Kelahiran
Nabi Muhammad telah diputerakan di Makkah, pada hari Isnin, 12 Rabiulawal (20 April 571M). Ibu baginda, iaitu Aminah binti Wahb, adalah anak perempuan kepada Wahb bin Abdul Manaf dari keluarga Zahrah. Ayahnya, Abdullah, ialah anak kepada Abdul Muthalib. Keturunannya bersusur galur dari Nabi Ismail, anak kepada Nabi Ibrahim kira-kira dalam keturunan keempat puluh.
Ayahnya telah meninggal sebelum kelahiran baginda. Sementara ibunya meninggal ketika baginda berusia kira-kira enam tahun, menjadikannya seorang anak yatim. Menurut tradisi keluarga atasan Mekah, baginda telah dipelihara oleh seorang ibu angkat(ibu susu:-wanita yang menyusukan baginda) yang bernama Halimahtus Sa'adiah di kampung halamannya di pergunungan selama beberapa tahun. Dalam tahun-tahun itu, baginda telah dibawa ke Makkah untuk mengunjungi ibunya. Setelah ibunya meninggal, baginda dijaga oleh datuknya, Abdul Muthalib. Apabila datuknya meninggal, baginda dijaga oleh bapa saudaranya, Abu Talib. Ketika inilah baginda sering kali membantu mengembala kambing-kambing bapa saudaranya di sekitar Mekah dan kerap menemani bapa saudaranya dalam urusan perdagangan ke Syam (Syria).
Sejak kecil, baginda tidak pernah menyembah berhala dan tidak pernah terlibat dengan kehidupan sosial arab jahiliyyah yang merosakkan dan penuh kekufuran.
Masa remaja
Dalam masa remajanya, Nabi Muhammad percaya sepenuhnya dengan keesaan Allah. Baginda hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan bongkak. Baginda menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak yatim serta berkongsi penderitaan mereka dengan berusaha menolong mereka. Baginda juga menghindari semua kejahatan yang menjadi amalan biasa di kalangan para belia pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga beliau dikenali sebagai As Saadiq (yang benar) dan Al Amin (yang amanah). Baginda sentiasa dipercayai sebagai orang tengah kepada dua pihak yang bertelingkah di kampung halamannya di Mekah.
Alam Perkahwinan Baginda
Ketika berusia kira-kira 25 tahun, ayah saudara baginda menyarankan baginda untuk bekerja dengan kafilah (rombongan perniagaan) yang dimiliki oleh seorang janda yang bernama Khadijah. Baginda diterima bekerja dan bertanggungjawab terhadap pelayaran ke Syam (Syria). Baginda mengelolakan urusniaga itu dengan penuh bijaksana dan pulang dengan keuntungan luar biasa.
Khadijah begitu tertarik dengan kejujuran dan watak peribadinya yang mendorong beliau untuk menawarkan diri untuk mengahwini baginda. Baginda menerima lamarannya dan perkahwinan mereka adalah bahagia. Mereka dikurniakan 7 orang anak (3 lelaki dan 4 perempuan) tetapi ketiga-tiga anak lelaki mereka, Qasim, Abdullah dan Ibrahim meninggal semasa kecil. Manakala anak perempuan baginda ialah Ruqayyah, Zainab, Ummu Kalsum dan Fatimah az-Zahra. Khadijah merupakan satu-satunya isterinya sehinggalah Khadijah meninggal pada usia 51 tahun.
Selasa, 29 Juni 2010
Kisah Nabi Hud
Dan janji Allah SWT juga kepada Nabi Nuh adalah:
"Difirmankan: 'Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada pula umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam hehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami. " (QS. Hud: 48)
Berputarlah roda kehidupan dan datanglah janji Allah SWT. Setelah datangnya taufan, tiada yang tersisa dari manusia di muka bumi kecuali orang-orang yang beriman. Tiada satu hati yang kafir pun berada di muka bumi dan syaitan mulai mengeluhkan pengangguran.
Berlalulah tahun demi tahun, lalu matilah para orang tua dan anak-anak, dan datanglah anak dari anak-anak. Manusia lupa akan wasiat Nabi Nuh dan mereka kembali menyembah berhala. Manusia menyimpang dari penyembahan yang semata-mata untuk Allah SWT. Akhirnya, tipuan kuno berulang kembali. Para cucu kaum Nabi Nuh berkata: "Kita tidak ingin melupakan kakek kita yang Allah SWT selamatkan mereka dari taufan."
Oleh kerana itu, mereka membuat patung-patung orang-orang yang selamat itu yang dapat mengingatkan mereka dengannya. Dan pengagungan ini semakin berkembang generasi demi generasi, namun akhimya penghormatan itu berubah menjadi penghambaan. Patung- patung itu berubah - dengan bisikan syaitan - menjadi tuhan selain Allah SWT. Dan bumi kembali mengeluhkan kegelapan. Lalu Allah SWT rnengutus junjungan kita Nabi Hud di tengah-tengah kaumnya.
Al-Qur'an menyingkap ceritanya setelah diutusnya Nabi Hud untuk membawa agama kepada manusia. Nabi Hud berasal dari kabilah yang bernama 'Ad. Kabilah ini tinggal di suatu tempat yang bernama al-Ahqaf. la adalah padang pasir yang dipenuhi dengan gunung-gunung pasir dan tampak dari puncaknya lautan. Adapun tempat tinggal mereka berupa tenda-tenda besar dan mempunyai tiang-tiang yang kuat dan tinggi. Kaum 'Ad terkenal dengan kekuatan fisik di saat itu, dan mereka juga memiliki tubuh yang amat tinggi dan tegak sampai-sampai mereka mengatakan seperti yang dikutip oleh Al-Qur'an:
"Mereka berkata: 'Siapakah yang lebih kuat daripada kami.'" (QS. Fushilat: 15)
Tiada seorang pun di masa itu yang dapat menandingi kekuatan mereka. Meskipun mereka memiliki kebesaran tubuh, namun mereka memiliki akal yang gelap. Mereka menyembah berhala dan membelanya bahkan mereka siap berperang atas namanya. Mereka malah menuduh nabi mereka dan mengejeknya. Selama mereka menganggap bahawa kekuatan adalah hal yang patut dibanggakan, maka seharusnya mereka melihat bahawa Allah SWT yang menciptakan mereka lebih kuat dari mereka. Sayangnya, mereka tidak melihat selain kecongkakan mereka. Nabi Hud berkata kepada mereka:
"Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya. " (QS. Hud: 50)
Itu adalah perkataan yang sama yang diucapkan oleh seluruh nabi dan rasul. Perkataan tersebut tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang, dan tidak pernah dicabut kembali. Kaumnya bertanya kepadanya: "Apakah engkau ingin menjadi pemimpin bagi kami melalui dakwahmu ini? Imbalan apa yang engkau inginkan?" Nabi Hud memberitahu mereka bahawa ia hanya mengharapkan imbuhan dari Allah SWT. Ia tidak menginginkan sesuatu pun dari mereka selain agar mereka menerangi akal mereka dengan cahaya kebenaran. Ia mengingatkan mereka tentang nikmat Allah SWT terhadap mereka. Bagaimana Dia menjadikan mereka sebagai khalifah setelah Nabi Nuh, bagaimana Dia memberi mereka kekuatan fisik, bagaimana Dia menempatkan mereka di bumi yang penuh dengan kebaikan, bagaimana Dia mengirim hujan lalu menghidupkan bumi dengannya.
Kaum Hud membuat kerosakan dan mengira bahawa mereka orang-orang yang terkuat di muka bumi, sehingga mereka menampakkan kesombongan dan semakin menentang kebenaran. Mereka berkata kepada Nabi Hud: "Bagaimana engkau menuduh tuhan-tuhan kami yang kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya?" Nabi Hud menjawab: "Sungguh orang tua kalian telah berbuat kesalahan." Kaum Nabi Hud berkata: "Apakah engkau akan mengatakan wahai Hud bahawa setelah kami mad dan menjadi tanah yang beterbangan di udara, kita akan kembali hidup?" Nabi Hud menjawab: "Kalian akan kembali pada hari kiamat dan Allah SWT akan bertanya kepada masing-masing dari kalian tentang apa yang kalian lakukan."
Setelah mendengar jawaban itu, meledaklah tertawa dari mereka. Alangkah anehnya pengakuan Hud, demikianlah orang-orang kafir berbisik di antara mereka. Manusia akan mati dan ketika mati jasadnya akan rusak dan ketika jasadnya rusak ia akan menjadi tanah kemudian akan dibawa oleh udara dan tanah itu akan beterbangan, lalu bagaimana semua ini akan kembali ke asalnya. "Kemudian apa pengertian adanya hari kiamat? Mengapa orang-orang yang mati akan bangkit dari kematiannya?" Hud menerima pertanyaan-pertanyaan ini dengan kesabaran yang mulia. Kemudian ia mulai menerangkan pada kaumnya keadaan hari kiamat. Ia menjelaskan kepada mereka bahawa kepercayaan manusia kepada hari akhir adalah satu hal yang penting yang berhubungan dengan keadilan Allah SWT, sebagaimana ia juga sesuatu yang penting yang juga berhubungan dengan kehidupan manusia.
Nabi Hud menerangkan kepada mereka sebagaimana apa yang diterangkan oleh semua nabi berkenaan dengan hari kiamat. Sesungguhnya hikmah sang Pencipta tidak menjadi sempurna dengan sekadar memulai penciptaan kemudian berakhirnya kehidupan para makhluk di muka bumi ini, lalu setelah itu tidak ada hal yang lain. Ini adalah masa tenggang yang pertama dari ujian. Dan ujian tidak selesai dengan hanya menyerahkan lembar jawaban. Harus juga disertai dengan koreksi terhadap lembar jawaban itu, memberi nilai, dan menjelaskan siapa yang berhasil dan siapa yang gagal.
Manusia selama hidup di dunia tidak hanya mempunyai satu tindakan; ada yang berbuat kelaliman, ada yang membunuh, dan ada yang melampaui batas. Seringkali kita melihat orang-orang lalim pergi dengan bebas tanpa menjalani hukuman. Cukup banyak orang-orang yang jahat namun mereka mendapatkan fasilitas yang mewah dan mendapatkan penghormatan serta kekuasaan. Ke mana orang-orang yang teraniaya akan mengadu dan kepada siapa orang-orang yang menderita akan mengeluh?
Logika keadilan menuntut adanya hari kiamat. Sesungguhnya kebaikan tidak selalu menang dalam kehidupan, bahkan terkadang pasukan kejahatan berhasil membunuh dan memperdaya para pejuang kebenaran. Lalu, apakah kejahatan ini berlalu begitu saja tanpa mendapatkan balasan? Sungguh suatu kelaliman besar terhampar seandainya kita menganggap bahawa hari kiamat tidak pernah terjadi. Allah SWT telah mengharamkan kelaliman atas diri-Nya sendiri, dan Dia pun mengharamkannya terjadi di antara hamba-hamba-Nya., maka adanya hari kiamat, hari perhitungan, hari pembalasan adalah sebagai bukti kesempurnaan dari keadilan Allah SWT. Sebab hari kiamat adalah hari di mana semua persoalan akan disingkap kembali di depan sang Pencipta dan akan di tinjau kembali, dan Allah SWT akan memutuskan hukum-Nya di dalam-nya. Inilah kepentingan pertama tentang hari kiamat yang berhubungan langsung dengan keadilan Allah SWT.
Ada kepentingan lain berkenaan dengan hari kiamat, yang berhubungan dengan perilaku manusia sendiri. bahawa keyakinan dengan adanya hari akhir, mempercayai hari kebangkitan, perhitungan amal, penerimaan pahala dan siksa, dan kemudian masuk surga atau neraka adalah perkara- perkara yang langsung berkenaan dengan perilaku manusia, di mana konsentrasi manusia dan had mereka akan tertuju dengan alam lain setelah alam ini. Oleh kerana itu, mereka tidak akan terbelenggu oleh kenikmatan dunia, kerakusan kepadanya, dan egoisme untuk menguasinya. Mereka tidak perlu gelisah saat mereka tidak berhasil melihat balasan usaha mereka dalam umur mereka yang pendek dan terbatas. Dengan demikian, manusia semakin meninggi dari tanah yang menjadi asal penciptaannya ke roh yang ditiupkan oleh Tuhannya.
Barangkali persimpangan jalan antara tunduk terhadap imajinasi dunia, nilai-nilainya, dan pertimbangan-pertimbangannya dan ketergantungan dengan nilai-nilai Allah SWT yang tinggi dapat terwujud dengan adanya keimanan terhadap hari kiamat. Nabi Hud telah membicarakan semua ini dan mereka telah mendengarkannya namun mereka mendustakannya. Allah SWT menceritakan sikap kaum itu terhadap hari kiamat:
"Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan pertemuan dengan hari kiamat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia: 'Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia, makan dari apa yang kamu, makan, dan meminum dari apa yang kamu minum. Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian itu, kamu benar-benar menjadi orang- orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahawa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)?, jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepadamu itu, kehidupan tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. " (QS. al- Mu`minun: 33-37)
Demikianlah kaum Nabi Hud mendustakan nabinya. Mereka berkata kepadanya: "Tidak mungkin, tidak mungkin." Mereka keheranan ketika mendengar bahawa Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang ada dalam kuburan. Mereka bingung ketika dibe-ritahu bahawa Allah SWT akan mengembalikan penciptaan manusia setelah ia berubah menjadi tanah, meskipun Dia telah menciptakannya sebelumnya juga dari tanah. Seharusnya para pendusta hari kebangkitan itu merasa bahawa mengembalikan penciptaan manusia dari tanah dan tulang lebih mudah dari penciptaannya pertama kali. Bukankah Allah SWT telah menciptakan semua makhluk, maka kesulitan apa yang ditemui-Nya dalam mengembalikannya. Kesulitan itu disesuaikan dengan tolok ukur manusia yang tersembunyi dalam ciptaan., maka tolok ukur manusia tersebut tidak dapat diterapkan kepada Allah SWT. kerana Dia tidak mengenal kesulitan atau kemudahan. Ketika Dia ingin membuat sesuatu, maka Dia hanya sekadar mengeluarkan perintah:
"Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah."Lalu jadilah ia." (QS. al-Baqarah: 117)
Kita juga memperhatikan firman-Nya:
"Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya." (QS. al-Mu^minun: 33)
Al-Mala' ialah para pembesar (ar-Ruasa'). Mereka dinamakan al-Mala' kerana mereka suka berbicara dan mereka mempunyai kepentingan dalam kesinambungan situasi yang tidak sehat. Kita akan menyaksikan mereka dalam setiap kisah para nabi. Kita akan melihat para pembesar kaum, orang-orang kaya di antara mereka, dan orang-orang elit di antara mereka yang menentang para nabi. Allah SWT menggambarkan mereka dalam firman-Nya:
"Dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia. " (QS. al-Mukminun: 33)
kerana pengaruh kekayaan dan kemewahan hidup, lahirlah keinginan untuk meneruskan kepentingan-kepentingan khusus, dan dari pengaruh kekayaan dan kekuasaan, muncullah sikap sombong. Para pembesar itu menoleh kepada kaumnya sambil bertanya-tanya: "Tidakkah nabi ini manusia biasa seperti kita, ia memakan dari apa yang kita, makan, dan meminum dari apa yang kita minum? Bahkan barangkali kerana kemiskinannya, ia sedikit, makan dari apa yang kita, makan dan ia minum, menggunakan gelas-gelas yang kotor sementara kita minum dari gelas-gelas yang terbuat dari emas dan perak., maka bagaimana ia mengaku berada dalam kebenaran dan kita dalam kebatilan? Ini adalah manusia biasa, maka bagaimana kita menaati manusia biasa seperti kita? Kemudian, mengapa Allah SWT memilih manusia di antara kita untuk mendapatkan wahyu-Nya?"
Para pembesar kaum Nabi Hud berkata: "Bukankah hal yang aneh ketika Allah SWT memilih manusia biasa di antara kita untuk menerima wahyu dari-Nya?" Nabi Hud balik bertanya: "Apa keanehan dalam hal itu? Sesungguhnya Allah SWT mencintai kalian dan oleh kerananya Dia mengutus aku kepada kalian untuk mengingatkan kalian. Sesungguhnya perahu Nuh dan kisah Nuh tidak jauh dari ingatan kalian. Janganlah kalian melupakan apa yang telah terjadi. Orang-orang yang menentang Allah SWT telah dihancurkan dan begitu juga orang-orang yang akan mengingkari-Nya pun akan dihancurkan, sekuat apa pun mereka." Para pembesar kaum berkata: "Siapakah yang dapat menghancurkan kami wahai Hud?" Nabi Hud menjawab: "Allah SWT."
Orang-orang kafir dari kaum Nabi Hud berkata: "Tuhan-tuhan kami akan menyelamatkan kami." Nabi Hud memberitahu mereka, bahawa tuhan- tuhan yang mereka sembah ini dengan maksud untuk mendekatkan mereka kepada Allah SWT pada hakikatnya justru menjauhkan mereka dari-Nya. Ia menjelaskan kepada mereka bahawa hanya Allah SWT yang dapat menyelamatkan manusia, sedangkan kekuatan lain di bumi tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat.
Pertarungan antara Nabi Hud dan kaumnya semakin seru. Dan setiap kali pertarungan berlanjut dan hari berlalu, kaum Nabi Hud meningkatkan kesombongan, pembangkangan, dan pendustaan kepada nabi mereka. Mereka mulai menuduh Nabi Hud sebagai seorang idiot dan gila. Pada suatu hari mereka berkata kepadanya: "Sekarang kami memahami rahasia kegilaanmu. Sesungguhnya engkau menghina tuhan kami dan tuhan kami telah marah kepadamu, dan kerana kemarahannya engkau menjadi gila." Allah SWT menceritakan apa yang mereka katakan dalam firman-Nya:
"Kaum 'Ad berkata: 'Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami kerana perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahawa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. " (QS. Hud: 53-54)
Sampai pada batas inilah penyimpangan itu telah terjadi pada diri mereka, sampai pada batas bahawa mereka menganggap, bahawa Nabi Hud telah mengigau kerana salah satu tuhan mereka telah murka kepadanya sehingga ia terkena sesuatu penyakit gila. Nabi Hud tidak membiarkan anggapan mereka bahawa ia gila dan mengigau, naniun ia tidak bersikap emosi tetapi ia menunjukkan sikap tegas ketika mereka mengatakan: "Dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan- sembahan kami kerana perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. "
Setelah tantangan ini tiada lain bagi Nabi Hud kecuali memberikan tantangan yang sama. Nabi Hud hanya pasrah kepada Allah SWT. Nabi Hud hanya memberikan peringatan dan ancaman terhadap orang-orang yang mendustakan dakwahnya. Nabi Hud berkata:
"Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu bahawa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah karnu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. " (QS. Hud: 54-57)
Manusia akan merasa keheranan terhadap perlawanan kepada kebenaran ini. Seorang lelaki menghadapi kaum yang kasar dan keras kepala serta bodoh. Mereka menganggap bahawa berhala-berhala dari batu dapat memberikan gangguan. Manusia sendiri rnampu menentang para tiran dan melumpuhkan keyakinan mereka, serta berlepas diri dari mereka dan dari tuhan mereka. Bahkan ia siap menentang mereka dan menghadapi segala bentuk, makar mereka. Ia pun siap berperang dengan mereka dan bertawakal kepada Allah SWT. Allah-lah yang Maha Kuat dan Maha Benar. Dia-lah yang menguasai setiap makhluk di muka bumi, baik berupa binatang, manusia, maupun makhluk lain. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah SWT.
Dengan keimanan kepada Allah SWT dan dengan kepercayaan pada janji- Nya serta merasa tenang dengan pertolongan-Nya, Nabi Hud menyeru orang-orang kaflr dari kaumnya. Nabi Hud melakukan yang demikian itu meskipun ia sendirian dan merasakan kelemahan kerana ia mendapatkan keamanan yang hakiki dari Allah SWT. Dalam pembicaraannya, Nabi Hud menjelaskan kepada kaumnya bahawa ia melaksanakan amanat dan menyampaikan agama. Jika mereka mengingkari dakwahnya, niscaya Allah SWT akan mengganti mereka dengan kaum selain mereka. Yang demikian ini berarti bahawa mereka sedang menunggu azab. Demikianlah Nabi Hud menjelaskan kepada mereka, bahawa ia berlepas diri dari mereka dan dari tuhan mereka. la bertawakal kepada Allah SWT yang menciptakannya.
Ia mengetahui bahawa siksa akan turun di antara para pengikutnya yang menentang. Beginilah hukum kehidupan di mana Allah SWT menyiksa orang-orang kafir meskipun mereka sangat kuat atau sangat kaya. Nabi Hud dan kaumnya menunggu janji Allah SWT. Kemudian terjadilah masa kering di muka bumi di mana langit tidak lagi menurunkan hujan. Matahari menyengat sangat kuat hingga laksana percikan-percikan api yang menimpa kepala manusia.
Kaum Nabi Hud segera menuju kepadanya dan bertanya: "Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?" Nabi Hud berkata: "Sesungguhnya Allah SWT murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka Allah SWT akan rela terhadap kalian dan menurunkan hujan serta menambah kekuatan kalian." Namun kaum Nabi Hud justru mengejeknya dan malah semakin menentangnya., maka masa kekeringan semakin meningkat dan menguningkan pohon-pohon yang hijau dan matilah tanaman-tanaman.
Lalu datanglah suatu hari di mana terdapat awan besar yang menyelimuti langit. Kaum Nabi Hud begitu gembira dan mereka keluar dari rumah mereka sambil berkata: "Hari ini kita akan dituruni hujan." Tiba-tiba udara berubah yang tadinya sangat kering dan panas kini menjadi sangat dingin. Angin mulai bertiup dengan kencang. Semua benda menjadi bergoyang. Angin terus-menerus bertiup malam demi malam, dan hari demi hari. Setiap saat rasa dingin bertambah.
Kaum Nabi Hud mulai berlari. Mereka segera menuju ke tenda dan bersembunyi di dalamnya. Angin semakin bertiup dengan kencang dan menghancurkan tenda. Angin menghancurkan pakaian dan menghancurkan kulit. Setiap kali angin bertiup, ia menghancurkan dan membunuh apa saja yang di depannya. Angin bertiup selama tujuh malam dan delapan hari dengan mengancam kehidupan dunia. Kemudian angin berhenti dengan izin Tuhannya.
Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya." (QS. al-Ahqaf: 24-25) "Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus;, maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). " (QS. al-Haqqah: 7)
Tiada yang tersisa dari kaum Nabi Hud kecuali pohon-pohon kurma yang lapuk. Nabi Hud dan orang-orang yang beriman kepadanya selamat sedangkan orang-orang yang menentangnya binasa.
Pengajaran Dari Kisah Nabi Hud A.S.
Nabi Hud telah memberi contoh dan sistem yang baik yang patut ditiru dan diikuti oleh juru dakwah dan ahli penerangan agama.Beliau menghadapi kaumnya yang sombong dan keras kepala itu dengan penuh kesabaran, ketabahan dan kelapangan dada. Ia tidak sesekali membalas ejekan dan kata-kata kasar mereka dengan serupa tetapi menolaknya dengan kata-kata yang halus yang menunjukkan bahawa beliau dapat menguasai emosinya dan tidak sampai kehilangan akal atau kesabaran.
Nabi Hud tidak marah dan tidak gusar ketika kaumnya mengejek dengan menuduhnya telah menjadi gila dan sinting. Ia dengan lemah lembut menolak tuduhan dan ejekan itu dengan hanya mengata:"Aku tidak gila dan bahawa tuhan-tuhanmu yang kamu sembah tidak dapat menggangguku atau mengganggu fikiranku sedikit pun tetapi aku ini adalah rasul pesuruh Allah kepadamu dan betul-betul aku adalah seorang penasihat yang jujur bagimu menghendaki kebaikanmu dan kesejahteraan hidupmu dan agar kamu terhindar dan selamat dari azab dan seksaan Allah di dunia mahupun di akhirat."
Dalam berdialog dengan kaumnya.Nabi Hud selalu berusaha mengetuk hati nurani mereka dan mengajak mereka berfikir secara rasional, menggunakan akal dan fikiran yang sihat dengan memberikan bukti-bukti yang dapat diterima oleh akal mereka tentang kebenaran dakwahnya dan kesesatan jalan mereka namun hidayah iu adalah dari Allah, Dia akan memberinya kepada siapa yang Dia kehendakinya.
"Difirmankan: 'Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada pula umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam hehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami. " (QS. Hud: 48)
Berputarlah roda kehidupan dan datanglah janji Allah SWT. Setelah datangnya taufan, tiada yang tersisa dari manusia di muka bumi kecuali orang-orang yang beriman. Tiada satu hati yang kafir pun berada di muka bumi dan syaitan mulai mengeluhkan pengangguran.
Berlalulah tahun demi tahun, lalu matilah para orang tua dan anak-anak, dan datanglah anak dari anak-anak. Manusia lupa akan wasiat Nabi Nuh dan mereka kembali menyembah berhala. Manusia menyimpang dari penyembahan yang semata-mata untuk Allah SWT. Akhirnya, tipuan kuno berulang kembali. Para cucu kaum Nabi Nuh berkata: "Kita tidak ingin melupakan kakek kita yang Allah SWT selamatkan mereka dari taufan."
Oleh kerana itu, mereka membuat patung-patung orang-orang yang selamat itu yang dapat mengingatkan mereka dengannya. Dan pengagungan ini semakin berkembang generasi demi generasi, namun akhimya penghormatan itu berubah menjadi penghambaan. Patung- patung itu berubah - dengan bisikan syaitan - menjadi tuhan selain Allah SWT. Dan bumi kembali mengeluhkan kegelapan. Lalu Allah SWT rnengutus junjungan kita Nabi Hud di tengah-tengah kaumnya.
Al-Qur'an menyingkap ceritanya setelah diutusnya Nabi Hud untuk membawa agama kepada manusia. Nabi Hud berasal dari kabilah yang bernama 'Ad. Kabilah ini tinggal di suatu tempat yang bernama al-Ahqaf. la adalah padang pasir yang dipenuhi dengan gunung-gunung pasir dan tampak dari puncaknya lautan. Adapun tempat tinggal mereka berupa tenda-tenda besar dan mempunyai tiang-tiang yang kuat dan tinggi. Kaum 'Ad terkenal dengan kekuatan fisik di saat itu, dan mereka juga memiliki tubuh yang amat tinggi dan tegak sampai-sampai mereka mengatakan seperti yang dikutip oleh Al-Qur'an:
"Mereka berkata: 'Siapakah yang lebih kuat daripada kami.'" (QS. Fushilat: 15)
Tiada seorang pun di masa itu yang dapat menandingi kekuatan mereka. Meskipun mereka memiliki kebesaran tubuh, namun mereka memiliki akal yang gelap. Mereka menyembah berhala dan membelanya bahkan mereka siap berperang atas namanya. Mereka malah menuduh nabi mereka dan mengejeknya. Selama mereka menganggap bahawa kekuatan adalah hal yang patut dibanggakan, maka seharusnya mereka melihat bahawa Allah SWT yang menciptakan mereka lebih kuat dari mereka. Sayangnya, mereka tidak melihat selain kecongkakan mereka. Nabi Hud berkata kepada mereka:
"Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya. " (QS. Hud: 50)
Itu adalah perkataan yang sama yang diucapkan oleh seluruh nabi dan rasul. Perkataan tersebut tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang, dan tidak pernah dicabut kembali. Kaumnya bertanya kepadanya: "Apakah engkau ingin menjadi pemimpin bagi kami melalui dakwahmu ini? Imbalan apa yang engkau inginkan?" Nabi Hud memberitahu mereka bahawa ia hanya mengharapkan imbuhan dari Allah SWT. Ia tidak menginginkan sesuatu pun dari mereka selain agar mereka menerangi akal mereka dengan cahaya kebenaran. Ia mengingatkan mereka tentang nikmat Allah SWT terhadap mereka. Bagaimana Dia menjadikan mereka sebagai khalifah setelah Nabi Nuh, bagaimana Dia memberi mereka kekuatan fisik, bagaimana Dia menempatkan mereka di bumi yang penuh dengan kebaikan, bagaimana Dia mengirim hujan lalu menghidupkan bumi dengannya.
Kaum Hud membuat kerosakan dan mengira bahawa mereka orang-orang yang terkuat di muka bumi, sehingga mereka menampakkan kesombongan dan semakin menentang kebenaran. Mereka berkata kepada Nabi Hud: "Bagaimana engkau menuduh tuhan-tuhan kami yang kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya?" Nabi Hud menjawab: "Sungguh orang tua kalian telah berbuat kesalahan." Kaum Nabi Hud berkata: "Apakah engkau akan mengatakan wahai Hud bahawa setelah kami mad dan menjadi tanah yang beterbangan di udara, kita akan kembali hidup?" Nabi Hud menjawab: "Kalian akan kembali pada hari kiamat dan Allah SWT akan bertanya kepada masing-masing dari kalian tentang apa yang kalian lakukan."
