaik-baik dengan jiran tetangga, setiap keluarga juga wajar memiliki beberapa kemahiran. Dalam Islam ilmu dibahagikan kepada dua bahagian, iaitu fardhu ain dan fardhu kifayah. Maksud fardhu kifayah dalam konteks kesejahteraan keluarga ialah semua ahli keluarga khususnya anak-anak hendaklah dilatih dengan asas-asas kemahiran hidup ataupun ilmu-ilmu teknikal yang ada hubungkait dengan alam rumahtangga. Kemahiran seperti ini perlu bagi setiap ahli keluarga supaya mereka berupaya melakukan sendiri kerja-kerja seperti membaiki kerosakan-kerosakan kecil pada rumah. Memasang dan menukar mentol lampu, membaiki kebocoran paip air dan lain-lain. Di samping itu ahli keluarga hendaklah mempunyai kemahiran asas di dalam membaiki kenderaan yang dipunyai oleh keluarga seperti kereta, motosikal, basikal dan seumpamanya. Ini adalah bersesuaian dengan kehendak negara untuk mewujudkan masyarakat yang bekerja dan berkemahiran.
(d) Mengadakan Aktiviti Rekreasi
Dalam rumahtangga perlu juga ada suasana hiburan dan rekreasi dalam keluarga. Ia boleh menimbulkan kesan positif ke arah kesihatan mental dan fizikal. Jenis-jenis hiburan pula mestilah yang tidak bercanggah dengan hukum Islam. Setiap keluarga juga wajar mengatur program rehlah ke tempat-tempat rekreasi atau lawatan di dalam atau luar negeri mengikut kemampuan keluarga tersebut. Aktiviti ini akan mengeratkan lagi hubungan kasih sayang dan mewujudkan kemesraan dalam keluarga.
5. Menjaga Kesihatan dan Kebersihan Keluarga
Kebahagiaan rumahtangga tidak akan tercapai jika sekiranya terdapat ahli-ahli keluarga sering mengidapi penyakit. Ibu atau bapa yang tidak sihat tidak dapat menguruskan rumahtangga dengan sempurna. Manakala anak-anak yang sakit pula tidak dapat membesar dan berkembang dengan baik. Oleh kerana kesihatan tubuh badan menjadi soal penting dalam hidup seseorang dan memerangi penyakit adalah satu tugas yang wajib di dalam Islam, maka Islam telah menggariskan beberapa panduan yang berkaitan dengan kesihatan seperti berikut;
(a) Makan Makanan Yang Halal
Islam menggesa umatnya supaya memakan benda-benda yang baik dan halal serta melarang memakan benda-benda yang merbahaya dan merosakkan kesihatan. Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 114:
Maksudnya: 'Oleh itu makanlah (wahai orang-orang yang beriman) dari apa yang telah dikurniakan oleh Allah kepada kamu dari benda-benda yang halal lagi baik, dan bersyukurlah akan nikmat Allah, jika benar kamu hanya menyembah akan Dia semata-mata.'
(An-Nahl : 114)
Firman Allah S.W.T. dalam surah al-Baqarah ayat 172 :
Maksudnya: 'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika betul kamu hanya beribadat kepada-NYA.'
Oleh yang demikian, setiap ibu bapa hendaklah mengambil berat tentang makan minum keluarganya dan memastikan setiap makanan yang masuk ke dalam perut keluarganya itu daripada sumber rezeki yang halal.
(b) Makan Makanan Yang Bermutu Dan Berkhasiat
Penjagaan kesihatan dari segi penyimpanan, penyediaan, penghidangan makanan dan keperluan pemakanan perlu dititikberatkan. Penyediaan makanan dan pemakanan perlu dirancang dengan teliti supaya kuantiti dan kualiti zat makanan itu seimbang dengan keperluan setiap keluarga. Seorang ibu wajib menyediakan makanan yang berzat dan berkhasiat. Dalam pemilihan kandungan zat makanan ia tidak semestinya diambil dari bahan-bahan yang mahal tetapi yang penting makanan itu berkhasiat dan tidak memudaratkan kesihatan.
(c) Elakkan Makan Makanan Yang Tidak Bersih
Islam menyuruh umatnya memakan makanan yang baik dan melarang memakan makanan yang tidak bersih. Orang yang mementingkan kesihatan, sentiasa memastikan makanan yang diperolehi dan dimakan oleh keluarganya adalah bersih dan halal. Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 115:
Maksudnya: 'Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai dan darah, dan daging babi dan binatang yang disembelih tidak kerana Allah, maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang ia tidak mengingininya dan tidak melampaui batas, (pada kadar benda yang dimakan itu, maka tidaklah ia berdosa). Sesungguhnya Allah Amat Pengampun Lagi Amat Mengasihani.'
(d) Makan Secara Berlebihan Akan Memudaratkan kesihatan
Ibu bapa diingatkan supaya tidak memberi makanan atau minuman secara berlebihan kepada keluarganya, tetapi makanan itu hendaklah disediakan secara sederhana, sekadar memenuhi keperluan tenaga, kesihatan dan pembesaran. Waktu makan hendaklah diatur dan janganlah dibiasakan makan tidak tentu masa kerana ia boleh memudaratkan kesihatan. Dalam hubungan ini Allah S.W.T. berfirman dalam surah al-A’raf ayat 31:
Maksudnya: '...Dan makanlah serta minumlah dan jangan pula kamu melampau-lampau. Sesungguhnya Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.'
(e) Mencegah Penyakit
Sesebuah keluarga hendaklah sentiasa melihat tanda-tanda penyakit yang ada pada keluarganya, supaya ia dapat dicegah lebih awal. Kanak-kanak dan orang dewasa yang memerlukan imunisasi hendaklah segera dibawa ke klinik mengikut jadual yang ditetapkan. Dalam Islam langkah pencegahan penyakit adalah sangat dititikberatkan. Peka terhadap pencegahan penyakit adalah antara ciri utama kepada sesebuah keluarga bahagia. Anak-anak hendaklah sentiasa dididik supaya menjaga kebersihan dan mengelakkan daripada benda-benda kotor. Seelok-eloknya di dalam rumah hendaklah disediakan sebuah kotak pertolongan cemas, sebagai persediaan apabila berlaku perkara-perkara yang tidak diingini atau kecemasan.
(f) Menjaga Kebersihan Diri
Satu lagi unsur penting dalam penjagaan kesihatan ialah menjaga kebersihan. Kebersihan adalah asas kepada kesihatan. Islam amat menyukai orang yang cintakan kebersihan serta sentiasa menjaga kebersihan diri kerana sihat adalah suatu nikmat Allah yang amat besar nilainya yang perlu dijaga dan dipelihara. Oleh yang demikian untuk membina keluarga yang sihat dan sejahtera, kebersihan tubuh badan amat dititik-beratkan. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Ibn Abbas r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda,'Mandi itu adalah wajib ke atas setiap orang Islam yang mana pada setiap tujuh hari, satu hari daripadanya wajib membasuh kepala dan jasmaninya.'
(Riwayat at-Tabarani)
Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Lima perkara yang menjadi fitrah manusia iaitu berkhatan, mencukur bulu ari-ari, menggunting misai, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.'
(Riwayat at-Tabarani)
Dalam hadith yang lain:
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, 'Rasulullah s.a.w. memotong kukunya dan mencukur misainya pada hari jumaat sebelum baginda mengerjakan sembahyang.'
(Riwayat at-Tabarani)
Daripada ayat al-Quran dan hadith yang dibentang di atas dapat difahami bahawa membersihkan badan seperti mandi, mencukur misai, memotong kuku serta mencukur bulu adalah amalan yang dituntut oleh Islam. Amalan-amalan seperti itu perlulah dilakukan oleh setiap ahli keluarga kerana ia merupakan usaha untuk mengelakkan diri daripada mendapat pelbagai penyakit di samping menjadi lambang kecantikan, kekemasan, kebersihan dan nilai personaliti orang Islam.
Selain daripada itu setiap ahli keluarga juga perlu menjauhi kekotoran yang berpunca daripada najis. Oleh itu Islam menuntut setiap anak lelaki dan perempuan dikhatankan supaya terhindar dan jauh daripada kuman atau penyakit yang boleh memberi kesan kepada kesihatan alat kelamin. Demikian juga Islam mewajibkan beristinjak atau bersuci untuk membersihkan diri daripada sebarang najis dan kotoran apabila selesai membuang air.
Bagi perempuan yang didatangi haid atau najis, mereka hendaklah sentiasa menjaga kebersihan diri supaya tidak dicemari oleh darah haidnya. Mereka hendaklah segera bersuci apabila tempoh haid atau nifasnya tamat.
Salah satu bahagian tubuh badan yang perlu dan penting dijaga ialah rambut. Setiap ahli keluarga perlulah menjaga kebersihan rambut supaya ia kelihatan kemas dan rapi. Sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, 'Sesiapa yang mempunyai rambut maka hendaklah ia merapikannya.'
(Riwayat Abu Daud)
Rambut adalah ibarat mahkota seseorang. Oleh yang demikian ia perlulah dijaga dan diurus dengan sebaik-baiknya, disapukan minyak atau ubat yang sesuai supaya cantik, bersih dan menyenangkan mata memandang. Rambut yang berbau busuk amat mengaibkan.
Setiap ahli keluarga juga perlu menjaga kebersihan tangan lebih-lebih lagi ketika hendak menghadapi makanan atau minuman. Sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Ibnu Umar r.a. katanya, Rsulullah s.a.w. bersabda, 'Apabila salah seorang daripada kamu hendak makan, maka hendaklah ia membasuh tangannya.'
(Riwayat Ibnu ‘Adi)
Daripada hadith di atas, dapat difahamkan bukan tangan sahaja yang perlu bersih malah termasuklah mata, hidung, mulut, kaki dan sebagainya, kerana anggota-anggota tersebut adalah termasuk di dalam anggota-anggota wuduk yang mesti dijaga kebersihannya.
Selain daripada kebersihan tubuh badan dan anggota-anggota lahir, setiap ahli keluarga perlu juga menitik beratkan kebersihan pakaian. Walaupun tujuan ialah untuk menutup aurat tetapi kebersihannya perlu juga dijaga. Firman Allah S.W.T. dalam surah al-Muddathir ayat 4 :
Maksudnya: 'Dan pakaianmu maka hendaklah engkau bersihkan.'
Kebersihan pakaian menjadi salah satu daripada syarat sah ibadat sembahyang. Oleh yang demikian ia perlu dijaga supaya tidak terkena sebarang kekotoran dan najis. Keluarga yang bahagia adalah terdiri daripada individu-individu yang sentiasa menghiasi diri dengan pakaian kemas dan bersih. Kebersihan pakaian juga adalah lambang personaliti mulia seseorang Islam.
6. Mengukuh dan Menjaga Ekonomi Rumahtangga
Sesuatu yang tidak dapat dinafikan bahawa wang dan harta adalah satu keperluan dalam kehidupan rumahtangga, lebih-lebih lagi apabila menghadapi zaman yang serba mencabar ini. Pada hari ini boleh dikatakan hampir keseluruhan keperluan hidup memerlukan wang. Oleh sebab itulah Islam menyuruh umatnya supaya kuat bekerja mencari wang dan harta, membina kehidupan yang maju dan kuat supaya dunia ini dipenuhi dengan kemakmuran.
Dalam rumahtangga, bapa sebagai ketua keluarga perlu menyedari hakikat ini. Di samping menyediakan bekalan ilmu dan pendidikan kepada anak isteri supaya hidup mereka terbimbing, dia juga harus kuat berusaha mencari wang dan harta agar dengan wang dan harta itu keluarganya dapat memenuhi sekurang-kurangnya tiga keperluan asasi kehidupan, iaitu makanan, pakaian dan tempat tinggal. Bekerja mencari wang dan rezeki, selain untuk memenuhi keperluan hidup, juga dapat menguatkan sesuatu umat, sebab apabila sesebuah keluarga itu mantap ekonominya, ia akan membantu menguatkan kedudukan bangsa dan negaranya.
Selain memperkukuhkan kedudukan ekonomi rumahtangga, setiap keluarga juga mestilah menguruskan soal-soal perbelanjaan dengan betul dan terancang. Perkara-perkara yang menjadi tegahan agama seperti pambaziran, berbelanja dengan berlebih-lebihan sehingga menimbulkan rasa riya’ atau membeli barang-barang yang tidak perlu dan seumpamanya hendaklah dielakkan. Islam menyuruh umatnya supaya hidup secara sederhana dan sentiasa berjimat cermat. Rezeki yang diperolihi itu sepertiga daripadanya hendaklah dibelanjakan untuk maksud nafkah, satu pertiga untuk maslahat umum seperti zakat, sedekah dan seumpamanya dan sepertiga lagi ialah untuk tabungan. Untuk menjamin hidup masa depan, budaya menabung perlu diamalkan dalam keluarga kata pepatah 'beringat sebelum kena, berjimat sebelum habis.'
7. Mewujudkan Keselesaan Dan Keindahan Dalam Rumahtangga
Rumah adalah tempat sesebuah keluarga menikmati hidup. Keselesaan dalam rumah amat mustahak kerana kebahagiaan keluarga itu bermula dari rumah. Setiap keluarga mestikah mewujudkan suasana yang harmoni dan selesa dalam rumahnya. Maksud keselesaan di sini ialah keselesaan yang memungkinkan setiap anggota keluarga mempunyai bilik tidur yang cukup, ruang rehat yang selesa, mempunyai sistem peredaran dan pertukaran udara di setiap ruang rumah dan lain-lain keperluan seperti ruang dapur, tandas dan sebagainya. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Saad r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Empat perkara yang membawa kebahagiaan iaitu Wanita yang baik (solehah), tempat tinggal yang luas, jiran yang baik dan kenderaan yang baik.'