Setelah mendengar jawaban itu, meledaklah tertawa dari mereka. Alangkah anehnya pengakuan Hud, demikianlah orang-orang kafir berbisik di antara mereka. Manusia akan mati dan ketika mati jasadnya akan rusak dan ketika jasadnya rusak ia akan menjadi tanah kemudian akan dibawa oleh udara dan tanah itu akan beterbangan, lalu bagaimana semua ini akan kembali ke asalnya. "Kemudian apa pengertian adanya hari kiamat? Mengapa orang-orang yang mati akan bangkit dari kematiannya?" Hud menerima pertanyaan-pertanyaan ini dengan kesabaran yang mulia. Kemudian ia mulai menerangkan pada kaumnya keadaan hari kiamat. Ia menjelaskan kepada mereka bahawa kepercayaan manusia kepada hari akhir adalah satu hal yang penting yang berhubungan dengan keadilan Allah SWT, sebagaimana ia juga sesuatu yang penting yang juga berhubungan dengan kehidupan manusia.
Nabi Hud menerangkan kepada mereka sebagaimana apa yang diterangkan oleh semua nabi berkenaan dengan hari kiamat. Sesungguhnya hikmah sang Pencipta tidak menjadi sempurna dengan sekadar memulai penciptaan kemudian berakhirnya kehidupan para makhluk di muka bumi ini, lalu setelah itu tidak ada hal yang lain. Ini adalah masa tenggang yang pertama dari ujian. Dan ujian tidak selesai dengan hanya menyerahkan lembar jawaban. Harus juga disertai dengan koreksi terhadap lembar jawaban itu, memberi nilai, dan menjelaskan siapa yang berhasil dan siapa yang gagal.
Manusia selama hidup di dunia tidak hanya mempunyai satu tindakan; ada yang berbuat kelaliman, ada yang membunuh, dan ada yang melampaui batas. Seringkali kita melihat orang-orang lalim pergi dengan bebas tanpa menjalani hukuman. Cukup banyak orang-orang yang jahat namun mereka mendapatkan fasilitas yang mewah dan mendapatkan penghormatan serta kekuasaan. Ke mana orang-orang yang teraniaya akan mengadu dan kepada siapa orang-orang yang menderita akan mengeluh?
Logika keadilan menuntut adanya hari kiamat. Sesungguhnya kebaikan tidak selalu menang dalam kehidupan, bahkan terkadang pasukan kejahatan berhasil membunuh dan memperdaya para pejuang kebenaran. Lalu, apakah kejahatan ini berlalu begitu saja tanpa mendapatkan balasan? Sungguh suatu kelaliman besar terhampar seandainya kita menganggap bahawa hari kiamat tidak pernah terjadi. Allah SWT telah mengharamkan kelaliman atas diri-Nya sendiri, dan Dia pun mengharamkannya terjadi di antara hamba-hamba-Nya., maka adanya hari kiamat, hari perhitungan, hari pembalasan adalah sebagai bukti kesempurnaan dari keadilan Allah SWT. Sebab hari kiamat adalah hari di mana semua persoalan akan disingkap kembali di depan sang Pencipta dan akan di tinjau kembali, dan Allah SWT akan memutuskan hukum-Nya di dalam-nya. Inilah kepentingan pertama tentang hari kiamat yang berhubungan langsung dengan keadilan Allah SWT.
Ada kepentingan lain berkenaan dengan hari kiamat, yang berhubungan dengan perilaku manusia sendiri. bahawa keyakinan dengan adanya hari akhir, mempercayai hari kebangkitan, perhitungan amal, penerimaan pahala dan siksa, dan kemudian masuk surga atau neraka adalah perkara- perkara yang langsung berkenaan dengan perilaku manusia, di mana konsentrasi manusia dan had mereka akan tertuju dengan alam lain setelah alam ini. Oleh kerana itu, mereka tidak akan terbelenggu oleh kenikmatan dunia, kerakusan kepadanya, dan egoisme untuk menguasinya. Mereka tidak perlu gelisah saat mereka tidak berhasil melihat balasan usaha mereka dalam umur mereka yang pendek dan terbatas. Dengan demikian, manusia semakin meninggi dari tanah yang menjadi asal penciptaannya ke roh yang ditiupkan oleh Tuhannya.
Barangkali persimpangan jalan antara tunduk terhadap imajinasi dunia, nilai-nilainya, dan pertimbangan-pertimbangannya dan ketergantungan dengan nilai-nilai Allah SWT yang tinggi dapat terwujud dengan adanya keimanan terhadap hari kiamat. Nabi Hud telah membicarakan semua ini dan mereka telah mendengarkannya namun mereka mendustakannya. Allah SWT menceritakan sikap kaum itu terhadap hari kiamat:
"Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan pertemuan dengan hari kiamat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia: 'Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia, makan dari apa yang kamu, makan, dan meminum dari apa yang kamu minum. Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian itu, kamu benar-benar menjadi orang- orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahawa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)?, jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepadamu itu, kehidupan tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. " (QS. al- Mu`minun: 33-37)
Demikianlah kaum Nabi Hud mendustakan nabinya. Mereka berkata kepadanya: "Tidak mungkin, tidak mungkin." Mereka keheranan ketika mendengar bahawa Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang ada dalam kuburan. Mereka bingung ketika dibe-ritahu bahawa Allah SWT akan mengembalikan penciptaan manusia setelah ia berubah menjadi tanah, meskipun Dia telah menciptakannya sebelumnya juga dari tanah. Seharusnya para pendusta hari kebangkitan itu merasa bahawa mengembalikan penciptaan manusia dari tanah dan tulang lebih mudah dari penciptaannya pertama kali. Bukankah Allah SWT telah menciptakan semua makhluk, maka kesulitan apa yang ditemui-Nya dalam mengembalikannya. Kesulitan itu disesuaikan dengan tolok ukur manusia yang tersembunyi dalam ciptaan., maka tolok ukur manusia tersebut tidak dapat diterapkan kepada Allah SWT. kerana Dia tidak mengenal kesulitan atau kemudahan. Ketika Dia ingin membuat sesuatu, maka Dia hanya sekadar mengeluarkan perintah:
"Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah."Lalu jadilah ia." (QS. al-Baqarah: 117)
Kita juga memperhatikan firman-Nya:
"Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya." (QS. al-Mu^minun: 33)
Al-Mala' ialah para pembesar (ar-Ruasa'). Mereka dinamakan al-Mala' kerana mereka suka berbicara dan mereka mempunyai kepentingan dalam kesinambungan situasi yang tidak sehat. Kita akan menyaksikan mereka dalam setiap kisah para nabi. Kita akan melihat para pembesar kaum, orang-orang kaya di antara mereka, dan orang-orang elit di antara mereka yang menentang para nabi. Allah SWT menggambarkan mereka dalam firman-Nya:
"Dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia. " (QS. al-Mukminun: 33)
kerana pengaruh kekayaan dan kemewahan hidup, lahirlah keinginan untuk meneruskan kepentingan-kepentingan khusus, dan dari pengaruh kekayaan dan kekuasaan, muncullah sikap sombong. Para pembesar itu menoleh kepada kaumnya sambil bertanya-tanya: "Tidakkah nabi ini manusia biasa seperti kita, ia memakan dari apa yang kita, makan, dan meminum dari apa yang kita minum? Bahkan barangkali kerana kemiskinannya, ia sedikit, makan dari apa yang kita, makan dan ia minum, menggunakan gelas-gelas yang kotor sementara kita minum dari gelas-gelas yang terbuat dari emas dan perak., maka bagaimana ia mengaku berada dalam kebenaran dan kita dalam kebatilan? Ini adalah manusia biasa, maka bagaimana kita menaati manusia biasa seperti kita? Kemudian, mengapa Allah SWT memilih manusia di antara kita untuk mendapatkan wahyu-Nya?"
Para pembesar kaum Nabi Hud berkata: "Bukankah hal yang aneh ketika Allah SWT memilih manusia biasa di antara kita untuk menerima wahyu dari-Nya?" Nabi Hud balik bertanya: "Apa keanehan dalam hal itu? Sesungguhnya Allah SWT mencintai kalian dan oleh kerananya Dia mengutus aku kepada kalian untuk mengingatkan kalian. Sesungguhnya perahu Nuh dan kisah Nuh tidak jauh dari ingatan kalian. Janganlah kalian melupakan apa yang telah terjadi. Orang-orang yang menentang Allah SWT telah dihancurkan dan begitu juga orang-orang yang akan mengingkari-Nya pun akan dihancurkan, sekuat apa pun mereka." Para pembesar kaum berkata: "Siapakah yang dapat menghancurkan kami wahai Hud?" Nabi Hud menjawab: "Allah SWT."
Orang-orang kafir dari kaum Nabi Hud berkata: "Tuhan-tuhan kami akan menyelamatkan kami." Nabi Hud memberitahu mereka, bahawa tuhan- tuhan yang mereka sembah ini dengan maksud untuk mendekatkan mereka kepada Allah SWT pada hakikatnya justru menjauhkan mereka dari-Nya. Ia menjelaskan kepada mereka bahawa hanya Allah SWT yang dapat menyelamatkan manusia, sedangkan kekuatan lain di bumi tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat.
Pertarungan antara Nabi Hud dan kaumnya semakin seru. Dan setiap kali pertarungan berlanjut dan hari berlalu, kaum Nabi Hud meningkatkan kesombongan, pembangkangan, dan pendustaan kepada nabi mereka. Mereka mulai menuduh Nabi Hud sebagai seorang idiot dan gila. Pada suatu hari mereka berkata kepadanya: "Sekarang kami memahami rahasia kegilaanmu. Sesungguhnya engkau menghina tuhan kami dan tuhan kami telah marah kepadamu, dan kerana kemarahannya engkau menjadi gila." Allah SWT menceritakan apa yang mereka katakan dalam firman-Nya:
"Kaum 'Ad berkata: 'Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami kerana perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahawa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. " (QS. Hud: 53-54)
Sampai pada batas inilah penyimpangan itu telah terjadi pada diri mereka, sampai pada batas bahawa mereka menganggap, bahawa Nabi Hud telah mengigau kerana salah satu tuhan mereka telah murka kepadanya sehingga ia terkena sesuatu penyakit gila. Nabi Hud tidak membiarkan anggapan mereka bahawa ia gila dan mengigau, naniun ia tidak bersikap emosi tetapi ia menunjukkan sikap tegas ketika mereka mengatakan: "Dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan- sembahan kami kerana perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. "
Setelah tantangan ini tiada lain bagi Nabi Hud kecuali memberikan tantangan yang sama. Nabi Hud hanya pasrah kepada Allah SWT. Nabi Hud hanya memberikan peringatan dan ancaman terhadap orang-orang yang mendustakan dakwahnya. Nabi Hud berkata:
"Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu bahawa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah karnu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. " (QS. Hud: 54-57)
Manusia akan merasa keheranan terhadap perlawanan kepada kebenaran ini. Seorang lelaki menghadapi kaum yang kasar dan keras kepala serta bodoh. Mereka menganggap bahawa berhala-berhala dari batu dapat memberikan gangguan. Manusia sendiri rnampu menentang para tiran dan melumpuhkan keyakinan mereka, serta berlepas diri dari mereka dan dari tuhan mereka. Bahkan ia siap menentang mereka dan menghadapi segala bentuk, makar mereka. Ia pun siap berperang dengan mereka dan bertawakal kepada Allah SWT. Allah-lah yang Maha Kuat dan Maha Benar. Dia-lah yang menguasai setiap makhluk di muka bumi, baik berupa binatang, manusia, maupun makhluk lain. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah SWT.
Dengan keimanan kepada Allah SWT dan dengan kepercayaan pada janji- Nya serta merasa tenang dengan pertolongan-Nya, Nabi Hud menyeru orang-orang kaflr dari kaumnya. Nabi Hud melakukan yang demikian itu meskipun ia sendirian dan merasakan kelemahan kerana ia mendapatkan keamanan yang hakiki dari Allah SWT. Dalam pembicaraannya, Nabi Hud menjelaskan kepada kaumnya bahawa ia melaksanakan amanat dan menyampaikan agama. Jika mereka mengingkari dakwahnya, niscaya Allah SWT akan mengganti mereka dengan kaum selain mereka. Yang demikian ini berarti bahawa mereka sedang menunggu azab. Demikianlah Nabi Hud menjelaskan kepada mereka, bahawa ia berlepas diri dari mereka dan dari tuhan mereka. la bertawakal kepada Allah SWT yang menciptakannya.
Ia mengetahui bahawa siksa akan turun di antara para pengikutnya yang menentang. Beginilah hukum kehidupan di mana Allah SWT menyiksa orang-orang kafir meskipun mereka sangat kuat atau sangat kaya. Nabi Hud dan kaumnya menunggu janji Allah SWT. Kemudian terjadilah masa kering di muka bumi di mana langit tidak lagi menurunkan hujan. Matahari menyengat sangat kuat hingga laksana percikan-percikan api yang menimpa kepala manusia.
Kaum Nabi Hud segera menuju kepadanya dan bertanya: "Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?" Nabi Hud berkata: "Sesungguhnya Allah SWT murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka Allah SWT akan rela terhadap kalian dan menurunkan hujan serta menambah kekuatan kalian." Namun kaum Nabi Hud justru mengejeknya dan malah semakin menentangnya., maka masa kekeringan semakin meningkat dan menguningkan pohon-pohon yang hijau dan matilah tanaman-tanaman.
Lalu datanglah suatu hari di mana terdapat awan besar yang menyelimuti langit. Kaum Nabi Hud begitu gembira dan mereka keluar dari rumah mereka sambil berkata: "Hari ini kita akan dituruni hujan." Tiba-tiba udara berubah yang tadinya sangat kering dan panas kini menjadi sangat dingin. Angin mulai bertiup dengan kencang. Semua benda menjadi bergoyang. Angin terus-menerus bertiup malam demi malam, dan hari demi hari. Setiap saat rasa dingin bertambah.
Kaum Nabi Hud mulai berlari. Mereka segera menuju ke tenda dan bersembunyi di dalamnya. Angin semakin bertiup dengan kencang dan menghancurkan tenda. Angin menghancurkan pakaian dan menghancurkan kulit. Setiap kali angin bertiup, ia menghancurkan dan membunuh apa saja yang di depannya. Angin bertiup selama tujuh malam dan delapan hari dengan mengancam kehidupan dunia. Kemudian angin berhenti dengan izin Tuhannya.
Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya." (QS. al-Ahqaf: 24-25) "Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus;, maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). " (QS. al-Haqqah: 7)
Tiada yang tersisa dari kaum Nabi Hud kecuali pohon-pohon kurma yang lapuk. Nabi Hud dan orang-orang yang beriman kepadanya selamat sedangkan orang-orang yang menentangnya binasa.
Pengajaran Dari Kisah Nabi Hud A.S.
Nabi Hud telah memberi contoh dan sistem yang baik yang patut ditiru dan diikuti oleh juru dakwah dan ahli penerangan agama.Beliau menghadapi kaumnya yang sombong dan keras kepala itu dengan penuh kesabaran, ketabahan dan kelapangan dada. Ia tidak sesekali membalas ejekan dan kata-kata kasar mereka dengan serupa tetapi menolaknya dengan kata-kata yang halus yang menunjukkan bahawa beliau dapat menguasai emosinya dan tidak sampai kehilangan akal atau kesabaran.
Nabi Hud tidak marah dan tidak gusar ketika kaumnya mengejek dengan menuduhnya telah menjadi gila dan sinting. Ia dengan lemah lembut menolak tuduhan dan ejekan itu dengan hanya mengata:"Aku tidak gila dan bahawa tuhan-tuhanmu yang kamu sembah tidak dapat menggangguku atau mengganggu fikiranku sedikit pun tetapi aku ini adalah rasul pesuruh Allah kepadamu dan betul-betul aku adalah seorang penasihat yang jujur bagimu menghendaki kebaikanmu dan kesejahteraan hidupmu dan agar kamu terhindar dan selamat dari azab dan seksaan Allah di dunia mahupun di akhirat."
Dalam berdialog dengan kaumnya.Nabi Hud selalu berusaha mengetuk hati nurani mereka dan mengajak mereka berfikir secara rasional, menggunakan akal dan fikiran yang sihat dengan memberikan bukti-bukti yang dapat diterima oleh akal mereka tentang kebenaran dakwahnya dan kesesatan jalan mereka namun hidayah iu adalah dari Allah, Dia akan memberinya kepada siapa yang Dia kehendakinya.
Minggu, 20 Juni 2010
KISAH NABI NOH ALAIHISSALAM
NABI NOH
PENCIPTA BAHTERA PERTAMA
Kalau benarlah apa-apa yang di katakan oleh Hisyam bin Muhammad bin as-Saib al-Kalby, bahawa Adam dan Hawa mula pertama diturunkan Allah ke permukaan bumi, di daerah pergunungan yang paling subur bernama Gunung Nut, India. Sedang menurut Ahmad Zaky, Gunung Nut itu nama aslinya adalah Gunung Rahun, di situlah Adam pertama kali diturunkan. Di sanalah Adam dan Hawa hidup dan berketurunan. Di antara keturunan Adam dan Hawa ada yang hidup berpindah randah, tentu saja dengan tujuan mencari tempat yang lebih baik, udara yang lebih nyaman, atau penghasilan yang lebih mudah mendapatkannya. Dengan jalan begitu, manusia makin lama makin banyak jumlahnya, dan daerah yang mereka tempati semakin luas pula, berkembang ke Timur dan ke Barat, ke Utara atau ke Selatan. Beberapa abad kemudian, dunia ini menjadi ramai dan semakin ramai. Pada abad pertama sampai kelima menurut Said yang diambil dari perkataan Qatadah (Sahabat Rasulullah s.a.w.), mereka boleh dikatakan hidup dalam keadaan aman dan tenteram, dengan kepercayaan yang benar sesuai dengan ajaran Adam dan Hawa yang sangat giat menunjuki akan anak turunan-nya agar jangan sampai tersesat dan celaka, seperti apa yang sudah terjadi antara adik dan kakak yang bernama Qabil dan Habil. Tetapi dalam abad-abad yang berikutnya, iaitu kira-kira pada turunan yang kelima atau keenam dari Adam dan Hawa, mulailah timbul kerosakan dalam kepercayaan mereka. Ajaran Adam dan Hawa nenek moyang mereka, sudah mereka lupakan. Lalu timbullah berbagai-bagai kerosakan, kekacauan atau perselisihan antara mereka. Diriwayatkan oleh Atiyah dari Ibnu Abbas r.a., bawah manusia di saat wafatnya Adam semuanya baik dan beriman, tetapi kemudian hampir seluruhnya menjadi seperti binatang binatang yang tidak mempunyai akal. Dan karena itulah Allah lalu mengutus Nabi-nabi dan Rasul-rasul, untuk membimbing mereka, dengan memberi khabar gembira dan ancaman. Nabi pertama yang diutus Allah, iaitu Nabi Idris a.s. kira-kira dalam abad keenam sesudah Adam. Tetapi Nabi Idris ini mereka dustakan, sampai Nabi Idris ini diangkatkan Allah ke Tempat Tinggi (wafat). Sepeninggalan Nabi Idris a.s., di antara manusia yang hidup kafir dan jahat seperti binatang itu, ada pula beberapa orang yang hidup secara baik, sehingga mereka dicintai oleh kaum kerabat dan orang orang yang ada di sekitar mereka. Di antara mereka itu ada lima orang yang amat masyhur, iaitu yang bernama: Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Menurut Hisyam, kelima-lima orang yang baik ini mati serentak berturut turut dalam satu bulan, sehingga menyebabkan kegemparan yang amat sangat bagi keluarga dan orang-orang yang mencintai mereka itu. Kemudian salah seorang dari kerabat yang sangat cinta mengusulkan kepada teman-teman dan kaum kerabat, agar bagi kelima orang baik yang telah meninggal dunia itu, dibuatkan gambar berupa patung yang menyerupai mereka, sekadar untuk kenang kenangan supaya melepaskan teragak atau rindu hati terhadap masing-masing mereka. Usul ini diterima orang banyak dengan gembira. Lalu di carilah orang-orang yang pandai menggambar dan mematungkannya. Mereka buatlah lima patung (berhala) yang pertama di dunia ini, yang masing-masingnya mereka beri nama dengan nama nama dari orang yang meninggal itu, iaitu Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Begitulah, patung-patung itu sering mereka datangi untuk melihatnya, mereka hormati, kadang-kadang dengan upacara-upacara tertentu. Demiki Menurut at-Tabary, nama-nama tersebut sesudah ditaarifkan, iaitu dibahasa-Arabkan, iaitu sesudah dilbranikan dari bahasa aslinya. Pada abad kedua, cara membesarkan dan menghormati patung-patung itu makin ditingkatkan. Dalam pada itu timbullah berbagai bagai cerita dongeng tentang patung patung atau berhala berhala tersebut, cerita-cerita yang sangat mempengaruhi jiwa manusia yang mendengarkannya. Dalam abad ketiga, mulalah timbul dogma-dogma, mitos atau kepercayaan-kepercayaan yang bersifat mistik.
Mereka katakan, bahawa nenek-moyang kita sampai menghormati patung patung itu, karena dengan penghormatan itu patung-patung tersebut dapat mendatangkan manfaat dan syafaat bagi mereka. Lalu patung-patung itu mereka sembah, mereka puja-puja. Timbullah kepercayaan menyembah patung-patung, dan patung-patung itulah tuhan, kata mereka.
Berkata Ibnul Kalby dari Ibnu Salih, bahawa menurut Ibnu Abbas r.a. antara Adam dan Noh adalah 12 abad lamanya. Dan di abad kedua belas sesudah Adam ini, seluruh manusia sudah menyembah patung-patung tersebut. Kerananya Allah lalu mengutus Nabi Noh a.s. untuk memperbaiki keadaan mereka yang sudah rosak itu.
Menurut al-Quran, umur Nabi Noh ini 950 tahun. Nabi Noh diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul ketika berumur 480 tahun, sampai wafatnya, iaitu dalam masa 500 tahun atau 5 abad lamanya. Nabi Noh a.s. dengan segiat-giatnya, tanpa mengenal lelah, siang dan malam, terus-menerus mencuba membelokkan kaumnya dari kekafiran menyembah patung-patung tersebut. Tetapi amatlah sulitnya, terlalu sedikit hasilnya. Dalam masa 5 abad itu, hanya berhasil mendapatkan pengikut 70 atau 80 orang saja, yang semuanya terdiri dari orang-orang yang lemah dan melarat saja.
Nabi Noh itu adalah seorang fasih berkata kata, tajam pemikiran atau akalnya, dapat menangkis kalau berdebat, bersifat sabar dan tenang. Sungguhpun begitu, setiap kali Nabi Noh membawa mereka kepada menyembah Allah, maka mereka menentangnya; setiap diperingatkan akan azab dan seksa Tuhan, mereka menutup anak telinga masing-masing; saban diberi khabar suka dengan Syurga Allah, bahkan mereka menyombong dan mengejek serta mencuba membantah seruan Nabi Noh.
Dengan sabar dan tak putus asa, Nabi Noh menghadapi mereka. Bukan sekali dua kali, bukan dalam waktu sebulan-dua bulan, atau setahun-dua tahun, tetapi dalam waktu berpuluh, bahkan beratus tahun. Hampir seluruh umur yang diberikan Allah kepada Nabi Noh yang lamanya 950 tahun itu, dipakaikan dengan segiat giatnya untuk membelokkan kekafiran kaumnya itu. Dengan kesabaran dan keterangan-keterangan yang terang dan jelas elas, dengan kepandaian berkata dan berbicara, dengan membawakan alasan-alasan yang lengkap. Langit dan bumi, siang dan malam, laut dan darat, dipergunakan Nabi Noh sebagai alasan dan bukti atas keagungan Allah atas kekuasaanNya, dan atas keesaan Allah.
Sedikit sekali mereka yang percaya kepada Noh dan mengiakan pelajarannya. Tidak sesuai dengan jumlahnya manusia, tidak cocok dengan kegiatan dan kebijaksanaan yang sudah diberikan Nabi Noh. Tidak lebih jumlah mereka yang menurut ini daripada 80 orang saja. Yang lain tetap engkar, tidak percaya, tetap mem-bantah dan membesarkan diri, mengejek dan lain-lain sebagainya.
Reaksi dari mereka yang engkar itu bukan semakin berkurang, malah bertambah hebat dan meningkat juga. Mereka berkata ke-pada Nabi Noh: Bukankah engkau manusia biasa seperti kami juga, buat apa kami mengikuti engkau. Kalau diutus kepada kami seorang Malaikat, barangkali dapat kami mengikutnya, mengiakan katanya. Bukankah orang-orang yang mengikuti engkau itu, orang-orang yang rendah dan bodoh belaka. Sedangkan kami ini orang orang yang mulia, berkedudukan dan pekerjaan yang tinggi-tinggi, tidak mengharapkan fikiran dan pertolongan orang lain, cukup kepandaian dan kepintaran Engkau sendiri, ya Noh, bukan lebih dari kami tentang harta, tentang akal dan fikiran, tentang pemandangan, bahkan engkau kami pandang orang yang dusta.
Semua itu dijawab oleh Nabi Noh dengan jawapan yang tegas tepat, dengan keterangan-keterangan yang dapat melemahkan dan mengalahkan hujah mereka: Dapatkan gerangan kamu memutar jalan matahari dengan kepandaianmu, atau mencapai bintang dengan tanganmu? Dapatkah kamu beroleh terang kalau tidak karena matahari yang diciptakan Allah. Dapatkah kamu hidup kalau tidak dengan udara yang dijadikan Allah?
Mereka menjawab lagi dengan sanggahan yang baru dan dibuat-buat: Kalau engkau benar-benar orang yang mencintai sesama manusia, cintailah orang-orang yang telah mengikutimu itu saja, sedang kami biarkanlah saja, karena kami tidak akan dapat mengikuti jejak mereka, kami tidak dapat menganut agama yang mereka anut yang engkau ajarkan itu, dimana disamakan sang raja raja dengan rakyat murba, orang-orang yang mulia dengan orang yang hina-dina, orang yang kaya dengan orang-orang yang miskin.
Nabi Noh menjawab: Bahawa agama ini buat kamu sekalian, dengan tidak mengecualikan yang pintar dan yang bodoh, yang jadi raja dan yang jadi budak, yang berkuasa dan dikuasai, yang kaya dan yang miskin.
Debat ini bertambah sengit juga. Noh menghadapinya dengan sabar dan tenang saja, tetapi mereka rupanya telah sempit dada, lalu berkata kepada Noh: Hai, Noh, engkau sudah debat kami, dan telah lebih dari cukup banyaknya, datangkanlah kepada kami (seksa) yang engkau katakan itu, kalau engkau orang yang benar.
Nabi Noh menambah lagi dengan sabar: Sungguh kamu orang-orang yang bodoh sekali, kamu minta seksaan Allah, bukan rahmat Allah yang kamu tuntut. Ketahuilah bahawa Allah kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Kalau Allah menghendaki akan diseksanya kamu, dan kalau Allah suka datanglah seksaan itu selekas-lekasnya kepada kamu, dimana kamu pasti menyesal nanti.
Sehabis perdebatan itu, Nabi Noh selamanya bermunajat dan berdoa kepada Allah, mengemukakan perasaan hati dan bermohon ampun atas kelemahannya, minta petunjuk petunjuk yang baru, sambil mengeluh dan mengadu. Akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Noh: Tidak akan beriman kaummu itu selain orang-orang yang telah beriman itu, dan janganlah kamu berputus asa atas apa apa yang mereka perbuat. Sehabis berjuang dan berusaha, dengan kesabaran yang ada padanya, akhirnya Nabi Noh berdoa kepada Allah:
Ya Allah, janganlah dibiarkan tinggal di bumi ini orang-orang yang engkar seorang pun, sebab kalau engkau biarkan mereka tinggal, mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu, dan mereka akan menurunkan turunan yang jahat dan engkar saja.
Doa Nabi Noh ini didengar oleh Allah, dan dikabulkanNya, lalu berfirman: Engkau perbuatlah kapal dengan pertolongan dan petunjuk-petunjuk Kami dan janganlah engkau pohonkan pertolongan kepadaKu tentang nasib orang-orang yang zalim itu, mereka semuanya akan tenggelam.
Nabi Noh mulai membina kapal dengan mempergunakan kayu dan paku, di suatu tempat dekat kota. Dan tiap orang yang lalu di tempat itu, selalu mengejek dan memperolok-olokkannya dengan berbagai bagai kata dan bicara, Ada yang berkata: Engkau selama ini, hai Noh, mendakwakan yang engkau Nabi dan Rasul; kenapa had ini kami lihat engkau menjadi tukang kayu? Apa engkau sudah bosan menjadi Nabi dan ingin menjadi tukang kayu?
Ada pula yang mengejek: Apa gunanya kapal yang engkau buat itu, sedang di sini tidak ada laut dan sungai? Apakah engkau akan tarik dengan lembu kapal itu atau akan engkau terbangkan di udara?
Di bawah serangan ejekan itu Nabi Noh terus bekerja dan hanya berkata: Bila kamu tetap mengejek kami, kami akan mengejek kamu pula nanti sebagai kamu mengejek kami ini, dan akan kamu ketahui sendiri nasibnya orang-orang yang kena seksa itu, sedang seksaan itu akan terjadi.
Noh dan pengikutnya terus bekerja, sehingga sempurnalah pembikinan kapal itu. Hanya sekarang menunggu bagaimana perintah Allah selanjutnya. Dalam pada itu Tuhan telah mewajibkan kepada Noh, agar bila seksa itu telah datang, Noh dan pengikut-pengikutnya segera naik ke kapal itu, dengan membawa semua orang yang beriman dan binatang ternaknya yang berpasang-pasangan.
Terbukalah pintu-pintu langit, sehingga dari langit itu tercurah air sebesar-besarnya jatuh ke bumi, sedang dari bumi terpancar sumber-sumber air yang besar-besar, sehingga dalam sebentar waktu permukaan bumi digenangi air banjir yang luar-biasa hebatnya, menggenangi tanah yang tinggi dan yang rendah. Air banjir semakin naik juga sehingga telah mencapai rumah-rumah dan bukit-bukit, sedang Nabi Noh dan pengikut-pengikut-nya sewaktu itu telah berada di atas kapal yang mereka perbuat selama ini.
Dengan kegemparan yang luar biasa, manusia manusia engkar itupun berlompatan ke sana-sini tidak keruan tujunya sebagai segerombolan keldai dikejuti singa, berteriak melolong lolong, menghindarkan diri masing-masing dari bahaya maut, Ada yang naik ke atas atap rumah rumah tetapi tercapai juga oleh air banjir, ada yang naik memanjat batang kayu yang tinggi, tetapi akhirnya tenggelam juga, ada pula yang berenang menuju ke bukit yang tinggi-tinggi yang menurut kiranya tidak akan tercapai oleh banjir yang bagaimana hebatnya.
Ketika Nabi Noh berdiri di tempat yang tertinggi di atas kapalnya, mata Nabi Noh terpandang kepada seorang anaknya yang bernama Kanan, anak yang engkar yang tidak tunduk kepadanya sedang berjuang dengan maut menggabai-gabai mencari tempat yang tinggi. Cinta kepada anak memaksa Noh memanggil anaknya yang malang itu, panggilan yang penghabisan: Hai, anakku! Mari bersama kami, janganlah engkau bersama orang-orang yang kafir itu ! Seruan yang penghabisan di saat yang genting begitu rupa itupun tidak dapat diterima oleh otak dan perasaan anak yang derhaka itu, karena ia masih percaya akan dapat menghindarkan dirinya dari seksaan yang nyata itu dengan kekuatan dan fikiran yang ada padanya. Seruan bapaknya itu dijawab dengan sombong pula: Saya akan mencapai puncak gunung yang tinggi itu, sehingga saya akan terlepas dari banjir ini.
Noh berkata lagi kepadanya, ya karena cinta kepada anak sendiri: Hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari seksa, selain Tuhan Yang Maha Pengasih. Anak itupun lenyap ditelan ombak yang sedang bergulung gulung, tinggallah Nabi Noh melihat dengan sedih dan berkata: Ya Allah, bukankah anakku itu termasuk keluarga saya sendiri?
Allah menurunkan ilham kepada Noh, bahawa anak itu bukan ahlimu lagi dan tidaklah termasuk menjadi keluargamu siapa saja yang kafir dan derhaka: Kami hanya berhak menolong orang orang yang iman saja. Allah ilhamkan pula kepada Noh, agar Nabi Noh jangan minta minta lagi kepada Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya dengan berfirman: Aku ajari engkau (ya Noh) tentang apa yang engkau masih jahil.
Nabi Noh insaf akan ajaran yang di terimanya dari Allah lalu menengadahkan kedua telapak tangannya bersyukur kepada Allah yang telah memelihara kaumnya yang beriman terlepas dari seksa, lalu Nabi Noh bermohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya:
Aku berlindung diri kepadaMu, ya Tuhanku, atas apa-apa yang sudah saya mohon yang saya sendiri tidak tahu betul, dan kalau Engkau tidak beri ampun atas saya, sungguh saya akan tergolong orang orang yang merugi.
Banjir dahsyat dan gelombangnya yang bergulung itu telah dapat menelan semua manusia yang engkar. Langit mulai tertutup dan berhenti mencurahkan air, sedang bumi telah menghisap semua air yang ada di atas datarannya. Kapal Nabi Noh terhenti di atas puncak Gunung Judy yang sampai sekarang orang-orang pintar sedang mencari bekas bekasnya. Nuh dan pengikutnya kembali ke kampung-halamannya menghirup udara baru yang penuh dengan berkat dan pertolongan Allah.
PENCIPTA BAHTERA PERTAMA
Kalau benarlah apa-apa yang di katakan oleh Hisyam bin Muhammad bin as-Saib al-Kalby, bahawa Adam dan Hawa mula pertama diturunkan Allah ke permukaan bumi, di daerah pergunungan yang paling subur bernama Gunung Nut, India. Sedang menurut Ahmad Zaky, Gunung Nut itu nama aslinya adalah Gunung Rahun, di situlah Adam pertama kali diturunkan. Di sanalah Adam dan Hawa hidup dan berketurunan. Di antara keturunan Adam dan Hawa ada yang hidup berpindah randah, tentu saja dengan tujuan mencari tempat yang lebih baik, udara yang lebih nyaman, atau penghasilan yang lebih mudah mendapatkannya. Dengan jalan begitu, manusia makin lama makin banyak jumlahnya, dan daerah yang mereka tempati semakin luas pula, berkembang ke Timur dan ke Barat, ke Utara atau ke Selatan. Beberapa abad kemudian, dunia ini menjadi ramai dan semakin ramai. Pada abad pertama sampai kelima menurut Said yang diambil dari perkataan Qatadah (Sahabat Rasulullah s.a.w.), mereka boleh dikatakan hidup dalam keadaan aman dan tenteram, dengan kepercayaan yang benar sesuai dengan ajaran Adam dan Hawa yang sangat giat menunjuki akan anak turunan-nya agar jangan sampai tersesat dan celaka, seperti apa yang sudah terjadi antara adik dan kakak yang bernama Qabil dan Habil. Tetapi dalam abad-abad yang berikutnya, iaitu kira-kira pada turunan yang kelima atau keenam dari Adam dan Hawa, mulailah timbul kerosakan dalam kepercayaan mereka. Ajaran Adam dan Hawa nenek moyang mereka, sudah mereka lupakan. Lalu timbullah berbagai-bagai kerosakan, kekacauan atau perselisihan antara mereka. Diriwayatkan oleh Atiyah dari Ibnu Abbas r.a., bawah manusia di saat wafatnya Adam semuanya baik dan beriman, tetapi kemudian hampir seluruhnya menjadi seperti binatang binatang yang tidak mempunyai akal. Dan karena itulah Allah lalu mengutus Nabi-nabi dan Rasul-rasul, untuk membimbing mereka, dengan memberi khabar gembira dan ancaman. Nabi pertama yang diutus Allah, iaitu Nabi Idris a.s. kira-kira dalam abad keenam sesudah Adam. Tetapi Nabi Idris ini mereka dustakan, sampai Nabi Idris ini diangkatkan Allah ke Tempat Tinggi (wafat). Sepeninggalan Nabi Idris a.s., di antara manusia yang hidup kafir dan jahat seperti binatang itu, ada pula beberapa orang yang hidup secara baik, sehingga mereka dicintai oleh kaum kerabat dan orang orang yang ada di sekitar mereka. Di antara mereka itu ada lima orang yang amat masyhur, iaitu yang bernama: Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Menurut Hisyam, kelima-lima orang yang baik ini mati serentak berturut turut dalam satu bulan, sehingga menyebabkan kegemparan yang amat sangat bagi keluarga dan orang-orang yang mencintai mereka itu. Kemudian salah seorang dari kerabat yang sangat cinta mengusulkan kepada teman-teman dan kaum kerabat, agar bagi kelima orang baik yang telah meninggal dunia itu, dibuatkan gambar berupa patung yang menyerupai mereka, sekadar untuk kenang kenangan supaya melepaskan teragak atau rindu hati terhadap masing-masing mereka. Usul ini diterima orang banyak dengan gembira. Lalu di carilah orang-orang yang pandai menggambar dan mematungkannya. Mereka buatlah lima patung (berhala) yang pertama di dunia ini, yang masing-masingnya mereka beri nama dengan nama nama dari orang yang meninggal itu, iaitu Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Begitulah, patung-patung itu sering mereka datangi untuk melihatnya, mereka hormati, kadang-kadang dengan upacara-upacara tertentu. Demiki Menurut at-Tabary, nama-nama tersebut sesudah ditaarifkan, iaitu dibahasa-Arabkan, iaitu sesudah dilbranikan dari bahasa aslinya. Pada abad kedua, cara membesarkan dan menghormati patung-patung itu makin ditingkatkan. Dalam pada itu timbullah berbagai bagai cerita dongeng tentang patung patung atau berhala berhala tersebut, cerita-cerita yang sangat mempengaruhi jiwa manusia yang mendengarkannya. Dalam abad ketiga, mulalah timbul dogma-dogma, mitos atau kepercayaan-kepercayaan yang bersifat mistik.
Mereka katakan, bahawa nenek-moyang kita sampai menghormati patung patung itu, karena dengan penghormatan itu patung-patung tersebut dapat mendatangkan manfaat dan syafaat bagi mereka. Lalu patung-patung itu mereka sembah, mereka puja-puja. Timbullah kepercayaan menyembah patung-patung, dan patung-patung itulah tuhan, kata mereka.
Berkata Ibnul Kalby dari Ibnu Salih, bahawa menurut Ibnu Abbas r.a. antara Adam dan Noh adalah 12 abad lamanya. Dan di abad kedua belas sesudah Adam ini, seluruh manusia sudah menyembah patung-patung tersebut. Kerananya Allah lalu mengutus Nabi Noh a.s. untuk memperbaiki keadaan mereka yang sudah rosak itu.
Menurut al-Quran, umur Nabi Noh ini 950 tahun. Nabi Noh diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul ketika berumur 480 tahun, sampai wafatnya, iaitu dalam masa 500 tahun atau 5 abad lamanya. Nabi Noh a.s. dengan segiat-giatnya, tanpa mengenal lelah, siang dan malam, terus-menerus mencuba membelokkan kaumnya dari kekafiran menyembah patung-patung tersebut. Tetapi amatlah sulitnya, terlalu sedikit hasilnya. Dalam masa 5 abad itu, hanya berhasil mendapatkan pengikut 70 atau 80 orang saja, yang semuanya terdiri dari orang-orang yang lemah dan melarat saja.
Nabi Noh itu adalah seorang fasih berkata kata, tajam pemikiran atau akalnya, dapat menangkis kalau berdebat, bersifat sabar dan tenang. Sungguhpun begitu, setiap kali Nabi Noh membawa mereka kepada menyembah Allah, maka mereka menentangnya; setiap diperingatkan akan azab dan seksa Tuhan, mereka menutup anak telinga masing-masing; saban diberi khabar suka dengan Syurga Allah, bahkan mereka menyombong dan mengejek serta mencuba membantah seruan Nabi Noh.
Dengan sabar dan tak putus asa, Nabi Noh menghadapi mereka. Bukan sekali dua kali, bukan dalam waktu sebulan-dua bulan, atau setahun-dua tahun, tetapi dalam waktu berpuluh, bahkan beratus tahun. Hampir seluruh umur yang diberikan Allah kepada Nabi Noh yang lamanya 950 tahun itu, dipakaikan dengan segiat giatnya untuk membelokkan kekafiran kaumnya itu. Dengan kesabaran dan keterangan-keterangan yang terang dan jelas elas, dengan kepandaian berkata dan berbicara, dengan membawakan alasan-alasan yang lengkap. Langit dan bumi, siang dan malam, laut dan darat, dipergunakan Nabi Noh sebagai alasan dan bukti atas keagungan Allah atas kekuasaanNya, dan atas keesaan Allah.
Sedikit sekali mereka yang percaya kepada Noh dan mengiakan pelajarannya. Tidak sesuai dengan jumlahnya manusia, tidak cocok dengan kegiatan dan kebijaksanaan yang sudah diberikan Nabi Noh. Tidak lebih jumlah mereka yang menurut ini daripada 80 orang saja. Yang lain tetap engkar, tidak percaya, tetap mem-bantah dan membesarkan diri, mengejek dan lain-lain sebagainya.
Reaksi dari mereka yang engkar itu bukan semakin berkurang, malah bertambah hebat dan meningkat juga. Mereka berkata ke-pada Nabi Noh: Bukankah engkau manusia biasa seperti kami juga, buat apa kami mengikuti engkau. Kalau diutus kepada kami seorang Malaikat, barangkali dapat kami mengikutnya, mengiakan katanya. Bukankah orang-orang yang mengikuti engkau itu, orang-orang yang rendah dan bodoh belaka. Sedangkan kami ini orang orang yang mulia, berkedudukan dan pekerjaan yang tinggi-tinggi, tidak mengharapkan fikiran dan pertolongan orang lain, cukup kepandaian dan kepintaran Engkau sendiri, ya Noh, bukan lebih dari kami tentang harta, tentang akal dan fikiran, tentang pemandangan, bahkan engkau kami pandang orang yang dusta.
Semua itu dijawab oleh Nabi Noh dengan jawapan yang tegas tepat, dengan keterangan-keterangan yang dapat melemahkan dan mengalahkan hujah mereka: Dapatkan gerangan kamu memutar jalan matahari dengan kepandaianmu, atau mencapai bintang dengan tanganmu? Dapatkah kamu beroleh terang kalau tidak karena matahari yang diciptakan Allah. Dapatkah kamu hidup kalau tidak dengan udara yang dijadikan Allah?
Mereka menjawab lagi dengan sanggahan yang baru dan dibuat-buat: Kalau engkau benar-benar orang yang mencintai sesama manusia, cintailah orang-orang yang telah mengikutimu itu saja, sedang kami biarkanlah saja, karena kami tidak akan dapat mengikuti jejak mereka, kami tidak dapat menganut agama yang mereka anut yang engkau ajarkan itu, dimana disamakan sang raja raja dengan rakyat murba, orang-orang yang mulia dengan orang yang hina-dina, orang yang kaya dengan orang-orang yang miskin.
Nabi Noh menjawab: Bahawa agama ini buat kamu sekalian, dengan tidak mengecualikan yang pintar dan yang bodoh, yang jadi raja dan yang jadi budak, yang berkuasa dan dikuasai, yang kaya dan yang miskin.
Debat ini bertambah sengit juga. Noh menghadapinya dengan sabar dan tenang saja, tetapi mereka rupanya telah sempit dada, lalu berkata kepada Noh: Hai, Noh, engkau sudah debat kami, dan telah lebih dari cukup banyaknya, datangkanlah kepada kami (seksa) yang engkau katakan itu, kalau engkau orang yang benar.
Nabi Noh menambah lagi dengan sabar: Sungguh kamu orang-orang yang bodoh sekali, kamu minta seksaan Allah, bukan rahmat Allah yang kamu tuntut. Ketahuilah bahawa Allah kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Kalau Allah menghendaki akan diseksanya kamu, dan kalau Allah suka datanglah seksaan itu selekas-lekasnya kepada kamu, dimana kamu pasti menyesal nanti.
Sehabis perdebatan itu, Nabi Noh selamanya bermunajat dan berdoa kepada Allah, mengemukakan perasaan hati dan bermohon ampun atas kelemahannya, minta petunjuk petunjuk yang baru, sambil mengeluh dan mengadu. Akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Noh: Tidak akan beriman kaummu itu selain orang-orang yang telah beriman itu, dan janganlah kamu berputus asa atas apa apa yang mereka perbuat. Sehabis berjuang dan berusaha, dengan kesabaran yang ada padanya, akhirnya Nabi Noh berdoa kepada Allah:
Ya Allah, janganlah dibiarkan tinggal di bumi ini orang-orang yang engkar seorang pun, sebab kalau engkau biarkan mereka tinggal, mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu, dan mereka akan menurunkan turunan yang jahat dan engkar saja.
Doa Nabi Noh ini didengar oleh Allah, dan dikabulkanNya, lalu berfirman: Engkau perbuatlah kapal dengan pertolongan dan petunjuk-petunjuk Kami dan janganlah engkau pohonkan pertolongan kepadaKu tentang nasib orang-orang yang zalim itu, mereka semuanya akan tenggelam.
Nabi Noh mulai membina kapal dengan mempergunakan kayu dan paku, di suatu tempat dekat kota. Dan tiap orang yang lalu di tempat itu, selalu mengejek dan memperolok-olokkannya dengan berbagai bagai kata dan bicara, Ada yang berkata: Engkau selama ini, hai Noh, mendakwakan yang engkau Nabi dan Rasul; kenapa had ini kami lihat engkau menjadi tukang kayu? Apa engkau sudah bosan menjadi Nabi dan ingin menjadi tukang kayu?
Ada pula yang mengejek: Apa gunanya kapal yang engkau buat itu, sedang di sini tidak ada laut dan sungai? Apakah engkau akan tarik dengan lembu kapal itu atau akan engkau terbangkan di udara?
Di bawah serangan ejekan itu Nabi Noh terus bekerja dan hanya berkata: Bila kamu tetap mengejek kami, kami akan mengejek kamu pula nanti sebagai kamu mengejek kami ini, dan akan kamu ketahui sendiri nasibnya orang-orang yang kena seksa itu, sedang seksaan itu akan terjadi.
Noh dan pengikutnya terus bekerja, sehingga sempurnalah pembikinan kapal itu. Hanya sekarang menunggu bagaimana perintah Allah selanjutnya. Dalam pada itu Tuhan telah mewajibkan kepada Noh, agar bila seksa itu telah datang, Noh dan pengikut-pengikutnya segera naik ke kapal itu, dengan membawa semua orang yang beriman dan binatang ternaknya yang berpasang-pasangan.
Terbukalah pintu-pintu langit, sehingga dari langit itu tercurah air sebesar-besarnya jatuh ke bumi, sedang dari bumi terpancar sumber-sumber air yang besar-besar, sehingga dalam sebentar waktu permukaan bumi digenangi air banjir yang luar-biasa hebatnya, menggenangi tanah yang tinggi dan yang rendah. Air banjir semakin naik juga sehingga telah mencapai rumah-rumah dan bukit-bukit, sedang Nabi Noh dan pengikut-pengikut-nya sewaktu itu telah berada di atas kapal yang mereka perbuat selama ini.
Dengan kegemparan yang luar biasa, manusia manusia engkar itupun berlompatan ke sana-sini tidak keruan tujunya sebagai segerombolan keldai dikejuti singa, berteriak melolong lolong, menghindarkan diri masing-masing dari bahaya maut, Ada yang naik ke atas atap rumah rumah tetapi tercapai juga oleh air banjir, ada yang naik memanjat batang kayu yang tinggi, tetapi akhirnya tenggelam juga, ada pula yang berenang menuju ke bukit yang tinggi-tinggi yang menurut kiranya tidak akan tercapai oleh banjir yang bagaimana hebatnya.
Ketika Nabi Noh berdiri di tempat yang tertinggi di atas kapalnya, mata Nabi Noh terpandang kepada seorang anaknya yang bernama Kanan, anak yang engkar yang tidak tunduk kepadanya sedang berjuang dengan maut menggabai-gabai mencari tempat yang tinggi. Cinta kepada anak memaksa Noh memanggil anaknya yang malang itu, panggilan yang penghabisan: Hai, anakku! Mari bersama kami, janganlah engkau bersama orang-orang yang kafir itu ! Seruan yang penghabisan di saat yang genting begitu rupa itupun tidak dapat diterima oleh otak dan perasaan anak yang derhaka itu, karena ia masih percaya akan dapat menghindarkan dirinya dari seksaan yang nyata itu dengan kekuatan dan fikiran yang ada padanya. Seruan bapaknya itu dijawab dengan sombong pula: Saya akan mencapai puncak gunung yang tinggi itu, sehingga saya akan terlepas dari banjir ini.
Noh berkata lagi kepadanya, ya karena cinta kepada anak sendiri: Hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari seksa, selain Tuhan Yang Maha Pengasih. Anak itupun lenyap ditelan ombak yang sedang bergulung gulung, tinggallah Nabi Noh melihat dengan sedih dan berkata: Ya Allah, bukankah anakku itu termasuk keluarga saya sendiri?
Allah menurunkan ilham kepada Noh, bahawa anak itu bukan ahlimu lagi dan tidaklah termasuk menjadi keluargamu siapa saja yang kafir dan derhaka: Kami hanya berhak menolong orang orang yang iman saja. Allah ilhamkan pula kepada Noh, agar Nabi Noh jangan minta minta lagi kepada Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya dengan berfirman: Aku ajari engkau (ya Noh) tentang apa yang engkau masih jahil.
Nabi Noh insaf akan ajaran yang di terimanya dari Allah lalu menengadahkan kedua telapak tangannya bersyukur kepada Allah yang telah memelihara kaumnya yang beriman terlepas dari seksa, lalu Nabi Noh bermohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya:
Aku berlindung diri kepadaMu, ya Tuhanku, atas apa-apa yang sudah saya mohon yang saya sendiri tidak tahu betul, dan kalau Engkau tidak beri ampun atas saya, sungguh saya akan tergolong orang orang yang merugi.
Banjir dahsyat dan gelombangnya yang bergulung itu telah dapat menelan semua manusia yang engkar. Langit mulai tertutup dan berhenti mencurahkan air, sedang bumi telah menghisap semua air yang ada di atas datarannya. Kapal Nabi Noh terhenti di atas puncak Gunung Judy yang sampai sekarang orang-orang pintar sedang mencari bekas bekasnya. Nuh dan pengikutnya kembali ke kampung-halamannya menghirup udara baru yang penuh dengan berkat dan pertolongan Allah.
Sabtu, 05 Juni 2010
BOIKOT PRODUK ISRAEL
Berikut adalah senarai Syarikat dan produk mereka serta sumbangan mereka ke rejim Zionis dan Amerika:
Syarikat : Phillip Morris Produk : Rokok dan Makanan Jenama : Marlboro, Virginia Slims, Benson & Hedges, Winston, Gold Coast, Merit, Parliament, Alpine, Basic, Cambridge, Bristol, Bucks, Chesterfield, Collector’s Choice, Commander, English Ovals, Lark, L&M, Players and Saratoga, C? e d’Or, Philadelphia, Polo, Milka, Malabar, Marabou, Prince Fakta : 12 % keuntungannya adalah untuk Israel, Setiap hari umat Islam membelanjakan USD 800 juta untuk membeli rokok mereka, keuntungan purata 10% atau USD 80 juta sehari. JADI USD 9.6 JUTA DUIT ORANG ISLAM PERGI KE ISRAEL SETIAP HARI
Syarikat : Coca-Cola – McDonalds – Burger King – Pizza Hut ?KFC Produk : Minuman Jenama : Light Coke, Fanta, Sprite, Canada Dry, Crush, Schweppes, Minute Maid, Nestea, Dr. Pepper Fakta : Sejak 1966 Coca Cola meyokong penuh negara Israel. Coca Cola telah menerima anugerah tertinggi dari kerajaan Israel kerana lebih 30 tahun menyokong mereka serta membantah boikot Liga Arab terhadap Israel.
Syarikat : Nestle Jenama : Kit Kat, Perrier, Libby, Nescafe, Maggie, Buitoni, Nestea, Freskies, Vittel, Pure Life, Nido, Smarties, Lion, Polo, After Eight, Coffee Mate, Nesquik, Aero, Quality Street, Felix (cat food), Crosse & Blackwell, Milkmaid, Carnation, Shreddies, Baci Baby Ruth, Butterfinger, Milkybar, Frutips Fakta : Syarikat Swiss ini dimilikki 50.1% oleh syarikat Israel, Osem Investments. Pada tahun 2000 mengumumkan untuk melabur berjuta-juta dolar di Israel dalam R & D. Pada tahun Peter Brabeck-Letmathe bagi pihak Nestle menerima Anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Netanyahu.
Syarikat : Disney Produk : Disneyland, Euro-Disney, Jenama Disney, Kartun, Filem Fakta : Pameran Walt Disney Millennium di Epcot Centre Florida menonjolkan Jerusalem sebagai ibu negara Israel. Kos US 8 juta untuk pameran ini dibiayai US 1.8 juta oleh Israel untuk menentukan isi kandungan pameran. Ini adalah kempen Israel menggunakan Disneyland untuk menguasai Jerusalem sepenuhnya.
Syarikat : Delta Galil Industries Ltd. Produk : Pasaraya, Pakaian dan Kasut Jenama : JC Penney , Carrefour Nike, Reebok, Converse, Calvin Klein, Gap, Boss, Ralph Lauren, Banana Republic, Bauer, Wrangler, Dim, Old Navy Dockers, Celio, J. Crew , Caterpillar, Lou Riders, Pryca Fakta : Syarikat kain terbesar Israel. Pengasasnya Dov Lautman adalah kenalan rapat Presiden Israel ketika itu Ehud Barak.
Syarikat : Nokia Produk : Telekomunikasi, telefon bimbit dan elektronik Fakta : Nokia melabur begitu banyak di Israel dan memanggilnya PROJEK ISRAEL.
Syarikat : Danone Produk : Makanan, minuman dan biskut Produk : Evian, Alpina, LU Biscuits, Tuc, Volvic, Strauss dairy, Jacob biscuits, Danone yogart, HP foods, LEA & PERRINS, Sant? Galbani, Danao, Danette Fakta : Pada tahun 1998 Franck Riboud bagi pihak Danone menerima Anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Israel, Netanyahu. Anugerah tertinggi negara Israel untuk syarikat yang memperkukuhkan ekonomi Israel. Institut Danone, satu institut Penyelidikan dan Pembangunan telah di tubuhkan di Israel pada tahun
1998.
Syarikat : Johnson & Johnson Produk : Kesihatan. Fakta : Pada tahun 1998 Roger S. Fineon bagi pihak Johnson & Johnson, menerima Anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Israel Netanyahu.
Syarikat : Revlon Produk : Kosmetik Fakta : Jutawan Ronald Perelman yang memilikki Revlaon adalah seorang Zionis. Penyokong kuat Zionis Merupakan pemegang amanah Pusat Simon Wiesenthal Center yang menggunakan Holocaust untuk mendapatkan sokongan Zionisma dan Israel.
Syarikat : AOL Time Warner Produk : Media Elektronik dan Cetak Jenama : ICQ, Warner Bros, CNN, AOL, Times magazine Fakta : AOL memperuntukkan 30% daripada portfolio keuntungan di Israel. Pada tahun 1998 AOL menerima anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Netanyahu.
Syarikat : IBM Fakta : Mempunyai 1700 pekerja di Israel. Satu dari 3 syarikat yang disanjung semasa Jamuan Makan Malam Liga Persahabatan Amerika-Israel Untuk Demokrasi pada 25 Jun 2001 bersama Ariel Sharon.
Syarikat : L’Oreal Jenama : Giorgio Armani, Lancome, Biotherm, Garnier, Helena Rubinstein, Donna Karan, Vichy, Cacharel, Maybelline, Redken, La roche-posay, Carson Fakta : Setelah disaman US 1.4 juta kerana menulis surat pada Liga Arab bahawa mereka menutup kilang di Israel, mereka kemudian malbur dengan begitu banyak di Israel. Kongres Yahudi Amerika amat berpuas hati dengan L? real dan menganggap mereka sahabat akrab.
Syarikat : Intel Produk : Perkakasan komputer Fakta : Intel adalah penyokong kuat Israel. Pusat pembangunan pertama di luar Amerika didirikan di Haifa pada 1974.