(Riwayat al-Baihaqi)
Dalam Islam telah ditentukan bahawa kanak-kanak mempunyai tempat tidurnya sendiri. Oleh itu menjadi tanggungjawab ibu bapa melatih kanak-kanak tidur berasingan apabila mereka mencapai umur sepuluh tahun. Di waktu itu tempat tidur anak lelaki dan anak perempuan hendaklah diasingkan supaya tidak timbul sesuatu perkara yang tidak baik. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Ibnu Amr r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Suruhlah anak kamu menunaikan sembahyang apabila mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika mereka enggan sembahyang) apabila berumur sepuluh tahun, dan asingkan tempat tidur mereka.'
(Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
Selain daripada mempunyai ruang-ruang yang cukup, hiasan rumah adalah satu ciri penting untuk mewujudkan keluarga bahagia dan menjadikan rumah itu sebuah syurga. Ini kerana setiap insan di dunia ini inginkan sesuatu yang indah., cantik dan menarik. Hal ini adalah selaras dengan anjuran Islam kerana agama Islam sendiri amat mementingkan aspek keindahan dan kebersihan, sebagaimana sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: Daripada Ibnu Mas’ud r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Sesungguhnya Allah itu cantik Ia sangat sukakan yang indah dan cantik.'
(Riwayat Muslim dan At-Tirmizi)
Keindahan dan kebersihan yang dituntut oleh Islam adalah daripada semua aspek bukan sahaja tertumpu kepada aspek keindahan dan kebersihan alam sekitar, bandar dan pejabat-pejabat sahaja malah termasuklah keindahan dan kebersihan dalam rumahtangga dan sekitarnya. Amalan menjaga kebersihan adalah bermula daripada rumahtangga dan apabila dihayati dengan sepenuhnya akan wujudlah amalan penjagaan kebersihan di luar rumah.
Oleh yang demikian untuk mencapai kebahagiaan bagi sesebuah institusi keluarga dan seterusnya menjadikan rumahtangga itu sebagai syurga perlulah menghayati prinsip-prinsip yang telah ditentukan oleh Islam seperti berikut:
(a) Sentiasa Menjaga Keindahan Dan kebersihan Dalam dan Luar Rumah
Rumahtangga yang bahagia ialah rumahtangga yang sentiasa menjaga keindahan dan kebersihan di dalam dan di luar rumah agar ia kelihatan cantik dan menarik serta dapat memberi ketenteraman dan kenikmatan kepada penghuni rumah. Amalan menjaga keindahan dan kebersihan persekitaran rumah adalah satu amalan yang baik dan mulia. Sekiranya umat Islam tidak menjaga dan mengambil berat terhadap perkara tersebut, mereka akan hidup di dalam suasana yang tidak selesa, gundah gulana dan tidak tenteram. Sabda Nabi s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Saad r.a. katanya: 'Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Bersihkan halaman-halaman kamu, kerana sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halaman-halaman rumahnya.'
(Riwayat at-Tabarani)
Kebersihan kawasan dan halaman rumah adalah penting untuk mengelak daripada sebarang bentuk pencemaran seperti bau busuk, asap, sampah sarap, pokok-pokok liar, takungan air yang tidak terurus dan sebagainya. Halaman rumah sewajarnya dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan yang rendang, pokok-pokok bunga yang berwarna-warni serta harum baunya dan pohon-pohon hijau yang merimbun bagaikan taman-taman yang indah dan mempesona, rapi, teratur dan bersih. Keadaan ini harus dikekalkan supaya ahli keluarga sentiasa dapat menikmatinya. Persekitaran yang indah dan bersih juga perlu bagi pertumbuhan fizikal dan jiwa anak-anak. Persekitaran yang kotor bukan sahaja boleh menyebabkan pelbagai penyakit, malah mereka yang tidak mampu untuk mewujudkan hiasan luaran yang mungkin memerlukan belanja yang agak besar, memadailah dengan menjaga kebersihannya.
(b) Menghiasi Rumah Dengan Peralatan Dan Perhiasan Yang Diredhai Allah S.W.T.
Untuk menjadikan rumah itu sebagai syurga, ia perlulah dihiasi dengan perhiasan dan peralatan supaya dapat meyerikan lagi suasana dalaman sesebuah rumah. Sebaik-baik peralatan dan perhiasan ialah yang sederhana, kerana Islam menuntut umatnya supaya melakukan sesuatu perkara itu mengikut kemampuan masing-masing. Janganlah terlalu boros sehingga menyebabkan berlakunya pembaziran dan membebankan seseorang. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: Dari Ibnu Al-Harith r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, '... dan sebaik-baik perkara ialah secara sederhana.'
(Riwayat al-Baihaqi)
Peralatan dan perhiasan dalam rumah hendaklah disusun dengan kemas dan rapi supaya ia kelihatan cantik dan meyerikan. Ia akan dapat menawan hati setiap ahli keluarga tinggal dengan aman dan bahagia. Hiasilah ruangan dalaman rumah dengan barang-barang, ukiran atau gambar-gambar yang diredhai Allah S.W.T. Jauhilah daripada menghiasi rumah dengan benda-benda yang diharamkan oleh Allah S.W.T. Rumah-rumah yang dihiasi dengan ayat-ayat suci al-Quran al-Karim dan hiasan-hiasan lain yang bermanfaat yang diredhai oleh Allah S.W.T. akan mendapat berkat dan rahmat daripada Allah S.W.T.
8. Berkomunikasi Secara Baik
Hubungan antara individu dalam keluarga adalah penting untuk menjamin keharmonian di dalam rumahtangga. Aspek hubungan antara individu atau komunikasi ini amat dititik beratkan oleh Islam. Firman Allah S.W.T. dalam surah Ali Imran ayat 122:
Maksudnya: 'Mereka ditimpakan kehinaan (dari segala jurusan) di mana sahaja mereka berada, kecuali dengan adanya sebab dari Allah dan adanya sebab dari manusia...'
Di dalam ayat di atas jelas menunjukkan unsur perhubungan amatlah penting untuk menjamin manusia mencapai kebahagiaan. Ketika seimbang aspek ini akan membawa kepincangan.
Secara mudah komunikasi dapatlah difahamkan sebagai satu proses interaksi antara dua orang atau lebih. Hasilnya manusia akan memperolehi persefahaman, kesenangan, perubahan sikap, perhubungan yang baik dan tindakan yang harmoni.
Untuk mencapai tahap kesempurnaan di dalam sesebuah keluarga, setiap ahli keluarga hendaklah memahami diri dan peranan masing-masing. Peranan seorang bapa berbeza dengan peranan seorang anak. Bapa mempunyai tugas untuk memastikan keperluan fizikal dan spiritual keluarganya dipenuhi. Dalam konteks ini, setiap individu hendaklah mengetahui kelebihan dan kelemahan diri masing-masing. Saiyidina Umar r.a. pernah berkata:
'Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab. Kesedaran dan penerimaan seseorang tentang sifat dirinya menjadikan ia dapat melaksanakan fungsi perhubungan dengan lebih sempurna.'
Seorang bapa bertanggungjawab menjaga kesejahteraan ahlinya. Menurut sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Amr, Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: Daripada ibnu amr r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggungjawab kepada jagaannya.'
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dengan menerima hakikat ini menjadikan bapa berkenaan berusaha untuk melaksanakan tanggungjawab tersebut secara ikhlas. Implikasinya beliau akan menjalin hubungan dengan orang lain lebih bermakna. Berikutan dari itu persoalan apakah kesan perlakuan kita terhadap orang lain juga penting. Apakah akan berlaku kepada sesebuah keluarga jikalau seorang bapa tidak melaksanakan tugas tersebut. Begitulah juga dengan peranan ibu dan anak. Ia harus di laksanakan dengan berkesan kerana dengan terlaksana peranan dan tanggungjawab komunikasi yang baik, ia akan mengelakkan sesebuah keluarga daripada konflik.
Bagi mengekal dan meningkatkan perhubungan di dalam keluarga, aspek kemahiran komunikasi adalah penting. Kebanyakan orang tidak begitu peka dengan keperluan ini. Malah agak malang terdapat golongan yang merendahkan unsur komunikasi ini. Mungkin sikap ini ada hubungan dengan yang kurang tepat berkenaan hadith Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Amirul Mukminin Abi hafs Umar bin Al-Khattab katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Setiap perkara itu adalah berdasarkan niat.'
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Daripada fahaman hadith di atas apa yang penting ialah niat. Jikalau niat seseorang mahu menyakiti seseorang sudah cukup baginya tidak menegur sapa atau tersenyum kepada seseorang. Maka terjadilah di dalam sesebuah keluarga kurang bertegur sapa dan gurau senda. Seorang bapa seharusnya pandai mengambil hati isteri dan anak-anak serta memilih cara yang baik untuk membuat teguran. Begitu juga dengan anak sepatutnya mempunyai cara yang paling baik untuk berkomunikasi dengan ibu dan bapa mereka.
Untuk mencapai keharmonian di dalam perhubungan keluarga adalah satu perkara yang agak sukar. Begitu juga usaha untuk mengekalkan tahap perhubungan yang bermakna antara ahli keluarga. Kadang-kadang keharmonian perhubungan dapat dinikmati hanya untuk suatu tempoh masa sahaja, selepas itu perhubungan menjadi masalah yang serius kepada ahli keluarga. Dalam hubungan ini motivasi adalah perlu. Motivasi ialah suatu daya untuk meningkatkan pencapaian di dalam sesuatu aspek. Jikalau di dalam soal perhubungan kekeluargaan apakah jambatan yang menjadikan ahli keluarga berupaya mengekalkan keharmonian. Inilah soalan yang perlu dicari jawapannya oleh setiap ahli keluarga.
Suatu perkara yang tidak kurang penting di dalam rumah ialah kebolehan ahli-ahli keluarga berkenaan menyelesaikan konflik di antara ahli-ahli. Kadang kala berlaku seorang bapa tidak mengambil berat masalah yang dihadapi oleh anak-anak. Ini menjadikan anak-anak beranggapan bapanya tidak mengambil berat tentang diri mereka. Sikap bapa yang sedemikian menimbulkan perasaan tidak senang hati di kalangan ahli rumah. Anak akan menjauhkan diri dari keluarga. Di dalam hal tertentu bapa akan bertindak terhadap kesalahan anak-anak. Jikalau ini berlaku konflik akan timbul dan berkembang dalam keluarga berkenaan.
Dalam keadaan demikian bapa sebagai ketua keluarga hendaklah mengambil inisiatif mendekati anak dan cuba memahami masalah yang dihadapi oleh mereka. Pendekatan yang harus digunakan ialah pendekatan ‘hikmah’ iaitu pendekatan yang berasaskan keadaan yang diharuskan oleh syarak. Di dalam kebanyakan hal bolehlah dikatakan pendekatan tanpa paksaan dan kekerasan, tetapi ini tidak bererti kedua pendekatan ini bukan dari method hikmah.
9. Mewujudkan Pergaulan Suami isteri Yang Baik
Kasih sayang dan toleransi dalam keluarga adalah penting. Kedua-dua elemen ini perlu diwujud dan disuburkan dalam sesebuah keluarga bagi melahirkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Pembentukan keluarga bermula dengan ikatan perkahwinan antara suami dan isteri. Suami dan isteri perlulah meletakkan aspek kasih sayang dan belas kasihan, sebagai asas dalam kehidupan berumahtangga. Tanpa kasih sayang dan belas kasihan, sesuatu ikatan perkahwinan itu tidak menuju ke istana bahagia seperti yang diharapkan, malah ia akan mengubah haluan kepada kehancuran. Firman Allah di dalam al-Quran, surah ar-Rum ayat 21, iaitu:
Maksudnya: 'Dan antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-NYA dan rahmat-NYA bahawa ia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikannya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir.'
Kasih sayang dan belas kasihan atau 'mawaddah wa rahmah' seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas memberi maksud bahawa perhubungan ibu bapa sebagai suami isteri hendaklah berdasarkan kepada lunas-lunas keredhaan Allah S.W.T., sentiasa kasih mengasihi, bertolak ansur, memperbanyakkan sabar, tabah di dalam menghadapi gelora rumahtangga dan menjadikan sifat suka bermaaf-maafan sebagai amalan yang berterusan. Sehubungan ini juga Allah telah memberikan panduan sepertimana yang termaktub dalam al-Quran surah an-Nisa’ ayat 19:
Maksudnya: '... Dan bergaullah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik. Kemudian, jika kamu (merasai) benci kepada mereka (disebabkan tingkah lakunya, janganlah pula kamu terburu-buru menceraikannya), kerana boleh jadi kamu bencikan sesuatu, sedangkan Allah hendak menjadikan pada apa yang kamu benci itu kebaikan yang banyak (untuk kamu).'
Pergaulan yang baik atau 'mu’asyarah bil-ma’ruf' seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas bererti pergaulan dan hidup bersama secara baik dan diredhai Allah, jauh daripada kemungkaran, kemaksiatan, penganiayaan, kezaliman dan seumpamanya.