Syarikat : Est? Lauder Jenama : Clinique, Tommy Hilfiger, DKNY, Aramis, Origins, Ko Malone, La Mer, Prescriptives, Bobbi Brown Essentials, Aveda, Jane, MAC Cosmetics, Kate Spade, Fragrances, Stila Fakta : Pengerusinya, Ronald Lauder, pernah menjadi pengerusi Persidangan Utama Kesatuan Amerika Yahudi. Juga adalah presiden Tabung Kebangsaan Yahudi yang fungsinya ialah untuk menghalalkan pengambilan tanah rakyat Palestin oleh Israel.
Syarikat : News Corporation Produk : 20th Century Fox, Star, SKY, New York Post, National Geographic Channel, News of the World, The Times, The Sun, Nursery World, The weekly Standard, Daily Telegraph, Harper Collins Fakta : Murdoch’s New Corp. melabur dengan begitu banyak di Israel.
Syarikat : Kimberly-Clark Produk : Huggies, Kotex, Kleenex, Scott, ANDREX products Freedom, Scottex Fakta : Pada tahun 1998 Robert P. Van der Merwe , Pengerusi Kimberly Clark , menerima Anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Israel Netanyahu, kerana sumbangan mereka dalam membangunkan ekonomi Israel.
LAIN-LAIN SYARIKAT
Syarikat : Procter and Gamble Produk : Kesihatan, sabun, syampu Jenama : Head & Shoulders, Pert Plus, Pentain, Always, Tide, Crest, Pampers, Lux, Palmolive, Camay, Zest, Ariel, Fairy, Signal 2, close up, colgate, Monsieur Propre, Oil of Olaz, Petrol Hahn, Pringles, Sanicroix, Tampax, Tempo, Vicks, Vizir, Yes Swiffer, Ace, Action 500, Bonux, Mr Clean
MARS INC – Bounty, M&M’s, Mars, Snickers, Twix, Uncle Ben’s, Whiskas, Pedigree, Balisto, Brebbies
HASBRO – Parker, Pokemon, Star Wars, Episode I, Monopoly, Brothers, MB, Playskool, Tiger
GILETTE – Braun, Duracell, Gillette, Oral-B, Paper-Mate, Parker, Waterman
COLGATE PALMOLIVE – Ajax, Palmolive, Tahiti, Axion, Bingo, Fabe, Felire, La croix, Mennen, Murphy, Paic
Haagen, Dazs Ben & Jerry, CAMPBELL, Kellogg, Canderel, Levis, Raid, Heinz.
Syarikat : Phillip Morris Produk : Rokok dan Makanan Jenama : Marlboro, Virginia Slims, Benson & Hedges, Winston, Gold Coast, Merit, Parliament, Alpine, Basic, Cambridge, Bristol, Bucks, Chesterfield, Collector’s Choice, Commander, English Ovals, Lark, L&M, Players and Saratoga, C? e d’Or, Philadelphia, Polo, Milka, Malabar, Marabou, Prince Fakta : 12 % keuntungannya adalah untuk Israel, Setiap hari umat Islam membelanjakan USD 800 juta untuk membeli rokok mereka, keuntungan purata 10% atau USD 80 juta sehari. JADI USD 9.6 JUTA DUIT ORANG ISLAM PERGI KE ISRAEL SETIAP HARI
Syarikat : Coca-Cola – McDonalds – Burger King – Pizza Hut ?KFC Produk : Minuman Jenama : Light Coke, Fanta, Sprite, Canada Dry, Crush, Schweppes, Minute Maid, Nestea, Dr. Pepper Fakta : Sejak 1966 Coca Cola meyokong penuh negara Israel. Coca Cola telah menerima anugerah tertinggi dari kerajaan Israel kerana lebih 30 tahun menyokong mereka serta membantah boikot Liga Arab terhadap Israel.
Syarikat : Nestle Jenama : Kit Kat, Perrier, Libby, Nescafe, Maggie, Buitoni, Nestea, Freskies, Vittel, Pure Life, Nido, Smarties, Lion, Polo, After Eight, Coffee Mate, Nesquik, Aero, Quality Street, Felix (cat food), Crosse & Blackwell, Milkmaid, Carnation, Shreddies, Baci Baby Ruth, Butterfinger, Milkybar, Frutips Fakta : Syarikat Swiss ini dimilikki 50.1% oleh syarikat Israel, Osem Investments. Pada tahun 2000 mengumumkan untuk melabur berjuta-juta dolar di Israel dalam R & D. Pada tahun Peter Brabeck-Letmathe bagi pihak Nestle menerima Anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Netanyahu.
Syarikat : Disney Produk : Disneyland, Euro-Disney, Jenama Disney, Kartun, Filem Fakta : Pameran Walt Disney Millennium di Epcot Centre Florida menonjolkan Jerusalem sebagai ibu negara Israel. Kos US 8 juta untuk pameran ini dibiayai US 1.8 juta oleh Israel untuk menentukan isi kandungan pameran. Ini adalah kempen Israel menggunakan Disneyland untuk menguasai Jerusalem sepenuhnya.
Syarikat : Delta Galil Industries Ltd. Produk : Pasaraya, Pakaian dan Kasut Jenama : JC Penney , Carrefour Nike, Reebok, Converse, Calvin Klein, Gap, Boss, Ralph Lauren, Banana Republic, Bauer, Wrangler, Dim, Old Navy Dockers, Celio, J. Crew , Caterpillar, Lou Riders, Pryca Fakta : Syarikat kain terbesar Israel. Pengasasnya Dov Lautman adalah kenalan rapat Presiden Israel ketika itu Ehud Barak.
Syarikat : Nokia Produk : Telekomunikasi, telefon bimbit dan elektronik Fakta : Nokia melabur begitu banyak di Israel dan memanggilnya PROJEK ISRAEL.
Syarikat : Danone Produk : Makanan, minuman dan biskut Produk : Evian, Alpina, LU Biscuits, Tuc, Volvic, Strauss dairy, Jacob biscuits, Danone yogart, HP foods, LEA & PERRINS, Sant? Galbani, Danao, Danette Fakta : Pada tahun 1998 Franck Riboud bagi pihak Danone menerima Anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Israel, Netanyahu. Anugerah tertinggi negara Israel untuk syarikat yang memperkukuhkan ekonomi Israel. Institut Danone, satu institut Penyelidikan dan Pembangunan telah di tubuhkan di Israel pada tahun
1998.
Syarikat : Johnson & Johnson Produk : Kesihatan. Fakta : Pada tahun 1998 Roger S. Fineon bagi pihak Johnson & Johnson, menerima Anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Israel Netanyahu.
Syarikat : Revlon Produk : Kosmetik Fakta : Jutawan Ronald Perelman yang memilikki Revlaon adalah seorang Zionis. Penyokong kuat Zionis Merupakan pemegang amanah Pusat Simon Wiesenthal Center yang menggunakan Holocaust untuk mendapatkan sokongan Zionisma dan Israel.
Syarikat : AOL Time Warner Produk : Media Elektronik dan Cetak Jenama : ICQ, Warner Bros, CNN, AOL, Times magazine Fakta : AOL memperuntukkan 30% daripada portfolio keuntungan di Israel. Pada tahun 1998 AOL menerima anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Netanyahu.
Syarikat : IBM Fakta : Mempunyai 1700 pekerja di Israel. Satu dari 3 syarikat yang disanjung semasa Jamuan Makan Malam Liga Persahabatan Amerika-Israel Untuk Demokrasi pada 25 Jun 2001 bersama Ariel Sharon.
Syarikat : L’Oreal Jenama : Giorgio Armani, Lancome, Biotherm, Garnier, Helena Rubinstein, Donna Karan, Vichy, Cacharel, Maybelline, Redken, La roche-posay, Carson Fakta : Setelah disaman US 1.4 juta kerana menulis surat pada Liga Arab bahawa mereka menutup kilang di Israel, mereka kemudian malbur dengan begitu banyak di Israel. Kongres Yahudi Amerika amat berpuas hati dengan L? real dan menganggap mereka sahabat akrab.
Syarikat : Intel Produk : Perkakasan komputer Fakta : Intel adalah penyokong kuat Israel. Pusat pembangunan pertama di luar Amerika didirikan di Haifa pada 1974.
Syarikat : Est? Lauder Jenama : Clinique, Tommy Hilfiger, DKNY, Aramis, Origins, Ko Malone, La Mer, Prescriptives, Bobbi Brown Essentials, Aveda, Jane, MAC Cosmetics, Kate Spade, Fragrances, Stila Fakta : Pengerusinya, Ronald Lauder, pernah menjadi pengerusi Persidangan Utama Kesatuan Amerika Yahudi. Juga adalah presiden Tabung Kebangsaan Yahudi yang fungsinya ialah untuk menghalalkan pengambilan tanah rakyat Palestin oleh Israel.
Syarikat : News Corporation Produk : 20th Century Fox, Star, SKY, New York Post, National Geographic Channel, News of the World, The Times, The Sun, Nursery World, The weekly Standard, Daily Telegraph, Harper Collins Fakta : Murdoch’s New Corp. melabur dengan begitu banyak di Israel.
Syarikat : Kimberly-Clark Produk : Huggies, Kotex, Kleenex, Scott, ANDREX products Freedom, Scottex Fakta : Pada tahun 1998 Robert P. Van der Merwe , Pengerusi Kimberly Clark , menerima Anugerah Jubli daripada Perdana Menteri Israel Netanyahu, kerana sumbangan mereka dalam membangunkan ekonomi Israel.
LAIN-LAIN SYARIKAT
Syarikat : Procter and Gamble Produk : Kesihatan, sabun, syampu Jenama : Head & Shoulders, Pert Plus, Pentain, Always, Tide, Crest, Pampers, Lux, Palmolive, Camay, Zest, Ariel, Fairy, Signal 2, close up, colgate, Monsieur Propre, Oil of Olaz, Petrol Hahn, Pringles, Sanicroix, Tampax, Tempo, Vicks, Vizir, Yes Swiffer, Ace, Action 500, Bonux, Mr Clean
MARS INC – Bounty, M&M’s, Mars, Snickers, Twix, Uncle Ben’s, Whiskas, Pedigree, Balisto, Brebbies
HASBRO – Parker, Pokemon, Star Wars, Episode I, Monopoly, Brothers, MB, Playskool, Tiger
GILETTE – Braun, Duracell, Gillette, Oral-B, Paper-Mate, Parker, Waterman
COLGATE PALMOLIVE – Ajax, Palmolive, Tahiti, Axion, Bingo, Fabe, Felire, La croix, Mennen, Murphy, Paic
Haagen, Dazs Ben & Jerry, CAMPBELL, Kellogg, Canderel, Levis, Raid, Heinz.
Kisah Nabi Ibrahim
KISAH NABI IBRAHIM A.S.
Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pd waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama "Namrud bin Kan'aan."
Kerajaan Babylon pd masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang mahupun pandangan serta saranan-saranan yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mrk.Akan tetapi tingkatan hidup rohani mrk masih berada di tingkat jahiliyah. Mrk tidak mengenal Tuhan Pencipta mrk yang telah mengurniakan mrk dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mrk adalah patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.
Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak.Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dpt dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebuh-lebihanyang ia nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung yang terbina dari batu yang tidal dpt memberi manfaat dan mendtgkan kebahagiaan bagi mrk, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.Dia yang dpt berbicara, dapat mendengar, dpt berfikir, dpt memimpin mrk, membawa kemakmuran bagi mrk dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dpt mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia. di samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.
Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calun Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya,jauh-jauh telah diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras dan diperangi agar mrk kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan brg-brg itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:" Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "
Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah
Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan
hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin esekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada Allah: " Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati."Allah menjawab seruannya dengan berfirman:Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab:" Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."
Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah YAng Maha Berkuasa dpt menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki " Fayakun".
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bah ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan drpnya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan.
Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia dtg kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dpt mendtgkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mrk rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara mereka. IA berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: " Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seray berkaat: " Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku utkmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.
Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya.
Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mrk anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mrk sudah tidak berdaya menilak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mrk maka dalil dan alasan yang usanglah yang mrk kemukakan iaitu bahwa mrk hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mrk dilakukan dan sesekali mrk tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mrk warisi.
Nabi Ibrahim pd akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mrk tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mrk, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahwa mrk dan bapa-bapa mrk keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mrk lihat dengan mata kepala mrk sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mrk betul-betul tidak berguna bagi mrk dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mrk keluar kota beramai-ramai pd suatu hari raya yang mrk anggap sebagai keramat. Berhari-hari mrk tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mrk bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mrk kosong dan sunyi. Mrk berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mrk merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mrk bila ia turut serta.
" Inilah dia kesempatan yang ku nantikan," kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:" Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu."
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mrk hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mrk:" Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:" Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mrk.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim:" Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:" Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Para hakim penanya terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mrk,yang mrk pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu:" Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya iut, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:" Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu benar-benar setia kepadanya."
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mrk. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:" Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.
Para penonton upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan hairan seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah.Ada sebahagian drp mrk yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mrk namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mrk merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mrk jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mrk merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak drp mrk untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang drp mrk yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pd waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama "Namrud bin Kan'aan."
Kerajaan Babylon pd masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang mahupun pandangan serta saranan-saranan yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mrk.Akan tetapi tingkatan hidup rohani mrk masih berada di tingkat jahiliyah. Mrk tidak mengenal Tuhan Pencipta mrk yang telah mengurniakan mrk dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mrk adalah patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.
Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak.Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dpt dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebuh-lebihanyang ia nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung yang terbina dari batu yang tidal dpt memberi manfaat dan mendtgkan kebahagiaan bagi mrk, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.Dia yang dpt berbicara, dapat mendengar, dpt berfikir, dpt memimpin mrk, membawa kemakmuran bagi mrk dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dpt mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia. di samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.
Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calun Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya,jauh-jauh telah diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras dan diperangi agar mrk kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan brg-brg itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:" Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "
Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah
Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan
hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin esekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada Allah: " Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati."Allah menjawab seruannya dengan berfirman:Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab:" Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."
Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah YAng Maha Berkuasa dpt menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki " Fayakun".
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bah ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan drpnya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan.
Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia dtg kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dpt mendtgkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mrk rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara mereka. IA berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: " Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seray berkaat: " Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku utkmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.
Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya.
Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mrk anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mrk sudah tidak berdaya menilak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mrk maka dalil dan alasan yang usanglah yang mrk kemukakan iaitu bahwa mrk hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mrk dilakukan dan sesekali mrk tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mrk warisi.
Nabi Ibrahim pd akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mrk tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mrk, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahwa mrk dan bapa-bapa mrk keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mrk lihat dengan mata kepala mrk sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mrk betul-betul tidak berguna bagi mrk dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mrk keluar kota beramai-ramai pd suatu hari raya yang mrk anggap sebagai keramat. Berhari-hari mrk tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mrk bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mrk kosong dan sunyi. Mrk berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mrk merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mrk bila ia turut serta.
" Inilah dia kesempatan yang ku nantikan," kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:" Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu."
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mrk hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mrk:" Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:" Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mrk.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim:" Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:" Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Para hakim penanya terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mrk,yang mrk pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu:" Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya iut, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:" Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu benar-benar setia kepadanya."
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mrk. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:" Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.
Para penonton upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan hairan seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah.Ada sebahagian drp mrk yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mrk namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mrk merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mrk jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mrk merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak drp mrk untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang drp mrk yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.
Selasa, 01 Juni 2010
Sains Solat Jumaat
Salam semua, sempena hari Jumaat yang mulia ini marilah kita renung bersama artikel yang akan saya kongsikan. InsyaAllah bermula hari ini dan seterusnya, setiap hari Jumaat saya akan menyediakan artikel yang menarik mengenai Islam untuk kita renung bersama. Semoga kita mendapat kemudahan dari Allah s.w.t. Amin
Logiknya Solat dalam Sudut Pandangan Sains
solat_tiang_agama Seorang professor fizik di Amerika Syarikat telah membuat satu kajian tentang kelebihan solat berjemaah yang disyariatkan dalam Islam. Katanya tubuh badan kita mengandungi dua cas elektrik iatu cas positif dan cas negatif. Dalam aktiviti harian kita sama ada bekerja, beriadah atau berehat, sudah tentu banyak tenaga digunakan.
Dalam proses pembakaran tenaga, banyak berlaku pertukaran cas positif dan cas negatif, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh kita.
Ketidakseimbangan cas dalam badan menyebabkan kita rasa letih dan lesu setelah menjalankan aktiviti seharian. Oleh itu cas-cas ini perlu diseimbangkan semula untuk mengembalikan kesegaran tubuh ke tahap normal.
Berkaitan dengan solat berjemaah, timbul persoalan di minda professor ini mengapa Islam mensyariatkan solat berjemah dan mengapa solat lima waktu yang didirikan orang Islam mempunyai bilangan rakaat yang tidak sama.
Hasil kajiannya mendapati bilangan rakaat yang berbeza dalam solat kita bertindak menyeimbangkan cas-cas dalam badan kita. Semasa kita solat berjemaah, kita disuruh meluruskan saf, bahu bertemu bahu dan bersentuhan tapak kaki. Tindakan-tindakan yang dianjurkan semasa solat berjemaah itu mempunyai berbagai kelebihan. Kajian sains mendapati sentuhan yang berlaku antara tubuh kita dengan tubuh ahli jemaah lain yang berada di kiri dan kanan kita akan menstabilkan kembali cas-cas yang diperlukan oleh tubuh. Ia berlaku apabila cas yang berlebihan - sama ada negatif atau positif akan dikeluarkan, manakala yang berkurangan akan ditarik ke dalam kita. Semakin lama pergeseran ini berlaku, semakin seimbang cas dalam tubuh kita.
Menurut beliau lagi, setiap kali kita bangun dari tidur, badan kita akan merasa segar dan sihat setelah berehat berapa jam. Ketika ini tubuh kita mengandungi cas-cas positif dan negatif yang hampir seimbang. Oleh itu, kita hanya memerlukan sedikit lagi proses pertukaran cas agar keseimbangan penuh dapat dicapai. Sebab itu, solat Subuh didirikan 2 rakaat.
Seterusnya, setelah sehari kita bekerja kuat dan memerah otak semua cas ini kembali tidak stabil akibat kehilangan cas lebih banyak daripada tubuh. Oleh itu, kita memerlukan lebih banyak pertukaran cas. Solat jemaah yang disyariatkan Islam berperanan untuk memulihkan keseimbangan cas-cas berkenaan. Sebab itu, solat Zohor didirikan 4 rakaat untuk memberi ruang yang lebih kepada proses pertukaran cas dakam tubuh.
Situasi yang sama turut berlaku di sebelah petang. Banyak tenaga dikeluarkan ketika menyambung kembali tugas. Ini menyebabkan sekali lagi kita kehilangan cas yang banyak. Seperti mana solat Zohor, 4 rakaat solat Asar yang dikerjakan akan memberikan ruang kepada proses pertukaran cas dengan lebih lama.
Lazimnya, selepas waktu Asar dan pulang dari kerja kita tidak lagi melakukan aktiviti-aktiviti yang banyak menggunakan tenaga. Masa yang diperuntukkan pula tidak begitu lama. Maka, solat Maghrib hanya dikerjakan sebanyak 3 rakaat adalah lebih sesuai dengan penggunaan tenaga yng kurang berbanding 2 waktu sebelumnya.
Timbul persoalan di fikiran professor itu tentang solat Isyak yang mengandungi 4 rakaat.Logiknya, pada waktu malam kita tidak banyak melakukan aktiviti dan sudah tentu tidak memerlukan proses pertukaran cas yang banyak.
Setelah kajian lanjut, didapati terdapat keistimewaan mengapa Allah mensyariatkan 4 rakat dalam solat Isyak. Kita sedia maklum, umat Islam amat digalakkan untuk tidur awal agar mampu bangun menunaikan tahajjud di sepertiga malam. Ringkasnya, solat Isyak sebanyak 4 rakaat itu akan menstabilkan cas dalam badan serta memberikan tenaga untuk kita bangun malam (qiamullail).
Dalam kajiannya, professor ini mendapati bahawa Islam adalah satu agama yang lengkap dan istimewa. Segala amalan dan suruhan Allah Taala itu mempunyai hikmah ynag tersirat untuk kebaikan umat Islam itu sendiri. Belaiu merasakan betapa kerdilnya diri dan betapa hebatnya Pencipta alam ini. Akhirnya, dengan hidayah Allah beliau memeluk agama Islam.
Logiknya Solat dalam Sudut Pandangan Sains
solat_tiang_agama Seorang professor fizik di Amerika Syarikat telah membuat satu kajian tentang kelebihan solat berjemaah yang disyariatkan dalam Islam. Katanya tubuh badan kita mengandungi dua cas elektrik iatu cas positif dan cas negatif. Dalam aktiviti harian kita sama ada bekerja, beriadah atau berehat, sudah tentu banyak tenaga digunakan.
Dalam proses pembakaran tenaga, banyak berlaku pertukaran cas positif dan cas negatif, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh kita.
Ketidakseimbangan cas dalam badan menyebabkan kita rasa letih dan lesu setelah menjalankan aktiviti seharian. Oleh itu cas-cas ini perlu diseimbangkan semula untuk mengembalikan kesegaran tubuh ke tahap normal.
Berkaitan dengan solat berjemaah, timbul persoalan di minda professor ini mengapa Islam mensyariatkan solat berjemah dan mengapa solat lima waktu yang didirikan orang Islam mempunyai bilangan rakaat yang tidak sama.
Hasil kajiannya mendapati bilangan rakaat yang berbeza dalam solat kita bertindak menyeimbangkan cas-cas dalam badan kita. Semasa kita solat berjemaah, kita disuruh meluruskan saf, bahu bertemu bahu dan bersentuhan tapak kaki. Tindakan-tindakan yang dianjurkan semasa solat berjemaah itu mempunyai berbagai kelebihan. Kajian sains mendapati sentuhan yang berlaku antara tubuh kita dengan tubuh ahli jemaah lain yang berada di kiri dan kanan kita akan menstabilkan kembali cas-cas yang diperlukan oleh tubuh. Ia berlaku apabila cas yang berlebihan - sama ada negatif atau positif akan dikeluarkan, manakala yang berkurangan akan ditarik ke dalam kita. Semakin lama pergeseran ini berlaku, semakin seimbang cas dalam tubuh kita.
Menurut beliau lagi, setiap kali kita bangun dari tidur, badan kita akan merasa segar dan sihat setelah berehat berapa jam. Ketika ini tubuh kita mengandungi cas-cas positif dan negatif yang hampir seimbang. Oleh itu, kita hanya memerlukan sedikit lagi proses pertukaran cas agar keseimbangan penuh dapat dicapai. Sebab itu, solat Subuh didirikan 2 rakaat.
Seterusnya, setelah sehari kita bekerja kuat dan memerah otak semua cas ini kembali tidak stabil akibat kehilangan cas lebih banyak daripada tubuh. Oleh itu, kita memerlukan lebih banyak pertukaran cas. Solat jemaah yang disyariatkan Islam berperanan untuk memulihkan keseimbangan cas-cas berkenaan. Sebab itu, solat Zohor didirikan 4 rakaat untuk memberi ruang yang lebih kepada proses pertukaran cas dakam tubuh.
Situasi yang sama turut berlaku di sebelah petang. Banyak tenaga dikeluarkan ketika menyambung kembali tugas. Ini menyebabkan sekali lagi kita kehilangan cas yang banyak. Seperti mana solat Zohor, 4 rakaat solat Asar yang dikerjakan akan memberikan ruang kepada proses pertukaran cas dengan lebih lama.
Lazimnya, selepas waktu Asar dan pulang dari kerja kita tidak lagi melakukan aktiviti-aktiviti yang banyak menggunakan tenaga. Masa yang diperuntukkan pula tidak begitu lama. Maka, solat Maghrib hanya dikerjakan sebanyak 3 rakaat adalah lebih sesuai dengan penggunaan tenaga yng kurang berbanding 2 waktu sebelumnya.
Timbul persoalan di fikiran professor itu tentang solat Isyak yang mengandungi 4 rakaat.Logiknya, pada waktu malam kita tidak banyak melakukan aktiviti dan sudah tentu tidak memerlukan proses pertukaran cas yang banyak.
Setelah kajian lanjut, didapati terdapat keistimewaan mengapa Allah mensyariatkan 4 rakat dalam solat Isyak. Kita sedia maklum, umat Islam amat digalakkan untuk tidur awal agar mampu bangun menunaikan tahajjud di sepertiga malam. Ringkasnya, solat Isyak sebanyak 4 rakaat itu akan menstabilkan cas dalam badan serta memberikan tenaga untuk kita bangun malam (qiamullail).
Dalam kajiannya, professor ini mendapati bahawa Islam adalah satu agama yang lengkap dan istimewa. Segala amalan dan suruhan Allah Taala itu mempunyai hikmah ynag tersirat untuk kebaikan umat Islam itu sendiri. Belaiu merasakan betapa kerdilnya diri dan betapa hebatnya Pencipta alam ini. Akhirnya, dengan hidayah Allah beliau memeluk agama Islam.
Selasa, 25 Mei 2010
RUMAHKU SYURGAKU
KONSEP DAN FALSAFAH 'RUMAHKU SYURGAKU'
Konsep dan falsafah bagi mencapai matlamat rancangan ‘RUMAHKU SYURGAKU’ ini adalah berasaskan kepada syariat Islam yang merangkumi segenap aspek kehidupan. Diantara aspek-aspek yang ditekankan dalam rancangan ini ialah membina kebahagiaan, meningkatkan daya intelek, mewujudkan suasana penghayatan Islam dan kedamaian dalam keluarga, penjagaan kesihatan, mewujudkan keselesaan dan keindahan dalam rumah, mengamalkan perhubungan yang baik dan berkesan serta membina sifat penyayang dan toleransi di kalangan anggota keluarga.
Huraian Konsep Dan Falsafah ‘Rumahku Syurgaku’
1. Membina Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah sesuatu yang abstrak yang lahir dari hati seseorang. Tanda kebahagiaan antaranya dapat dilihat apabila seseorang itu berasa senang, suka dan gembira melalui raut wajah dan tingkah lakunya. Nilai kebahagiaan itu tidak mungkin dapat diagihkan kepada orang lain. Hadith Rasulullah s.a.w. sangat tepat membayangkan betapa bahagia itu perlu dalam hidup setiap insan. Diriwayatkan daripada An-Nu’man bin Basyir, Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Bahawasanya di dalam tubuh badan manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, baik pulalah seluruh badan, tetapi apabila ia rosak, rosak pulalah seluruh badan, Ingatlah ia adalah hati'.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadith ini jelas menerangkan bahawa kebaikan diri manusia itu terletak pada hatinya. Kalau ia baik, maka seluruh diri manusia itu akan menjadi baik. Sekiranya ia rosak yakni mempunyai penyakit-penyakit hati, maka manusia itu tidak akan dapat mengecapi nikmat kebaikan dan kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang amat penting kepada setiap insan. Ia menjadi suatu matlamat hidup seseorang sama ada di dunia mahupun di akhirat. Sebab itu setiap orang sanggup bersusah payah dan bermati-matian untuk mencari kebahagiaan. Kegagalan mendapat kebahagiaan membawa kepada kekecewaan. Kerana itu, ramai orang menjadi gila kerana hidupnya tidak bahagia. Ada pula yang sanggup mati kerana gagal menemui kebahagiaan.
Semua orang perlukan kebahagiaan hidup sama ada untuk sementara atau selamanya. Penentuan kebahagiaan berkait rapat dengan sikap, kedudukan dan fahaman seseorang terhadap kebahagiaan. Ada orang beranggapan bahawa kebahagiaan itu boleh dicapai dengan adanya harta dan wang ringgit yang banyak. Ada pula beranggapan kebahagiaan itu ialah mengenepikan hal-hal keduniaan, kemajuan dan kemewahan. Walau bagaimanapun, kebahagiaan seperti ini adalah berkisar kepada faktor kebendaan semata-mata. Apakah kebahagiaan yang sebenar? Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan sebenar ialah kaya hati.'
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Maksud kaya hati seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. itu ialah apabila hati menjadi tenteram, tenang dan merasa cukup terhadap nikmat yang dimiliki. Dari hadith ini nyatalah bahawa harta benda bukan ukuran kebahagiaan seseorang, tetapi kebahagiaan itu sebenarnya terletak di hati. Dalam hal ini, hati perlu dijaga dan beri haknya, supaya lahir sifat-sifat mulia dan terpuji seperti amanah, bersyukur, sangka baik terhadap orang lain dan sebagainya. Jelaslah bahawa dalam sesebuah rumahtangga kebahagiaan hati adalah sesuatu yang amat perlu.