10. Mewujudkan Hubungan Baik Ibu Bapa Dengan Anak
Apabila perhubungan antara ibu dan bapa dapat di bentuk dalam keadaan 'ma’ruf' (baik) maka benih kasih sayang pasti akan bertunas dan bercambah ke dalam ahli keluarganya. Anak-anak yang melihat canaian kasih sayang antara ibu dan bapa mereka akan turut sama mengamali dan menikmati kemanisan serta kelazatan suasana itu. Justeru itu menjadikan ibu bapa mereka sebagai model dalam jiwa dan kehidupan mereka sendiri.
Kasih sayang dan belas kasihan ibu bapa terhadap anak-anak sebenarnya bermula dalam kandungan lagi. Bagi ibu-ibu yang sedang mengandung, mereka digalakkan memakan makanan yang baik dan berzat, mengamalkan tingkah laku yang mulia, selalu membaca al-Quran, sentiasa berdoa kepada Allah memohon kebaikan kepada anaknya dan lain-lain amalan kebaikan seperti yang diperintahkan oleh Islam. Begitu juga bagi bapa, mereka hendaklah sentiasa mendampingi isteri mereka, sama-sama berkongsi kesukaran dan penderitaan yang dialami oleh isteri, tidak berlaku kasar dan benci kepada isteri dan sentiasa berdoa kepada Allah memohon keselamatan kepada isteri dan bayi yang bakal dilahirkan. Begitulah seterusnya apabila anak itu lahir ke dunia, kasih sayang perlu diberikan supaya pembentukan syakhsiah mereka menjurus ke arah manusia yang sempurna, berakhlak mulia seterusnya dapat mengharungi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
Tidak dinafikan bahawa Rasulullah s.a.w. adalah contoh yang paling ideal dan tepat untuk diikuti. Ibu bapa seharusnya menyedari hakikat ini dan berazam mengamalkan segala kebaikan untuk keluarga mereka. Dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi daripada Aisyah r.a., sabda baginda:
Maksudnya: 'Sebaik-baik kamu ialah orang yang baik kepada ahli keluarganya dan akulah sebaik-baik di antara kamu kepada ahli keluargaku.'
(Riwayat at-Tirmizi)
Dalam sebuah hadith lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan Al-Hakim daripada Aisyah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Sesungguhnya antara sifat-sifat yang boleh menjadikan seseorang itu sempurna imannya ialah yang berakhlak mulia dan berlemah lembut dengan ahli keluarganya.'
(Riwayat at-Tirmizi dan al-Hakim)
11. Mewujudkan Hubungan Baik Anak Dengan Ibu Bapa
Anak wajib berbuat baik terhadap ibu bapanya. Sekiranya tidak, ia telah melakukan satu dosa. Di dalam al-Quran tidak terdapat perintah khusus agar seseorang bapa mengasihi anaknya, tetapi sebaliknya yang lebih banyak ialah perintah kepada anak supaya mengasihi ibu bapa. Sebab yang demikian ialah, walaupun tidak diperintah untuk mengasihi anak, secara otomatis ibu bapa tentu mengasihi anaknya. Seorang bapa, apatah lagi ibu, amat sayang kepada anaknya sehingga ia sanggup berkorban apa saja demi keselamatan dan kesejahteraan anaknya. Ia sanggup bersusah payah bekerja siang dan malam, menggerakkan segala usaha dan tenaga, dimana semuanya itu adalah untuk kebahagiaan anaknya. Maka wajarlah anak berbuat baik terhadap ibu bapa.
Mungkin seorang anak akan bertanya, bagaimana ia harus berbuat baik terhadap ibu bapanya. Dalam hal ini Imam Ghazali telah menggariskan dua belas panduan, iaitu:
Mendengar kata mereka.
Berdiri apabila mereka berdiri kerana menghormati.
Taat perintah mereka selagi mereka tidak menyuruh membuat perkara-perkara yang dilarang oleh Allah S.W.T.
Tidak melintas di hadapan mereka, tetapi hendaklah berjalan di sisi atau di belakang kecuali atas perintah mereka untuk sesuatu maksud.
Tidak meninggikan suara melebihi suara mereka.
Menjawab panggilan mereka dengan suara yang lembut.
Sentiasa memelihara dan merawat apabila mereka sakit. Jangan sampai melakukan sesuatu yang melanggar keredhaan mereka baik dalam sikap, perkataan ataupun perbuatan.
Merendah diri dengan sopan dan lemah lembut serta sentiasa berusaha meringankan beban mereka.
Tidak melakukan sesuatu kebaikan kepada mereka atas dasar membalas jasa melainkan atas dasar kewajipan demi keredhaan mereka dan keredhaan Allah S.W.T.
Tidak memandang mereka dengan menjeling, mengerling, marah atau masam muka.
Tidak bermuram hati apabila menghadapi wajah mereka.
Tidak keluar rumah sama ada jauh atau dekat kecuali dengan izin mereka.
12. Memupuk Kasih Sayang Dan Toleransi Dalam Keluarga
Banyak cara boleh dilakukan bagi mewujudkan perasaan kasih sayang dan semangat toleransi di dalam keluarga. Cara utama ialah melalui pengetahuan dan didikan agama yang cukup. Selain melalui pendidikan secara formal yang diterima di sekolah-sekolah, setiap ahli keluarga perlu dibentuk dan ditanamkan dengan perasaan kasih sayang dan semangat toleransi melalui tunjuk ajar, contoh teladan, nasihat dan kaunseling serta kawalan yang berkesan. Mereka bukan sahaja disuruh supaya sayang menyayangi sesama ahli keluarga, malah juga kepada binatang peliharaan dan harta benda di rumah. Mereka hendaklah selalu diberi ingat bahawa Allah sangat suka kepada orang-orang yang mempunyai perasaan kasih sayang, suka bekerjasama dan tolong-menolong sesama sendiri.
Sebaliknya Allah benci kepada orang-orang yang sering bergaduh, bermusuh-musuhan, tidak mahu bekerjasama dan benci membenci sesama sendiri. Sekiranya berlaku perkara-perkara yang boleh merosakkan hubungan kasih sayang di dalam sesebuah keluarga, setiap ahlinya terutamanya ibu bapa hendaklah segera mencari jalan mengatasinya.
Jelaslah bahawa kasih sayang dan semangat toleransi adalah sangat penting dalam sesebuah keluarga. Sekiranya tiap-tiap rumpun keluarga itu tidak mewujudkan satu ikatan yang baik dan harmoni, maka kedudukan sesebuah masyarakat itu akan pincang, justeru bangsa dan negara menjadi lemah. Apabila situasi ini berlaku kemajuan tidak akan dapat dicapai dan masyarakat penyayang tidak dapat diwujudkan. Begitulah pentingnya peranan yang perlu dimainkan oleh setiap ahli keluarga bagi mencapai hasrat yang dicita-citakan.
KESIMPULAN
Rumahku Syurgaku adalah satu wawasan Islam yang berteraskan ajaran yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Rumahtangga sebagai satu komponen utama dalam pembentukan sesebuah masyarakat mesti disempurnakan melalui piawai yang sesuai dengan ajaran Islam dan keperluan rohani dan jasmani manusia. Untuk mencapai taraf syurga bagi sesebuah rumahtangga, maka semua rukun atau piawai yang disebutkan perlulah dipenuhi dengan sebaik mungkin. Ia tidak memerlukan perancangan yang rapi dan sikap positif untuk melaksanakannya. Setiap yang gagal memenuhi rukun-rukun dan piawai-piawai tersebut, maka rumahtangganya belumlah dapat mencapai tahap kebahagiaan sebagaimana yang dituntut oleh Islam.
Jumat, 30 April 2010
Taharah / Bersuci
Taharah / Bersuci
1. Definisi :
i) Dari segi bahasa : Suci dan bersih
ii) Dari segi istilah syarak : Suci dan bersih daripada najis atau hadas.
2. Taharah ialah anak kunci dan syarat sah salat.
3. Hukum taharah ialah WAJIB di atas tiap-tiap mukallaf lelaki dan perempuan.
4. Dalil naqli tentang suruhan bersuci adalah sebagaimana firman Allah s.w.t. dalam Surah al-Anfal, ayat 11 yang bermaksud :
" Dan (ingatlah ketika) Dia menurunkan kepada kamu hujan daripada langit untuk mensucikan kamu dengannya... "
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda yang bermaksud :
" Agama islam itu diasaskan di atas kebersihan "
5. Tujuan taharah ialah bagi membolehkan seseorang itu menunaikan solat dan ibadah-ibadah yang lain.
6. Hikmah disuruh melakukan taharah ialah kerana semua ibadah khusus yang kita lakukan itu adalah perbuatan mengadap dan menyembah Allah Ta'ala. Oleh itu untuk melakukannya, maka wajiblah berada di dalam keadaan suci sebagai mengagungkan kebesaran Allah s.w.t. .
7. Faedah melakukan taharah ialah supaya badan menjadi bersih, sihat dan terjauh daripada penyakit serta mendatangkan kegembiraan kepada orang yang melaksanakannya.
8. Syarat wajib taharah ialah :
Islam
Berakal
Baligh
Masuk waktu ( Untuk mendirikan solat fardhu ).
Tidak lupa
Tidak dipaksa
Berhenti darah haid dan nifas
Ada air atau debu tanah yang suci.
Berdaya melakukannya mengikut kemampuan.
9. Taharah adalah sebagai bukti bahawa Islam amat mementingkan kebersihan dan kesucian.
10. Ahli fiqh bersepakat mengatakan harus bersuci dengan air yang suci (mutlaq) sebagaimana firman Allah:
025.048 وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
Maksudnya :
"Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa khabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih "
11. Selain itu, harus menggunakan kertas atau batu ketika beristinja' dan tanah atau debu tanah sebagai ganti air bagi mengharuskan solat yang dikenali sebagai tayammum.
12. Jelasnya, alat–alat untuk bersuci itu ialah:
Air mutlaq, iaitu air semata-mata tanpa disertakan dengan sesuatu tambahan atau sesuatu sifat. Air mutlaq ini terbahagi kepada beberapa bahagian:
Air yang turun daripada langit. Ia terbahagi kepada tiga, iaitu air hujan, air salji yang menjadi cair dan air embun.
Air yang terbit daripada bumi. Ia terbahagi kepada empat, iaitu air yang terbit daripada mata air, air perigi, air sungai dan air laut.
Tanah, boleh menyucikan jika tidak digunakan untuk sesuatu fardhu dan tidak bercampur dengan sesuatu. Firman Allah:
004.043 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu solat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan berjunub), terkecuali sekadar berlalu sahaja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau dalam bermusafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. ”
(Surah Al-Nisa’, 4:43)
3. Samak, iaitu membuang bahan-bahan lebihan yang melekat pada kulit dan yang merosakkannya sekira-kira jika direndam atau dibasuh dengan air sesudah disamak, maka kulit itu tetap tidak busuk atau rosak.
4. Takhallul, iaitu arak bertukar menjadi cuka tanpa dimasukkan sesuatu bahan ke dalamnya.
1. Definisi :
i) Dari segi bahasa : Suci dan bersih
ii) Dari segi istilah syarak : Suci dan bersih daripada najis atau hadas.
2. Taharah ialah anak kunci dan syarat sah salat.
3. Hukum taharah ialah WAJIB di atas tiap-tiap mukallaf lelaki dan perempuan.
4. Dalil naqli tentang suruhan bersuci adalah sebagaimana firman Allah s.w.t. dalam Surah al-Anfal, ayat 11 yang bermaksud :
" Dan (ingatlah ketika) Dia menurunkan kepada kamu hujan daripada langit untuk mensucikan kamu dengannya... "
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda yang bermaksud :
" Agama islam itu diasaskan di atas kebersihan "
5. Tujuan taharah ialah bagi membolehkan seseorang itu menunaikan solat dan ibadah-ibadah yang lain.
6. Hikmah disuruh melakukan taharah ialah kerana semua ibadah khusus yang kita lakukan itu adalah perbuatan mengadap dan menyembah Allah Ta'ala. Oleh itu untuk melakukannya, maka wajiblah berada di dalam keadaan suci sebagai mengagungkan kebesaran Allah s.w.t. .
7. Faedah melakukan taharah ialah supaya badan menjadi bersih, sihat dan terjauh daripada penyakit serta mendatangkan kegembiraan kepada orang yang melaksanakannya.
8. Syarat wajib taharah ialah :
Islam
Berakal
Baligh
Masuk waktu ( Untuk mendirikan solat fardhu ).
Tidak lupa
Tidak dipaksa
Berhenti darah haid dan nifas
Ada air atau debu tanah yang suci.
Berdaya melakukannya mengikut kemampuan.
9. Taharah adalah sebagai bukti bahawa Islam amat mementingkan kebersihan dan kesucian.
10. Ahli fiqh bersepakat mengatakan harus bersuci dengan air yang suci (mutlaq) sebagaimana firman Allah:
025.048 وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
Maksudnya :
"Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa khabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih "
11. Selain itu, harus menggunakan kertas atau batu ketika beristinja' dan tanah atau debu tanah sebagai ganti air bagi mengharuskan solat yang dikenali sebagai tayammum.
12. Jelasnya, alat–alat untuk bersuci itu ialah:
Air mutlaq, iaitu air semata-mata tanpa disertakan dengan sesuatu tambahan atau sesuatu sifat. Air mutlaq ini terbahagi kepada beberapa bahagian:
Air yang turun daripada langit. Ia terbahagi kepada tiga, iaitu air hujan, air salji yang menjadi cair dan air embun.
Air yang terbit daripada bumi. Ia terbahagi kepada empat, iaitu air yang terbit daripada mata air, air perigi, air sungai dan air laut.