Antara cara untuk mencapai kebahagiaan ialah seperti berikut:
(a) Niat Yang Baik
Salah satu cara mendapatkan kebahagiaan hidup ialah dengan membetulkan niat dalam merancang sesuatu tindakan. Dalam hubungan ini seseorang itu hendaklah melatih hatinya supaya sentiasa berniat baik dan inginkan sesuatu yang baik. Latihan sebegini dapat menjadikan seseorang itu bersifat positif dan optimis dalam melakukan sesuatu. Wajahnya akan kelihatan sentiasa riang dan tenang.
(b) Perbuatan Yang Baik
Satu lagi proses mendapat kebahagiaan hati ialah dengan melakukan perbuatan yang baik atau disebut sebagai amal saleh. Amal ini mestilah disertakan dengan niat yang baik. Dalam melakukan amal saleh, umat Islam disuruh sentiasa melakukan kerja-kerja baik dan meninggalkan kerja-kerja yang baik. Antara amal-amal saleh ialah tolong menolong, amanah, sopan santun, benci dan menjauhi maksiat, bercakap benar, penyayang dan lain-lain.
Kemuncak kebahagiaan dalam hidup seseorang ialah apabila ia telah berjaya melakukan kebaikan atau amal saleh serta menghindar segala bentuk larangan yang ditentukan oleh Islam. Ciri utama yang menjadi ukuran masyarakat bahagia ialah mereka patuh kepada suruhan Allah secara terus menerus dengan penuh khusyuk dan khudu’. Ini menepati maksud firman Allah dalam surah al-Mukminun ayat 1-11.
Maksudnya: 'Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia; dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat harta itu); dan mereka yang menjaga kehormatannya, kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela, kemudian sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya, dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya, mereka itulah orang-orang yang berhak mewarisi; yang akan mewarisi syurga Firdaus; mereka kekal di dalamnya'.
(al-Mukminun: 1-11)
2. Membina Intelek dan Meningkatkan Ilmu Pengetahuan
Hidup dalam erti kata seperti yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. di dalam al-Quran, ayat 77 surah al-Qasas, ialah untuk tidak melupakan nasib di dunia. Untuk tidak mengabaikan urusan memperjuangkan nasib di dunia ini setiap umat Islam mestilah mempertingkatkan ilmu pengetahuan dan daya intelek masing-masing. Dengan ketinggian ilmu pengetahuan dan daya intelek itulah mereka dapat menjangkau pelbagai keperluan, melepasi segala halangan dan rintangan dan mencapai ketinggian darjat selayak dengan cita-cita Islam sebagai agama yang tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripadanya. Ketinggian Islam tidak memberi erti kalau kehidupan umatnya tanpa kualiti.
Ilmu pengetahuan mempunyai tiga kepentingan utama. Pertama; Membentuk peribadi muslim supaya dapat menjalani suruhan agama dengan sewajarnya. Kedua; Membentuk sebuah umat yang kuat. Ketiga: Mempertahankan kesucian dan ketinggian agama Islam. Sekiranya umat Islam tidak mempunyai ilmu pengetahuan, kesucian dan ketinggian agama Islam akan terjejas.
Ilmu pengetahuan adalah satu perkara yang sangat luas bidangnya dan sememangnya tidak mampu dikuasai semuanya oleh manusia. Di dalam al-Quran Allah S.W.T. telah mengumpamakan ilmu itu sebagai lautan luas, yang mungkin mampu diperolihi oleh manusia hanyalah setitis daripadanya sahaja. Walaupun begitu peri pentingnya ilmu pengetahuan itu tidak boleh dinafikan, sehingga pencariannya dikategorikan sebagai satu tuntutan yang fardhu. Rasulullah s.a.w. menyebutkan melalui sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Maiah dari Anas:
Maksudnya: Daripada Anas r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Menurut ilmu itu wajib ke atas tiap-tiap orang Islam.'
(Riwayat Ibnu Majah)
Begitulah pentingnya ilmu pengetahuan yang sangat-sangat dititik beratkan oleh Islam supaya setiap orang mencarinya, tidak kira dalam apa bidang pun selagi ia mendatangkan kebaikan dan diredhai oleh Allah S.W.T.
Dalam konteks membina ‘syurga’ dalam rumahtangga, kesedaran terhadap peri pentingnya ilmu pengetahuan sangat mustahak. Ibu bapa selaku ketua keluarga mempunyai peranan yang besar dalam mencorakkan anak-anaknya. Bermula di peringkat bayi, malah sejak dari dalam kandungan lagi, sehinggalah mereka remaja dan seterusnya dewasa, pendidikan perlu diberikan mengikut tahap dan peringkat masing-masing. Kemudahan-kemudahan pelajaran yang sedia ada seperti tadika, sekolah, maktab dan pusat pengajian tinggi seharusnya dimanfaatkan sepenuhnya.
Ibu bapa selaku pengemudi keluarga sewajibnya mempunyai perancangan dan usaha yang lebih bagi mempertingkatkan pengetahuan dan daya intelek di kalangan ahlinya. Di samping itu setiap ahli keluarga pula semestinya mempunyai kesedaran untuk mempertingkatkan pengetahuan dan daya pemikiran masing-masing sesuai dengan kemampuan yang ada tanpa rasa malas dan jemu. Pandangan berat Islam yang telah meletakkan pencarian ilmu itu sebagai satu kewajipan sepatutnya disedari oleh orang kerana maju atau membangunnya sesebuah keluarga itu adalah kerana ilmu pengetahuan.
Dari segi piawai ilmu bagi sesebuah keluarga, setiap ahli keluarga bermula dengan ibu dan bapa, mereka mestilah mengetahui ilmu-ilmu fardhu ain, iaitu berkait dengan akidah, syariah dan akhlak. Dari segi akidah, seseorang itu wajib mengetahui asas-asas kepercayaan mengenai ketuhanan, Allah Yang Maha Esa dan perkara-perkara di sekitar soal keimanan yang disimpulkan di dalam rukun iman. Dari segi ilmu syariah, mereka wajib mengetahui adab-adab serta peraturan-peraturan amal ibadat. Manakala dalam bidang akhlak pula, mereka wajib mengetahui dan mengamalkan akhlak Islam sebagaimana yang digariskan di dalam al-Quran dan as-sunnah, seperti taat kepada ibu bapa, tolong menolong sesama ahli keluarga dan masyarakat, menghormati jiran tetangga dan lain-lain. Perkara-perkara ini merupakan asas yang wajib dipelajari dan dihayati oleh setiap anggota keluarga.
Di samping fardhu ain, setiap anggota keluarga juga perlu mempelajari fardhu kifayah iaitu ilmu-ilmu yang lebih bersifat kepentingan umum, yang ada kaitan langsung dengan keperluan hidup manusia seperti penyediaan bahan makanan dan barang-barang gunaan, bidang sains dan teknologi, kedoktoran, kejuruteraan, perindustrian, pembinaan tempat kediaman, penyediaan infrastruktur dan lain-lain. Pelaksanaan sebahagian daripada tuntutan agama juga terkandung sebagai fardhu kifayah, umpamanya pengurusan jenazah, sembahyang berjemaah di masjid dan lain-lain. Ilmu-ilmu yang terkandung dalam bidang fardhu kifayah ini tidak diwajibkan kepada setiap individu tetapi memadai sekiranya ada sebilangan atau seorang sahaja di dalam kelompoknya yang mempelajari atau mengetahui ilmu tersebut. Apabila seorang sahaja mengetahuinya, pada masa itu gugurlah kefardhuannya ke atas orang lain, tetapi sekiranya tidak ada seorang pun yang mempelajari sesuatu ilmu itu, maka semua orang adalah berdosa.
Hal-hal seharian di dalam keluarga seperti percakapan, bahasa yang digunakan, tingkahlaku yang ditunjukkan dan pergaulan yang diwujudkan semestinya dalam piawai ilmu dan intelek yang tinggi yang dibentuk dalam suasana harmoni. Nilai-nilai intelek yang rendah seperti melebih-lebihkan perbicaraan tentang hiburan, cakap-cakap kosong, membanyakkan kegiatan yang tidak berfaedah dan lain-lain urusan yang membazir serta tidak bermanfaat hendaklah dihindarkan. Kesedaran hendaklah ditanamkan di dalam keluarga bahawa orang-orang yang berilmu serta berakhlak mulia tidak akan melakukan perkara-perkara seperti itu. Akal yang dikurniakan oleh Allah kepada manusia menunjukkan bahawa manusia adalah makhluk yang mulia dan kurniaan itu mestilah dipelihara.
Setiap ahli keluarga mestilah menyedari bahawa orang-orang yang berilmu pengetahuan sememangnya tidak sama dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan. Orang-orang yang berilmu selain mendapat kemuliaan daripada Allah S.W.T. mereka adalah orang-orang yang menjadi harapan kepada sesuatu keluarga, kelompok masyarakat dan seterusnya negara. Merekalah menjadi pembimbing, pentadbir, pemimpin, pelindung dan tempat rujukan orang awam. Kalaulah sesuatu keluarga atau masyarakat atau bangsa itu tidak mempunyai orang-orang yang berilmu maka kedudukan mereka akan menjadi pincang dan tidak maju.
Jelaslah bahawa ilmu pengetahuan adalah satu perkara yang sangat penting dalam membentuk kehidupan yang bahagia dalam rumahtangga. Maka sebab itulah ia menjadi satu perintah yang wajib bagi setiap orang mencarinya. Saiyyidina Ali r.a. pernah berpesan:
'Ketahuilah bahawa ilmu pengetahuan adalah lebih baik daripada harta benda, sebab ilmu pengetahuan dapat menjaga dirimu, sedangkan harta benda engkaulah yang harus menjaganya. Ilmu pengetahuan adalah pihak yang berkuasa, sedangkan harta benda adalah pihak yang dikuasai. Harta benda akan berkurangan jika dibelanjakan, sedangkan ilmu pengetahuan akan bertambah-tambah jika diberikan kepada orang lain.'
3. Mewujudkan Suasana Penghayatan Islam Dan Kedamaian Dalam Keluarga
Islam telah meletakkan asas yang sempurna supaya rumah menjadi suatu tempat yang selesa kerana kebahagiaan itu bermula dari rumah. Untuk menjadikan rumah itu sebagai syurga maka aktiviti-aktiviti berikut adalah menjadi asas utama di dalam pembentukan rumahtangga.
(a) Menghidupkan Sembahyang Berjemaah
Dalam Islam, amalan yang paling pokok ialah sembahyang. Sembahyang boleh menjadi ukuran kepada seseorang sama ada ia seorang Islam yang sempurna atau pun tidak. Orang yang mengaku dirinya beragama Islam, tidak sempurna Islamnya jika ia tidak melakukan ibadat sembahyang. Sembahyang berjemaah di masjid atau surau dituntut oleh Islam. Kelebihannya sangat besar dan pahalanya 27 kali ganda daripada sembahyang berseorangan. Sembahyang jemaah dapat mewujudkan hubungan silaturrahim, melahirkan perhubungan kasih sayang dan semangat kekitaan dan dapat menghindarkan perasaan mementingkan diri sendiri. Oleh itu bagi orang yang tidak berhampiran atau berdekatan dengan masjid atau surau adalah disunatkan ke masjid atau surau bersama keluarga bagi menunaikan sembahyang jemaah.
Bagi orang yang tinggal jauh dari masjid, mereka digalakkan mengerjakan sembahyang jemaah di rumah bersama keluarga. Bapa sebagai ketua keluarga adalah bertindak sebagai imam, manakala anak-anak dan isteri sebagai makmum. Waktu yang amat sesuai diadakan sembahyang jemaah ialah waktu Maghrib, Isyak dan Subuh, kerana waktu-waktu itu lazimnya ibu bapa dan anak-anak berada di rumah. Jika terdapat tetamu yang mengunjungi rumah pada waktu tersebut, eloklah mereka diajak bersembahyang jemaah bersama-sama .
Bagi membentuk keluarga yang bahagia dan menjadikan rumah sebagai syurga, maka sembahyang berjemaah sekeluarga mesti diadakan secara terus menerus, sekurang-kurangnya sekali seminggu bagi keluarga yang sibuk, atau tiap-tiap hari bagi keluarga yang mempunyai kemampuan. Amalan ini mempunyai faedah yang besar serta dapat mendidik anak-anak menghayati Islam dengan sebenar, serta dapat membentuk akhlak yang baik. Ibu bapa sebagai pemegang amanah daripada Allah S.W.T. untuk mendidik dan mencorakkan anak-anak mereka ke jalan yang benar, adalah berkewajipan untuk mendidik anak-anak mereka tentang pelaksanaan tanggungjawab ibadat sejak mereka masih kecil lagi.
(b) Membaca al-Quran Bersama Di rumah
Membaca al-Quran mempunyai pahala yang besar, amalan ini boleh mengukuhkan keimanan seseorang dan mendekatkan diri kepada Allah serta memberi ketenangan kepada hati. Firman Allah di dalam surah ar-Ra’d ayat 28:
Maksudnya: '(iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan ‘zikrullah’ itu, tenang tenteramlah hati manusia.'
Menurut Tafsir Pimpinan ar-Rahman terbitan JAKIM, ‘zikrullah’ pada ayat ini maksudnya al-Quran al-Karim yang menjadi sebesar-besar mukjizat yang tidak ada tolok bandingnya. Nyatalah bahawa membaca al-Quran itu menjadi ibadat yang sangat berfaedah bagi seseorang muslim yang patut dilakukan pada setiap hari sama ada di waktu pagi, petang ataupun malam.
Keluarga bahagia ialah keluarga yang dapat membaca dan menghayati isi al-Quran dengan baik. Sistem pendidikan negara kita membolehkan semua rakyat mampu membaca al-Quran. Oleh kerana membaca al-Quran adalah satu ibadat yang amat penting dan utama dalam kehidupan orang Islam, maka perlulah diikhtiarkan cara yang berkesan supaya amalan ini dapat dihayati dalam kehidupan harian.
Dalam program secara bersama dalam keluarga hendaklah menjadi amalan harian atau sekurang-kurangnya satu kali seminggu. Al-Quran mengandungi 604 halaman, jika dalam masa seminggu dibaca dua halaman, maka dalam tempoh satu tahun hampir separuh dari al-Quran dapat dihabiskan. Amalan ini hendaklah diteruskan sepanjang hayat.
(c) Membaca Buku Agama Di Rumah Beramai-ramai
Satu lagi amalan dalam rumahtangga yang bahagia ialah mengumpulkan keluarga sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu untuk membaca buku agama. Buku agama ini boleh dipilih dari buku-buku yang terkenal dalam berbagai bidang seperti sejarah Islam, sejarah ulama’ dan pemikiran Islam, asas-asas fardhu ain, ilmu tauhid, akhlak dan lain-lain.
Dengan cara membaca buku agama, secara tidak langsung boleh menambah dan meluaskan ilmu pengetahuan ahli keluarga. Melalui amalan membaca buku di rumah ini juga dapat melatih ahli keluarga khususnya anak-anak yang dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Dalam hubungan ini kaedah yang boleh digunakan ialah membaca bergilir-gilir di antara ibu, bapa dan anak.
(d) Makan Bersama Sekeluarga
Keluarga bahagia ialah keluarga yang dapat mewujudkan tradisi makan bersama-sama sekurang-kurangnya sekali seminggu iaitu pada cuti hujung minggu. Malam adalah waktu yang agak sesuai untuk menghadapi makanan secara bersama keluarga kerana semua ahli keluarga di waktu itu telah selesai menunaikan tanggungjawab masing-masing di dalam bidang pekerjaan dan pelajaran. Makan bersama keluarga boleh mengeratkan lagi rasa kasih sayang antara anggota keluarga.
Ibu bapa harus memainkan peranan bagi mewujudkan suasana yang harmoni ketika makan. Inilah di antara kesempatan terbaik untuk ibu bapa berbicara dengan anak-anak dan dapat memberi nasihat, menanam pendidikan dan memupuk kasih sayang dalam keluarga.
Sebagai contoh, semasa menghadapi makanan dinasihatkan membaca ‘bismillah’ bagi mendapatkan keberkatan terhadap makanan dan minuman tersebut dan sebagai tanda terima kasih terhadap Allah yang telah memberikan rezeki. Semasa hendak menjamah makanan yang dihidangkan seorang ahli keluarga, bapa atau ibu hendaklah membaca doa ringkas iaitu:
Maksudnya: Daripada Abdullah bin Amr, daripada Nabi s.a.w. bahawasanya baginda membaca doa apabila dihidangkan makanan kepada mereka dengan doa yang bermaksud: 'Ya Allah berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami daripada azab api neraka, dengan nama Allah'.
(Riwayat Abu Bakar ibn as-Sunni)
Semasa makan bersama keluarga, anak-anak hendaklah diperingatkan supaya tidak memulakan makan atau minum kecuali setelah dimulakan oleh ibu bapa atau orang yang lebih tua. Begitulah juga adab di dalam satu-satu majlis makan yang lain. Ini adalah bertepatan dengan hadith Nabi s.a.w. yang menyebut:
Maksudnya: Daripada Huzaifah r.a. katanya: 'Apabila kami bersama-sama Rasulullah s.a.w. menghadapi makanan, kami tidak menghulurkan tangan sehingga Baginda memulakan menjamah makanan tersebut terlebih dahulu.'
(Riwayat Muslim)
Ibu bapa juga adalah bertanggungjawab untuk sentiasa mendisiplinkan anak-anak sewaktu makan dengan tidak banyak bercakap tentang perkara-perkara yang tidak berfaedah, melarang makan di tempat-tempat yang tidak sesuai seperti di ruang tamu, di hadapan TV dan di dalam bilik tidur. Memulakan makanan dari sebelah kanan, makan dengan tidak gelojoh dan lain-lain.
(e) Memberi Salam Semasa Masuk Atau Meninggalkan Rumah
Keluarga bahagia pulang ke rumah dengan keadaan gembira. Apabila samapai ke pintu rumah mereka akan menyampaikan salam dan anggota di dalamnya menjawab salam tersebut dengan jelas. Demikianlah juga apabila mereka meninggalkan rumah untuk pergi bekerja atau ke sekolah. Amalan ini wajar dihayati sebagai amalan harian kerana ia boleh membuatkan hubungan di kalangan semua anggota keluarga terus mesra dan kukuh.
Ucapan salam ialah doa seseorang kepada seseorang yang lain supaya sentiasa berada di dalam suasana kebaikan dan keselamatan dan juga merupakan penghubung kasih sayang di antara sesama manusia. Oleh itu ibu bapa wajar mempraktikkan salam ini supaya dapat diikuti anak-anak mereka.
(f) Minta Keizinan Masuk Bilik
Setiap ibu bapa perlulah melatih anak-anak meminta izin atau kebenaran sebelum mereka masuk ke bilik tidur ibu bapa. Dalam hal ini Allah S.W.T. telah memberi panduan melalui firman-Nya dalam surah an-Nur ayat 58:
Maksudnya: 'Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba-hamba kamu dan orang-orang yang belum baligh dari kalangan kamu, meminta izin kepada kamu (sebelum masuk ke tempat kamu) dalam tiga masa, (iaitu) sebelum sembahyang Subuh dan ketika kamu membuka pakaian kerana kepanasan tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’; itulah tiga masa bagi kamu (yang biasanya terdedah aurat kamu padanya). Kemudian mereka tidaklah bersalah kemudian daripada tiga masa yang tersebut, (kerana mereka orang-orang yang selalu keluar masuk kepada kamu dan kamu masing-masing sentiasa berhubung rapat antara satu dengan yang lain. Demikianlah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-NYA (yang menjelaskan hukum-hukum-NYA); dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana.'
(An-Nur : 58)
4. Mengekalkan Kedamaian Dan Kerukunan Rumahtangga
Rumahtangga bahagia ialah rumahtangga yang wujud unsur-unsur kedamaian dan keselesaan. Suami sebagai ketua keluarga adalah berkewajipan memimpin isteri dan anak-anaknya melalui kehidupan yang diredhai Allah dengan memberi didikan agama dan menyemadikan niali-nilai murni kepada mereka.
Antara unsur-unsur kedamaian di dalam rumahtangga ialah:
(a) Tolong Menolong dan Bantu Membantu Dalam Keluarga
Setiap ahli keluarga berkewajipan untuk mendisiplinkan diri bagi melaksanakan tugas masing-masing. Umpamanya suami atau bapa berkewajipan mencari nafkah atau melakukan kerja-kerja yang memerlukan gerakan fizikal yang lebih, manakala isteri atau ibu melakukan kerja- kerja yang agak ringan dan sesuai dengan kemahiran wanita. Begitu juga dengan anak-anak diberikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan peringkat umur dan kesanggupan fizikal mereka. Satu program gotong royong di antara ahli keluarga seperti membersihkan rumah patut diadakan sekurang-kurangnya seminggu sekali. Ia boleh mewujudkan perasaan kasih sayang dan rasa tanggungjawab di kalangan ahli keluarga. Melalui program ini rumah sentiasa bersih dan kesihatan dapat dijaga. Allah mengasihi orang-orang yang mengamalkan kebersihan.
(b) Hubungan Kejiranan Yang Baik
Kesejahteraan dalam keluarga bukan hanya diperolihi hasil dari hubungan antara anggota dalam keluarga sahaja malahan hubungan dengan jiran sekeliling juga patut diberi perhatian. Perhubungan kejiranan yang intim akan wujud jikalau semua ahli keluarga berkesempatan untuk berbual-bual mesra, bertukar-tukar fikiran, bergurau senda dan beramah mesra antara satu sama lain. Oleh itu setiap keluarga wajar meluangkan satu masa untuk berinteraksi dengan jiran khususnya jiran yang paling hampir.
(c) Menunaikan Tuntutan Fardhu Kifayah
Selain berbaik-baik dengan jiran tetangga, setiap keluarga juga wajar memiliki beberapa kemahiran. Dalam Islam ilmu dibahagikan kepada dua bahagian, iaitu fardhu ain dan fardhu kifayah. Maksud fardhu kifayah dalam konteks kesejahteraan keluarga ialah semua ahli keluarga khususnya anak-anak hendaklah dilatih dengan asas-asas kemahiran hidup ataupun ilmu-ilmu teknikal yang ada hubungkait dengan alam rumahtangga. Kemahiran seperti ini perlu bagi setiap ahli keluarga supaya mereka berupaya melakukan sendiri kerja-kerja seperti membaiki kerosakan-kerosakan kecil pada rumah. Memasang dan menukar mentol lampu, membaiki kebocoran paip air dan lain-lain. Di samping itu ahli keluarga hendaklah mempunyai kemahiran asas di dalam membaiki kenderaan yang dipunyai oleh keluarga seperti kereta, motosikal, basikal dan seumpamanya. Ini adalah bersesuaian dengan kehendak negara untuk mewujudkan masyarakat yang bekerja dan berkemahiran.
(d) Mengadakan Aktiviti Rekreasi
Dalam rumahtangga perlu juga ada suasana hiburan dan rekreasi dalam keluarga. Ia boleh menimbulkan kesan positif ke arah kesihatan mental dan fizikal. Jenis-jenis hiburan pula mestilah yang tidak bercanggah dengan hukum Islam. Setiap keluarga juga wajar mengatur program rehlah ke tempat-tempat rekreasi atau lawatan di dalam atau luar negeri mengikut kemampuan keluarga tersebut. Aktiviti ini akan mengeratkan lagi hubungan kasih sayang dan mewujudkan kemesraan dalam keluarga.
5. Menjaga Kesihatan dan Kebersihan Keluarga
Kebahagiaan rumahtangga tidak akan tercapai jika sekiranya terdapat ahli-ahli keluarga sering mengidapi penyakit. Ibu atau bapa yang tidak sihat tidak dapat menguruskan rumahtangga dengan sempurna. Manakala anak-anak yang sakit pula tidak dapat membesar dan berkembang dengan baik. Oleh kerana kesihatan tubuh badan menjadi soal penting dalam hidup seseorang dan memerangi penyakit adalah satu tugas yang wajib di dalam Islam, maka Islam telah menggariskan beberapa panduan yang berkaitan dengan kesihatan seperti berikut;
(a) Makan Makanan Yang Halal
Islam menggesa umatnya supaya memakan benda-benda yang baik dan halal serta melarang memakan benda-benda yang merbahaya dan merosakkan kesihatan. Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 114:
Maksudnya: 'Oleh itu makanlah (wahai orang-orang yang beriman) dari apa yang telah dikurniakan oleh Allah kepada kamu dari benda-benda yang halal lagi baik, dan bersyukurlah akan nikmat Allah, jika benar kamu hanya menyembah akan Dia semata-mata.'
(An-Nahl : 114)
Firman Allah S.W.T. dalam surah al-Baqarah ayat 172 :
Maksudnya: 'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika betul kamu hanya beribadat kepada-NYA.'
Oleh yang demikian, setiap ibu bapa hendaklah mengambil berat tentang makan minum keluarganya dan memastikan setiap makanan yang masuk ke dalam perut keluarganya itu daripada sumber rezeki yang halal.
(b) Makan Makanan Yang Bermutu Dan Berkhasiat
Penjagaan kesihatan dari segi penyimpanan, penyediaan, penghidangan makanan dan keperluan pemakanan perlu dititikberatkan. Penyediaan makanan dan pemakanan perlu dirancang dengan teliti supaya kuantiti dan kualiti zat makanan itu seimbang dengan keperluan setiap keluarga. Seorang ibu wajib menyediakan makanan yang berzat dan berkhasiat. Dalam pemilihan kandungan zat makanan ia tidak semestinya diambil dari bahan-bahan yang mahal tetapi yang penting makanan itu berkhasiat dan tidak memudaratkan kesihatan.
(c) Elakkan Makan Makanan Yang Tidak Bersih
Islam menyuruh umatnya memakan makanan yang baik dan melarang memakan makanan yang tidak bersih. Orang yang mementingkan kesihatan, sentiasa memastikan makanan yang diperolehi dan dimakan oleh keluarganya adalah bersih dan halal. Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 115:
Maksudnya: 'Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai dan darah, dan daging babi dan binatang yang disembelih tidak kerana Allah, maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang ia tidak mengingininya dan tidak melampaui batas, (pada kadar benda yang dimakan itu, maka tidaklah ia berdosa). Sesungguhnya Allah Amat Pengampun Lagi Amat Mengasihani.'
(d) Makan Secara Berlebihan Akan Memudaratkan kesihatan
Ibu bapa diingatkan supaya tidak memberi makanan atau minuman secara berlebihan kepada keluarganya, tetapi makanan itu hendaklah disediakan secara sederhana, sekadar memenuhi keperluan tenaga, kesihatan dan pembesaran. Waktu makan hendaklah diatur dan janganlah dibiasakan makan tidak tentu masa kerana ia boleh memudaratkan kesihatan. Dalam hubungan ini Allah S.W.T. berfirman dalam surah al-A’raf ayat 31:
Maksudnya: '...Dan makanlah serta minumlah dan jangan pula kamu melampau-lampau. Sesungguhnya Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.'
(e) Mencegah Penyakit
Sesebuah keluarga hendaklah sentiasa melihat tanda-tanda penyakit yang ada pada keluarganya, supaya ia dapat dicegah lebih awal. Kanak-kanak dan orang dewasa yang memerlukan imunisasi hendaklah segera dibawa ke klinik mengikut jadual yang ditetapkan. Dalam Islam langkah pencegahan penyakit adalah sangat dititikberatkan. Peka terhadap pencegahan penyakit adalah antara ciri utama kepada sesebuah keluarga bahagia. Anak-anak hendaklah sentiasa dididik supaya menjaga kebersihan dan mengelakkan daripada benda-benda kotor. Seelok-eloknya di dalam rumah hendaklah disediakan sebuah kotak pertolongan cemas, sebagai persediaan apabila berlaku perkara-perkara yang tidak diingini atau kecemasan.
(f) Menjaga Kebersihan Diri
Satu lagi unsur penting dalam penjagaan kesihatan ialah menjaga kebersihan. Kebersihan adalah asas kepada kesihatan. Islam amat menyukai orang yang cintakan kebersihan serta sentiasa menjaga kebersihan diri kerana sihat adalah suatu nikmat Allah yang amat besar nilainya yang perlu dijaga dan dipelihara. Oleh yang demikian untuk membina keluarga yang sihat dan sejahtera, kebersihan tubuh badan amat dititik-beratkan. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Ibn Abbas r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda,'Mandi itu adalah wajib ke atas setiap orang Islam yang mana pada setiap tujuh hari, satu hari daripadanya wajib membasuh kepala dan jasmaninya.'
(Riwayat at-Tabarani)
Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Lima perkara yang menjadi fitrah manusia iaitu berkhatan, mencukur bulu ari-ari, menggunting misai, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.'
(Riwayat at-Tabarani)
Dalam hadith yang lain:
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, 'Rasulullah s.a.w. memotong kukunya dan mencukur misainya pada hari jumaat sebelum baginda mengerjakan sembahyang.'