Tanah, boleh menyucikan jika tidak digunakan untuk sesuatu fardhu dan tidak bercampur dengan sesuatu. Firman Allah:
004.043 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu solat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan berjunub), terkecuali sekadar berlalu sahaja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau dalam bermusafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. ”
(Surah Al-Nisa’, 4:43)
3. Samak, iaitu membuang bahan-bahan lebihan yang melekat pada kulit dan yang merosakkannya sekira-kira jika direndam atau dibasuh dengan air sesudah disamak, maka kulit itu tetap tidak busuk atau rosak.
4. Takhallul, iaitu arak bertukar menjadi cuka tanpa dimasukkan sesuatu bahan ke dalamnya.
Sembahyang Jenazah
Syarat-syarat sah sembahyang jenazah ialah seperti berikut:
1. Sembahyang jenazah sama halnya dengan sembahyang yang lain, iaitu harus menutup ‘aurat, suci dari hadath besar dan kecil, suci badan, pakaian dan tempat serta menghadap ke arah qiblat.
2. Mayat sudah dimandikan dan dikafankan.
3. Mayat diletak sebelah qiblat mereka yang menyembahyangkannya kecuali jika sembahyang dilakukan di atas kubur (sembahyang ghaib).
Cara melakukan sembahyang jenazah ialah dengan keadaan berdiri sahaja dengan tidak ruku‘, sujud, tasyahhud dan duduk. Sebelum dilakukannya juga tidak disertai dengan azan dan iqamah.
Rukun-rukun dan cara menunaikannya adalah seperti berikut:
1. Bertakbir dengan takbiratul ihram dalam keadaan berniat sembahyang ke atas mayat.
2. Selepas bertakbir, dibaca Surah Al-Fatihah.
3. Bertakbir untuk kali kedua. Seterusnya membaca salawat dengan mana-mana lafaz salawat dan yang paling afdhal ialah salawat Ibrahimiyyah.
4. Kemudian bertakbir untuk kali ketiga dan berdoa untuk si mati selepas takbir tersebut.
5. Kemudian bertakbir untuk kali keempat dan berdoa selepasnya.
6. Kemudian memberi salam ke sebelah kanan dan kiri.
Syarat-syarat sah sembahyang jenazah ialah seperti berikut:
1. Sembahyang jenazah sama halnya dengan sembahyang yang lain, iaitu harus menutup ‘aurat, suci dari hadath besar dan kecil, suci badan, pakaian dan tempat serta menghadap ke arah qiblat.
2. Mayat sudah dimandikan dan dikafankan.
3. Mayat diletak sebelah qiblat mereka yang menyembahyangkannya kecuali jika sembahyang dilakukan di atas kubur (sembahyang ghaib).
Cara melakukan sembahyang jenazah ialah dengan keadaan berdiri sahaja dengan tidak ruku‘, sujud, tasyahhud dan duduk. Sebelum dilakukannya juga tidak disertai dengan azan dan iqamah.
Rukun-rukun dan cara menunaikannya adalah seperti berikut:
1. Bertakbir dengan takbiratul ihram dalam keadaan berniat sembahyang ke atas mayat.
2. Selepas bertakbir, dibaca Surah Al-Fatihah.
3. Bertakbir untuk kali kedua. Seterusnya membaca salawat dengan mana-mana lafaz salawat dan yang paling afdhal ialah salawat Ibrahimiyyah.
4. Kemudian bertakbir untuk kali ketiga dan berdoa untuk si mati selepas takbir tersebut.
5. Kemudian bertakbir untuk kali keempat dan berdoa selepasnya.
6. Kemudian memberi salam ke sebelah kanan dan kiri.
Senin, 26 April 2010
RUKUN SOLAT
Rukun Solat 13 perkara
1 - Niat Sembahyang :
Sebenarnya memeliharakan taubat kita dari
dunia dan akhirat.
2 - Berdiri Betul :
Fadilatnya, ketika mati dapat meluaskan
tempat kita di dalam kubur.
3 - Takbir-ratul Ihram :
Fadilatnya, sebagai pelita yang menerangi kita
di dalam kubur.
4 - Fatihah :
Sebagai pakaian yang indah-indah di dalam
kubur.
5 - Ruqu’ :
Sebagai tikar kita di dalam kubur.
6 - I’tidal :
Akan memberi minuman air dari telaga al-
kautsar ketika didalam kubur.
7 - Sujud :
Memagar kita ketika menyeberangi titian
SIRATUL-MUSTAQIM.
8 - Duduk antara 2 Sujud :
Akan menaung panji-panji nabi kita didalam
kubur
9 - Duduk antara 2 Sujud (akhir) :
Menjadi kenderaan ketika kita dipadang
Mahsyar.
1 0 - Tahhiyat Akhir :
Sebagai penjawab bagi soalan yang
dikemukakan oleh Munkar & Nankir di dalam
kubur.
11 - Selawat Nabi :
Sebagai pendinding api neraka di dalam kubur.
12 - Salam :
Memelihara kita di dalam kubur.
13 - Tertib :
Akan pertemuan kita dengan Allah S. W. T.
Dari Abdullah bin ‘Amr R. A., Rasulullah S. A.
W.bersabda :
“Senarai di atas adalah salah satu sebab mengapa
orang Yahudi /
Kafir tidak sukakan angka 13 dan juga Hari
Jumaat. Itulah sebab mengapa mereka mencipta
cerita yang begitu seram sekali iaitu ” FRIDAY the
13th ” jika ada di kalangan kamu yang perasan!!!”
1 - Niat Sembahyang :
Sebenarnya memeliharakan taubat kita dari
dunia dan akhirat.
2 - Berdiri Betul :
Fadilatnya, ketika mati dapat meluaskan
tempat kita di dalam kubur.
3 - Takbir-ratul Ihram :
Fadilatnya, sebagai pelita yang menerangi kita
di dalam kubur.
4 - Fatihah :
Sebagai pakaian yang indah-indah di dalam
kubur.
5 - Ruqu’ :
Sebagai tikar kita di dalam kubur.
6 - I’tidal :
Akan memberi minuman air dari telaga al-
kautsar ketika didalam kubur.
7 - Sujud :
Memagar kita ketika menyeberangi titian
SIRATUL-MUSTAQIM.
8 - Duduk antara 2 Sujud :
Akan menaung panji-panji nabi kita didalam
kubur
9 - Duduk antara 2 Sujud (akhir) :
Menjadi kenderaan ketika kita dipadang
Mahsyar.
1 0 - Tahhiyat Akhir :
Sebagai penjawab bagi soalan yang
dikemukakan oleh Munkar & Nankir di dalam
kubur.
11 - Selawat Nabi :
Sebagai pendinding api neraka di dalam kubur.
12 - Salam :
Memelihara kita di dalam kubur.
13 - Tertib :
Akan pertemuan kita dengan Allah S. W. T.
Dari Abdullah bin ‘Amr R. A., Rasulullah S. A.