(Riwayat at-Tabarani)
Daripada ayat al-Quran dan hadith yang dibentang di atas dapat difahami bahawa membersihkan badan seperti mandi, mencukur misai, memotong kuku serta mencukur bulu adalah amalan yang dituntut oleh Islam. Amalan-amalan seperti itu perlulah dilakukan oleh setiap ahli keluarga kerana ia merupakan usaha untuk mengelakkan diri daripada mendapat pelbagai penyakit di samping menjadi lambang kecantikan, kekemasan, kebersihan dan nilai personaliti orang Islam.
Selain daripada itu setiap ahli keluarga juga perlu menjauhi kekotoran yang berpunca daripada najis. Oleh itu Islam menuntut setiap anak lelaki dan perempuan dikhatankan supaya terhindar dan jauh daripada kuman atau penyakit yang boleh memberi kesan kepada kesihatan alat kelamin. Demikian juga Islam mewajibkan beristinjak atau bersuci untuk membersihkan diri daripada sebarang najis dan kotoran apabila selesai membuang air.
Bagi perempuan yang didatangi haid atau najis, mereka hendaklah sentiasa menjaga kebersihan diri supaya tidak dicemari oleh darah haidnya. Mereka hendaklah segera bersuci apabila tempoh haid atau nifasnya tamat.
Salah satu bahagian tubuh badan yang perlu dan penting dijaga ialah rambut. Setiap ahli keluarga perlulah menjaga kebersihan rambut supaya ia kelihatan kemas dan rapi. Sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, 'Sesiapa yang mempunyai rambut maka hendaklah ia merapikannya.'
(Riwayat Abu Daud)
Rambut adalah ibarat mahkota seseorang. Oleh yang demikian ia perlulah dijaga dan diurus dengan sebaik-baiknya, disapukan minyak atau ubat yang sesuai supaya cantik, bersih dan menyenangkan mata memandang. Rambut yang berbau busuk amat mengaibkan.
Setiap ahli keluarga juga perlu menjaga kebersihan tangan lebih-lebih lagi ketika hendak menghadapi makanan atau minuman. Sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Ibnu Umar r.a. katanya, Rsulullah s.a.w. bersabda, 'Apabila salah seorang daripada kamu hendak makan, maka hendaklah ia membasuh tangannya.'
(Riwayat Ibnu ‘Adi)
Daripada hadith di atas, dapat difahamkan bukan tangan sahaja yang perlu bersih malah termasuklah mata, hidung, mulut, kaki dan sebagainya, kerana anggota-anggota tersebut adalah termasuk di dalam anggota-anggota wuduk yang mesti dijaga kebersihannya.
Selain daripada kebersihan tubuh badan dan anggota-anggota lahir, setiap ahli keluarga perlu juga menitik beratkan kebersihan pakaian. Walaupun tujuan ialah untuk menutup aurat tetapi kebersihannya perlu juga dijaga. Firman Allah S.W.T. dalam surah al-Muddathir ayat 4 :
Maksudnya: 'Dan pakaianmu maka hendaklah engkau bersihkan.'
Kebersihan pakaian menjadi salah satu daripada syarat sah ibadat sembahyang. Oleh yang demikian ia perlu dijaga supaya tidak terkena sebarang kekotoran dan najis. Keluarga yang bahagia adalah terdiri daripada individu-individu yang sentiasa menghiasi diri dengan pakaian kemas dan bersih. Kebersihan pakaian juga adalah lambang personaliti mulia seseorang Islam.
6. Mengukuh dan Menjaga Ekonomi Rumahtangga
Sesuatu yang tidak dapat dinafikan bahawa wang dan harta adalah satu keperluan dalam kehidupan rumahtangga, lebih-lebih lagi apabila menghadapi zaman yang serba mencabar ini. Pada hari ini boleh dikatakan hampir keseluruhan keperluan hidup memerlukan wang. Oleh sebab itulah Islam menyuruh umatnya supaya kuat bekerja mencari wang dan harta, membina kehidupan yang maju dan kuat supaya dunia ini dipenuhi dengan kemakmuran.
Dalam rumahtangga, bapa sebagai ketua keluarga perlu menyedari hakikat ini. Di samping menyediakan bekalan ilmu dan pendidikan kepada anak isteri supaya hidup mereka terbimbing, dia juga harus kuat berusaha mencari wang dan harta agar dengan wang dan harta itu keluarganya dapat memenuhi sekurang-kurangnya tiga keperluan asasi kehidupan, iaitu makanan, pakaian dan tempat tinggal. Bekerja mencari wang dan rezeki, selain untuk memenuhi keperluan hidup, juga dapat menguatkan sesuatu umat, sebab apabila sesebuah keluarga itu mantap ekonominya, ia akan membantu menguatkan kedudukan bangsa dan negaranya.
Selain memperkukuhkan kedudukan ekonomi rumahtangga, setiap keluarga juga mestilah menguruskan soal-soal perbelanjaan dengan betul dan terancang. Perkara-perkara yang menjadi tegahan agama seperti pambaziran, berbelanja dengan berlebih-lebihan sehingga menimbulkan rasa riya’ atau membeli barang-barang yang tidak perlu dan seumpamanya hendaklah dielakkan. Islam menyuruh umatnya supaya hidup secara sederhana dan sentiasa berjimat cermat. Rezeki yang diperolihi itu sepertiga daripadanya hendaklah dibelanjakan untuk maksud nafkah, satu pertiga untuk maslahat umum seperti zakat, sedekah dan seumpamanya dan sepertiga lagi ialah untuk tabungan. Untuk menjamin hidup masa depan, budaya menabung perlu diamalkan dalam keluarga kata pepatah 'beringat sebelum kena, berjimat sebelum habis.'
7. Mewujudkan Keselesaan Dan Keindahan Dalam Rumahtangga
Rumah adalah tempat sesebuah keluarga menikmati hidup. Keselesaan dalam rumah amat mustahak kerana kebahagiaan keluarga itu bermula dari rumah. Setiap keluarga mestikah mewujudkan suasana yang harmoni dan selesa dalam rumahnya. Maksud keselesaan di sini ialah keselesaan yang memungkinkan setiap anggota keluarga mempunyai bilik tidur yang cukup, ruang rehat yang selesa, mempunyai sistem peredaran dan pertukaran udara di setiap ruang rumah dan lain-lain keperluan seperti ruang dapur, tandas dan sebagainya. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Saad r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Empat perkara yang membawa kebahagiaan iaitu Wanita yang baik (solehah), tempat tinggal yang luas, jiran yang baik dan kenderaan yang baik.'
(Riwayat al-Baihaqi)
Dalam Islam telah ditentukan bahawa kanak-kanak mempunyai tempat tidurnya sendiri. Oleh itu menjadi tanggungjawab ibu bapa melatih kanak-kanak tidur berasingan apabila mereka mencapai umur sepuluh tahun. Di waktu itu tempat tidur anak lelaki dan anak perempuan hendaklah diasingkan supaya tidak timbul sesuatu perkara yang tidak baik. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Ibnu Amr r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Suruhlah anak kamu menunaikan sembahyang apabila mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika mereka enggan sembahyang) apabila berumur sepuluh tahun, dan asingkan tempat tidur mereka.'
(Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
Selain daripada mempunyai ruang-ruang yang cukup, hiasan rumah adalah satu ciri penting untuk mewujudkan keluarga bahagia dan menjadikan rumah itu sebuah syurga. Ini kerana setiap insan di dunia ini inginkan sesuatu yang indah., cantik dan menarik. Hal ini adalah selaras dengan anjuran Islam kerana agama Islam sendiri amat mementingkan aspek keindahan dan kebersihan, sebagaimana sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: Daripada Ibnu Mas’ud r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Sesungguhnya Allah itu cantik Ia sangat sukakan yang indah dan cantik.'
(Riwayat Muslim dan At-Tirmizi)
Keindahan dan kebersihan yang dituntut oleh Islam adalah daripada semua aspek bukan sahaja tertumpu kepada aspek keindahan dan kebersihan alam sekitar, bandar dan pejabat-pejabat sahaja malah termasuklah keindahan dan kebersihan dalam rumahtangga dan sekitarnya. Amalan menjaga kebersihan adalah bermula daripada rumahtangga dan apabila dihayati dengan sepenuhnya akan wujudlah amalan penjagaan kebersihan di luar rumah.
Oleh yang demikian untuk mencapai kebahagiaan bagi sesebuah institusi keluarga dan seterusnya menjadikan rumahtangga itu sebagai syurga perlulah menghayati prinsip-prinsip yang telah ditentukan oleh Islam seperti berikut:
(a) Sentiasa Menjaga Keindahan Dan kebersihan Dalam dan Luar Rumah
Rumahtangga yang bahagia ialah rumahtangga yang sentiasa menjaga keindahan dan kebersihan di dalam dan di luar rumah agar ia kelihatan cantik dan menarik serta dapat memberi ketenteraman dan kenikmatan kepada penghuni rumah. Amalan menjaga keindahan dan kebersihan persekitaran rumah adalah satu amalan yang baik dan mulia. Sekiranya umat Islam tidak menjaga dan mengambil berat terhadap perkara tersebut, mereka akan hidup di dalam suasana yang tidak selesa, gundah gulana dan tidak tenteram. Sabda Nabi s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Saad r.a. katanya: 'Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Bersihkan halaman-halaman kamu, kerana sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halaman-halaman rumahnya.'
(Riwayat at-Tabarani)
Kebersihan kawasan dan halaman rumah adalah penting untuk mengelak daripada sebarang bentuk pencemaran seperti bau busuk, asap, sampah sarap, pokok-pokok liar, takungan air yang tidak terurus dan sebagainya. Halaman rumah sewajarnya dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan yang rendang, pokok-pokok bunga yang berwarna-warni serta harum baunya dan pohon-pohon hijau yang merimbun bagaikan taman-taman yang indah dan mempesona, rapi, teratur dan bersih. Keadaan ini harus dikekalkan supaya ahli keluarga sentiasa dapat menikmatinya. Persekitaran yang indah dan bersih juga perlu bagi pertumbuhan fizikal dan jiwa anak-anak. Persekitaran yang kotor bukan sahaja boleh menyebabkan pelbagai penyakit, malah mereka yang tidak mampu untuk mewujudkan hiasan luaran yang mungkin memerlukan belanja yang agak besar, memadailah dengan menjaga kebersihannya.
(b) Menghiasi Rumah Dengan Peralatan Dan Perhiasan Yang Diredhai Allah S.W.T.
Untuk menjadikan rumah itu sebagai syurga, ia perlulah dihiasi dengan perhiasan dan peralatan supaya dapat meyerikan lagi suasana dalaman sesebuah rumah. Sebaik-baik peralatan dan perhiasan ialah yang sederhana, kerana Islam menuntut umatnya supaya melakukan sesuatu perkara itu mengikut kemampuan masing-masing. Janganlah terlalu boros sehingga menyebabkan berlakunya pembaziran dan membebankan seseorang. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: Dari Ibnu Al-Harith r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, '... dan sebaik-baik perkara ialah secara sederhana.'
(Riwayat al-Baihaqi)
Peralatan dan perhiasan dalam rumah hendaklah disusun dengan kemas dan rapi supaya ia kelihatan cantik dan meyerikan. Ia akan dapat menawan hati setiap ahli keluarga tinggal dengan aman dan bahagia. Hiasilah ruangan dalaman rumah dengan barang-barang, ukiran atau gambar-gambar yang diredhai Allah S.W.T. Jauhilah daripada menghiasi rumah dengan benda-benda yang diharamkan oleh Allah S.W.T. Rumah-rumah yang dihiasi dengan ayat-ayat suci al-Quran al-Karim dan hiasan-hiasan lain yang bermanfaat yang diredhai oleh Allah S.W.T. akan mendapat berkat dan rahmat daripada Allah S.W.T.
8. Berkomunikasi Secara Baik
Hubungan antara individu dalam keluarga adalah penting untuk menjamin keharmonian di dalam rumahtangga. Aspek hubungan antara individu atau komunikasi ini amat dititik beratkan oleh Islam. Firman Allah S.W.T. dalam surah Ali Imran ayat 122:
Maksudnya: 'Mereka ditimpakan kehinaan (dari segala jurusan) di mana sahaja mereka berada, kecuali dengan adanya sebab dari Allah dan adanya sebab dari manusia...'
Di dalam ayat di atas jelas menunjukkan unsur perhubungan amatlah penting untuk menjamin manusia mencapai kebahagiaan. Ketika seimbang aspek ini akan membawa kepincangan.
Secara mudah komunikasi dapatlah difahamkan sebagai satu proses interaksi antara dua orang atau lebih. Hasilnya manusia akan memperolehi persefahaman, kesenangan, perubahan sikap, perhubungan yang baik dan tindakan yang harmoni.
Untuk mencapai tahap kesempurnaan di dalam sesebuah keluarga, setiap ahli keluarga hendaklah memahami diri dan peranan masing-masing. Peranan seorang bapa berbeza dengan peranan seorang anak. Bapa mempunyai tugas untuk memastikan keperluan fizikal dan spiritual keluarganya dipenuhi. Dalam konteks ini, setiap individu hendaklah mengetahui kelebihan dan kelemahan diri masing-masing. Saiyidina Umar r.a. pernah berkata:
'Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab. Kesedaran dan penerimaan seseorang tentang sifat dirinya menjadikan ia dapat melaksanakan fungsi perhubungan dengan lebih sempurna.'
Seorang bapa bertanggungjawab menjaga kesejahteraan ahlinya. Menurut sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Amr, Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: Daripada ibnu amr r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggungjawab kepada jagaannya.'
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dengan menerima hakikat ini menjadikan bapa berkenaan berusaha untuk melaksanakan tanggungjawab tersebut secara ikhlas. Implikasinya beliau akan menjalin hubungan dengan orang lain lebih bermakna. Berikutan dari itu persoalan apakah kesan perlakuan kita terhadap orang lain juga penting. Apakah akan berlaku kepada sesebuah keluarga jikalau seorang bapa tidak melaksanakan tugas tersebut. Begitulah juga dengan peranan ibu dan anak. Ia harus di laksanakan dengan berkesan kerana dengan terlaksana peranan dan tanggungjawab komunikasi yang baik, ia akan mengelakkan sesebuah keluarga daripada konflik.
Bagi mengekal dan meningkatkan perhubungan di dalam keluarga, aspek kemahiran komunikasi adalah penting. Kebanyakan orang tidak begitu peka dengan keperluan ini. Malah agak malang terdapat golongan yang merendahkan unsur komunikasi ini. Mungkin sikap ini ada hubungan dengan yang kurang tepat berkenaan hadith Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Amirul Mukminin Abi hafs Umar bin Al-Khattab katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Setiap perkara itu adalah berdasarkan niat.'
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Daripada fahaman hadith di atas apa yang penting ialah niat. Jikalau niat seseorang mahu menyakiti seseorang sudah cukup baginya tidak menegur sapa atau tersenyum kepada seseorang. Maka terjadilah di dalam sesebuah keluarga kurang bertegur sapa dan gurau senda. Seorang bapa seharusnya pandai mengambil hati isteri dan anak-anak serta memilih cara yang baik untuk membuat teguran. Begitu juga dengan anak sepatutnya mempunyai cara yang paling baik untuk berkomunikasi dengan ibu dan bapa mereka.
Untuk mencapai keharmonian di dalam perhubungan keluarga adalah satu perkara yang agak sukar. Begitu juga usaha untuk mengekalkan tahap perhubungan yang bermakna antara ahli keluarga. Kadang-kadang keharmonian perhubungan dapat dinikmati hanya untuk suatu tempoh masa sahaja, selepas itu perhubungan menjadi masalah yang serius kepada ahli keluarga. Dalam hubungan ini motivasi adalah perlu. Motivasi ialah suatu daya untuk meningkatkan pencapaian di dalam sesuatu aspek. Jikalau di dalam soal perhubungan kekeluargaan apakah jambatan yang menjadikan ahli keluarga berupaya mengekalkan keharmonian. Inilah soalan yang perlu dicari jawapannya oleh setiap ahli keluarga.
Suatu perkara yang tidak kurang penting di dalam rumah ialah kebolehan ahli-ahli keluarga berkenaan menyelesaikan konflik di antara ahli-ahli. Kadang kala berlaku seorang bapa tidak mengambil berat masalah yang dihadapi oleh anak-anak. Ini menjadikan anak-anak beranggapan bapanya tidak mengambil berat tentang diri mereka. Sikap bapa yang sedemikian menimbulkan perasaan tidak senang hati di kalangan ahli rumah. Anak akan menjauhkan diri dari keluarga. Di dalam hal tertentu bapa akan bertindak terhadap kesalahan anak-anak. Jikalau ini berlaku konflik akan timbul dan berkembang dalam keluarga berkenaan.
Dalam keadaan demikian bapa sebagai ketua keluarga hendaklah mengambil inisiatif mendekati anak dan cuba memahami masalah yang dihadapi oleh mereka. Pendekatan yang harus digunakan ialah pendekatan ‘hikmah’ iaitu pendekatan yang berasaskan keadaan yang diharuskan oleh syarak. Di dalam kebanyakan hal bolehlah dikatakan pendekatan tanpa paksaan dan kekerasan, tetapi ini tidak bererti kedua pendekatan ini bukan dari method hikmah.
9. Mewujudkan Pergaulan Suami isteri Yang Baik
Kasih sayang dan toleransi dalam keluarga adalah penting. Kedua-dua elemen ini perlu diwujud dan disuburkan dalam sesebuah keluarga bagi melahirkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Pembentukan keluarga bermula dengan ikatan perkahwinan antara suami dan isteri. Suami dan isteri perlulah meletakkan aspek kasih sayang dan belas kasihan, sebagai asas dalam kehidupan berumahtangga. Tanpa kasih sayang dan belas kasihan, sesuatu ikatan perkahwinan itu tidak menuju ke istana bahagia seperti yang diharapkan, malah ia akan mengubah haluan kepada kehancuran. Firman Allah di dalam al-Quran, surah ar-Rum ayat 21, iaitu:
Maksudnya: 'Dan antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-NYA dan rahmat-NYA bahawa ia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikannya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir.'
Kasih sayang dan belas kasihan atau 'mawaddah wa rahmah' seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas memberi maksud bahawa perhubungan ibu bapa sebagai suami isteri hendaklah berdasarkan kepada lunas-lunas keredhaan Allah S.W.T., sentiasa kasih mengasihi, bertolak ansur, memperbanyakkan sabar, tabah di dalam menghadapi gelora rumahtangga dan menjadikan sifat suka bermaaf-maafan sebagai amalan yang berterusan. Sehubungan ini juga Allah telah memberikan panduan sepertimana yang termaktub dalam al-Quran surah an-Nisa’ ayat 19:
Maksudnya: '... Dan bergaullah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik. Kemudian, jika kamu (merasai) benci kepada mereka (disebabkan tingkah lakunya, janganlah pula kamu terburu-buru menceraikannya), kerana boleh jadi kamu bencikan sesuatu, sedangkan Allah hendak menjadikan pada apa yang kamu benci itu kebaikan yang banyak (untuk kamu).'
Pergaulan yang baik atau 'mu’asyarah bil-ma’ruf' seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas bererti pergaulan dan hidup bersama secara baik dan diredhai Allah, jauh daripada kemungkaran, kemaksiatan, penganiayaan, kezaliman dan seumpamanya.
10. Mewujudkan Hubungan Baik Ibu Bapa Dengan Anak
Apabila perhubungan antara ibu dan bapa dapat di bentuk dalam keadaan 'ma’ruf' (baik) maka benih kasih sayang pasti akan bertunas dan bercambah ke dalam ahli keluarganya. Anak-anak yang melihat canaian kasih sayang antara ibu dan bapa mereka akan turut sama mengamali dan menikmati kemanisan serta kelazatan suasana itu. Justeru itu menjadikan ibu bapa mereka sebagai model dalam jiwa dan kehidupan mereka sendiri.
Kasih sayang dan belas kasihan ibu bapa terhadap anak-anak sebenarnya bermula dalam kandungan lagi. Bagi ibu-ibu yang sedang mengandung, mereka digalakkan memakan makanan yang baik dan berzat, mengamalkan tingkah laku yang mulia, selalu membaca al-Quran, sentiasa berdoa kepada Allah memohon kebaikan kepada anaknya dan lain-lain amalan kebaikan seperti yang diperintahkan oleh Islam. Begitu juga bagi bapa, mereka hendaklah sentiasa mendampingi isteri mereka, sama-sama berkongsi kesukaran dan penderitaan yang dialami oleh isteri, tidak berlaku kasar dan benci kepada isteri dan sentiasa berdoa kepada Allah memohon keselamatan kepada isteri dan bayi yang bakal dilahirkan. Begitulah seterusnya apabila anak itu lahir ke dunia, kasih sayang perlu diberikan supaya pembentukan syakhsiah mereka menjurus ke arah manusia yang sempurna, berakhlak mulia seterusnya dapat mengharungi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
Tidak dinafikan bahawa Rasulullah s.a.w. adalah contoh yang paling ideal dan tepat untuk diikuti. Ibu bapa seharusnya menyedari hakikat ini dan berazam mengamalkan segala kebaikan untuk keluarga mereka. Dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi daripada Aisyah r.a., sabda baginda:
Maksudnya: 'Sebaik-baik kamu ialah orang yang baik kepada ahli keluarganya dan akulah sebaik-baik di antara kamu kepada ahli keluargaku.'
(Riwayat at-Tirmizi)
Dalam sebuah hadith lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan Al-Hakim daripada Aisyah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Sesungguhnya antara sifat-sifat yang boleh menjadikan seseorang itu sempurna imannya ialah yang berakhlak mulia dan berlemah lembut dengan ahli keluarganya.'
(Riwayat at-Tirmizi dan al-Hakim)
11. Mewujudkan Hubungan Baik Anak Dengan Ibu Bapa
Anak wajib berbuat baik terhadap ibu bapanya. Sekiranya tidak, ia telah melakukan satu dosa. Di dalam al-Quran tidak terdapat perintah khusus agar seseorang bapa mengasihi anaknya, tetapi sebaliknya yang lebih banyak ialah perintah kepada anak supaya mengasihi ibu bapa. Sebab yang demikian ialah, walaupun tidak diperintah untuk mengasihi anak, secara otomatis ibu bapa tentu mengasihi anaknya. Seorang bapa, apatah lagi ibu, amat sayang kepada anaknya sehingga ia sanggup berkorban apa saja demi keselamatan dan kesejahteraan anaknya. Ia sanggup bersusah payah bekerja siang dan malam, menggerakkan segala usaha dan tenaga, dimana semuanya itu adalah untuk kebahagiaan anaknya. Maka wajarlah anak berbuat baik terhadap ibu bapa.
Mungkin seorang anak akan bertanya, bagaimana ia harus berbuat baik terhadap ibu bapanya. Dalam hal ini Imam Ghazali telah menggariskan dua belas panduan, iaitu:
Mendengar kata mereka.
Berdiri apabila mereka berdiri kerana menghormati.
Taat perintah mereka selagi mereka tidak menyuruh membuat perkara-perkara yang dilarang oleh Allah S.W.T.
Tidak melintas di hadapan mereka, tetapi hendaklah berjalan di sisi atau di belakang kecuali atas perintah mereka untuk sesuatu maksud.
Tidak meninggikan suara melebihi suara mereka.
Menjawab panggilan mereka dengan suara yang lembut.
Sentiasa memelihara dan merawat apabila mereka sakit. Jangan sampai melakukan sesuatu yang melanggar keredhaan mereka baik dalam sikap, perkataan ataupun perbuatan.
Merendah diri dengan sopan dan lemah lembut serta sentiasa berusaha meringankan beban mereka.
Tidak melakukan sesuatu kebaikan kepada mereka atas dasar membalas jasa melainkan atas dasar kewajipan demi keredhaan mereka dan keredhaan Allah S.W.T.
Tidak memandang mereka dengan menjeling, mengerling, marah atau masam muka.
Tidak bermuram hati apabila menghadapi wajah mereka.
Tidak keluar rumah sama ada jauh atau dekat kecuali dengan izin mereka.
12. Memupuk Kasih Sayang Dan Toleransi Dalam Keluarga
Banyak cara boleh dilakukan bagi mewujudkan perasaan kasih sayang dan semangat toleransi di dalam keluarga. Cara utama ialah melalui pengetahuan dan didikan agama yang cukup. Selain melalui pendidikan secara formal yang diterima di sekolah-sekolah, setiap ahli keluarga perlu dibentuk dan ditanamkan dengan perasaan kasih sayang dan semangat toleransi melalui tunjuk ajar, contoh teladan, nasihat dan kaunseling serta kawalan yang berkesan. Mereka bukan sahaja disuruh supaya sayang menyayangi sesama ahli keluarga, malah juga kepada binatang peliharaan dan harta benda di rumah. Mereka hendaklah selalu diberi ingat bahawa Allah sangat suka kepada orang-orang yang mempunyai perasaan kasih sayang, suka bekerjasama dan tolong-menolong sesama sendiri.
Sebaliknya Allah benci kepada orang-orang yang sering bergaduh, bermusuh-musuhan, tidak mahu bekerjasama dan benci membenci sesama sendiri. Sekiranya berlaku perkara-perkara yang boleh merosakkan hubungan kasih sayang di dalam sesebuah keluarga, setiap ahlinya terutamanya ibu bapa hendaklah segera mencari jalan mengatasinya.
Jelaslah bahawa kasih sayang dan semangat toleransi adalah sangat penting dalam sesebuah keluarga. Sekiranya tiap-tiap rumpun keluarga itu tidak mewujudkan satu ikatan yang baik dan harmoni, maka kedudukan sesebuah masyarakat itu akan pincang, justeru bangsa dan negara menjadi lemah. Apabila situasi ini berlaku kemajuan tidak akan dapat dicapai dan masyarakat penyayang tidak dapat diwujudkan. Begitulah pentingnya peranan yang perlu dimainkan oleh setiap ahli keluarga bagi mencapai hasrat yang dicita-citakan.
KESIMPULAN
Rumahku Syurgaku adalah satu wawasan Islam yang berteraskan ajaran yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Rumahtangga sebagai satu komponen utama dalam pembentukan sesebuah masyarakat mesti disempurnakan melalui piawai yang sesuai dengan ajaran Islam dan keperluan rohani dan jasmani manusia. Untuk mencapai taraf syurga bagi sesebuah rumahtangga, maka semua rukun atau piawai yang disebutkan perlulah dipenuhi dengan sebaik mungkin. Ia tidak memerlukan perancangan yang rapi dan sikap positif untuk melaksanakannya. Setiap yang gagal memenuhi rukun-rukun dan piawai-piawai tersebut, maka rumahtangganya belumlah dapat mencapai tahap kebahagiaan sebagaimana yang dituntut oleh Islam.
KONSEP DAN FALSAFAH 'RUMAHKU SYURGAKU'
Konsep dan falsafah bagi mencapai matlamat rancangan ‘RUMAHKU SYURGAKU’ ini adalah berasaskan kepada syariat Islam yang merangkumi segenap aspek kehidupan. Diantara aspek-aspek yang ditekankan dalam rancangan ini ialah membina kebahagiaan, meningkatkan daya intelek, mewujudkan suasana penghayatan Islam dan kedamaian dalam keluarga, penjagaan kesihatan, mewujudkan keselesaan dan keindahan dalam rumah, mengamalkan perhubungan yang baik dan berkesan serta membina sifat penyayang dan toleransi di kalangan anggota keluarga.
Huraian Konsep Dan Falsafah ‘Rumahku Syurgaku’
1. Membina Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah sesuatu yang abstrak yang lahir dari hati seseorang. Tanda kebahagiaan antaranya dapat dilihat apabila seseorang itu berasa senang, suka dan gembira melalui raut wajah dan tingkah lakunya. Nilai kebahagiaan itu tidak mungkin dapat diagihkan kepada orang lain. Hadith Rasulullah s.a.w. sangat tepat membayangkan betapa bahagia itu perlu dalam hidup setiap insan. Diriwayatkan daripada An-Nu’man bin Basyir, Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Bahawasanya di dalam tubuh badan manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, baik pulalah seluruh badan, tetapi apabila ia rosak, rosak pulalah seluruh badan, Ingatlah ia adalah hati'.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadith ini jelas menerangkan bahawa kebaikan diri manusia itu terletak pada hatinya. Kalau ia baik, maka seluruh diri manusia itu akan menjadi baik. Sekiranya ia rosak yakni mempunyai penyakit-penyakit hati, maka manusia itu tidak akan dapat mengecapi nikmat kebaikan dan kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang amat penting kepada setiap insan. Ia menjadi suatu matlamat hidup seseorang sama ada di dunia mahupun di akhirat. Sebab itu setiap orang sanggup bersusah payah dan bermati-matian untuk mencari kebahagiaan. Kegagalan mendapat kebahagiaan membawa kepada kekecewaan. Kerana itu, ramai orang menjadi gila kerana hidupnya tidak bahagia. Ada pula yang sanggup mati kerana gagal menemui kebahagiaan.
Semua orang perlukan kebahagiaan hidup sama ada untuk sementara atau selamanya. Penentuan kebahagiaan berkait rapat dengan sikap, kedudukan dan fahaman seseorang terhadap kebahagiaan. Ada orang beranggapan bahawa kebahagiaan itu boleh dicapai dengan adanya harta dan wang ringgit yang banyak. Ada pula beranggapan kebahagiaan itu ialah mengenepikan hal-hal keduniaan, kemajuan dan kemewahan. Walau bagaimanapun, kebahagiaan seperti ini adalah berkisar kepada faktor kebendaan semata-mata. Apakah kebahagiaan yang sebenar? Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan sebenar ialah kaya hati.'
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Maksud kaya hati seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. itu ialah apabila hati menjadi tenteram, tenang dan merasa cukup terhadap nikmat yang dimiliki. Dari hadith ini nyatalah bahawa harta benda bukan ukuran kebahagiaan seseorang, tetapi kebahagiaan itu sebenarnya terletak di hati. Dalam hal ini, hati perlu dijaga dan beri haknya, supaya lahir sifat-sifat mulia dan terpuji seperti amanah, bersyukur, sangka baik terhadap orang lain dan sebagainya. Jelaslah bahawa dalam sesebuah rumahtangga kebahagiaan hati adalah sesuatu yang amat perlu.
Antara cara untuk mencapai kebahagiaan ialah seperti berikut:
(a) Niat Yang Baik
Salah satu cara mendapatkan kebahagiaan hidup ialah dengan membetulkan niat dalam merancang sesuatu tindakan. Dalam hubungan ini seseorang itu hendaklah melatih hatinya supaya sentiasa berniat baik dan inginkan sesuatu yang baik. Latihan sebegini dapat menjadikan seseorang itu bersifat positif dan optimis dalam melakukan sesuatu. Wajahnya akan kelihatan sentiasa riang dan tenang.
(b) Perbuatan Yang Baik
Satu lagi proses mendapat kebahagiaan hati ialah dengan melakukan perbuatan yang baik atau disebut sebagai amal saleh. Amal ini mestilah disertakan dengan niat yang baik. Dalam melakukan amal saleh, umat Islam disuruh sentiasa melakukan kerja-kerja baik dan meninggalkan kerja-kerja yang baik. Antara amal-amal saleh ialah tolong menolong, amanah, sopan santun, benci dan menjauhi maksiat, bercakap benar, penyayang dan lain-lain.
Kemuncak kebahagiaan dalam hidup seseorang ialah apabila ia telah berjaya melakukan kebaikan atau amal saleh serta menghindar segala bentuk larangan yang ditentukan oleh Islam. Ciri utama yang menjadi ukuran masyarakat bahagia ialah mereka patuh kepada suruhan Allah secara terus menerus dengan penuh khusyuk dan khudu’. Ini menepati maksud firman Allah dalam surah al-Mukminun ayat 1-11.
Maksudnya: 'Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia; dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat harta itu); dan mereka yang menjaga kehormatannya, kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela, kemudian sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya, dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya, mereka itulah orang-orang yang berhak mewarisi; yang akan mewarisi syurga Firdaus; mereka kekal di dalamnya'.
(al-Mukminun: 1-11)
2. Membina Intelek dan Meningkatkan Ilmu Pengetahuan
Hidup dalam erti kata seperti yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. di dalam al-Quran, ayat 77 surah al-Qasas, ialah untuk tidak melupakan nasib di dunia. Untuk tidak mengabaikan urusan memperjuangkan nasib di dunia ini setiap umat Islam mestilah mempertingkatkan ilmu pengetahuan dan daya intelek masing-masing. Dengan ketinggian ilmu pengetahuan dan daya intelek itulah mereka dapat menjangkau pelbagai keperluan, melepasi segala halangan dan rintangan dan mencapai ketinggian darjat selayak dengan cita-cita Islam sebagai agama yang tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripadanya. Ketinggian Islam tidak memberi erti kalau kehidupan umatnya tanpa kualiti.
Ilmu pengetahuan mempunyai tiga kepentingan utama. Pertama; Membentuk peribadi muslim supaya dapat menjalani suruhan agama dengan sewajarnya. Kedua; Membentuk sebuah umat yang kuat. Ketiga: Mempertahankan kesucian dan ketinggian agama Islam. Sekiranya umat Islam tidak mempunyai ilmu pengetahuan, kesucian dan ketinggian agama Islam akan terjejas.
Ilmu pengetahuan adalah satu perkara yang sangat luas bidangnya dan sememangnya tidak mampu dikuasai semuanya oleh manusia. Di dalam al-Quran Allah S.W.T. telah mengumpamakan ilmu itu sebagai lautan luas, yang mungkin mampu diperolihi oleh manusia hanyalah setitis daripadanya sahaja. Walaupun begitu peri pentingnya ilmu pengetahuan itu tidak boleh dinafikan, sehingga pencariannya dikategorikan sebagai satu tuntutan yang fardhu. Rasulullah s.a.w. menyebutkan melalui sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Maiah dari Anas:
Maksudnya: Daripada Anas r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Menurut ilmu itu wajib ke atas tiap-tiap orang Islam.'
(Riwayat Ibnu Majah)
Begitulah pentingnya ilmu pengetahuan yang sangat-sangat dititik beratkan oleh Islam supaya setiap orang mencarinya, tidak kira dalam apa bidang pun selagi ia mendatangkan kebaikan dan diredhai oleh Allah S.W.T.
Dalam konteks membina ‘syurga’ dalam rumahtangga, kesedaran terhadap peri pentingnya ilmu pengetahuan sangat mustahak. Ibu bapa selaku ketua keluarga mempunyai peranan yang besar dalam mencorakkan anak-anaknya. Bermula di peringkat bayi, malah sejak dari dalam kandungan lagi, sehinggalah mereka remaja dan seterusnya dewasa, pendidikan perlu diberikan mengikut tahap dan peringkat masing-masing. Kemudahan-kemudahan pelajaran yang sedia ada seperti tadika, sekolah, maktab dan pusat pengajian tinggi seharusnya dimanfaatkan sepenuhnya.
Ibu bapa selaku pengemudi keluarga sewajibnya mempunyai perancangan dan usaha yang lebih bagi mempertingkatkan pengetahuan dan daya intelek di kalangan ahlinya. Di samping itu setiap ahli keluarga pula semestinya mempunyai kesedaran untuk mempertingkatkan pengetahuan dan daya pemikiran masing-masing sesuai dengan kemampuan yang ada tanpa rasa malas dan jemu. Pandangan berat Islam yang telah meletakkan pencarian ilmu itu sebagai satu kewajipan sepatutnya disedari oleh orang kerana maju atau membangunnya sesebuah keluarga itu adalah kerana ilmu pengetahuan.
Dari segi piawai ilmu bagi sesebuah keluarga, setiap ahli keluarga bermula dengan ibu dan bapa, mereka mestilah mengetahui ilmu-ilmu fardhu ain, iaitu berkait dengan akidah, syariah dan akhlak. Dari segi akidah, seseorang itu wajib mengetahui asas-asas kepercayaan mengenai ketuhanan, Allah Yang Maha Esa dan perkara-perkara di sekitar soal keimanan yang disimpulkan di dalam rukun iman. Dari segi ilmu syariah, mereka wajib mengetahui adab-adab serta peraturan-peraturan amal ibadat. Manakala dalam bidang akhlak pula, mereka wajib mengetahui dan mengamalkan akhlak Islam sebagaimana yang digariskan di dalam al-Quran dan as-sunnah, seperti taat kepada ibu bapa, tolong menolong sesama ahli keluarga dan masyarakat, menghormati jiran tetangga dan lain-lain. Perkara-perkara ini merupakan asas yang wajib dipelajari dan dihayati oleh setiap anggota keluarga.
Di samping fardhu ain, setiap anggota keluarga juga perlu mempelajari fardhu kifayah iaitu ilmu-ilmu yang lebih bersifat kepentingan umum, yang ada kaitan langsung dengan keperluan hidup manusia seperti penyediaan bahan makanan dan barang-barang gunaan, bidang sains dan teknologi, kedoktoran, kejuruteraan, perindustrian, pembinaan tempat kediaman, penyediaan infrastruktur dan lain-lain. Pelaksanaan sebahagian daripada tuntutan agama juga terkandung sebagai fardhu kifayah, umpamanya pengurusan jenazah, sembahyang berjemaah di masjid dan lain-lain. Ilmu-ilmu yang terkandung dalam bidang fardhu kifayah ini tidak diwajibkan kepada setiap individu tetapi memadai sekiranya ada sebilangan atau seorang sahaja di dalam kelompoknya yang mempelajari atau mengetahui ilmu tersebut. Apabila seorang sahaja mengetahuinya, pada masa itu gugurlah kefardhuannya ke atas orang lain, tetapi sekiranya tidak ada seorang pun yang mempelajari sesuatu ilmu itu, maka semua orang adalah berdosa.
Hal-hal seharian di dalam keluarga seperti percakapan, bahasa yang digunakan, tingkahlaku yang ditunjukkan dan pergaulan yang diwujudkan semestinya dalam piawai ilmu dan intelek yang tinggi yang dibentuk dalam suasana harmoni. Nilai-nilai intelek yang rendah seperti melebih-lebihkan perbicaraan tentang hiburan, cakap-cakap kosong, membanyakkan kegiatan yang tidak berfaedah dan lain-lain urusan yang membazir serta tidak bermanfaat hendaklah dihindarkan. Kesedaran hendaklah ditanamkan di dalam keluarga bahawa orang-orang yang berilmu serta berakhlak mulia tidak akan melakukan perkara-perkara seperti itu. Akal yang dikurniakan oleh Allah kepada manusia menunjukkan bahawa manusia adalah makhluk yang mulia dan kurniaan itu mestilah dipelihara.
Setiap ahli keluarga mestilah menyedari bahawa orang-orang yang berilmu pengetahuan sememangnya tidak sama dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan. Orang-orang yang berilmu selain mendapat kemuliaan daripada Allah S.W.T. mereka adalah orang-orang yang menjadi harapan kepada sesuatu keluarga, kelompok masyarakat dan seterusnya negara. Merekalah menjadi pembimbing, pentadbir, pemimpin, pelindung dan tempat rujukan orang awam. Kalaulah sesuatu keluarga atau masyarakat atau bangsa itu tidak mempunyai orang-orang yang berilmu maka kedudukan mereka akan menjadi pincang dan tidak maju.
Jelaslah bahawa ilmu pengetahuan adalah satu perkara yang sangat penting dalam membentuk kehidupan yang bahagia dalam rumahtangga. Maka sebab itulah ia menjadi satu perintah yang wajib bagi setiap orang mencarinya. Saiyyidina Ali r.a. pernah berpesan:
'Ketahuilah bahawa ilmu pengetahuan adalah lebih baik daripada harta benda, sebab ilmu pengetahuan dapat menjaga dirimu, sedangkan harta benda engkaulah yang harus menjaganya. Ilmu pengetahuan adalah pihak yang berkuasa, sedangkan harta benda adalah pihak yang dikuasai. Harta benda akan berkurangan jika dibelanjakan, sedangkan ilmu pengetahuan akan bertambah-tambah jika diberikan kepada orang lain.'
3. Mewujudkan Suasana Penghayatan Islam Dan Kedamaian Dalam Keluarga
Islam telah meletakkan asas yang sempurna supaya rumah menjadi suatu tempat yang selesa kerana kebahagiaan itu bermula dari rumah. Untuk menjadikan rumah itu sebagai syurga maka aktiviti-aktiviti berikut adalah menjadi asas utama di dalam pembentukan rumahtangga.
(a) Menghidupkan Sembahyang Berjemaah
Dalam Islam, amalan yang paling pokok ialah sembahyang. Sembahyang boleh menjadi ukuran kepada seseorang sama ada ia seorang Islam yang sempurna atau pun tidak. Orang yang mengaku dirinya beragama Islam, tidak sempurna Islamnya jika ia tidak melakukan ibadat sembahyang. Sembahyang berjemaah di masjid atau surau dituntut oleh Islam. Kelebihannya sangat besar dan pahalanya 27 kali ganda daripada sembahyang berseorangan. Sembahyang jemaah dapat mewujudkan hubungan silaturrahim, melahirkan perhubungan kasih sayang dan semangat kekitaan dan dapat menghindarkan perasaan mementingkan diri sendiri. Oleh itu bagi orang yang tidak berhampiran atau berdekatan dengan masjid atau surau adalah disunatkan ke masjid atau surau bersama keluarga bagi menunaikan sembahyang jemaah.
Bagi orang yang tinggal jauh dari masjid, mereka digalakkan mengerjakan sembahyang jemaah di rumah bersama keluarga. Bapa sebagai ketua keluarga adalah bertindak sebagai imam, manakala anak-anak dan isteri sebagai makmum. Waktu yang amat sesuai diadakan sembahyang jemaah ialah waktu Maghrib, Isyak dan Subuh, kerana waktu-waktu itu lazimnya ibu bapa dan anak-anak berada di rumah. Jika terdapat tetamu yang mengunjungi rumah pada waktu tersebut, eloklah mereka diajak bersembahyang jemaah bersama-sama .
Bagi membentuk keluarga yang bahagia dan menjadikan rumah sebagai syurga, maka sembahyang berjemaah sekeluarga mesti diadakan secara terus menerus, sekurang-kurangnya sekali seminggu bagi keluarga yang sibuk, atau tiap-tiap hari bagi keluarga yang mempunyai kemampuan. Amalan ini mempunyai faedah yang besar serta dapat mendidik anak-anak menghayati Islam dengan sebenar, serta dapat membentuk akhlak yang baik. Ibu bapa sebagai pemegang amanah daripada Allah S.W.T. untuk mendidik dan mencorakkan anak-anak mereka ke jalan yang benar, adalah berkewajipan untuk mendidik anak-anak mereka tentang pelaksanaan tanggungjawab ibadat sejak mereka masih kecil lagi.
(b) Membaca al-Quran Bersama Di rumah
Membaca al-Quran mempunyai pahala yang besar, amalan ini boleh mengukuhkan keimanan seseorang dan mendekatkan diri kepada Allah serta memberi ketenangan kepada hati. Firman Allah di dalam surah ar-Ra’d ayat 28:
Maksudnya: '(iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan ‘zikrullah’ itu, tenang tenteramlah hati manusia.'
Menurut Tafsir Pimpinan ar-Rahman terbitan JAKIM, ‘zikrullah’ pada ayat ini maksudnya al-Quran al-Karim yang menjadi sebesar-besar mukjizat yang tidak ada tolok bandingnya. Nyatalah bahawa membaca al-Quran itu menjadi ibadat yang sangat berfaedah bagi seseorang muslim yang patut dilakukan pada setiap hari sama ada di waktu pagi, petang ataupun malam.
Keluarga bahagia ialah keluarga yang dapat membaca dan menghayati isi al-Quran dengan baik. Sistem pendidikan negara kita membolehkan semua rakyat mampu membaca al-Quran. Oleh kerana membaca al-Quran adalah satu ibadat yang amat penting dan utama dalam kehidupan orang Islam, maka perlulah diikhtiarkan cara yang berkesan supaya amalan ini dapat dihayati dalam kehidupan harian.
Dalam program secara bersama dalam keluarga hendaklah menjadi amalan harian atau sekurang-kurangnya satu kali seminggu. Al-Quran mengandungi 604 halaman, jika dalam masa seminggu dibaca dua halaman, maka dalam tempoh satu tahun hampir separuh dari al-Quran dapat dihabiskan. Amalan ini hendaklah diteruskan sepanjang hayat.
(c) Membaca Buku Agama Di Rumah Beramai-ramai
Satu lagi amalan dalam rumahtangga yang bahagia ialah mengumpulkan keluarga sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu untuk membaca buku agama. Buku agama ini boleh dipilih dari buku-buku yang terkenal dalam berbagai bidang seperti sejarah Islam, sejarah ulama’ dan pemikiran Islam, asas-asas fardhu ain, ilmu tauhid, akhlak dan lain-lain.
Dengan cara membaca buku agama, secara tidak langsung boleh menambah dan meluaskan ilmu pengetahuan ahli keluarga. Melalui amalan membaca buku di rumah ini juga dapat melatih ahli keluarga khususnya anak-anak yang dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Dalam hubungan ini kaedah yang boleh digunakan ialah membaca bergilir-gilir di antara ibu, bapa dan anak.
(d) Makan Bersama Sekeluarga
Keluarga bahagia ialah keluarga yang dapat mewujudkan tradisi makan bersama-sama sekurang-kurangnya sekali seminggu iaitu pada cuti hujung minggu. Malam adalah waktu yang agak sesuai untuk menghadapi makanan secara bersama keluarga kerana semua ahli keluarga di waktu itu telah selesai menunaikan tanggungjawab masing-masing di dalam bidang pekerjaan dan pelajaran. Makan bersama keluarga boleh mengeratkan lagi rasa kasih sayang antara anggota keluarga.
Ibu bapa harus memainkan peranan bagi mewujudkan suasana yang harmoni ketika makan. Inilah di antara kesempatan terbaik untuk ibu bapa berbicara dengan anak-anak dan dapat memberi nasihat, menanam pendidikan dan memupuk kasih sayang dalam keluarga.
Sebagai contoh, semasa menghadapi makanan dinasihatkan membaca ‘bismillah’ bagi mendapatkan keberkatan terhadap makanan dan minuman tersebut dan sebagai tanda terima kasih terhadap Allah yang telah memberikan rezeki. Semasa hendak menjamah makanan yang dihidangkan seorang ahli keluarga, bapa atau ibu hendaklah membaca doa ringkas iaitu:
Maksudnya: Daripada Abdullah bin Amr, daripada Nabi s.a.w. bahawasanya baginda membaca doa apabila dihidangkan makanan kepada mereka dengan doa yang bermaksud: 'Ya Allah berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami daripada azab api neraka, dengan nama Allah'.
(Riwayat Abu Bakar ibn as-Sunni)
Semasa makan bersama keluarga, anak-anak hendaklah diperingatkan supaya tidak memulakan makan atau minum kecuali setelah dimulakan oleh ibu bapa atau orang yang lebih tua. Begitulah juga adab di dalam satu-satu majlis makan yang lain. Ini adalah bertepatan dengan hadith Nabi s.a.w. yang menyebut:
Maksudnya: Daripada Huzaifah r.a. katanya: 'Apabila kami bersama-sama Rasulullah s.a.w. menghadapi makanan, kami tidak menghulurkan tangan sehingga Baginda memulakan menjamah makanan tersebut terlebih dahulu.'
(Riwayat Muslim)
Ibu bapa juga adalah bertanggungjawab untuk sentiasa mendisiplinkan anak-anak sewaktu makan dengan tidak banyak bercakap tentang perkara-perkara yang tidak berfaedah, melarang makan di tempat-tempat yang tidak sesuai seperti di ruang tamu, di hadapan TV dan di dalam bilik tidur. Memulakan makanan dari sebelah kanan, makan dengan tidak gelojoh dan lain-lain.
(e) Memberi Salam Semasa Masuk Atau Meninggalkan Rumah
Keluarga bahagia pulang ke rumah dengan keadaan gembira. Apabila samapai ke pintu rumah mereka akan menyampaikan salam dan anggota di dalamnya menjawab salam tersebut dengan jelas. Demikianlah juga apabila mereka meninggalkan rumah untuk pergi bekerja atau ke sekolah. Amalan ini wajar dihayati sebagai amalan harian kerana ia boleh membuatkan hubungan di kalangan semua anggota keluarga terus mesra dan kukuh.
Ucapan salam ialah doa seseorang kepada seseorang yang lain supaya sentiasa berada di dalam suasana kebaikan dan keselamatan dan juga merupakan penghubung kasih sayang di antara sesama manusia. Oleh itu ibu bapa wajar mempraktikkan salam ini supaya dapat diikuti anak-anak mereka.
(f) Minta Keizinan Masuk Bilik
Setiap ibu bapa perlulah melatih anak-anak meminta izin atau kebenaran sebelum mereka masuk ke bilik tidur ibu bapa. Dalam hal ini Allah S.W.T. telah memberi panduan melalui firman-Nya dalam surah an-Nur ayat 58:
Maksudnya: 'Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba-hamba kamu dan orang-orang yang belum baligh dari kalangan kamu, meminta izin kepada kamu (sebelum masuk ke tempat kamu) dalam tiga masa, (iaitu) sebelum sembahyang Subuh dan ketika kamu membuka pakaian kerana kepanasan tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’; itulah tiga masa bagi kamu (yang biasanya terdedah aurat kamu padanya). Kemudian mereka tidaklah bersalah kemudian daripada tiga masa yang tersebut, (kerana mereka orang-orang yang selalu keluar masuk kepada kamu dan kamu masing-masing sentiasa berhubung rapat antara satu dengan yang lain. Demikianlah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-NYA (yang menjelaskan hukum-hukum-NYA); dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana.'
(An-Nur : 58)
4. Mengekalkan Kedamaian Dan Kerukunan Rumahtangga
Rumahtangga bahagia ialah rumahtangga yang wujud unsur-unsur kedamaian dan keselesaan. Suami sebagai ketua keluarga adalah berkewajipan memimpin isteri dan anak-anaknya melalui kehidupan yang diredhai Allah dengan memberi didikan agama dan menyemadikan niali-nilai murni kepada mereka.
Antara unsur-unsur kedamaian di dalam rumahtangga ialah:
(a) Tolong Menolong dan Bantu Membantu Dalam Keluarga
Setiap ahli keluarga berkewajipan untuk mendisiplinkan diri bagi melaksanakan tugas masing-masing. Umpamanya suami atau bapa berkewajipan mencari nafkah atau melakukan kerja-kerja yang memerlukan gerakan fizikal yang lebih, manakala isteri atau ibu melakukan kerja- kerja yang agak ringan dan sesuai dengan kemahiran wanita. Begitu juga dengan anak-anak diberikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan peringkat umur dan kesanggupan fizikal mereka. Satu program gotong royong di antara ahli keluarga seperti membersihkan rumah patut diadakan sekurang-kurangnya seminggu sekali. Ia boleh mewujudkan perasaan kasih sayang dan rasa tanggungjawab di kalangan ahli keluarga. Melalui program ini rumah sentiasa bersih dan kesihatan dapat dijaga. Allah mengasihi orang-orang yang mengamalkan kebersihan.
(b) Hubungan Kejiranan Yang Baik
Kesejahteraan dalam keluarga bukan hanya diperolihi hasil dari hubungan antara anggota dalam keluarga sahaja malahan hubungan dengan jiran sekeliling juga patut diberi perhatian. Perhubungan kejiranan yang intim akan wujud jikalau semua ahli keluarga berkesempatan untuk berbual-bual mesra, bertukar-tukar fikiran, bergurau senda dan beramah mesra antara satu sama lain. Oleh itu setiap keluarga wajar meluangkan satu masa untuk berinteraksi dengan jiran khususnya jiran yang paling hampir.
(c) Menunaikan Tuntutan Fardhu Kifayah
Selain berbaik-baik dengan jiran tetangga, setiap keluarga juga wajar memiliki beberapa kemahiran. Dalam Islam ilmu dibahagikan kepada dua bahagian, iaitu fardhu ain dan fardhu kifayah. Maksud fardhu kifayah dalam konteks kesejahteraan keluarga ialah semua ahli keluarga khususnya anak-anak hendaklah dilatih dengan asas-asas kemahiran hidup ataupun ilmu-ilmu teknikal yang ada hubungkait dengan alam rumahtangga. Kemahiran seperti ini perlu bagi setiap ahli keluarga supaya mereka berupaya melakukan sendiri kerja-kerja seperti membaiki kerosakan-kerosakan kecil pada rumah. Memasang dan menukar mentol lampu, membaiki kebocoran paip air dan lain-lain. Di samping itu ahli keluarga hendaklah mempunyai kemahiran asas di dalam membaiki kenderaan yang dipunyai oleh keluarga seperti kereta, motosikal, basikal dan seumpamanya. Ini adalah bersesuaian dengan kehendak negara untuk mewujudkan masyarakat yang bekerja dan berkemahiran.
(d) Mengadakan Aktiviti Rekreasi
Dalam rumahtangga perlu juga ada suasana hiburan dan rekreasi dalam keluarga. Ia boleh menimbulkan kesan positif ke arah kesihatan mental dan fizikal. Jenis-jenis hiburan pula mestilah yang tidak bercanggah dengan hukum Islam. Setiap keluarga juga wajar mengatur program rehlah ke tempat-tempat rekreasi atau lawatan di dalam atau luar negeri mengikut kemampuan keluarga tersebut. Aktiviti ini akan mengeratkan lagi hubungan kasih sayang dan mewujudkan kemesraan dalam keluarga.
5. Menjaga Kesihatan dan Kebersihan Keluarga
Kebahagiaan rumahtangga tidak akan tercapai jika sekiranya terdapat ahli-ahli keluarga sering mengidapi penyakit. Ibu atau bapa yang tidak sihat tidak dapat menguruskan rumahtangga dengan sempurna. Manakala anak-anak yang sakit pula tidak dapat membesar dan berkembang dengan baik. Oleh kerana kesihatan tubuh badan menjadi soal penting dalam hidup seseorang dan memerangi penyakit adalah satu tugas yang wajib di dalam Islam, maka Islam telah menggariskan beberapa panduan yang berkaitan dengan kesihatan seperti berikut;
(a) Makan Makanan Yang Halal
Islam menggesa umatnya supaya memakan benda-benda yang baik dan halal serta melarang memakan benda-benda yang merbahaya dan merosakkan kesihatan. Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 114:
Maksudnya: 'Oleh itu makanlah (wahai orang-orang yang beriman) dari apa yang telah dikurniakan oleh Allah kepada kamu dari benda-benda yang halal lagi baik, dan bersyukurlah akan nikmat Allah, jika benar kamu hanya menyembah akan Dia semata-mata.'
(An-Nahl : 114)
Firman Allah S.W.T. dalam surah al-Baqarah ayat 172 :
Maksudnya: 'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika betul kamu hanya beribadat kepada-NYA.'
Oleh yang demikian, setiap ibu bapa hendaklah mengambil berat tentang makan minum keluarganya dan memastikan setiap makanan yang masuk ke dalam perut keluarganya itu daripada sumber rezeki yang halal.
(b) Makan Makanan Yang Bermutu Dan Berkhasiat
Penjagaan kesihatan dari segi penyimpanan, penyediaan, penghidangan makanan dan keperluan pemakanan perlu dititikberatkan. Penyediaan makanan dan pemakanan perlu dirancang dengan teliti supaya kuantiti dan kualiti zat makanan itu seimbang dengan keperluan setiap keluarga. Seorang ibu wajib menyediakan makanan yang berzat dan berkhasiat. Dalam pemilihan kandungan zat makanan ia tidak semestinya diambil dari bahan-bahan yang mahal tetapi yang penting makanan itu berkhasiat dan tidak memudaratkan kesihatan.
(c) Elakkan Makan Makanan Yang Tidak Bersih
Islam menyuruh umatnya memakan makanan yang baik dan melarang memakan makanan yang tidak bersih. Orang yang mementingkan kesihatan, sentiasa memastikan makanan yang diperolehi dan dimakan oleh keluarganya adalah bersih dan halal. Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 115:
Maksudnya: 'Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai dan darah, dan daging babi dan binatang yang disembelih tidak kerana Allah, maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang ia tidak mengingininya dan tidak melampaui batas, (pada kadar benda yang dimakan itu, maka tidaklah ia berdosa). Sesungguhnya Allah Amat Pengampun Lagi Amat Mengasihani.'
(d) Makan Secara Berlebihan Akan Memudaratkan kesihatan
Ibu bapa diingatkan supaya tidak memberi makanan atau minuman secara berlebihan kepada keluarganya, tetapi makanan itu hendaklah disediakan secara sederhana, sekadar memenuhi keperluan tenaga, kesihatan dan pembesaran. Waktu makan hendaklah diatur dan janganlah dibiasakan makan tidak tentu masa kerana ia boleh memudaratkan kesihatan. Dalam hubungan ini Allah S.W.T. berfirman dalam surah al-A’raf ayat 31:
Maksudnya: '...Dan makanlah serta minumlah dan jangan pula kamu melampau-lampau. Sesungguhnya Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.'