W.bersabda :
“Senarai di atas adalah salah satu sebab mengapa
orang Yahudi /
Kafir tidak sukakan angka 13 dan juga Hari
Jumaat. Itulah sebab mengapa mereka mencipta
cerita yang begitu seram sekali iaitu ” FRIDAY the
13th ” jika ada di kalangan kamu yang perasan!!!”
Senin, 08 Maret 2010
SAINS SOLAT
HASIL-HASIL PENYELIDIKAN
Buku Solat : Kebaikan Dari Perspektif Sains ini diterbitkan untuk menerangkan beberapa keputusan kajian mengenai kesan pergerakan solat yang sempurna kepada kesihatan tu buh badan yang merangkumi aspek-aspek seperti sistem kardiovaskular, komposisi tubuh badan, aktiviti gelombang otak ketika bersolat and postur badan yang optimum.
Dengan memahami hikmah dan kebaikan yang dizahirkan daripada pergerakan solat yang sempurna, akan merangsang muslimin dan mulimat dalam menunaikan ibadat solat dengan khusyuk dan tawaduk. Semoga buku ini ada manfaatnya bagi kita semua dalam memahami hikmah dan kebaikan kesihatan disebalik ibadah solat kita, insya Allah.
Buku Pencegahan Penyakit Jantung Dari Perspektif Holisitik: Buku ini adalah rentetan dari buku bertajuk ” Solat Kebaikan dari Perspektif Sains”. Dalam buku ini, kami mengupas pencegahan penyakit jantung dari perspektif sains perubatan dan juga perspektif Islam dan solat. Di sini jelas kelihatan bahawa selain daripada sains perubatan moden, gaya hidup Islam sangat praktikal untuk diamalkan dalam kehidupan seharian kerana ia adalah petunjuk daripada Pencipta kita yang mengurniakan kita manual kehidupan (al-Quran) dan juruteravyang telah menunjukkan bagaimana kita melaksanakan secra praktik (Nabi Muhammad SAW).
Dapat dirumuskan bahawa amalan yang disyorkan dan dipraktikkan oleh sains perubatan moden adalah suatu amalan yang sememangnya telah disyorkan dalam gaya hidup Islam.
Buku Sakit Pinggang: Kaedah Rawatan Melalui Prinsip Pemulihan Serta Postur Dan Pergerakan Solat:Kajian kami telah membuktikan bahawa postur dan pergerakan solat dapat membantu dalam pemulihan sakit pinggang tidak spesifik. Terapi postur dan pergerakan solat ini bukan sahaja membantu penghidap sakit pinggang berbangsa Melayu tetapi juga membawa kebaikan kepada penghidap berbangsa lain, jika mereka mengamalkan senaman yanng menyerupai postur dan pergerakan solat, iaitu postur berdiri tegak dan pergerakan rukuk.
Buku senaman & Regangan Solat: Kompenen-kompenen dalam gerakan solat yang dilakukan secara terus-menerus memberikan kesan yang positif dan bermanfaat kepada tubuh manusia sama ada daripada aspek fizikal mahupun emosi. Dalam buku ini, kami telah mengupas mengenai pergerakan dan postur solat serta persamaannya dengan senaman yang diperakukan pakar. kajian kami membuktikan bahawa gerakan otot-otot semasa solat mampu memperbaiki keanjalan dan kekuatan otot sendi.
Buku Senaman Dan Regangan Solat ini ialah rentetan daripada buku Solat-Kebaikan dari Perspektif Sains yang kami terbitkan sebelum ini. Fokus buku ini adalah kepada persamaan yang terdapat antara postur dan pergerakan solat berbebtuk terapi senaman yang bermanfaat kepada sistem tubuh manusia.
Buku Solat : Kebaikan Dari Perspektif Sains ini diterbitkan untuk menerangkan beberapa keputusan kajian mengenai kesan pergerakan solat yang sempurna kepada kesihatan tu buh badan yang merangkumi aspek-aspek seperti sistem kardiovaskular, komposisi tubuh badan, aktiviti gelombang otak ketika bersolat and postur badan yang optimum.
Dengan memahami hikmah dan kebaikan yang dizahirkan daripada pergerakan solat yang sempurna, akan merangsang muslimin dan mulimat dalam menunaikan ibadat solat dengan khusyuk dan tawaduk. Semoga buku ini ada manfaatnya bagi kita semua dalam memahami hikmah dan kebaikan kesihatan disebalik ibadah solat kita, insya Allah.
Buku Pencegahan Penyakit Jantung Dari Perspektif Holisitik: Buku ini adalah rentetan dari buku bertajuk ” Solat Kebaikan dari Perspektif Sains”. Dalam buku ini, kami mengupas pencegahan penyakit jantung dari perspektif sains perubatan dan juga perspektif Islam dan solat. Di sini jelas kelihatan bahawa selain daripada sains perubatan moden, gaya hidup Islam sangat praktikal untuk diamalkan dalam kehidupan seharian kerana ia adalah petunjuk daripada Pencipta kita yang mengurniakan kita manual kehidupan (al-Quran) dan juruteravyang telah menunjukkan bagaimana kita melaksanakan secra praktik (Nabi Muhammad SAW).
Dapat dirumuskan bahawa amalan yang disyorkan dan dipraktikkan oleh sains perubatan moden adalah suatu amalan yang sememangnya telah disyorkan dalam gaya hidup Islam.
Buku Sakit Pinggang: Kaedah Rawatan Melalui Prinsip Pemulihan Serta Postur Dan Pergerakan Solat:Kajian kami telah membuktikan bahawa postur dan pergerakan solat dapat membantu dalam pemulihan sakit pinggang tidak spesifik. Terapi postur dan pergerakan solat ini bukan sahaja membantu penghidap sakit pinggang berbangsa Melayu tetapi juga membawa kebaikan kepada penghidap berbangsa lain, jika mereka mengamalkan senaman yanng menyerupai postur dan pergerakan solat, iaitu postur berdiri tegak dan pergerakan rukuk.
Buku senaman & Regangan Solat: Kompenen-kompenen dalam gerakan solat yang dilakukan secara terus-menerus memberikan kesan yang positif dan bermanfaat kepada tubuh manusia sama ada daripada aspek fizikal mahupun emosi. Dalam buku ini, kami telah mengupas mengenai pergerakan dan postur solat serta persamaannya dengan senaman yang diperakukan pakar. kajian kami membuktikan bahawa gerakan otot-otot semasa solat mampu memperbaiki keanjalan dan kekuatan otot sendi.
Buku Senaman Dan Regangan Solat ini ialah rentetan daripada buku Solat-Kebaikan dari Perspektif Sains yang kami terbitkan sebelum ini. Fokus buku ini adalah kepada persamaan yang terdapat antara postur dan pergerakan solat berbebtuk terapi senaman yang bermanfaat kepada sistem tubuh manusia.
Langganan:
Komentar (Atom)