(e) Mencegah Penyakit
Sesebuah keluarga hendaklah sentiasa melihat tanda-tanda penyakit yang ada pada keluarganya, supaya ia dapat dicegah lebih awal. Kanak-kanak dan orang dewasa yang memerlukan imunisasi hendaklah segera dibawa ke klinik mengikut jadual yang ditetapkan. Dalam Islam langkah pencegahan penyakit adalah sangat dititikberatkan. Peka terhadap pencegahan penyakit adalah antara ciri utama kepada sesebuah keluarga bahagia. Anak-anak hendaklah sentiasa dididik supaya menjaga kebersihan dan mengelakkan daripada benda-benda kotor. Seelok-eloknya di dalam rumah hendaklah disediakan sebuah kotak pertolongan cemas, sebagai persediaan apabila berlaku perkara-perkara yang tidak diingini atau kecemasan.
(f) Menjaga Kebersihan Diri
Satu lagi unsur penting dalam penjagaan kesihatan ialah menjaga kebersihan. Kebersihan adalah asas kepada kesihatan. Islam amat menyukai orang yang cintakan kebersihan serta sentiasa menjaga kebersihan diri kerana sihat adalah suatu nikmat Allah yang amat besar nilainya yang perlu dijaga dan dipelihara. Oleh yang demikian untuk membina keluarga yang sihat dan sejahtera, kebersihan tubuh badan amat dititik-beratkan. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Ibn Abbas r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda,'Mandi itu adalah wajib ke atas setiap orang Islam yang mana pada setiap tujuh hari, satu hari daripadanya wajib membasuh kepala dan jasmaninya.'
(Riwayat at-Tabarani)
Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Lima perkara yang menjadi fitrah manusia iaitu berkhatan, mencukur bulu ari-ari, menggunting misai, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.'
(Riwayat at-Tabarani)
Dalam hadith yang lain:
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, 'Rasulullah s.a.w. memotong kukunya dan mencukur misainya pada hari jumaat sebelum baginda mengerjakan sembahyang.'
(Riwayat at-Tabarani)
Daripada ayat al-Quran dan hadith yang dibentang di atas dapat difahami bahawa membersihkan badan seperti mandi, mencukur misai, memotong kuku serta mencukur bulu adalah amalan yang dituntut oleh Islam. Amalan-amalan seperti itu perlulah dilakukan oleh setiap ahli keluarga kerana ia merupakan usaha untuk mengelakkan diri daripada mendapat pelbagai penyakit di samping menjadi lambang kecantikan, kekemasan, kebersihan dan nilai personaliti orang Islam.
Selain daripada itu setiap ahli keluarga juga perlu menjauhi kekotoran yang berpunca daripada najis. Oleh itu Islam menuntut setiap anak lelaki dan perempuan dikhatankan supaya terhindar dan jauh daripada kuman atau penyakit yang boleh memberi kesan kepada kesihatan alat kelamin. Demikian juga Islam mewajibkan beristinjak atau bersuci untuk membersihkan diri daripada sebarang najis dan kotoran apabila selesai membuang air.
Bagi perempuan yang didatangi haid atau najis, mereka hendaklah sentiasa menjaga kebersihan diri supaya tidak dicemari oleh darah haidnya. Mereka hendaklah segera bersuci apabila tempoh haid atau nifasnya tamat.
Salah satu bahagian tubuh badan yang perlu dan penting dijaga ialah rambut. Setiap ahli keluarga perlulah menjaga kebersihan rambut supaya ia kelihatan kemas dan rapi. Sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: Daripada Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, 'Sesiapa yang mempunyai rambut maka hendaklah ia merapikannya.'
(Riwayat Abu Daud)
Rambut adalah ibarat mahkota seseorang. Oleh yang demikian ia perlulah dijaga dan diurus dengan sebaik-baiknya, disapukan minyak atau ubat yang sesuai supaya cantik, bersih dan menyenangkan mata memandang. Rambut yang berbau busuk amat mengaibkan.
Setiap ahli keluarga juga perlu menjaga kebersihan tangan lebih-lebih lagi ketika hendak menghadapi makanan atau minuman. Sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Ibnu Umar r.a. katanya, Rsulullah s.a.w. bersabda, 'Apabila salah seorang daripada kamu hendak makan, maka hendaklah ia membasuh tangannya.'
(Riwayat Ibnu ‘Adi)
Daripada hadith di atas, dapat difahamkan bukan tangan sahaja yang perlu bersih malah termasuklah mata, hidung, mulut, kaki dan sebagainya, kerana anggota-anggota tersebut adalah termasuk di dalam anggota-anggota wuduk yang mesti dijaga kebersihannya.
Selain daripada kebersihan tubuh badan dan anggota-anggota lahir, setiap ahli keluarga perlu juga menitik beratkan kebersihan pakaian. Walaupun tujuan ialah untuk menutup aurat tetapi kebersihannya perlu juga dijaga. Firman Allah S.W.T. dalam surah al-Muddathir ayat 4 :
Maksudnya: 'Dan pakaianmu maka hendaklah engkau bersihkan.'
Kebersihan pakaian menjadi salah satu daripada syarat sah ibadat sembahyang. Oleh yang demikian ia perlu dijaga supaya tidak terkena sebarang kekotoran dan najis. Keluarga yang bahagia adalah terdiri daripada individu-individu yang sentiasa menghiasi diri dengan pakaian kemas dan bersih. Kebersihan pakaian juga adalah lambang personaliti mulia seseorang Islam.
6. Mengukuh dan Menjaga Ekonomi Rumahtangga
Sesuatu yang tidak dapat dinafikan bahawa wang dan harta adalah satu keperluan dalam kehidupan rumahtangga, lebih-lebih lagi apabila menghadapi zaman yang serba mencabar ini. Pada hari ini boleh dikatakan hampir keseluruhan keperluan hidup memerlukan wang. Oleh sebab itulah Islam menyuruh umatnya supaya kuat bekerja mencari wang dan harta, membina kehidupan yang maju dan kuat supaya dunia ini dipenuhi dengan kemakmuran.
Dalam rumahtangga, bapa sebagai ketua keluarga perlu menyedari hakikat ini. Di samping menyediakan bekalan ilmu dan pendidikan kepada anak isteri supaya hidup mereka terbimbing, dia juga harus kuat berusaha mencari wang dan harta agar dengan wang dan harta itu keluarganya dapat memenuhi sekurang-kurangnya tiga keperluan asasi kehidupan, iaitu makanan, pakaian dan tempat tinggal. Bekerja mencari wang dan rezeki, selain untuk memenuhi keperluan hidup, juga dapat menguatkan sesuatu umat, sebab apabila sesebuah keluarga itu mantap ekonominya, ia akan membantu menguatkan kedudukan bangsa dan negaranya.
Selain memperkukuhkan kedudukan ekonomi rumahtangga, setiap keluarga juga mestilah menguruskan soal-soal perbelanjaan dengan betul dan terancang. Perkara-perkara yang menjadi tegahan agama seperti pambaziran, berbelanja dengan berlebih-lebihan sehingga menimbulkan rasa riya’ atau membeli barang-barang yang tidak perlu dan seumpamanya hendaklah dielakkan. Islam menyuruh umatnya supaya hidup secara sederhana dan sentiasa berjimat cermat. Rezeki yang diperolihi itu sepertiga daripadanya hendaklah dibelanjakan untuk maksud nafkah, satu pertiga untuk maslahat umum seperti zakat, sedekah dan seumpamanya dan sepertiga lagi ialah untuk tabungan. Untuk menjamin hidup masa depan, budaya menabung perlu diamalkan dalam keluarga kata pepatah 'beringat sebelum kena, berjimat sebelum habis.'
7. Mewujudkan Keselesaan Dan Keindahan Dalam Rumahtangga
Rumah adalah tempat sesebuah keluarga menikmati hidup. Keselesaan dalam rumah amat mustahak kerana kebahagiaan keluarga itu bermula dari rumah. Setiap keluarga mestikah mewujudkan suasana yang harmoni dan selesa dalam rumahnya. Maksud keselesaan di sini ialah keselesaan yang memungkinkan setiap anggota keluarga mempunyai bilik tidur yang cukup, ruang rehat yang selesa, mempunyai sistem peredaran dan pertukaran udara di setiap ruang rumah dan lain-lain keperluan seperti ruang dapur, tandas dan sebagainya. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Saad r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Empat perkara yang membawa kebahagiaan iaitu Wanita yang baik (solehah), tempat tinggal yang luas, jiran yang baik dan kenderaan yang baik.'
(Riwayat al-Baihaqi)
Dalam Islam telah ditentukan bahawa kanak-kanak mempunyai tempat tidurnya sendiri. Oleh itu menjadi tanggungjawab ibu bapa melatih kanak-kanak tidur berasingan apabila mereka mencapai umur sepuluh tahun. Di waktu itu tempat tidur anak lelaki dan anak perempuan hendaklah diasingkan supaya tidak timbul sesuatu perkara yang tidak baik. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Ibnu Amr r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Suruhlah anak kamu menunaikan sembahyang apabila mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika mereka enggan sembahyang) apabila berumur sepuluh tahun, dan asingkan tempat tidur mereka.'
(Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
Selain daripada mempunyai ruang-ruang yang cukup, hiasan rumah adalah satu ciri penting untuk mewujudkan keluarga bahagia dan menjadikan rumah itu sebuah syurga. Ini kerana setiap insan di dunia ini inginkan sesuatu yang indah., cantik dan menarik. Hal ini adalah selaras dengan anjuran Islam kerana agama Islam sendiri amat mementingkan aspek keindahan dan kebersihan, sebagaimana sabda Nabi s.a.w.
Maksudnya: Daripada Ibnu Mas’ud r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Sesungguhnya Allah itu cantik Ia sangat sukakan yang indah dan cantik.'
(Riwayat Muslim dan At-Tirmizi)
Keindahan dan kebersihan yang dituntut oleh Islam adalah daripada semua aspek bukan sahaja tertumpu kepada aspek keindahan dan kebersihan alam sekitar, bandar dan pejabat-pejabat sahaja malah termasuklah keindahan dan kebersihan dalam rumahtangga dan sekitarnya. Amalan menjaga kebersihan adalah bermula daripada rumahtangga dan apabila dihayati dengan sepenuhnya akan wujudlah amalan penjagaan kebersihan di luar rumah.
Oleh yang demikian untuk mencapai kebahagiaan bagi sesebuah institusi keluarga dan seterusnya menjadikan rumahtangga itu sebagai syurga perlulah menghayati prinsip-prinsip yang telah ditentukan oleh Islam seperti berikut:
(a) Sentiasa Menjaga Keindahan Dan kebersihan Dalam dan Luar Rumah
Rumahtangga yang bahagia ialah rumahtangga yang sentiasa menjaga keindahan dan kebersihan di dalam dan di luar rumah agar ia kelihatan cantik dan menarik serta dapat memberi ketenteraman dan kenikmatan kepada penghuni rumah. Amalan menjaga keindahan dan kebersihan persekitaran rumah adalah satu amalan yang baik dan mulia. Sekiranya umat Islam tidak menjaga dan mengambil berat terhadap perkara tersebut, mereka akan hidup di dalam suasana yang tidak selesa, gundah gulana dan tidak tenteram. Sabda Nabi s.a.w.:
Maksudnya: Daripada Saad r.a. katanya: 'Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Bersihkan halaman-halaman kamu, kerana sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halaman-halaman rumahnya.'
(Riwayat at-Tabarani)
Kebersihan kawasan dan halaman rumah adalah penting untuk mengelak daripada sebarang bentuk pencemaran seperti bau busuk, asap, sampah sarap, pokok-pokok liar, takungan air yang tidak terurus dan sebagainya. Halaman rumah sewajarnya dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan yang rendang, pokok-pokok bunga yang berwarna-warni serta harum baunya dan pohon-pohon hijau yang merimbun bagaikan taman-taman yang indah dan mempesona, rapi, teratur dan bersih. Keadaan ini harus dikekalkan supaya ahli keluarga sentiasa dapat menikmatinya. Persekitaran yang indah dan bersih juga perlu bagi pertumbuhan fizikal dan jiwa anak-anak. Persekitaran yang kotor bukan sahaja boleh menyebabkan pelbagai penyakit, malah mereka yang tidak mampu untuk mewujudkan hiasan luaran yang mungkin memerlukan belanja yang agak besar, memadailah dengan menjaga kebersihannya.
(b) Menghiasi Rumah Dengan Peralatan Dan Perhiasan Yang Diredhai Allah S.W.T.
Untuk menjadikan rumah itu sebagai syurga, ia perlulah dihiasi dengan perhiasan dan peralatan supaya dapat meyerikan lagi suasana dalaman sesebuah rumah. Sebaik-baik peralatan dan perhiasan ialah yang sederhana, kerana Islam menuntut umatnya supaya melakukan sesuatu perkara itu mengikut kemampuan masing-masing. Janganlah terlalu boros sehingga menyebabkan berlakunya pembaziran dan membebankan seseorang. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: Dari Ibnu Al-Harith r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, '... dan sebaik-baik perkara ialah secara sederhana.'
(Riwayat al-Baihaqi)
Peralatan dan perhiasan dalam rumah hendaklah disusun dengan kemas dan rapi supaya ia kelihatan cantik dan meyerikan. Ia akan dapat menawan hati setiap ahli keluarga tinggal dengan aman dan bahagia. Hiasilah ruangan dalaman rumah dengan barang-barang, ukiran atau gambar-gambar yang diredhai Allah S.W.T. Jauhilah daripada menghiasi rumah dengan benda-benda yang diharamkan oleh Allah S.W.T. Rumah-rumah yang dihiasi dengan ayat-ayat suci al-Quran al-Karim dan hiasan-hiasan lain yang bermanfaat yang diredhai oleh Allah S.W.T. akan mendapat berkat dan rahmat daripada Allah S.W.T.
8. Berkomunikasi Secara Baik
Hubungan antara individu dalam keluarga adalah penting untuk menjamin keharmonian di dalam rumahtangga. Aspek hubungan antara individu atau komunikasi ini amat dititik beratkan oleh Islam. Firman Allah S.W.T. dalam surah Ali Imran ayat 122:
Maksudnya: 'Mereka ditimpakan kehinaan (dari segala jurusan) di mana sahaja mereka berada, kecuali dengan adanya sebab dari Allah dan adanya sebab dari manusia...'
Di dalam ayat di atas jelas menunjukkan unsur perhubungan amatlah penting untuk menjamin manusia mencapai kebahagiaan. Ketika seimbang aspek ini akan membawa kepincangan.
Secara mudah komunikasi dapatlah difahamkan sebagai satu proses interaksi antara dua orang atau lebih. Hasilnya manusia akan memperolehi persefahaman, kesenangan, perubahan sikap, perhubungan yang baik dan tindakan yang harmoni.
Untuk mencapai tahap kesempurnaan di dalam sesebuah keluarga, setiap ahli keluarga hendaklah memahami diri dan peranan masing-masing. Peranan seorang bapa berbeza dengan peranan seorang anak. Bapa mempunyai tugas untuk memastikan keperluan fizikal dan spiritual keluarganya dipenuhi. Dalam konteks ini, setiap individu hendaklah mengetahui kelebihan dan kelemahan diri masing-masing. Saiyidina Umar r.a. pernah berkata:
'Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab. Kesedaran dan penerimaan seseorang tentang sifat dirinya menjadikan ia dapat melaksanakan fungsi perhubungan dengan lebih sempurna.'
Seorang bapa bertanggungjawab menjaga kesejahteraan ahlinya. Menurut sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Amr, Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: Daripada ibnu amr r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggungjawab kepada jagaannya.'
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dengan menerima hakikat ini menjadikan bapa berkenaan berusaha untuk melaksanakan tanggungjawab tersebut secara ikhlas. Implikasinya beliau akan menjalin hubungan dengan orang lain lebih bermakna. Berikutan dari itu persoalan apakah kesan perlakuan kita terhadap orang lain juga penting. Apakah akan berlaku kepada sesebuah keluarga jikalau seorang bapa tidak melaksanakan tugas tersebut. Begitulah juga dengan peranan ibu dan anak. Ia harus di laksanakan dengan berkesan kerana dengan terlaksana peranan dan tanggungjawab komunikasi yang baik, ia akan mengelakkan sesebuah keluarga daripada konflik.
Bagi mengekal dan meningkatkan perhubungan di dalam keluarga, aspek kemahiran komunikasi adalah penting. Kebanyakan orang tidak begitu peka dengan keperluan ini. Malah agak malang terdapat golongan yang merendahkan unsur komunikasi ini. Mungkin sikap ini ada hubungan dengan yang kurang tepat berkenaan hadith Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: 'Daripada Amirul Mukminin Abi hafs Umar bin Al-Khattab katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: 'Setiap perkara itu adalah berdasarkan niat.'
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Daripada fahaman hadith di atas apa yang penting ialah niat. Jikalau niat seseorang mahu menyakiti seseorang sudah cukup baginya tidak menegur sapa atau tersenyum kepada seseorang. Maka terjadilah di dalam sesebuah keluarga kurang bertegur sapa dan gurau senda. Seorang bapa seharusnya pandai mengambil hati isteri dan anak-anak serta memilih cara yang baik untuk membuat teguran. Begitu juga dengan anak sepatutnya mempunyai cara yang paling baik untuk berkomunikasi dengan ibu dan bapa mereka.
Untuk mencapai keharmonian di dalam perhubungan keluarga adalah satu perkara yang agak sukar. Begitu juga usaha untuk mengekalkan tahap perhubungan yang bermakna antara ahli keluarga. Kadang-kadang keharmonian perhubungan dapat dinikmati hanya untuk suatu tempoh masa sahaja, selepas itu perhubungan menjadi masalah yang serius kepada ahli keluarga. Dalam hubungan ini motivasi adalah perlu. Motivasi ialah suatu daya untuk meningkatkan pencapaian di dalam sesuatu aspek. Jikalau di dalam soal perhubungan kekeluargaan apakah jambatan yang menjadikan ahli keluarga berupaya mengekalkan keharmonian. Inilah soalan yang perlu dicari jawapannya oleh setiap ahli keluarga.
Suatu perkara yang tidak kurang penting di dalam rumah ialah kebolehan ahli-ahli keluarga berkenaan menyelesaikan konflik di antara ahli-ahli. Kadang kala berlaku seorang bapa tidak mengambil berat masalah yang dihadapi oleh anak-anak. Ini menjadikan anak-anak beranggapan bapanya tidak mengambil berat tentang diri mereka. Sikap bapa yang sedemikian menimbulkan perasaan tidak senang hati di kalangan ahli rumah. Anak akan menjauhkan diri dari keluarga. Di dalam hal tertentu bapa akan bertindak terhadap kesalahan anak-anak. Jikalau ini berlaku konflik akan timbul dan berkembang dalam keluarga berkenaan.
Dalam keadaan demikian bapa sebagai ketua keluarga hendaklah mengambil inisiatif mendekati anak dan cuba memahami masalah yang dihadapi oleh mereka. Pendekatan yang harus digunakan ialah pendekatan ‘hikmah’ iaitu pendekatan yang berasaskan keadaan yang diharuskan oleh syarak. Di dalam kebanyakan hal bolehlah dikatakan pendekatan tanpa paksaan dan kekerasan, tetapi ini tidak bererti kedua pendekatan ini bukan dari method hikmah.
9. Mewujudkan Pergaulan Suami isteri Yang Baik
Kasih sayang dan toleransi dalam keluarga adalah penting. Kedua-dua elemen ini perlu diwujud dan disuburkan dalam sesebuah keluarga bagi melahirkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Pembentukan keluarga bermula dengan ikatan perkahwinan antara suami dan isteri. Suami dan isteri perlulah meletakkan aspek kasih sayang dan belas kasihan, sebagai asas dalam kehidupan berumahtangga. Tanpa kasih sayang dan belas kasihan, sesuatu ikatan perkahwinan itu tidak menuju ke istana bahagia seperti yang diharapkan, malah ia akan mengubah haluan kepada kehancuran. Firman Allah di dalam al-Quran, surah ar-Rum ayat 21, iaitu:
Maksudnya: 'Dan antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-NYA dan rahmat-NYA bahawa ia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikannya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir.'
Kasih sayang dan belas kasihan atau 'mawaddah wa rahmah' seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas memberi maksud bahawa perhubungan ibu bapa sebagai suami isteri hendaklah berdasarkan kepada lunas-lunas keredhaan Allah S.W.T., sentiasa kasih mengasihi, bertolak ansur, memperbanyakkan sabar, tabah di dalam menghadapi gelora rumahtangga dan menjadikan sifat suka bermaaf-maafan sebagai amalan yang berterusan. Sehubungan ini juga Allah telah memberikan panduan sepertimana yang termaktub dalam al-Quran surah an-Nisa’ ayat 19:
Maksudnya: '... Dan bergaullah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik. Kemudian, jika kamu (merasai) benci kepada mereka (disebabkan tingkah lakunya, janganlah pula kamu terburu-buru menceraikannya), kerana boleh jadi kamu bencikan sesuatu, sedangkan Allah hendak menjadikan pada apa yang kamu benci itu kebaikan yang banyak (untuk kamu).'
Pergaulan yang baik atau 'mu’asyarah bil-ma’ruf' seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas bererti pergaulan dan hidup bersama secara baik dan diredhai Allah, jauh daripada kemungkaran, kemaksiatan, penganiayaan, kezaliman dan seumpamanya.
10. Mewujudkan Hubungan Baik Ibu Bapa Dengan Anak
Apabila perhubungan antara ibu dan bapa dapat di bentuk dalam keadaan 'ma’ruf' (baik) maka benih kasih sayang pasti akan bertunas dan bercambah ke dalam ahli keluarganya. Anak-anak yang melihat canaian kasih sayang antara ibu dan bapa mereka akan turut sama mengamali dan menikmati kemanisan serta kelazatan suasana itu. Justeru itu menjadikan ibu bapa mereka sebagai model dalam jiwa dan kehidupan mereka sendiri.
Kasih sayang dan belas kasihan ibu bapa terhadap anak-anak sebenarnya bermula dalam kandungan lagi. Bagi ibu-ibu yang sedang mengandung, mereka digalakkan memakan makanan yang baik dan berzat, mengamalkan tingkah laku yang mulia, selalu membaca al-Quran, sentiasa berdoa kepada Allah memohon kebaikan kepada anaknya dan lain-lain amalan kebaikan seperti yang diperintahkan oleh Islam. Begitu juga bagi bapa, mereka hendaklah sentiasa mendampingi isteri mereka, sama-sama berkongsi kesukaran dan penderitaan yang dialami oleh isteri, tidak berlaku kasar dan benci kepada isteri dan sentiasa berdoa kepada Allah memohon keselamatan kepada isteri dan bayi yang bakal dilahirkan. Begitulah seterusnya apabila anak itu lahir ke dunia, kasih sayang perlu diberikan supaya pembentukan syakhsiah mereka menjurus ke arah manusia yang sempurna, berakhlak mulia seterusnya dapat mengharungi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
Tidak dinafikan bahawa Rasulullah s.a.w. adalah contoh yang paling ideal dan tepat untuk diikuti. Ibu bapa seharusnya menyedari hakikat ini dan berazam mengamalkan segala kebaikan untuk keluarga mereka. Dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi daripada Aisyah r.a., sabda baginda:
Maksudnya: 'Sebaik-baik kamu ialah orang yang baik kepada ahli keluarganya dan akulah sebaik-baik di antara kamu kepada ahli keluargaku.'
(Riwayat at-Tirmizi)
Dalam sebuah hadith lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan Al-Hakim daripada Aisyah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya: 'Sesungguhnya antara sifat-sifat yang boleh menjadikan seseorang itu sempurna imannya ialah yang berakhlak mulia dan berlemah lembut dengan ahli keluarganya.'
(Riwayat at-Tirmizi dan al-Hakim)
11. Mewujudkan Hubungan Baik Anak Dengan Ibu Bapa
Anak wajib berbuat baik terhadap ibu bapanya. Sekiranya tidak, ia telah melakukan satu dosa. Di dalam al-Quran tidak terdapat perintah khusus agar seseorang bapa mengasihi anaknya, tetapi sebaliknya yang lebih banyak ialah perintah kepada anak supaya mengasihi ibu bapa. Sebab yang demikian ialah, walaupun tidak diperintah untuk mengasihi anak, secara otomatis ibu bapa tentu mengasihi anaknya. Seorang bapa, apatah lagi ibu, amat sayang kepada anaknya sehingga ia sanggup berkorban apa saja demi keselamatan dan kesejahteraan anaknya. Ia sanggup bersusah payah bekerja siang dan malam, menggerakkan segala usaha dan tenaga, dimana semuanya itu adalah untuk kebahagiaan anaknya. Maka wajarlah anak berbuat baik terhadap ibu bapa.
Mungkin seorang anak akan bertanya, bagaimana ia harus berbuat baik terhadap ibu bapanya. Dalam hal ini Imam Ghazali telah menggariskan dua belas panduan, iaitu:
Mendengar kata mereka.
Berdiri apabila mereka berdiri kerana menghormati.
Taat perintah mereka selagi mereka tidak menyuruh membuat perkara-perkara yang dilarang oleh Allah S.W.T.
Tidak melintas di hadapan mereka, tetapi hendaklah berjalan di sisi atau di belakang kecuali atas perintah mereka untuk sesuatu maksud.
Tidak meninggikan suara melebihi suara mereka.
Menjawab panggilan mereka dengan suara yang lembut.
Sentiasa memelihara dan merawat apabila mereka sakit. Jangan sampai melakukan sesuatu yang melanggar keredhaan mereka baik dalam sikap, perkataan ataupun perbuatan.
Merendah diri dengan sopan dan lemah lembut serta sentiasa berusaha meringankan beban mereka.
Tidak melakukan sesuatu kebaikan kepada mereka atas dasar membalas jasa melainkan atas dasar kewajipan demi keredhaan mereka dan keredhaan Allah S.W.T.
Tidak memandang mereka dengan menjeling, mengerling, marah atau masam muka.
Tidak bermuram hati apabila menghadapi wajah mereka.
Tidak keluar rumah sama ada jauh atau dekat kecuali dengan izin mereka.
12. Memupuk Kasih Sayang Dan Toleransi Dalam Keluarga
Banyak cara boleh dilakukan bagi mewujudkan perasaan kasih sayang dan semangat toleransi di dalam keluarga. Cara utama ialah melalui pengetahuan dan didikan agama yang cukup. Selain melalui pendidikan secara formal yang diterima di sekolah-sekolah, setiap ahli keluarga perlu dibentuk dan ditanamkan dengan perasaan kasih sayang dan semangat toleransi melalui tunjuk ajar, contoh teladan, nasihat dan kaunseling serta kawalan yang berkesan. Mereka bukan sahaja disuruh supaya sayang menyayangi sesama ahli keluarga, malah juga kepada binatang peliharaan dan harta benda di rumah. Mereka hendaklah selalu diberi ingat bahawa Allah sangat suka kepada orang-orang yang mempunyai perasaan kasih sayang, suka bekerjasama dan tolong-menolong sesama sendiri.
Sebaliknya Allah benci kepada orang-orang yang sering bergaduh, bermusuh-musuhan, tidak mahu bekerjasama dan benci membenci sesama sendiri. Sekiranya berlaku perkara-perkara yang boleh merosakkan hubungan kasih sayang di dalam sesebuah keluarga, setiap ahlinya terutamanya ibu bapa hendaklah segera mencari jalan mengatasinya.
Jelaslah bahawa kasih sayang dan semangat toleransi adalah sangat penting dalam sesebuah keluarga. Sekiranya tiap-tiap rumpun keluarga itu tidak mewujudkan satu ikatan yang baik dan harmoni, maka kedudukan sesebuah masyarakat itu akan pincang, justeru bangsa dan negara menjadi lemah. Apabila situasi ini berlaku kemajuan tidak akan dapat dicapai dan masyarakat penyayang tidak dapat diwujudkan. Begitulah pentingnya peranan yang perlu dimainkan oleh setiap ahli keluarga bagi mencapai hasrat yang dicita-citakan.
KESIMPULAN
Rumahku Syurgaku adalah satu wawasan Islam yang berteraskan ajaran yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Rumahtangga sebagai satu komponen utama dalam pembentukan sesebuah masyarakat mesti disempurnakan melalui piawai yang sesuai dengan ajaran Islam dan keperluan rohani dan jasmani manusia. Untuk mencapai taraf syurga bagi sesebuah rumahtangga, maka semua rukun atau piawai yang disebutkan perlulah dipenuhi dengan sebaik mungkin. Ia tidak memerlukan perancangan yang rapi dan sikap positif untuk melaksanakannya. Setiap yang gagal memenuhi rukun-rukun dan piawai-piawai tersebut, maka rumahtangganya belumlah dapat mencapai tahap kebahagiaan sebagaimana yang dituntut oleh Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)